
Calista yang awalnya menangis tersedu-sedu di pelukan Arya karena tiba-tiba memeluk dengan sangat erat. Bahkan ia bisa mencium aroma maskulin yang sudah sangat dihafal selama ini.
Tidak pernah menyangka ketika menceritakan tentang masa lalu yang membuat terpuruk, malah mendapatkan sesuatu.
Hal yang sangat diinginkan kini seperti telah berada di depan mata ketika mendengar tawaran baik dari Arya yang masih memeluk erat.
'Benarkah apa yang Arya katakan? Ingin membuka hati dengan mencoba untuk saling mengobati luka di antara kami? Saat aku sama sekali tidak berakting ketika menangis karena mengingat ulah bajingan itu, ternyata ia melihat ketulusanku saat mencintai seorang pria.'
'*Kebodohan di masa lalu, kini mendapat sebuah berkah dan harapan besar dari Arya karena mulai membuka hati dan menerimaku untuk menjalin hubungan lebih dari seorang teman.'
'Tidak sia-sia usahaku selama ini untuk berusaha menjadi teman yang baik. Sekarang, Arya sudah menerimaku dan aku tinggal memberikan seluruh cintaku padanya*.'
Saat Calista tengah sibuk bergumam sendiri di dalam hati karena merasa tidak percaya dengan tawaran Arya, seolah ingin mencubit pipi untuk menyadarkan, apakah ini mimpi atau kenyataan.
Hal berbeda kini dirasakan oleh Arya yang masih sibuk mengusap lembut lengan Calista saat masih terus menangis tersedu-sedu dalam dekapannya.
__ADS_1
Sejujurnya ia merasa bingung dengan perasaan pada Calista, tetapi tekadnya sudah bulat untuk melupakan Putri yang telah menipu dan memanfaatkan demi mendapatkan kemewahan pada bayi yang sudah diberi nama Xander.
Arya merasa senasib dengan Calista dan berpikir jika mereka bisa saling mengisi kekosongan dan mengobati luka di dalam hati karena sebuah pengkhianatan.
Meskipun dalam versi berbeda, tetapi sama-sama merasakan bagaimana rasanya dikhianati oleh kepercayaan pada seseorang yang dicintai.
Keputusan untuk membuka hati pada Calista juga berdasarkan pada fakta telah memaksa wanita itu untuk melayani hasrat yang tiba-tiba bangkit ketika sedang mabuk. Arya pun ingin bertanggungjawab dan berusaha untuk melupakan Putri yang menjadi luka di hati.
"Kenapa hanya diam saja? Apa kamu tidak mau menerima tawaranku?" Arya kini menghentikan usapan tangan dan menatap ke arah wanita yang masih membebankan wajah di dada.
Sementara itu, Calista yang merasa di atas angin, ingin sekali langsung mengatakan bersedia dan tidak mungkin menolak, tapi tidak ingin memperlihatkan hal yang merendahkan harga diri. Jadi, bersikap layaknya seorang wanita berkelas dan elegan dengan menjawab singkat.
"Berikan aku waktu untuk memikirkan itu."
Suara Calista yang terdengar bergetar dan tertangkap indra pendengaran Arya. Tentu saja membuat pria yang tengah berusaha keras untuk menghibur itu menyipitkan mata karena merasa sangat heran sekaligus tidak puas dengan jawaban tersebut.
__ADS_1
Refleks Arya menarik diri untuk bisa melihat wajah sembab itu dengan jelas. Bahkan sudah menahan kedua sisi lengan Calista dan mengarahkan tatapan tajam mengintimidasi.
Bisa dilihat wajah dengan make up itu kini telah dihiasi bulir bening kesedihan dan Arya merasa iba sekaligus geram karena merasa seperti sedang dipermainkan oleh Calista.
"Memberimu waktu untuk berpikir menerimaku? Apa kamu tidak salah berbicara, Calista? Bukankah ini yang selama ini kamu harapkan dariku? Menerima cintamu karena mencintaiku. Kenapa saat aku memberikan jawaban iya, kamu malah menggantung perasanku?"
Tentu saja saat ini Calista merasa sangat gemas dengan wajah tampan Arya yang terlihat seperti sangat marah dan kesal karena tidak diterima. Bahkan ingin sekali langsung membungkam bibir tebal itu, agar tidak mengungkapkan nada protes.
Namun, Calista masih berusaha untuk menahan diri karena berpikir jika langkah untuk mendapatkan Arya sedikit lagi dan akan mengalahkan wanita bernama Putri.
'Tahan, Calista. Jangan sampai kamu melakukan kesalahan sedikit saja dan buktikan bahwa kamu jauh lebih baik dari wanita bernama Putri itu.'
'Calista tidak akan kalah dari Putri yang hanya wanita murahan karena berstatus sebagai istri pria lain ketika merayu Arya yang masih sangat labil ini. Aku akan menjadi istri sah Arya dan wanita itu akan diempaskan jauh-jauh.'
Calista menatap Arya dengan sibuk beragumen sendiri di dalam hati. Setiap sudut wajah dengan pahatan sempurna itu sangat membuat Calista gila, tetapi berusaha untuk bersikap setenang mungkin dan kini mulai membuka suara untuk menanggapi kekesalan Arya.
__ADS_1
To be continued...