Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Membutuhkan jawaban


__ADS_3

Amira Tan yang saat ini masih belum bisa melupakan kejadian di rumah sang bartender, tadi memilih untuk mengempaskan tubuh di atas ranjang. Ia bahkan dari tadi belum beranjak dari sana karena sibuk mengumpat.


"Dasar pria berengsek yang menyebalkan! Bagaimana mungkin ia menganggap tadi hanya berada di alam mimpi. Bahkan semua perbuatannya sangat nyata dan pastinya meninggalkan kesan luar biasa pada setiap urat syaraf yang menegang karena perbuatan tadi."


Amira Tan merasa jika telah berubah menjadi seorang wanita bodoh dan tidak berkelas lagi saat jatuh cinta pada pria yang tak lain adalah adik ipar sendiri.


Ia kini sudah mengempaskan kedua tangan dengan sangat kuat pada ranjang untuk meluapkan emosi yang membuncah di dalam hati.


"Dasar wanita bodoh! Kau harus melupakan Bagus karena ia sama sekali tidak melirikmu. Jangan pernah berbuat hal diluar nalar seperti ini lagi, ya!"


"Karena ditolak Bagus, aku jadi seperti ini. Lupakan pria itu, Amira Tan. Jangan bodoh karena cinta. Hingga membuatmu berbuat hal gila dengan pria lain. Mungkin ini hanyalah sebuah pelampiasan.


"Aku melampiaskan kekesalanku pada pria itu dan akhirnya berakhir sangat marah ketika mengetahui jika ia tidak sadar ketika melakukan itu."


Mungkin sudah satu jam berlalu, tetapi Amira Tan masih belum beranjak dari malasnya karena saat ini ingin segera tidur nyenyak. Melupakan jika ia masih belum membersihkan diri dari tadi.


"Ya, mungkin aku memang sedang mencari pelampiasan amarah dan orang yang tepat adalah pria bartender itu. Aku sangat marah padanya hari ini karena ternyata tidak bisa membuat pria yang bekerja sebagai bartender itu terpesona pada kecantikanku."


"Mungkin memang inilah yang pantas kudapatkan karena selama ini sikapku sangat arogan dan kasar pada semua pria. Jadi, aku sepertinya mendapatkan karma dari perbuatanku di masa lalu. Apakah selamanya aku tidak akan pernah dicintai?"


Amira Tan yang baru saja menutup mulut rapat-rapat karena refleks ia mengingat sosok pria yang selama ini selalu menyatakan cinta padanya. Refleks ia terbahak karena memikirkan Jack.


"Astaga! Kenapa aku malah memikirkan casanova itu? Seharusnya aku tidak memasukkan Jack dalam list pria yang mencintaiku karena ia hanya gemar berganti pasangan dan tidak pernah serius dalam perkataan."


Amira Tan terdiam sejenak dan memikirkan tentang sesuatu. Kemudian membuka tas miliknya yang tadi ia lemparkan ke atas ranjang dan sudut bibirnya melengkung ke atas begitu menemukan apa yang dicari.


Ia kini sudah memegang ponsel yang dari tadi ingin segera digunakan untuk menghubungi Jack. "Aku ingin meminta bantuan Jack untuk menjadi bodyguard yang menjagaku ketika pergi."

__ADS_1


Amira Tan yang merasa ragu untuk menghubungi Jack karena merasa lebih nyaman jika sahabatnya itu yang ikut ke manapun ia pergi ketika mencari pangeran tampan.


Namun, belum sempat ia memikirkan hal itu, yang terjadi adalah sebaliknya karena saat ini ponselnya berdering.


Tanpa membuang waktu, ia langsung menjawab telpon dan mendengar suara bariton dari seberang seperti tengah marah dan membuatnya berpikir keras.


Amira Tan sangat penasaran dengan apa yang membuat Jack marah padanya.


"Amira, cepat keluar sekarang karena aku ada di depan rumahmu!"


"Astaga! Belum sempat aku menjawab, ia sudah mematikan sambungan telpon seenaknya." Amira Tan yang merasa sangat kesal, ingin melampiaskan amarahnya pada Jack.


