
Berakting menjadi wanita lemah dan tersakiti, kini menjadi pilihan Calista dan menunggu hingga pria yang sangat dipercayai dan dicintai tersebut mau menolong.
'Aku sangat yakin jika Arya akan memilihku dan menceraikan wanita ini. Aku tidak akan mati karena cekikan dari Putri.'
Saat Calista merasakan kesakitan pada leher yang semakin dicekik oleh Putri, seketika merasa lega karena saat ini telah terbebas dan langsung terbatuk-batuk dan mencari pasokan oksigen yang hampir habis di paru-paru.
Arya yang gagal menghentikan perbuatan kasar Putri dengan perkataan, seketika mendorong tubuh wanita yang pernah sangat dicintai tersebut.
"Hentikan!"
Suara tubuh yang terjatuh ke lantai dingin itu cukup menggema di ruangan. Seolah menunjukkan bahwa hal itu membuat rasa sakit pada bagian belakang Putri.
Putri yang meringis menahan rasa nyeri luar biasa setelah Arya mendorong dan terlihat menolong wanita yang bahkan bukan berstatus sebagai istri tersebut.
Ia yang merasa tidak tega pada Putri beralih menatap ke arah Calista yang masih terbatuk-batuk sambil memegangi leher. "Apakah perlu ke rumah sakit untuk memeriksa lehermu yang baru saja dicekik?"
Calista yang merasa kesakitan secara fisik, tetapi sangat bahagia dan karena Arya langsung menyembuhkan dengan cara mengungkapkan perhatian di depan istri.
Calista merasa bahwa luka di leher sama sekali tidak berarti apa-apa karena rasa sakit di hati Putri jauh lebih menyakitkan dan ia merasa sangat puas bisa menyingkirkan wanita yang dianggap sebagai penghalang tersebut.
"Aku tidak apa-apa. Kamu tenang saja." Calista meraba lehernya. "Apakah sekarang terlihat bekasnya?"
Arya yang saat ini mengamati leher putih nan jenjang Calista, kini menganggukkan kepala. "Maaf, karena aku yang menjadi penyebab kamu kesakitan."
"Arya, hentikan sikap manismu pada wanita yang bahkan tidak memiliki status sah sebagai seorang istri. Akulah wanita yang kau nikahi dan melahirkan benihmu!"
"Kenapa kamu malah mengkhawatirkan wanita murahan yang menjadi penggoda suami orang?" Putri menahan rasa sakit pada bagian belakang tubuhnya dengan beranjak berdiri dibantu oleh Amira Tan.
"Apakah kamu sudah gila dan tidak mengingat istri dan anak sendiri? Aku sangat mencintaimu dan juga berusaha menjadi istri yang baik untukmu, tapi apa yang kamu lakukan? Berselingkuh dengan wanita ini? Aku tidak akan pernah membiarkan kamu berbuat hal gila seperti ini."
"Aku selamanya akan menjadi istrimu dan tidak akan membiarkan suamiku direbut oleh wanita lain. Jika wanita ini tidak bisa diajak berbicara secara baik-baik untuk pergi darimu, lebih baik aku membuat wanita ini mati!" sarkas Putri dengan wajah memerah yang menjelaskan bahwa tidak ada apapun lagi yang dimiliki selain kemurkaan.
Saat Putri sudah kehilangan kesabaran dengan menyebutkan kematian, hal yang sama dirasakan oleh Arya.
Tidak ingin dipusingkan oleh kegilaan Putri, refleks Arya mengangkat tangan dan mendaratkan pada wajah wanita yang terlihat menatap tajam, seolah ingin menantangnya.
__ADS_1
"Kau adalah wanita gila dan pengkhianat yang pernah kukenal. Aku sudah muah melihat wajahmu dan menyingkirlah dari hadapanku. Hari ini aku menceraikanmu!" seru Arya yang baru saja menurunkan tangan setelah melabuhkan pada pipi putih dan meninggalkan bekas memerah di sana.
