Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Perintah menjemput


__ADS_3

Beberapa jam lalu, Aldiano yang sudah baru saja pulang dari hotel dengan anak tirinya, langsung ke kamar dan menyuruh pelayan mengurus bocah laki-laki itu. Ia melangkah masuk ke dalam kamar karena ingin berganti pakaian dengan yang lebih casual.


Saat berada di ruang ganti, ia berdiri sambil mengamati pakaian yang akan dikenakan untuk menemui sang kekasih. "Aku harus tampil menawan agar dia tidak marah padaku karena melihat acara ulang tahun perusahaan yang memperkenalkan wanita murahan itu tadi."


Setelah cukup lama memilih, ia kini mengambil kemeja berwarna putih dan menggunakan blazer hitam serta celana senada. "Sekalian nanti kubelikan makanan serta minuman kesukaannya saja. Pasti tidak akan sibuk mengungkit kejadian di hotel."


Setelah terlihat rapi berpakaian, ia tidak lupa memakai parfum mahal yang hanya ada di luar negeri dan tentu saja memiliki aroma khas yang berbeda dari kebanyakan minyak wangi.


Apalagi ia tidak suka menggunakan parfum yang sama baunya dengan mayoritas orang, sehingga memilih yang memiliki aroma khas serta rela merogoh kocek lebih demi harga satu botol parfum yang terbuat dari kaca tersebut.


Setelah memakai Pomade dan menyisir rambut, kini ia tersenyum simpul begitu melihat penampilannya di depan cermin. "Perfect. Pasti dia sangat terpesona padaku malam ini. Nasib baik wanita murahan tadi menyuruhku pulang untuk membawa Xander."


"Jadi aku tidak perlu menemani papa untuk berbincang dengan beberapa rekan bisnisnya yang pastinya sangat membosankan." Aldiano bahkan sudah mengganti jam tangan mewah miliknya dengan yang sesuai.

__ADS_1


Setelah berpikir semuanya sempurna, ia kembali keluar menuju ke garasi dan begitu memencet remote, ia langsung masuk dan mengemudikan kendaraan menuju ke arah apartemen sang kekasih.


Namun, baru tiba di lampu merah pertama, dering ponsel mengalihkan perhatian dan langsung memasang earphone begitu melihat kontak sang ayah. "Iya, Pa."


"Apa kau sudah tiba di rumah, Aldiano?" tanya Bambang yang ingin mengetes putranya berbicara jujur atau tidak. Ia sebenarnya tadi sebelumnya sudah menelpon kepala pelayan untuk bertanya tentang putranya.


"Sudah, Pa. Aku ingin langsung beristirahat karena sangat lelah. Ada apa, Pa?" tanya Aldiano yang kini seperti merasakan ada sesuatu tidak beres dari sang ayah.


Sementara itu, Aldiano tanpa pikir panjang langsung menolak karena berpikir jika menjemput seorang wanita arogan yang tidak pantas mendapatkan kebaikannya.


"Lebih baik Papa saja yang menjemputnya karena aku sangat malas dan sudah mengantuk." Kemudian ia langsung mematikan sambungan telpon secara sepihak agar selamat dari sang ayah yang bersikap diktator padanya.


"Enak saja wanita murahan itu diantar jemput. Memangnya dia siapa? Ratu? Konyol sekali." Aldiano kembali menginjak pedal gas karena ingin segera tiba di apartemen sang kekasih.

__ADS_1


"Rencanaku untuk berpesta dengan kekasihku tidak boleh gagal hanya gara-gara wanita tidak berguna itu." Aldiano yang fokus mengemudi kini mendengar suara notifikasi.


Merasa penasaran dengan pesan masuk, kini langsung memencet tombol play karena melalui voice note. Hingga wajahnya memerah begitu mendengar suara sang ayah.


"Cepat jemput Putri atau kau tidak perlu pulang ke rumah karena Papa tahu bahwa saat ini tengah dalam perjalanan menemui pria itu!"


Aldiano seketika mengempaskan tangan pada kemudi dan membuatnya kembali meluapkan amarah dengan mengumpat.


"Berengsek! Kenapa aku tidak bisa hidup tenang semenjak ada wanita murahan itu? Terpaksa aku ke rumah sakit untuk menjemputnya demi menyelamatkan semua harta peninggalan nenek moyang," serunya sambil fokus mengemudi.


"Nasib baik aku tadi melihat nama rumah sakitnya. Setelah menjemput wanita murahan itu, aku akan menemui kekasihku. Ya, itu jauh lebih baik daripada kehilangan semua hartaku," lirihnya sambil fokus mengemudi.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2