
Saat Amira Tan sangat marah pada Noah karena tidak memberikan minuman, langsung berjalan ke arah dance on the floor dan ikut berbaur dengan pengunjung lain yang sudah sibuk menggerakkan tubuh masing-masing.
Sementara itu, Noah masih berdiri di tempat bekerja sambil berkacak pinggang dan tatapan lurus pada Amira Tan. Bahkan Noah tengah mengepalkan tangan kanan karena dikuasai oleh emosi ketika melihat sikap arogan wanita yang ternyata juga sama tidak bisa melupakan.
"Jadi, Amira Tan pun sebenarnya tidak mengetahui apa yang harus dilakukan, tapi mengiyakan permintaanku, lalu marah karena aku menagih janji. Astaga!"
"Terbuat dari apa sebenarnya wanita itu? Kenapa di dunia ini ada seseorang yang sangat menyebalkan sepertinya? Jika tidak tahu harus melakukan apa, bukankah lebih baik mengatakan yang sejujurnya? Bukan malah memberi harapan palsu padaku."
Noah yang saat ini bingung harus melakukan apa setelah mendengar jawaban Amira Tan. Masih tidak berkedip menatap sosok wanita yang berada jauh dari tempat berdiri saat ini, Noah mengembuskan napas kasar sebagai bentuk luapan perasaan.
"Jika Amira Tan tidak tahu cara untuk melupakan kejadian malam itu, lalu apa yang harus kulakukan?" Noah teringat dengan perkataan dari Amira Tan.
"Maksudnya tadi tidak bisa melupakan apa, ya? Apakah ia juga susah melupakan kejadian di kamarku? Ataukah ada hal lain yang tidak bisa dilupakan oleh Amira Tan?" Rasa penasaran yang saat ini menguasai Noah kini berakhir menjadi sesuatu yang menyiksa diri.
"Aku harus bertanya padanya tentang ini karena tidak ingin sibuk menerka sendiri. Meskipun nanti ia marah, tetap saja akan membutuhkan bantuanku." Noah berpikir akan membawa Amira Tan ke rumah jika nanti mabuk.
"Daripada Amira Tan menghamburkan uang untuk membayar kamar di hotel yang mahal, lebih baik diberikan padaku. Lagipula kamarku juga sangat nyaman dan bisa dijadikan tempat istirahat oleh seorang wanita mabuk sepertimu."
Noah saat ini teringat dengan kejadian di hotel saat Amira Tan mabuk. "Awas saja jika nanti muntah di kamarku, akan meminta dua kali lipat. Dulu di hotel, ia muntah di lantai dan akhirnya aku meminta pihak hotel untuk membersihkan."
"Meskipun sebenarnya merasa sangat malu, tapi harus menahan karena tidak ingin melihat sesuatu yang menjijikan di dalam kamar mewah hotel."
__ADS_1
Noah yang berbicara sendiri seperti orang gila, kini seketika menoleh ketika merasakan baunya ditekuk dari belakang.
"Kerja, Brother! Jangan asyik memandangi wanita cantik itu. Nanti juga dia akan kembali ke sini setelah lelah," seru pria dengan rambut diikat ke atas seperti perempuan.
Noah yang kembali menghembuskan napas ketika melihat sahabat sekaligus rekan kerja di Club tersebut. "Kamu mendengar perkataan wanita itu, bukan? Bukankah pengacara itu sangat arogan?"
Pria bernama Lorenzo, berusia 28 tahun tersebut kini hanya terbahak menanggapi keluhan sahabat. "Sebelum kamu mengumpat pengacara itu, aku sudah melakukannya lebih dulu."
Noah Martin tidak mengerti dengan kalimat yang dimaksud oleh Lorenzo. "Apa maksudmu? Memangnya kapan kamu mengumpat wanita arogan itu?"
Saat Noah mengarahkan dagu pada Amira Tan, refleks menggelengkan kepala waktu itu melihat kegilaan wanita itu yang bergerak sangar liar. "Astaga! Amira Tan sepertinya sudah gila, hingga seperti cacing kepanasan."
