
Airin bisa mengerti apa yang dipikirkan oleh Mira dan tentu saja merasa sangat berterima kasih karena putranya sudah dilindungi. "Kamu selalu mengetahui yang terbaik untukku. Terima kasih."
"Kita adalah saudara, jadi tidak perlu mengucapkan terima kasih seperti itu. Aku benar-benar tidak pernah menduga jika pria itu akan berbuat nekad karena kau menolaknya. Rasanya aku ingin menghabisinya sekarang."
Putri bisa melihat kilatan amarah di wajah Mira, tetapi karena tidak ingin membuang waktu untuk segera angkat kaki dari kampung itu, sehingga langsung mengungkapkan rencananya pada wanita yang selama ini sangat disayangi sebagai saudara perempuan.
"Pria itu akan mendapatkan karma dari perbuatan jahat yang dilakukan hari ini. Aku harus segera pergi dari sini karena tidak ingin membuat para warga sekitar malu. Mereka akan merasa tenang saat aku pergi dari kampung ini." Putri kemudian berkemas dan berniat hanya membawa pakaian saja.
Sementara itu, Mira merasa terkejut dengan keputusan Putri dan kini mengejar masuk ke dalam kamar dan melihat sudah mengambil koper dan memasukkan pakaian.
"Putri, apa tidak ada jalan lain selain pergi dari sini? Aku akan mencoba berbicara pada kepala keamanan di sini. Bahwa kamu adalah korban dari kegilaan Ardiansyah. Memangnya kamu mau pergi ke mana jika tidak tinggal di sini?" tanya Mira dengan wajah penuh khawatir.
"Aku akan kembali ke kota dan memulai hidup baru di sana. Sepertinya aku tidak cocok tinggal di kampung ini. Tidak perlu melakukan apapun untukku karena kamu sudah banyak membantu sampai sejauh ini. Kita tetap akan bisa berhubungan lewat ponsel. Jika ada waktu, bisa pergi ke kota untuk sesekali mengunjungiku dan berlibur di sana."
Putri sudah memasukkan semua pakaian putranya dan termasuk miliknya sendiri. Tanpa berniat untuk membuang waktu karena ingin segera pergi dari kampung yang meninggalkan hal buruk dalam hidupnya, ia kini sudah memesan taksi agar segera datang.
Setelah selesai berkemas, segera berganti pakaian tanpa berniat untuk membersihkan diri terlebih dahulu karena sudah tidak ingin berlama-lama di kampung. "Aku serahkan semua yang ada di sini padamu. Kamu bisa meneruskan usahaku yang sudah punya banyak langganan."
__ADS_1
"Mengenai catatan pesanan, ada dalam buku yang kutaruh di laci. Sayang jika usaha ini tidak ada yang meneruskan. Jadi, lanjutkan saja dan suruh orang mengurusnya."
Mira saat ini berkaca-kaca karena merasa tidak tega melihat Putri. Ingin sekali menghentikan niat wanita yang sudah dianggap sebagai saudara perempuan itu.
Namun, mengetahui bahwa kejadian hari ini benar-benar meninggalkan luka mendalam di hati Putri dan tidak mungkin akan menahan kepergiannya.
"Baiklah, aku akan mengurusnya. Kamu harus jaga diri baik-baik di sana." Mira memeluk erat tubuh Putri sebagai salam perpisahan.
Bahkan satu persatu orang yang selama ini bekerja untuk Putri sudah bersimbah air mata karena merasa kehilangan ketika bos mereka berpamitan.
Hingga taksi datang dan Putri langsung masuk ke dalam bersama putranya. Namun, mendadak mengingat sesuatu dan berbicara pada Mira.
Mira yang saat ini berdiri di sebelah taksi, sudah tidak mampu lagi berbicara apa-apa karena merasa miris atas nasib yang menimpa Putri.
Namun, karena merasa kesal dan geram saat Putri masih berbuat baik pada pria jahat itu, membuatnya mengarahkan tangan untuk memukul ringan lengan wanita di dalam taksi tersebut.
"Kenapa kamu masih ingin memberikan uang untuk si berengsek itu? Seharusnya kamu membawa uang itu sebagai pertanggungjawaban dari Ardiansyah yang telah mempermalukanmu di kampung ini."
__ADS_1
"Itu bukan hakku dan aku pun tidak sudi untuk membawa uang pria itu. Jaga diri baik-baik, Mira. Sekali lagi terima kasih untuk semua bantuanmu," ucap Putri yang sudah melambaikan tangan dan menutup pintu mobil.
Kemudian menyuruh sopir taksi untuk meninggalkan rumah kontrakan menuju ke terminal. Ia bahkan sudah berlinang air mata ketika memikirkan nasibnya yang harus berjuang dari nol lagi dengan membesarkan putranya yang saat ini ada di pangkuannya.
'Kuatkan aku, Tuhan agar aku tidak menyerah saat berjuang memberikan kehidupan yang layak untuk Xander"
Kemudian mencium putranya yang dari tadi sama sekali tidak rewel, seolah mengerti apa yang terjadi pada sang ibu.
Sementara itu, Mira dan para pekerja yang ada di kontrakan sudah saling berpelukan dan menangis tersedu-sedu karena sangat kehilangan Putri.
Hingga melihat kedatangan pria yang menjadi penyebab Putri pergi dan Mira langsung beranjak masuk untuk melaksanakan amanat mengenai upah Ardiansyah.
'Pria tidak tahu diri itu masih berani datang ke sini untuk menemui Putri. Aku ingin sekali menghajarnya,' umpat Mira yang sudah menemukan kaleng biskuit berisi uang dan langsung membawanya ke depan.
"Aku ingin bertemu Putri," ucap Ardiansyah saat ingin memastikan sesuatu karena tidak ingin kehilangan wanita yang tadi mengatakan akan pergi dari kampung demi bisa membuat semua orang tenang dan juga menghindar.
Namun, merasa sangat terkejut begitu mendapatkan lemparan kaleng biskuit yang seketika terbuka di hadapannya dan bisa melihat lembaran uang di dalamnya.
__ADS_1
To be continued...