
"Bagaimana kabarmu, Putri? Apa kamu sudah lebih baik?" Noah yang tadi buru-buru pulang tanpa menunggu Amira Tan karena memang tidak ingin melihat wanita itu.
Apalagi setelah akting Amira Tan untuk menipu Jack. Meskipun semua yang diungkapkan tadi sama sekali bukan akting karena itu adalah sosok Noah sebenarnya.
Sosok pria yang sangat menginginkan Amira Tan, tetapi dihancurkan oleh rasa tidak percaya diri. Seperti yang selalu dipesankan oleh orang tuanya agar mencari pasangan yang sederajat, agar tidak direndahkan.
Meskipun banyak orang mengatakan jika semua manusia itu sama di mata Tuhan, tetapi faktanya, status sosial yang menjadi tolak ukur untuk menilai seseorang.
Meskipun ada segelintir orang yang membantah, tetapi prakteknya adalah orang tinggi pangkat atau mempunyai banyak uang akan lebih dihormati. Hingga banyak orang-orang memakai topeng penuh kepalsuan dengan menampilkan wajah sebaik mungkin untuk menjadi seorang penjilat.
Ya, membuang harga diri demi mendapatkan sesuatu sering dijadikan jalan pintas oleh banyak orang demi mendapatkan segala kemewahan dan tidak perlu susah payah bekerja keras.
Sementara Noah tidak bisa melakukan itu untuk bisa hidup mewah dengan merayu Amira Tan agar jatuh ke pelukan. Mungkin jika orang lain, akan melakukan apapun agar bisa menjadikan Amira Tan istri setelah melakukan hubungan badan.
Namun, ia ingin Amira Tan menerima karena melihat ada ketulusan yang ditawarkan karena itu merupakan hal berharga yang dimiliki oleh Noah.
Putri yang tadi baru saja menelpon perawat yang menjaga Xander, kini menatap pria yang terlihat seperti sedang menanggung beban berat.
"Aku sudah lebih baik. Mungkin besok boleh pulang. Aku tadi sudah berbicara dengan dokter dan kemungkinan besok atau lusa karena masih melihat hasil terakhir dari laboratorium."
"Duduklah! Sepertinya kamu sedang ada masalah lagi dengan Amira Tan. Apa yang bisa kubantu? Bukankah kamu ingin meminta bantuanku untuk mendapatkan Amira Tan?"
"Lupakan itu karena aku berubah pikiran." Noah kini mengarahkan tatapan mengintimidasi pada sosok wanita yang juga merupakan saudara perempuan Amira Tan. "Apakah kamu juga anak konglomerat?"
__ADS_1
Refleks Putri terkekeh geli mendapatkan pertanyaan konyol pria yang diketahuinya belum memahami silsilah keluarganya. Bahwa ia bukan merupakan anak dari orang kaya.
"Sepertinya Amira Tan tidak menceritakan mengenai konflik utama keluarga kami. Aku pun juga harus menyimpan rahasia ini dengan baik. Hal yang paling pasti dan perlu digaris bawahi di sini adalah karena aku tahu rasanya hidup diasingkan karena tidak sederajat."
Noah seketika mengerjapkan kedua mata karena merasa seperti melihat masa depan diri sendiri atas perkataan Amira Tan. "Sepertinya kamu mengalami sendiri dari keluarga suami barumu itu, ya?"
Noah mengangkat kedua tangan ke atas, dan jari membentuk simbol peace. "Maaf, karena aku tahu dari Amira Tan."
"Tidak masalah, aku tahu tidak akan bisa selamanya menyembunyikan mengenai masalah rumah tanggaku. Lagipula kalian berdua dekat. Aku tahu jika Amira Tan adalah orang yang pandai menilai orang. Pasti menganggap kau adalah orang baik, jadi
menceritakan tentang keluarga kami."
"Apa kamu tidak merasa jijik dekat denganku?" Putri ingin mengetahui bagaimana pendapat Noah mengenai perbuatan buruk di masa lalu yang telah berselingkuh dengan Arya.
Namun, tidak meninggalkan aura kecantikan natural yang dimiliki dari Putri dan bisa dimengerti oleh Noah mengenai alasan seorang pria lajang jatuh cinta pada wanita bersuami.
"Aku dari dulu tidak pernah menganggap orang lebih buruk dari aku. Kenapa? Itu karena aku selalu merasa adalah manusia paling hina di dunia ini, Amira Tan. Meskipun ada orang yang dipandang buruk, tetap saja merasa seperti itu."
"Aku takut dengan sifat sombong karena itu akan membawa manusia pada kehancuran. Lebih baik kita memandang diri sendiri buruk dari pada menghujat orang lain."
Tidak ingin Putri merasa bingung, Noah berniat untuk mengambil contoh kecil yang sering terjadi di masyarakat. Namun, ternyata Amira Tan berpikir tentang hal yang baru saja ingin dicontohkan.
"Aku tahu itu, Noah karena sering mendengar orang ahli agama ketika menjelaskan tentang ahli agama dan ahli dosa." Pedoman itulah yang membuat Putri saat ini ingin berubah menjadi seorang istri yang baik untuk Arya. Jadi, akan melakukan apapun.
__ADS_1
"Orang ahli agama di mata manusia belum tentu ahli surga. Sementara ahli dosa belum tentu juga masuk neraka. Hal yang dinilai oleh Tuhan adalah saat ajal menjemput, apakah mereka berada di jalan benar. Begitu, bukan?"
Putri melihat senyuman terbit dari wajah Noah karena membenarkan semua yang barusan dikatakan.
Di saat Putri baru saja selesai berbicara, melihat wanita berseragam yang datang membawa kertas dan berjalan mendekat.
"Maaf, apa Anda keluarga nyonya Putri?"
Noah yang kali ini menoleh ke arah sang perawat, langsung menganggukkan kepala. "Iya. Ada apa?"
"Kami membutuhkan tanda tangan Anda. Besok pagi, pasien sudah diperbolehkan pulang. Jadi sekarang bisa mengurus administrasi. Oh ya, ada sesuatu yang perlu kami sampaikan," ucap wanita berseragam putih yang memandang sosok pria yang duduk di dekat ranjang perawatan.
Putri yang terlihat sangat senang karena akhirnya bisa kembali ke rumah dan bisa segera bertemu dengan putra yang masih bayi dan harus ditinggalkan karena sakit asam lambung akut.
Ia mendengarkan penjelasan tentang beberapa hal yang menyangkut masalah lambung. Bahkan mendapat informasi mengenai menu gizi seimbang yang lebih baik dikonsumsi.
Begitu penjelasan selesai, Putri mendapatkan dua kartu nama yang bertuliskan nama Amira Tan dan Arya.
"Dua orang keluarga Anda meninggalkan itu dan meminta untuk menghubungi mengenai masalah administrasi. Jadi saya ingin bertanya secara pribadi pada pasien yang dirawat. Apakah harus menghubungi tuan Arya atau nona Amira Tan?"
Sang perawat yang bertanya, kini masih menunggu jawaban dari pasien untuk memutuskan apa yang harus dilakukan.
To be continued...
__ADS_1