
"Astaga! Menyusahkan sekali! Inilah kenapa aku melarang Amira Tan minum minuman keras tadi. Aku jadi harus menggendong seperti ini. Jika kekasih, mana mungkin aku mengeluh seperti ini."
Noah baru saja menutup mobil dengan kaki karena tangannya digunakan untuk menopang beban tubuh wanita yang sudah tidak sadarkan diri setelah tadi muntah-muntah di parkiran.
Tak lupa masih sibuk mengeluh dan mengumpat karena kesusahan saat wanita di gendongan itu ternyata patah hati.
"Amira Tan patah hati karena seorang pria yang merupakan suami adik perempuannya. Wanita ini memang luar biasa. Sangat lain dari semua wanita."
Noah ingin sekali menurunkan Amira Tan di lantai ketika membuka pintu karena kesusahan, tapi tidak tega karena melihat sendiri kehancuran wanita patah hati itu.
"Bahkan banyak wanita biasa saja menginginkan suami merupakan pria kaya dan memiliki pekerjaan tetap yang mapan dan pastinya akan bisa menjamin hidup. Namun, wanita arogan hebat ini malah jatuh cinta pada pria miskin yang bahkan hanya merupakan supir taksi."
Noah sudah seperti orang gila karena berbicara sendiri ketika berhasil memasuki rumah dan langsung merebahkan tubuh Amira Tan ke atas ranjang.
Kemudian Noah meluruskan tangan yang terasa pegal karena menopang tubuh Amira Tan beberapa menit. "Lelah juga menggendong wanita ini."
Terlihat sosok wanita dengan pakaian mini dah pastinya menampilkan lekuk tubuh seksi seorang pengacara arogan yang biasanya bersikap kasar pada siapa pun. Termasuk pria yang kini tidak berkedip menatap intens.
Noah kini berjalan semakin mendekat dan merapikan anak rambut yang mengganggu pandangan ketika memanjakan mata.
"Saat tidur seperti ini, kau terlihat sangat cantik, Amira Tan. Terlihat damai dan polos." Noah kini mengingat kejadian saat sedang demam dan pandangan terfokus pada sesuatu yang sempat dinikmati.
Dengan mengerjapkan mata, Noah lalu sudah menepuk jidat dan memilih untuk meraih selimut tebal dan menutupi tubuh dengan bagian terbuka di beberapa tempat.
__ADS_1
"Astaga! Otak kotorku ini harus dicuci bersih dengan sabun, agar tidak terjadi hal negatif di atas ranjang. "Aku harus mendinginkan otakku, agar tidak berpikir buruk."
Dengan sibuk mengumpat, Noah kini masuk ke dalam kamar mandi. Tengah malam, memilih mandi untuk menyadarkan diri karena tadi sempat menatap dua gundukan sintal milih Amira Tan yang mengingatkan akan kejadian intim ketika sedang sakit.
Begitu pintu kamar mandi tertutup dan terdengar suara gemericik air dari shower, sebuah pergerakan terlihat di atas ranjang.
Ya, Amira Tan kini membuka kedua mata dan beranjak duduk di atas ranjang masih menggunakan selimut yang dipegang.
Sebenarnya saat tadi Noah dimarahi oleh bos pemilik Club dan dipecat, masih belum kehilangan kesadaran, tetapi berpura-pura tertidur sampai saat di rumah.
Amira Tan ingin melihat seperti apa sejatinya seorang Noah Martin sebelum memutuskan untuk menolong pria itu dari masalah besar yang menimpa.
'Ini semua salahku, jadi Noah dipecat dari tempat kerja. Aku harus menebus kesalahan dengan mencarikan pekerjaan, tapi apa yang cocok dengan Noah? Jika tahu aku melakukan itu, apa akan menerima?'
'Beberapa hari aku mengenal Noah, sudah mengetahui seperti apa pria itu. Bahkan saat aku tidak sadarkan diri, tidak memanfaatkan kesempatan.'