Namun, saat ia baru saja turun dari ranjang, menyadari jika kini masih memakai baju kerja. Bukankah itu akan dengan jelas menunjukkan bahwa aku belum mandi?"


"Memalukan sekali." Amira Tan mengomel karena merasa tidak akan mempunyai muka jika melakukan itu.


Akhirnya ia memilih untuk mengganti pakaian kerja dengan piyama. Kemudian menemui pria yang membuatnya merasa sangat aneh. 'Kenapa Jack kembali? Apa ada sesuatu yang ia lupakan tadi?'


"Jack, kenapa kamu kembali? Apa ada yang terlupa?"


Sementara itu, Jack dari tadi sekuat tenaga untuk menahan rasa cemburu sekaligus kecewa pada sosok wanita yang terlihat seperti tidak melakukan kesalahan. Hingga ia hanya terdiam kala menatap Amira Tan yang berjalan mendekat ke arahnya.


Amira Tan kini mengerutkan kening saat saat melihat Jack masih menutup mulut rapat-rapat.


"Jack?"


Amira Tan menyadarkan pria yang masih setia diam dan tidak menjawab pertanyaan darinya dengan cara menepuk pundak kokoh itu. "Apa kyau datang hanya untuk diam membisu?"

__ADS_1


Merasa harus bertanya daripada tersiksa oleh kemurkaan yang dipendam, Jack akhirnya membuka mulut. "Aku memang melupakan sesuatu dan ingin bertanya padamu. Jadi, jawab dengan jujur apa yang aku tanyakan padamu."


Amira Tan makin penasaran dengan apa yang akan ditanyakan oleh pria di hadapannya karena terlihat sangat serius, sehingga sudah tidak sabar lagi untuk mendengarkan.


"Bertanya tentang apa? Katakan saja! Jangan membuatku semakin penasaran." Amira Tan saat ini masih mengamati ekspresi wajah serius Jack.


Tentu saja di dalam hati merasa sangat penasaran dengan apa yang ada di otak pria itu. Hingga terlihat sangat serius.


Sedangkan Jack yang ragu, memilih untuk nekad bertanya karena ingin mengobati rasa penasaran sekaligus ketidakpercayaan di dalam hati.


"Aku tadi kembali ke rumah bartender itu." Jack sengaja menghentikan perkataannya karena ingin melihat ekspresi wajah Amira Tan yang sudah bisa diduganya.


Refleks Amira Tan membulatkan mata begitu mendengar suara bariton dari Jack. "Apa yang kamu lakukan? Apa kamu tadi kembali menghajarnya? Apa kamu sudah kehilangan akal sehat, Jack?"


Wajah Amira Tan seketika memerah karena marah. Ia sama sekali tidak tahu apa yang dilakukan oleh Jack saat kembali datang menemui Noah. Padahal tadi sudah menyuruh pulang.


"Padahal aku berencana tidak menemui dia lagi karena urusan di antara kami telah selesai. Namun, jika kamu kembali membuatnya babak belur, aku akan semakin merasa bersalah padanya."


Jack bisa melihat reaksi Amira Tan yang menurutnya terlalu berlebihan. Hingga ia pun ingin mengakhiri pemikiran wanita itu dengan mengungkapkan apa yang diketahui dari sang bartender.


"Awalnya, aku memang ingin menghabisinya, tapi tidak mempunyai tenaga sama sekali setelah dia mengatakan apa yang kamu lakukan."


Amira Tan masih belum membuka mulut karena ingin mendengar kelanjutan dari pria yang terlihat berbicara dengan nada suara bergetar.


'Apa maksud Jack?' lirih Amira Tan yang hanya bisa mengungkapkan di dalam hati. Hingga ia pun membulatkan mata begitu mengerti apa yang menjadi alasan Jack kembali.


"Apa benar kamu tadi mencium pria itu dan hampir saja berbuat hal diluar batas?" tanya Jack yang saat ini menatap Amira Tan dengan mengintimidasi.

__ADS_1


Seolah ingin membuat Amira Tan berbicara jujur dan tidak membohonginya karena saat ini membutuhkan jawaban dari pertanyaan yang baru saja diajukan.


To be continued...


__ADS_2