Putri yang mendengar perkataan Arya saat menceraikannya, merasa sangat shock dan memegangi pipi yang terasa sangat panas. Tamparan Arya yang sangat kuat tadi berhasil menyisakan rasa nyeri.
Bahkan tidak berhenti sampai di situ saja rasa sakit yang diterima karena luka hati dirasakan olehnya ketika pria yang sangat dicintai dan dipercaya baru saja menceraikan dirinya.
Ia yang tadi sangat murka dan berapi-api saat merasa sangat marah pada wanita yang telah dianggap menggoda Arya, kini seperti kehilangan tumpuan hidup begitu pria yang merupakan suami tersebut lebih memilih orang lain daripada dirinya.
Bahkan tadi sempat mundur beberapa langkah ketika mendengar kalimat cerai dari Arya.
Kata-kata Arya saat ini bagaikan disambar petir di siang hari. Tidak pernah terpikirkan jika akan melihat kejadian seburuk ini.
Jika tadi ia takut Arya kesal karena datang ke perusahaan, kini merasa sangat menyesal karena memilih untuk mengikuti kata hati. Berpikir bahwa jika tidak melakukan itu, mungkin tidak akan pernah terjadi hal buruk seperti ini.
Apalagi sekarang merasa bahwa dunianya hancur dan tidak tahu lagi harus melakukan apa setelah ini. Satu-satunya orang yang menjadi tempat bersandar telah memilih wanita lain dan menceraikannya.
Ia tidak tahu lagi, apa yang harus dilakukan saat ini. Bahkan suaranya tercekat di tenggorokan dan tidak bisa berkata apa-apa.
Namun, keberanian seketika muncul begitu melihat senyuman jahat dari wanita yang menjadi penyebab semua kemalangan yang terjadi hari ini.
Kemudian beralih menatap ke arah sosok pria yang masih sangat dicintai. "Kamu tidak boleh melakukan ini padaku hanya demi wanita munafik dan licik seperti ini. Sadarlah! Kamu sudah masuk dalam akal licik ular ini."
Kemudian ia menguatkan hati untuk berjalan mendekati sosok pria yang berdiri di sebelah wanita yang sangat ingin dihancurkan.
Putri kini menyentuh lengan kekar di balik kemeja berwarna putih yang digulung sampai siku tersebut. "Kembalilah seperti suamiku yang dulu. Aku sangat mencintaimu dan tidak akan pernah bisa hidup tanpamu."
"Kita sudah berjanji akan hidup bersama dengan saling mencintai selamanya. Apa kamu tidak ingat akan hal itu? Bahkan Xander membutuhkan kasih sayang seorang ayah. Jangan jadikan anak kita menjadi korban keegoisan para orang dewasa."
"Maafkan aku jika hari ini tidak bisa menahan amarah, tapi semua ini karena aku sangat mencintaimu. Aku tidak ingin kehilangan suami yang sangat kucintai. Kembalilah seperti dulu, Arya."
Putri bahkan berbicara dengan suara yang menyayat hati dan terdengar serak. Bahkan bola mata tidak berhenti mengeluarkan bulir bening air mata. Berharap jika mata hati Arya bisa terbuka dan kembali bersamanya.
Namun, semua hanyalah angan semu saat tubuhnya terhuyung ke belakang beberapa langkah akibat perbuatan kasar Arya.
Arya tidak bisa mengendalikan amarah ketika melihat sikap Putri yang dianggap hanyalah sedang berakting untuk menipu. Apalagi saat mengatasnamakan Xander yang bahkan bukan merupakan darah dagingnya, tetapi adalah benih pria lain.
__ADS_1
Tidak ingin terlalu lama melihat wanita yang hanya menorehkan luka di hati ketika mengingat kebohongan Putri, seketika Arya mengempaskan tangan untuk menghindari wanita itu.
