
Noah yang saat ini sudah berpenampilan rapi karena ingin melamar pekerjaan di salah satu perusahaan yang berada dekat dengan kantor Amira Tan dan memilih untuk menemui sang kekasih terlebih dahulu.
Noah semalaman tidak bisa tidur karena pesan dan juga telpon darinya tidak diangkat oleh sang kekasih. Apalagi saat ini merasa bahwa yang terjadi adalah Amira Tan dipengaruhi oleh Jack untuk membencinya. Jadi, ingin mengatakan pada Amira Tan bahwa Jack adalah seorang pria yang sangat licik.
Bahkan ia akan berusaha untuk menghilangkan sifat egois saat merasa sangat cemburu pada Amira Tan yang akan lebih dekat dengan Jack karena sudah tidak lagi bekerja di kantor yang sama.
Apalagi akan sering bersama setelah menikah dan Noah benar-benar merasa sangat frustasi, tetapi harus menyembunyikan apa yang menyiksa dengan cara bersikap biasa pada Amira Tan.
Kini, ia menyapa semua orang yang selama ini menjadi teman bekerja di kantor. "Selamat pagi. Apa kekasihku ada di ruangannya?"
Noah memang sudah tidak menyembunyikan hubungan mereka di depan staf kantor karena kemarin menunjukkan bahwa ia adalah kekasih wanita hebat itu.
Sementara beberapa pria dan wanita yang duduk di depan komputer tersebut menatap ke arah Noah penuh keheranan karena mereka berpikir bahwa pria hadapannya tersebut mengetahui penyebab bos tidak datang kerja hari ini.
"Bos hari ini libur karena ada sesuatu hal yang mendadak, tapi tidak menjelaskan pada kami. Memangnya kamu tidak tahu? Bukankah kamu adalah kekasih bos? Masa tidak tahu sekarang nona Amira Tan ada di mana," seru salah satu wanita yang kini mengerutkan kening karena merasa aneh melihat raut wajah terkejut dari pria yang bahkan berstatus sebagai kekasih pimpinan di kantor.
Noah saat ini merasa tertampar dengan jawaban sekaligus pertanyaan dari salah satu rekan kerja wanita tersebut. Namun, karena sudah terlanjur malu, berakting santai dan berjalan mendekati meja kerja beberapa orang yang ada di hadapan.
"Aku semalam berdebat dengannya, sehingga tidak mengangkat telponku. Sepertinya sekarang masih kesal padaku. Lebih baik aku nanti cari dia di rumah atau rumah sakit. Sepertinya keadaan ibunya belum baik, sehingga tidak masuk kerja dan memilih untuk menjaga sang ibu."
"Wah ... kalian baru saja menjalin hubungan, malah sudah bertengkar. Bukankah seharusnya sedang romantis karena baru mengesahkan hubungan sebagai pasangan kekasih?" sahut seorang pria yang saat ini bangkit dari posisi dan berjalan mendekati Noah yang membuatnya merasa iri karena berhasil mendapatkan bosnya.
Meskipun hanyalah seorang staf biasa, tetapi bisa membuat semua pekerja laki-laki di sana merasa iri. Kemudian menepuk bahu kokoh Noah. "Jangan bertengkar dengan bos karena kamu yang akan rugi."
"Jika aku adalah kamu yang menjadi kekasih bos, pasti akan selalu melakukan apapun perintahnya karena tidak ingin bertengkar yang akan merusak hubungan."
Sementara itu, Noah saat ini hanya diam saja tanpa mengungkapkan mengungkapkan apapun karena berpikir bahwa perkataan pria tersebut seperti membuatnya terkesan tidak punya harga diri sebagai seorang laki-laki.
__ADS_1
Namun, meskipun begitu, membenarkan bahwa saat ini benar-benar sangat stres dan frustasi ketika tidak bisa menghubungi Amira Tan yang sepertinya masih marah padanya.
Noah akhirnya berakting terkekeh geli mendengar nasehat dari salah satu staf di kantor tersebut. "Kau benar, aku benar-benar kebingungan dan rugi saat tidak bisa menghubungi kekasihku."
"Sepertinya mulai sekarang akan melakukan nasihatmu itu agar tidak kehilangan wanita hebat sepertinya."
"Apakah kau benar-benar mencintai bos Amira Tan?" tanya sosok pria yang saat ini tengah menatap intens sambil menunggu jawaban dari Noah.
Noah memicingkan mata karena merasa seperti diejek oleh pria yang berada di hadapannya. "Apa maksudmu? Tentu saja aku sangat mencintai Amira Tan. Mana mungkin menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih jika tidak saling mencintai?"
"Bisa saja karena kamu berpikir bahwa bos bisa memberikan apapun karena merupakan seorang wanita hebat yang pastinya punya banyak uang. Bukankah ada banyak pria yang memanfaatkan wanita demi bisa memenuhi keinginan agar diberikan banyak barang oleh kekasih?" Baru saja mengungkapkan pendapat, seketika tubuhnya terhuyung ke belakang begitu mendapatkan pukulan dari Noah.
Noah yang sudah cukup bersabar karena dihina dua kali, sehingga saat ini tidak lagi bisa menahan amarah yang membuncah di dalam hati akibat perkataan yang dianggap seperti merendahkan harga dirinya.
