Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Kalimat ambigu


__ADS_3

Putri mengantar Amanda ke depan yang dijemput oleh Bagus dan masuk kembali ke dalam rumah setelah memastikan jika mereka sudah benar-benar pergi dari sana.


Putri belum tahu Amanda akan membantunya untuk berapa hari karena ia sendiri belum menanyakan hal itu pada Bagus.


Saat Putri hendak melangkah masuk ke dalam rumah, ia mendengar deru mesin mobil yang berhenti tepat di depan rumah, membuatnya menghentikan langkah dan membalikkan badan.


“Arya?” Wajah Putri tampak senang melihat kehadiran suaminya.


Namun, sepertinya itu berbanding terbalik dengan Arya karena menatap dingin.


"Akhirnya kamu pulang juga. Ayo kita masuk. Xander pasti senang melihatmu pulang." Putri menggandeng tangan Tomy ke dalam rumah.


Sementara Arya hanya diam dan mengikuti langkah wanita di sampingnya. Mereka kemudian masuk ke dalam kamar untuk menemui Xander yang sedang tertidur di atas ranjang.


“Biasanya ia akan bangun jam delapan nanti dan akan tidur lagi jam sembilan atau jam sepuluh,” jelas Putri sembari terkekeh dan menatap puteranya.


"Kamu sudah makan atau belum? Kita makan bersama, ya!"


Putri mengajak Arya menuju dapur dan meminta pria itu untuk duduk di meja makan.


Arya hanya diam menerima saja ketika Putri menyodorkan piring yang sudah berisi nasi dan lauk pauk.


Mereka makan dalam diam, tanpa ada obrolan yang berarti atau hanya sekadar obrolan ringan saja.


Putri menatap piring Arya yang masih menyisakan isinya, tetapi pria itu tampaknya sudah selesai dengan makannya.


"Sepertinya masakan di rumah sudah tidak membuatmu berselera lagi, ya,” celetuk Putri dengan senyum getir yang terlukis di sudut bibirnya.


Sekeras apapun ia mencoba untuk berusaha baik-baik saja dan tetap menganggap jika memang tidak terjadi apa-apa di antara mereka, tetapi sikap Arya semakin memperjelas semuanya.


“Bagaimana aku masih bisa menikmati makanan itu, jika yang aku anggap istimewa dan sangat spesial, ternyata juga disuguhkan untuk orang lain."


"Tidak ada alasan lagi untuk tetap menganggap makanan itu istimewa. Apalagi untuk menikmatinya. Rasanya sudah hambar,” balas Arya dengan tatapan yang begitu dingin.


“Maksudmu?” tanya Putri. Ia mengerutkan kening, Tidak mengerti sama sekali dengan kalimat yang Arya ucapkan.


“Bukankah kau sudah tahu jawabannya?” Arya menanggapi ucapan Putri dengan pertanyaan lagi.


“Jangan bermain teka-teki denganku, Arya! Katakan saja apa maksud dari ucapanmu tadi.” Tatapan Putri begitu tajam pada pria yang duduk berhadapan dengannya.

__ADS_1


“Bukankah kau sangat senang bermain teka-teki seperti itu?” Lagi, Arya menanggapi dengan sebuah pertanyaan.


Kemudian beranjak dari meja makan dan melangkah menuju ruang tamu.


“Arya, apa maksud ucapanmu?” Putri menyusul suaminya dan menarik tangan pria tersebut.


“Ada apa denganmu? Katakan jika memang aku mempunyai salah. Kita bicarakan baik-baik. Bukankah memang seperti itu selama ini?” Putri kembali menatap suaminya, tetapi kali ini tatapan wanita itu begitu lembut.


“Bahkan kau saja tidak menyadari kesalahan sendiri. Bagaimana aku akan mengatakannya?"


"Apakah kau akan mengakui jika aku mengatakannya? Aku rasa kau hanya akan memikirkan bagaimana cara untuk menutupinya,” sarkas Arya dengan senyum yang terlihat meremehkan pada istrinya.


“Bagaimana bisa tahu bagian mana kesalahan yang aku lakukan jika kamu saja tidak mengatakannya padaku, Arya."


“Lupakan saja karena yang penting, seperti keinginanmu, kita masih menjadi suami istri, kan?'


"Aku akan tetap menafkahimu walaupun kita tidak tinggal satu rumah lagi. Oh, ya. Sepertinya tanpa ada aku di sini, masih ada suami lain yang selalu menjagamu.” Arya menyeringai dan mengempaskan tubuhnya ke atas sofa.


“Maksudmu Bagus?” tanya Putri yang ikut duduk di samping suaminya.


“Apa kamu punya suami lain selain aku dan dia?” Arya mengangkat sebelah alisnya dan menatap tajam wanita yang masih menjadi istrinya tersebut.


