
Beberapa saat lalu, Arya yang merasa sangat pusing semenjak kejadian yang dilakukan di apartemen Calista, sehingga pulang kerja mampir ke kontrakan untuk melihat Putri.
Berharap rasa bersalah pada Putri karena bercinta dengan Calista tidak menyiksanya, tapi yang terjadi malah bertengkar dengan wanita itu.
Setelah mendapatkan telpon dari sang ayah agar segera pulang, ia pun pergi dari kontrakan tanpa berpamitan pada Putri.
Arya merasa frustrasi karena Calista haru ini tidak masuk kerja dan tidak juga mengangkat telponnya maupun membalas semua pesannya.
Tadi pagi, ia memutuskan untuk meninggalkan apartemen Calista dan berniat meminta maaf pada wanita yang telah dipaksa untuk melayaninya karena efek mabuk.
Sepanjang perjalanan, pikirannya masih tertuju pada Calista dan juga Putri.
Ia kesal pada diri sendiri. Kenapa bisa begitu merindukan dan menginginkan Putri, sehingga melakukan kesalahan yang melibatkan teman wanitanya.
Bagaimana jika Calista marah dan membencinya?
Arya tidak ingin membuat sang ibu murka dan kembali drop. Mengingat kondisi sang ibu yang belum benar-benar pulih. Wanita paruh baya itu pasti akan sangat kecewa padanya.
__ADS_1
Arya memukul setir kemudi. Security rumah yang berjaga di kediaman orang tuanya segera membukakan pintu gerbang saat mobilnya sampai di sana.
Ia meninggalkan mobilnya begitu saja di dekat halaman bangunan yang luas tersebut.
Pekerja di sana sudah mengerti jika majikan mereka meninggalkan mobilnya begitu saja, pasti ada sesuatu. Mereka mengerti dan akan langsung memasukan mobil sang tuan ke dalam garasi bawah tanah di rumah itu.
Arya langsung menuju kamar dan masuk ke dalam ruang ganti yang menghubungkan langsung dengan kamar mandi di sana.
Ia berdiri di bawah guyuran shower yang membasahi seluruh tubuhnya. Kini tertunduk sambil memejamkan mata dengan kedua tangan yang berpegangan pada dinding kamar mandi di depannya.
Ia membiarkan air dingin mengguyur seluruh tubuhnya dari kepala hingga kaki, memberikan sensasi sejuk di sekujur tubuhnya.
Setelah merasa rambutnya tidak lagi basah, lalu melempar asal handuk tadi ke atas sofa. Kemudian meraih bungkus rokok yang ada di atas meja dan menuju balkon kamarnya.
Seperti biasa, Arya mulai menghidupkan sebatang rokok. Mengisapnya dengan perlahan, sambil bersandar di pagar pembatas balkon.
Entah sudah menghabiskan berapa batang rokok, tetapi ia merasa pikirannya masih belum juga tenang. Arya kembali masuk ke dalam kamar dan mecoba menghubungi Calista.
__ADS_1
Namun, wanita itu tidak menjawab dan semua pesan dan hanya dibaca saja, tidak ada balasan sama sekali.
“Sepertinya Calista benar-benar marah padaku. Apa sebaiknya aku datangi saja rumahnya, ya?” tanya Arya pada diri sendiri. "Sebaiknya aku memberikan ia waktu untuk menenangkan diri lebih dulu."
***
Keesokan harinya, Arya pergi ke rumah sakit untuk menyusul sang ayah yang sejak semalam tidak pulang karena menemani sang ibu di sana.
Sesampainya di rumah sakit, Rani langsung menodong Arya dengan berbagai pertanyaan mengenai pesta semalam bersama Calista.
Arya menjelaskan pada sang ibu tentang kejadian malam itu di pesta.
Namun, tidak menceritakan bagian ia yang pergi ke klab malam bersama Calista yang berujung mabuk dan melakukan kesalahan besar. Arya akan bercerita, tetapi tidak sekarang.
Seharian Arya berada di rumah sakit karena kebetulan hari ini adalah hari Minggu dan tidak bekerja. Ia tidak ingin kesepian di rumah keluarga besar yang megah, sehingga menghabiskan waktu di rumah sakit.
Hingga tanpa terasa, langit sudah gelap saat Arya pamit untuk pulang pada sang ayah dan ibunya. Ada sesuatu yang ingin dikerjakan hari ini karena ulahnya sendiri yang melakukan kesalahan akibat pengaruh minuman beralkohol.
__ADS_1
To be continued...