"Apa kau mau mati?" sarkas Noah yang langsung mengepalkan tangan dan mengincar wajah pria di hadapan.
Meskipun selama ini menghormati semua orang di kantor, tapi kali ini merasa sudah keterlaluan dan berpikir bahwa pria tersebut sengaja menghinanya.
Hingga suara jeritan dari para wanita menggema di ruangan tersebut dan beberapa pria lainnya melerai agar tidak terjadi perkelahian.
Berpikir jika hanya menjadi penonton, malah akan ikut terlibat dan disalahkan oleh bos mereka, sehingga saat ini memilih untuk tidak lagi berpikir dua kali memisahkan dua pria yang tengah adu kekuatan tersebut.
"Hentikan! Ini adalah kantor. Jika bos mengetahui hal ini, kalian akan dipecat dan semua tetap tidak bersalah juga akan terkena imbasnya," ucap salah satu pria yang masih memegangi tangan Noah agar tidak kembali mengarahkan pukulan pada rekannya yang lain.
Noah saat ini terlihat memerah wajahnya dengan bunyi rahang mengeras karena gigi saling berbenturan. "Aku tidak akan pernah melepaskan pria ini karena menghina harga diriku!"
Bahkan masih mengepalkan tangan dan berusaha untuk menghambur meninju pria yang dianggap iri padanya karena berhasil mendapatkan Amira Tan. "Aku sama sekali tidak takut dipecat dari kantor ini karena ada banyak tempat yang lain untuk bekerja."
__ADS_1
"Namun, aku tidak akan membiarkan ada seseorang yang menghina harga diriku sebagai seorang pria ketika menganggap hanyalah mempermainkan Amira Tan karena mengejar harta."
Masih cukup kuat untuk menahan tangan kekar Noah, pria tersebut meminta bantuan rekan yang lain untuk memegang pada bagian lengan sebelah kiri.
Apalagi mengetahui bahwa saat ini dikuasai oleh amarah dan ingin menghancurkan siapapun yang menghalangi. "Berhenti, Noah! Kau tidak bisa membuat kekacauan di kantor Jika benar-benar mencintai bos."
"Bukankah bos akan kecewa padamu karena membuat keributan di tempat kerja?" Kemudian beralih ke arah sahabatnya yang terlihat mengusap sudut bibir ketika mengeluarkan darah.
"Lebih baik kau meminta maaf dan tidak mengulangi kesalahan untuk menghina orang lain."
"Aku sama sekali tidak menghina karena menurutku hanya bertanya padanya. Noah, jangan terlalu berlebihan menanggapi pertanyaanku yang bahkan sama sekali tidak berpikir untuk merendahkan harga diri." Staf pria tersebut ingin sekali membalas dendam dengan cara meninju wajah, tetapi khawatir jika melakukan hal itu malah akan dipecat dari kantor dan kehilangan pekerjaan.
Jadi, hanya mengatakan hal yang menurutnya benar, meskipun sebenarnya di dalam hati merasa iri pada pria yang baru saja bekerja berapa minggu, tetapi malah sudah berhasil mendapatkan bos mereka.
Bahkan selama ini mengincar bosnya cukup lama, tetapi tidak berani mendekati karena takut dipecat. Namun, saat pegawai baru datang, sehingga merasa iri begitu mendengar kabar jika pria itu ternyata berhasil mendapatkan bosnya.
"Omong kosong! Kau berbicara tidak berniat untuk mengingatkan diriku, tapi semua perkataanmu menegaskan bahwa aku seperti seorang pria yang tidak berguna dan memanfaatkan Amira Tan untuk mendapatkan semua kemewahan, bukan?" sarkas Noah yang saat ini merasa sangat marah dan tidak bisa diam saja saat dihina sebagai seorang pria yang suka memanfaatkan wanita.
Padahal selama ini tidak dekat dengan para wanita dan hanya mencintai Amira Tan, tetapi karena kasta yang berbeda, sehingga harus mendapatkan penghinaan seperti ini. Bahkan orang tua sang kekasihku berpikiran sama.
Bahwa ia sengaja mendekati Amira Tan hanya untuk bisa memanfaatkan, hingga memaksa sang kekasih untuk menikah dengan pria yang bahkan tidak dicintai sama sekali.
Karena tidak ingin semakin terbakar amarah dan membuat Amira Tan kecewa karena mengacau di kantor, kini Noah mengempaskan tangan yang masih ditahan oleh dua pria.
"Lepaskan! Aku sama sekali tidak menginginkan permohonan maaf dari pria berengsek itu! Karena mengetahui bahwa itu bukan tulus dari hati dan menyadari kesalahan, tapi melakukan karena takut dipecat dari kantor karena aku adalah kekasih bos."
Tidak ada pilihan lain, kini dua pria yang menahan tangan segera melepaskan karena berpikir bahwa kalimat terakhir tersebut membuat mereka khawatir jika benar-benar terjadi.
__ADS_1
Berpikir bahwa tempat itu merupakan tempat kerja paling nyaman dan tidak tertekan yang membayar gaji mereka cukup tinggi. Jadi, begitu membayangkan dipecat dari kantor karena kesalahan, sehingga membuat mereka khawatir.
To be continued...