'Rasanya aku tidak mempunyai muka di depan Noah, tapi kasihan jika membiarkan menganggur dan tidak mendapatkan pemasukan untuk biaya hidup sehari-hari.'
Amira Tan menatap ke sekeliling ruangan kamar karena ingin mengetahui sesuatu yang mungkin bisa dijadikan petunjuk untuk mencarikan pekerjaan sesuai dengan keterampilan Noah.
Namun, berdecak kesal karena tidak menemukan petunjuk apapun. 'Apa yang harus kulakukan? Apakah lebih baik bertanya saja pada Noah mengenai apa pendidikan terakhir pria itu?'
'Aku tidak mungkin mencarikan pekerjaan di Club malam lagi karena itu hanya akan menjadikan pria baik dipandang negatif. Noah adalah pria baik dan bertanggungjawab. Jadi, tidak boleh kembali ke tempat identik dengan hal buruk.'
__ADS_1
Tiba-tiba Amira Tan mengingat sesuatu yang sempat dilupakan. 'Dasar bodoh! Kenapa harus susah-susah mencarikan pekerjaan di tempat lain ketika di kantor membutuhkan pekerja tambahan yang bisa melakukan apapun untuk membantu pekerjaan stafku.'
Merasa sangat lega karena telah memutuskan untuk menerima Noah di kantor, Amira Tan kini menoleh ke arah kamar mandi dan sudah tidak terdengar gemericik air seperti beberapa saat lalu, menandakan bahwa pria itu telah selesai mandi.
Refleks Amira Tan buru-buru kembali membaringkan tubuh di atas ranjang dan kembali memejamkan mata. Meskipun menyadari jika saat ini sangat bodoh karena memilih berakting tidur di tempat seorang pria.
Tanpa merasa takut jika Noah akan berbuat macam-macam karena yang ada malah sendiri melakukan hal gila pada pria itu.
Entah mengapa Amira Tan lebih mempercayai Noah tidak akan menyentuhnya dari pada Jack yang telah mengenal lama.
Mungkin jika berada di apartemen Jack dalam keadaan tidak sadar karena efek mabuk, sudah diperkosa. Apalagi tahu bahwa Jack sangat terobsesi dan ingin mendapatkan cintanya.
'Noah jauh lebih terhormat daripada Jack. Meskipun bekerja di tempat laknat, tetapi adalah pria yang baik,' gumam Amira Tan di dalam hati.
Sementara itu, Noah yang baru selesai mandi, kini keluar dengan tubuh dan wajah lebih segar. Bahkan bau harum menguar di ruangan kamar begitu berjalan keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit pinggang.
Noah membiarkan tetesan bulir air yang jatuh membasahi wajah dan melihat sosok wanita di atas ranjang masih tertidur pulas. "Lihatlah wanita arogan itu. Bisa-bisanya tidur nyenyak di tempat seorang pria. Dasar pengacara aneh!"
Puas berkomentar tanpa berpikir jika wanita itu akan mendengar karena yakin sudah tidur pulas karena efek mabuk. Noah berjalan menuju ke arah lemari pakaian plastik yang berada tepat di depan ranjang.
Kemudian mengambil celana pendek dan kaos casual karena berpikir akan segera pergi tidur di sofa yang ada di ruang tamu. Tanpa menatap ke belakang, yaitu Amira yang masih tidur di atas ranjang, langsung melepaskan handuk yang melindungi tubuh dan dengan santai berpakaian.
Sementara itu, Amira Tan yang beberapa saat lalu merasa sangat kesal karena Noah selalu mengumpat, begitu tidak ada suara, perlahan membuka mata. Namun, membulatkan mata begitu melihat pemandangan di hadapannya, yaitu tepat saat Noah menurunkan handuk yang melilit di pinggang.
__ADS_1
Hampir saja Amira Tan berteriak karena sangat terkejut, tetapi tidak jadi melakukan itu karena sadar jika sedang berakting tidur, sehingga langsung menutup rapat mulut dan kembali memejamkan mata.
To be continued...