
Amira Tan masih terkekeh melihat sikap lucu dari Jack. "Kau sama persis seperti penjahat yang tertangkap oleh polisi, Jack. Wajahmu tidaklah setampan yang kau pikirkan. Buktinya, aku tidak jatuh cinta padamu seperti para wanita yang selama ini kau permainkan."
"Kamu benar." Jack seketika menurunkan kedua tangannya setelah melihat Amira Tan menaruh gelas kembali di atas meja. "Apakah aku perlu mandi bunga tujuh rupa, agar kamu jatuh cinta padaku?"
Refleks Amira Tan mengarahkan tangannya untuk memukul lengan kekar di balik jas berwarna hitam tersebut. "Jika kau melakukannya, berarti sebelumnya pergi ke seorang dukun. Jangan melakukan hal konyol seperti yang sering dikatakan oleh orang-orang."
"Maksudmu, Cinta ditolak dukun bertindak? Sepertinya boleh juga. Aku bisa memanfaatkan jasa orang itu, untuk membuatmu tunduk padaku seperti para wanita yang tergila-gila padaku?" Jack yang hanya bercanda, kini hanya menunggu respon dari Amira Tan makan seperti apa.
Saat Amira Tan ingin membuka suara untuk menanggapi kalimat konyol dari Jack, ia melihat seseorang baru saja masuk melalui pintu utama dan berjalan menuju ke arahnya.
'Ternyata ia datang. Aku sudah menduganya karena mengetahui bahwa ia selalu menepati janji. Meskipun terlambat sepuluh menit, tetap datang,' gumam Amira Tan yang saat ini mengarahkan dagu ke arah depan.
Jack yang dari tadi menatap ke arah Amira Tan, kini mengikuti kode dari wanita itu dan melihat pria yang baru saja dibicarakan.
"Sepertinya ia akan panjang umur karena datang setelah dibicarakan. Padahal aku pikir bisa berduaan denganmu dan menganggap ini adalah kencan kita, ternyata tidak karena pria yang ditunggu sudah tiba."
Bagus yang baru saja datang, bisa mendengar perkataan dari sang pengacara yang diketahui olehnya mencintai Amira Tan. "Maaf, aku terlambat karena ada hal mendesak yang harus dikerjakan sebelum datang ke sini."
Saat Bagus baru saja menutup mulut, ia menganggukkan kepala ketika Amira Tan memberikan kode agar segera duduk di depan wanita itu.
Bagus akhirnya menarik kursi dan mendaratkan tubuhnya di sana. Bahkan ia pun menganggukkan kepala pada Jack karena memang sudah mengenal pria yang tidak menyukainya sama sekali. Apalagi wajah sinis dan arogan, serta kalimat kasar selalu didapatkan olehnya.
Seolah menganggap bahwa ia adalah saingan berat untuk mendapatkan Amira Tan. Padahal sejatinya, ia sangat berharap jika Jack suatu saat bisa menikah dengan kakak iparnya tersebut.
Namun, tidak mengungkapkannya saat dianggap hanyalah seorang pengganggu bagi hubungan mereka.
"Memangnya apa yang terjadi, hingga kau bisa terlambat datang ke sini?" Amira Tan yang saat ini merasa iba melihat wajah lelah Bagus, seolah bisa membaca jika pria itu selalu bekerja keras dan juga masih berbuat baik pada wanita yang sudah menjadi mantan istri.
__ADS_1
"Apakah kau datang terlambat karena ada kaitannya dengan Putri? Memangnya dia sakit apa, hingga dirawat di rumah sakit?"
Mengingat mantan istri, membuat Bagus saat ini merasa sedih sekaligus bersalah. "Sebenarnya yang pertama sakit adalah putranya, tetapi beberapa hari kemudian, Putri drop."
"Menurut dokter yang memeriksa, penyakit lambungnya kambuh dan saat ini sudah akut. Aku sangat kasihan melihatnya. Apalagi sekarang bertambah kurus," ucap Bagus yang saat ini hanya bisa mengatakan sesingkat mungkin karena mengetahui jika panjang lebar, Amira Tan akan sakit hati karena cemburu.
Apalagi jika ia mengatakan bahwa sangat menyesal karena sudah tidak lagi menjadi suami Putri, sehingga tidak bisa merawat wanita yang baru melahirkan bayi.
"Tadi Arya sudah datang dan menemani Putri di rumah sakit. Jadi, saat perjalanan ke sini, jalanan sangat macet karena ada kecelakaan beruntun dan banyak korban meninggal di tempat."
Bagus pun menceritakan kejadian yang membuatnya harus membantu saat terjadinya kecelakaan.
Sedangkan Jack dari tadi hanya menatap tidak berkedip pada Bagus yang berbicara panjang lebar.
