
Arya beberapa saat lalu baru saja tiba di alamat yang dikirimkan oleh Calista. Sebenarnya sering mendengar Club malam itu karena cukup populer di kalangan anak muda. Namun, belum pernah datang ke sana karena lebih memilih untuk datang ke tempat yang sering dikunjungi para sahabat.
Hanya saja, tidak sering karena lebih suka pergi ke Cafe untuk sekedar makan dan nongkrong.
Setelah memilih tempat duduk dan mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan Calista, tetapi tidak menemukan wanita yang dicari. Arya memilih untuk menunggu dengan sabar dan memesan minuman non alkohol.
Setelah sepuluh menit berlalu, tetapi Calista tidak kunjung datang, akhirnya Arya memilih untuk menelpon dan bertanya. Apakah wanita itu sudah berangkat atau belum.
Namun, beberapa saat menunggu, panggilan tidak diangkat dan membuat ia mengacak frustasi rambut karena sangat kesal dengan sikap wanita yang terlihat sangat seenaknya tersebut.
"Sebenarnya apa yang diinginkan Calista? Apa sengaja melakukan ini untuk membalas dendam karena aku telah memperkosanya saat dipengaruhi alkohol?"
Embusan napas kasar kini seolah mewakili perasaan Arya saat ini. Begitu minuman pesanan datang, langsung menepuk hingga habis karena merasa tenggorokan sangat kering saat marah.
Beberapa menit kemudian, ia melihat wanita yang ditunggu baru saja melangkah memasuki pintu utama dan mengarahkan tatapan intens ketika Calista berjalan semakin mendekat setelah mengedarkan pandangan untuk mencari.
"Akhirnya Calista datang juga. Aku ingin tahu, apa yang diinginkan dariku. Apakah akan menuntut pertanggungjawaban?" Arya masih menunggu hingga Calista semakin mendekat dan begitu mendaratkan tubuh di kursi, tidak menyukai penampilan yang memakai gaun dengan belahan terbuka di bagian depan.
Tentu saja saat ini Arya bisa melihat dengan jelas belahan dada Calista yang pastinya akan membuat mata para pria tidak berkedip.
Calista kali ini mengulas senyuman dan bersikap seperti tidak terjadi apapun di antara mereka. "Maaf karena jalanan macet, jadi aku baru datang."
"Kenapa memakai pakaian terbuka seperti itu? Apakah kamu ingin membuat para pria di sini tergila-gila padamu?" Arya berbicara dengan ketus karena merasa kesal saat menunggu terlalu lama.
__ADS_1
Masih terlihat tenang dan tidak terpancing emosi saat Arya terlihat kesal, Calista melambaikan tangan pada salah satu pelayan dan memesan Cocktail yang biasanya dicampur dengan lebih komponen tambahan yang membentuknya menjadi minuman beraroma kuat dan menjadi favoritnya.
Komponen tambahan yang diketahui berupa air, gula, jus buah, soda, madu, dan lainnya, sangat disukai oleh Calista, sehingga Cocktail menjadi minuman paling favorit.
Kemudian Calista menoleh ke arah Arya yang kembali berbicara dengan penuh amarah.
"Lebih baik segera katakan padaku mengenai tujuanmu mengajak bertemu di sini." Mendengar suara dentuman musik DJ yang memekakkan telinga, membuat Arya merasa tidak nyaman dan ingin segera pergi dari sana.
"Kenapa sikapmu jadi seperti ini padaku? Bukankah seharusnya aku yang marah setelah kamu memaksaku untuk melayanimu pada malam kamu mabuk." Calista yang akhirnya memilih untuk membuka pembicaraan karena sikap dingin Arya.
"Padahal aku tadi ingin menunda membahas tentang hal ini, tetapi sepertinya kamu muak setelah menikmati tubuhku. Pergilah jika tidak ingin melihatku!" Calista memilih untuk mengibaskan tangan dan berjalan meninggalkan Arya.
Tentu saja bukan untuk pergi dari sana, tetapi memilih untuk berbaur dengan pengunjung lain yang sudah sibuk bergerak meliukkan badan, mengikuti alunan musik DJ yang begitu menggelegar pada tempat dance on the floor.
'Kamu akan menjadi milikku, Arya. Jangan sebut aku Calista saat tidak bisa membuatmu menikahiku.'
Sementara itu di sisi lain, yaitu di tempat duduk Arya, terlihat sedang mengepalkan tangan karena melihat sikap Calista.
"Dasar wanita kekanakan! Apa yang sebenarnya diinginkan Calista? Aku sangat tidak paham dengan apa yang saat ini dipikirkan. Apalagi hari ini terlihat sangat liar. Jika aku pergi, akan ada pria brengsek yang memanfaatkan Calista."
Arya masih duduk diam dan mengamati sosok wanita yang sudah sibuk meliukkan tubuh bersama para pengunjung lain. "Jika aku pergi, akan mendapatkan kemurkaan dari orang tua Calista karena menutup mata ketika melihat putri mereka berbuat gila di sini."
"Apalagi sekarang orang tuaku berteman dengan mereka. Jika terjadi sesuatu pada Calista, pasti nama baik keluargaku akan tercemar. Akhirnya aku kembali mengecewakan papa dan mama." Arya menggelengkan kepala karena tidak ingin itu terjadi.
__ADS_1
Entah sudah berapa kali ia mengembuskan napas dengan kasar. Akhirnya ia mengambil keputusan untuk tidak pergi dari Club dan Calista dari para pria berengsek yang bisa membahayakan keselamatan seorang wanita yang sedang marah tersebut.
Kini, Arya bangkit dari posisinya dan berjalan ke arah Calista. Bahkan melihat ada beberapa pria yang berusaha mendekati wanita itu dan membuat Arya merasa khawatir.
"Benar apa yang kupikirkan. Dasar wanita bodoh!" Arya mempercepat langkah kaki dan langsung berada di hadapan Calista setelah mengibaskan tangan pada dua pria yang berusaha untuk menyentuh.
"Wanita ini kekasihku! Jadi, jangan berusaha untuk mendekat atau mengganggu!" teriak Arya dengan suara sangat keras karena beradu dengan alunan musik DJ yang menggelegar di ruangan tersebut.
Usahanya berhasil karena dua pria itu seketika menyingkir dan Arya beralih menarik pergelangan tangan Calista karena ingin mengajak berbicara di tempat yang tenang. Bukan di tempat bising yang harus berbicara dengan cara berteriak.
"Ikut aku!" Arya berusaha untuk pergi dari kerumunan para pengunjung yang masih sibuk bergerak mengikuti alunan musik DJ.
Namun, gagal melakukannya karena Calista mengempaskan tangan dan berniat untuk kembali.
Calista sebenarnya semakin percaya diri saat Arya tidak pergi dan memilih untuk menghampirinya. Jadi, merasa menang dan ingin kembali membuat pria itu kesal.
"Lepaskan aku! Pergilah sendiri karena aku masih ingin bersenang-senang di sini." Saat Calista berjalan, seketika menjerit kecil ketika tubuhnya tiba-tiba diangkat ke atas oleh Arya seperti karung beras.
Merasa geram karena Calista tidak patuh, tanpa membuang waktu, Arya memilih untuk menggendong dan segera berjalan keluar dari tempat yang dianggap sangat menyesakkan dan menyakiti gendang telinga.
"Arya, turunkan aku sekarang!" teriak Calista yang berusaha untuk menggerakkan tubuh karena berpura-pura menolak ketika Arya menggendong ala bridal style.
To be continued...
__ADS_1