"Dasar wanita munafik yang tidak tahu malu! Bagiku, kau hanyalah seorang wanita murahan yang rela melakukan segala cara untuk mendapatkan keinginan. Bahkan kau menggunakan bayi yang tidak tahu apa-apa hanya demi sebuah ambisi."
"Aku sangat muak melihat wanita sepertimu. Bahkan menyesal pernah mencintaimu. Sekarang pergi dan jangan pernah menampakkan diri di depanku karena di antara kita sudah tidak ada hubungan apapun."
Arya masih mengarahkan tatapan tajam menusuk tanpa memperdulikan wajah sembab Putri saat ini karena satu-satunya hal yang diinginkan hanyalah ingin segera melupakan semua masa lalu kelam di antara mereka.
Cinta Putri yang dianggap hanya penuh kepalsuan dan intrik demi bisa mendapatkan harta. Arya sangat muak ketika mengingat akan hal itu.
Sementara itu, Calista yang masih berdiri di sebelah Arya, kini beberapa kali mengusap lengan kekar pria itu. Berharap bisa meredam amarah yang seperti sebuah bom dan akan meledak.
"Sabar, Arya. Kamu harus bisa menahan emosi dan menyelesaikan semuanya dengan kepala dingin."
Arya sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata pun ketika Calista menenangkannya karena memang saat ini amarah yang menyeruak di dalam hati karena Putri.
Di sisi lain, Amira Tan merasa lega saat semua rencana yang disusun berhasil dan akhirnya Putri bisa melanjutkan hidup tanpa bayang-bayang Arya. Berpikir bahwa pria itu hanya akan menggantung status Putri dan itu malah lebih menyakitkan.
'Maafkan aku, Putri. Aku melakukan ini demi kebaikanmu. Setelah kamu bercerai dan bebas dari bayang-bayang Arya, akan hidup tenang dan memulai lembaran baru. Aku akan membantumu untuk mencari pekerjaan demi menopang kebutuhan dan juga membesarkan Xander.'
Sementara itu, Putri yang saat ini sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Arya, masih bersimbah air mata dengan perasaan hancur.
Namun, berpikir harus menyelesaikan kesalahpahaman hari ini. Meskipun merasa tubuh seperti tidak bertenaga, tapi saat ini ia mencoba untuk menguatkan hati dan kembali berjalan mendekat tanpa memperdulikan jika mungkin akan kembali mendapatkan kemurkaan Arya.
"Sebenarnya apa maksudmu? Aku sama sekali tidak mengerti. Kenapa kamu berbicara seperti aku adalah seorang wanita hina? Jelaskan padaku, apa kesalahanku, hingga kamu berbicara hal sangat buruk seperti ini."
"Aku akan berusaha untuk memperbaiki diri. Katakan padaku!" lirih Putri dengan suara serak karena bercampur dengan efek menangis.
Bahkan dari tadi tidak bisa menghentikan bulir air mata yang menganak sungai di wajah. Bahkan tubuh Putri seketika berjenggit kaget begitu mendengar suara bariton dari Arya yang berteriak dengan tatapan penuh kebencian.
"Dasar wanita munafik tidak tahu diri! Aku sudah sangat muak melihatmu? Pergilah dari hadapanku sekarang juga!" sarkas Arya dengan wajah memerah penuh kilatan emosi.
"Aku tidak akan pernah pergi sebelum mengetahui apa kesalahanku!" teriak Putri yang tak kalah emosi dengan menahan perasaan yang sangat hancur.
Hingga beberapa saat kemudian, Putri mulai mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Arya dan merasa jika semua yang terjadi adalah sebuah konspirasi.
__ADS_1
"Kau menipuku dengan mengatakan bahwa Xander adalah darah dagingku. Padahal adalah benih Bagus. Jadi, jangan kau berpikir bahwa aku tidak tahu apapun atas kebohonganmu!" sarkas Arya yang kini merasa seperti pria bodoh karena ditipu oleh sosok wanita yang sebenarnya masih sangat dicintai.
To be continued...