Sebenarnya Noah sesekali menatap ke arah Amira karena khawatir jika wanita itu diganggu oleh pria berengsek seperti beberapa hari lalu. Meskipun sangat kesal, tetapi tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk.
"Saat kamu sakit setelah dihajar oleh teman pengacara itu, aku sangat khawatir dan menelpon untuk mengungkap dan memberitahukan keadaanmu. Tanpa merasa takut akan dituntut dan dipenjara karena tujuan pencemaran nama baik." Lorenzo menganggukkan kepala pada pengunjung yang memesan minuman dan langsung bergerak untuk membuatkan.
Kini, Noah mengerti apa yang dimaksud oleh Lorenzo. 'Aku belum sempat bertanya mengenai kedatangan Amira Tan yang tiba-tiba dan merawatku, hingga berakhir melakukan hal intim.'
'Jadi semua ini terjadi karena Lorenzo? Jika tidak mengatakan pada Amira Tan mengenai keadaanku, mungkin kejadian itu tidak akan terjadi. Sekarang, lebih baik aku berbicara secara baik-baik dengan Amira Tan untuk menyelesaikan masalah kami. Sepertinya tidak akan ada pertanggungjawaban karena kami sama-sama bersalah.'
Saat Noah masih tidak berkedip menatap Amira Tan, merasa sedikit lega karena hari ini tidak ada yang mengganggu pengacara itu.
__ADS_1
Apalagi melihat Amira Tan yang terlihat seperti sedang marah saat membebaskan tangan pada beberapa pria yang mencoba untuk mendekat.
"Sepertinya wanita arogan itu bisa menyingkirkan para pria berengsek yang mengganggu kesenangan." Sudut bibir Noah melengkung ke atas saat melihat pemandangan yang menurunnya sangat menarik.
"Dasar wanita arogan!" Noah masih sibuk mengumpat untuk melampiaskan kekesalan pada Amira Tan.
Hal berbeda dirasakan oleh Lorenzo karena merasa aneh melihat sikap sahabat baiknya. "Arogan, tapi sepertinya kamu akan sering berhubungan dengan pengacara itu, Noah. Sebenarnya kalian ada kerjasama apa?"
"Aku tadi sangat terkejut melihat kedatangan wanita arogan itu ke sini. Aku pikir, tidak akan pernah datang ke sini lagi karena mendapatkan kenangan buruk ketika pertama kali datang ke sini."
Noah yang sama sekali tidak berniat untuk menceritakan tentang kejadian di ruangan kamar karena berpikir itu akan mencemarkan nama baik sang pengacara dan juga sebuah privasi yang tidak boleh diketahui oleh orang lain.
"Rahasia." Kemudian mengibaskan tangan pada Lorenzo untuk kembali menyuruh melayani pelanggan yang baru saja datang. "Aku ingin ke toilet sebentar."
Wajah masam yang ditampilkan oleh Lorenzo karena gagal mendapatkan informasi mengenai sesuatu yang sangat ingin diketahui. "Pergilah! Sepertinya aku bisa menebak apa yang saat ini terjadi di antara kalian."
"Bukan seperti yang kau pikirkan, Lorenzo! Jadi, jangan berpikir macam-macam." Noah menuju lengan kekar Lorenzo sebelum berjalan menuju ke arah toilet.
Bahkan sebelumnya melirik ke arah Amira Tan untuk memastikan bahwa wanita itu baik-baik saja. Begitu dirasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan, ia sudah melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah belakang.
Tentu saja melewati banyak orang yang bermacam-macam posisi, mulai dari berdiri, duduk, bermesraan dan masih banyak lagi.
__ADS_1
Seolah semua orang yang ada di tempat itu, tidak memperdulikan apapun karena merasa hanya ingin bersenang-senang untuk menghilangkan kepenatan ataupun beban pikiran.
To be continued...