'Sebenarnya pria ini tidak menarik sebagai seorang pria. Namun, aku heran kenapa Amira Tan bisa menyukainya.'
'Tetap saja aku merasa seperti kehadiranku sama sekali tidak berarti jika berhadapan dengan dua pria yang mempunyai hubungan aneh dengan Amira Tan.'
Saat Jack sibuk dengan pemikirannya sendiri, sementara itu yang terjadi pada Amira Tan adalah merasa sedikit lega karena wajah lelah yang terlihat saat ini bukan karena Putri.
"Syukurlah."
"Apa maksudmu, Amira Tan?" Bagus mengerutkan kening karena tidak memahami apa yang baru saja lolos dari bibir wanita yang malah bersyukur ketika mendengar sebuah kecelakaan.
"Apakah kamu bersyukur karena kecelakaan yang membuat banyak orang meninggal?" Bagus masih tidak mengalihkan pandangan dari Amira Tan.
Amira Tan mengerjapkan mata ketika menyadari kesalahannya yang ceroboh karena salah berkomentar. Refleks ia menggerakkan tangannya untuk membantah.
__ADS_1
"Bukan itu maksudku. Aku saat ini berpikir orang sangat lega karena bukan kamu yang kecelakaan. Jika kamu mati, siapa yang merawat dua anakmu?" Kalimat kasar sengaja diungkapkan oleh anak ketika merasa ingin menyadarkan Bagus bahwa keputusan yang diambil sangat salah.
Mengenai keputusan tidak menikah lagi selamanya setelah bercerai dengan Putri, dianggapnya sangat egois. Bukan hanya karena ia tidak bisa mendapatkan pria itu, tapi juga memikirkan. Bagaimana nasib dua anak yang dibesarkan oleh ayah, tanpa merasakan kasih sayang seorang ibu lagi.
"Jangan salah paham dengan perkataanku. Jika kamu sudah menikah lagi dan anak-anakmu memiliki ibu pengganti yang baik, mungkin tidak akan berbicara seperti ini. Anggap saja ini sebagai bentuk kepedulian." Amira Tan yang berbohong ketika beralasan, berharap jika saat ini Bagus percaya.
Ia tidak mendapatkan jawaban dari Bagus karena hanya diam saja. Seolah membenarkan perkataannya dan tidak bisa berkomentar karena merasa bersalah.
"Aku berharap memiliki usia yang panjang. Paling tidak, sampai melihat anak-anakku menikah. Jadi, mereka sudah memiliki seseorang yang berarti dan menerima dengan baik segala kelebihan maupun kekurangan."
Bagus tidak bisa membayangkan jika apa yang dikatakan oleh Amira Tan benar terjadi dan putra-putrinya menjadi seorang yatim. Apalagi sudah tidak memiliki seorang ibu yang menyayangi mereka.
Itu akan semakin mengguncang psikis anak kecil yang harusnya mendapatkan banyak kasih sayang. Akan tetapi, harus menelan pil pahit kekecewaan ketika Putri memilih untuk membuang mereka demi pria bernama Arya yang merupakan keturunan orang kaya.
"Lebih baik kamu pikirkan dampak dari keputusanmu." Amira Tan tidak jadi mengeluarkan petuah pada Bagus mengenai keputusan tidak akan menikah lagi selamanya karena gua itu sudah datang membawa makanan yang dipesan oleh Jack.
"Tadi karena kamu datang terlambat, jadi sudah dipesankan makanannya oleh Jack." Amira Tan yang dari tadi menatap Bagus, kini melirik sekilas ke arah Jack. "Terima kasih karena sudah memesan makanan favoritku."
"Kamu memang pria terbaik yang pernah kukenal karena selalu mengingat apapun yang aku suka dan tidak." Amira Tan tersenyum semanis mungkin pada cek karena ingin Bagus melihatnya dan merasa cemburu.
Ia tidak menyerah untuk membuat Bagus cemburu, meskipun gagal melakukannya beberapa hari lalu karena yang ada malah hanya sakit hati.
"Terima kasih, Jack. Jika kamu selalu bersikap baik dan semanis ini setiap hari, mungkin aku akan jatuh cinta padamu dan melupakan dia yang tidak mau menerimaku."
Saat Jack tadi hanya diam dan berani melihat ke arah waiters yang meletakkan beberapa makanan di atas meja, ia mengembuskan napas kasar karena perkataan dari Amira Tan terdengar sangat memuakkan di telinga.
'Ia sengaja melakukan ini untuk membuat pria itu cemburu. Hingga ia sukses membuatku merasa seperti itu. Meskipun tidak diharapkan oleh Amira Tan, tapi rasa ini mengalir begitu saja,' gumam Jack yang merasa seperti bukan siapa-siapa ketika berhadapan dengan Amira Tan yang sibuk dengan Bagus.
__ADS_1
To be continued...