"Nihil, Putri benar-benar pandai bersandiwara dan sangat sulit untuk Arya mengartikan arti tatapan wanita itu.


“Jadi, kamu melihatnya di luar sana tadi?” tanya Putri lagi.


“Apa aku harus menutup mata dan berpura-pura buta untuk melihat sesuatu yang begitu jelas di depan mataku?”


“Bagus menang datang ke sini, tetapi kami tidak hanya berdua di rumah ini."


"Ada Amanda juga bersama kami di sini,” jelas Putri. Bagaimanapun, ia tidak ingin Arya salah paham padanya. “


“Berapa kalian membayar wanita itu sebagai pengecoh tetangga agar tidak curiga dengan kalian?” sarkas Arya lagi.


Putri benar-benar tidak menyangka dengan tanggapan Arya.


“Arya! Tuduhan yang kamu berikan itu tidak berdasar sama sekali. Bagus bukan orang yang seperti itu. Kamu adalah orang yang paling tahu bagaimana hubunganku dengannya."


"Bahkan kamu tahu aku yang sudah sejak lama ingin bercerai dengannya. Kenapa sekarang menuduh seolah-olah aku berkhianat?”

__ADS_1


“Aku tidak menuduh, hanya mengatakan apa yang kulihat. Kau menerima tamu pria lain saat suamimu tidak ada di rumah. Apa kau pikir itu pantas?” Arya mulai meninggikan satu nada suaranya dan menatap tajam pada sosok wanita di hadapannya.


Ia semakin kesal mendengar Putri yang seolah-olah membela Bagus.


Kini, Putri seketika membulatkan mata, tidak menyangka Arya berani membentaknya. Arya seolah memantik api dalam dirinya dan membuat berkobar seketika.


“Cukup, Arya! Kalau kamu memang ingin meninggalkanku dan putra kita, katakan saja. Tidak perlu memutarbalikkan fakta dan melempar kesalahan pada orang lain. Apalagi sampai memberikan tuduhan yang tidak berdasar."


"Kamu tahu, Bagus masih sah sebagai suamiku. Bahkan aku bisa bebas kapan saja bertemu dengannya jika aku mau, tapi aku menghargaimu dan selalu menghindarinya."


"Tidak peduli sebesar apa luka yang sudah aku torehkan di hatinya, tetapi ia masih tetap mau menolongku."


"Tidak peduli berapa kali aku menolaknya, ia tetap berusaha. Bukan untuk mencari kesempatan, tapi memang benar-benar ingin menolongku.”


Putri bicara dengan napas yang memburu, menahan gejolak di dadanya yang terasa begitu sesak.


“Wanita yang kamu lihat bersama Bagus tadi memang adalah seorang gadis yang dibayar oleh Bagus, tapi bukan untuk membodohi tetangga seperti apa yang kamu tuduhkan tadi."


"Ia membayar gadis itu untuk membantuku membersihkan rumah dan menemaniku. Kamu tidak tahu, bukan, apa saja yang terjadi di rumah ini selama pergi? Bagaimana kondisi putramu?”


Putri berteriak, tatapannya penuh amarah dan rasa sakit. Ia ingin meluapkan semuanya. “Di mana kamu saat aku dan Xander membutuhkanmu?"


"Di mana kamu saat Xander sakit dan harus segera dibawa ke klinik? Apa kamu tahu bagaimana khawatirnya seorang ibu saat harus melihat anaknya yang terus menerus menangis dengan suhu tubuh yang panas?"


"Di mana kamu, Arya? Bahkan saat aku memintamu untuk pulang sebentar saja. Kamu justru abai dan memintaku pergi sendiri?"


"Apa kamu tahu kekacauan apa keadaan rumah ini selama Xander sakit? Jangankan untuk mandi atau membereskan rumah, bahkan makan saja, harus membawa Xander dalam gendonganku."


"Di mana kamu saat itu? Dibanding menuduhku, kenapa tidak kamu tanyakan saja keadaan putramu.” Putri menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Pundak wanita itu bergetar karena isaknya.


Arya ingin menyanggah semua ucapan Putri dan mengatakan kenapa wanita itu tidak mau mengakui kesalahan yang sudah ia lakukan.


Namun, baru ingin membuka mulut, ponsel di saku celananya berdering. Membuatnya mengurungkan niat dan mengambil benda pipih yang terus saja berdering.


Papa, nama itulah yang tertera di layar ponselnya. Ia segera beranjak keluar rumah untuk menerima panggilan dari sang ayah.


Sementara itu, Putri yang sangat kesal dan marah, meninggalkan ruang tamu dan masuk ke dalam kamarnya.


Mengunci pintu di belakangnya dan mematikan lampu kamar, naik ke atas tempat tidur dan berbaring di samping putranya yang masih tertidur pulas

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2