Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Meninggalkan kota


__ADS_3

Putri yang berniat untuk beristirahat dengan memeluk malaikat kecil yang berada di pelukan, tidak bisa menghilangkan pikiran yang masih terus mengingat semua kejadian yang terjadi hari ini.


Berbagai macam kilasan balik mengenai kehidupan yang dijalani seolah berputar seperti kaset yang membuatnya sesekali meneteskan air mata.


Bagaimana tidak air mata lolos dari bola mata ketika mengingat semua masa lalu yang membahagiakan bersama Bagus dulu dan juga Arya. Namun, semua keindahan dalam cinta telah hilang dan hanya menyisakan luka teramat mendalam di dalam hatinya saat ini.


Putri memilih bangkit berdiri dari tempat tidur dan berjalan menuju ke arah laci yang dikunci dan mengambil simpanan uang. Kemudian menghitung uang yang diberikan oleh Arya setelah pria itu pindah ke rumah orang tua.


"Kebahagiaanku hanya dinilai Arya dengan uang tak seberapa ini." Putri saat ini mendengar suara notifikasi dari ponsel dan memeriksa pesan.


Begitu melihat dan membaca pesan yang tidak lain dari Noah, hanya dibiarkan tanpa membalas.


Putri, kamu baik-baik saja, kan? Jangan banyak memikirkan tentang masalah tadi. Aku akan ke sana bersama Amira Tan setelah pulang kerja nanti. Kamu tidak sendirian dan masih ada kami di sisimu.


Embusan napas kasar dan panjang yang keluar dari mulut Putri seolah sangat mewakili perasaannya saat ini.


"Bahkan orang lain yang tidak ada hubungan apapun denganku sangat baik, tetapi kenapa suamiku sendiri bersikap sangat buruk dan kejam?"


Saat mendengar perkataannya sendiri, Putri tertawa miris saat meratapi nasib buruk hanya karena dipermainkan oleh orang tua Arya.


"Bahkan Arya bukan lagi siapa-siapa bagiku sekarang. Dasar bodoh! Kenapa masih menyebutnya suamimu?" Baru saja menutup mulut, indra pendengarannya kembali menangkap suara dering ponsel yang masih dipegang.


Begitu melihat kontak pria yang baru saja dibicarakan menelpon, hanya dilihat saja setelah merubah setelan menjadi silent. Tentu saja ia sebenarnya sangat ingin mendengar suara pria yang masih sangat dicintai.


Ingin mengetahui apa yang akan dikatakan oleh Arya, sehingga memilih untuk menelpon. Namun, hati yang masih terluka seolah melarang untuk melakukan itu karena merasa sangat takut jika sampai disakiti untuk kesekian kali.

__ADS_1


Ia menyadari jika saat ini sedang terluka dan ingin menutup diri dari apapun yang semakin menambah patah hati, jadi memutuskan hanya diam menatap ponsel yang masih menyala karena Arya menelpon.


'Aku belum siap untuk mendengar penghinaanmu lagi. Fitnah yang kau berikan padaku tadi benar-benar membuat seluruh duniaku runtuh,' gumam Putri yang kali ini memilih untuk bangkit berdiri dari ranjang setelah menaruh ponsel di sana.


Mendadak ia mempunyai keinginan untuk segera meninggalkan semua masalah yang membuat hidup hancur saat ini. Kemudian tanpa mempertimbangkan, memilih untuk segera mengemasi semua pakaian ke dalam tas besar yang di simpan di dalam lemari.


Bahkan saat melakukan itu, merasa sangat bersedih dan bulir air mata kembali menganak sungai di pipi karena melihat ada pakaian Arya masih tersimpan rapi di sana.


Itu memang karena Arya hanya membawa beberapa pakaian ketika memutuskan untuk kembali ke rumah keluarga. Seolah sudah merencanakan dan mengatur agar ia tidak merasa curiga jika tidak akan pernah kembali.


'Kau menipuku, Arya. Mana janjimu yang dulu mengatakan hanya mencintaiku dan tidak akan pernah mengkhianatiku? Bahkan pernikahan kita baru setahun, tapi kau sudah mengkhianatiku.'


'Aku tidak bisa hidup di kota yang sama denganmu. Hanya luka dan rasa sedih yang kudapatkan jika tetap berada di sini. Jika seperti itu, Xander yang akan menjadi korban dan terkena imbas dari keegoisan orang tua. Aku harus memikirkan putraku.'


Putri memutuskan untuk lebih fokus mengurus Xander dan berpikir bisa melakukan itu jika pergi dari kota itu dan membuka lembaran baru di tempat yang sama sekali tidak ada orang mengenal.


Dengan berbekal uang simpanan yang tidak terlalu banyak, Putri berpikir jika itu bisa digunakan untuk mengontrak kamar sebagai tempat tinggal dan juga biaya makan selama satu bulan.


"Aku harus segera pergi dari sini dan melupakan semua kenangan buruk yang hanya akan semakin melukaiku."


Putri yang baru saja selesai memasukkan pakaian ke dalam tas, kini berpindah untuk mengemasi semua barang-barang milik Xander.


Selama satu jam berkemas dan akhirnya telah selesai. Sesuatu hal yang terpikirkan oleh Putri saat ini, yaitu ingin membuang pakaian Arya karena berpikir jika pria itu tidak akan kembali hanya sekedar mengambil pakaian.


Kemudian tanpa pikir panjang, ia langsung memasukkan semua pakaian Arya ke dalam kantong plastik besar dan memilih untuk membuang di tong sampah.

__ADS_1


Namun, karena tidak muat, hanya menaruh di sebelah tong sampah yang berada di depan rumah.


Setelah dirasa semua telah siap, ia memilih untuk mengangkat dua tas besar dengan kesusahan ke depan pintu. Kemudian memilih untuk menggendong Xander yang akhirnya langsung terbangun.


Dengan mencium penuh rasa sayang dan tersenyum, Putri merasa mendapat sebuah kekuatan setelah melihat malaikat kecil itu.


"Kita pergi dan mencari kedamaian di tempat baru ya, Sayang. Mama akan berusaha untuk membahagiakanmu meskipun harus menjadi single parent. Xander percaya pada Mama, ya."


Bayi yang berada dalam gendongan sang ibu tersebut seolah seperti mengerti dan tertawa menanggapi.


Hal itu membuat kekuatannya yang awalnya hilang kini telah kembali dan semakin kuat begitu melihat wajah seperti malaikat itu. Putri kini memilih untuk menghubungi seseorang yang tak lain adalah pemilik kontrakan.


Kebetulan pemilik kontrakan tinggal di jarak beberapa rumah saja. Jadi, ia berpikir untuk bertanya terlebih dahulu. Apakah sang pemilik ada di rumah atau sedang keluar.


"Halo, Nyonya Audrey. Apakah Anda berada di rumah?"


"Putri? Kebetulan sekali aku sedang berada di luar kota. Ada apa?" tanya wanita berusia 42 tahun dari seberang telpon yang sedang berada dalam perjalanan menuju ke villa di puncak untuk liburan bersama anak-anak.


Wajah Putri seketika murung begitu mendengar hal itu dan menatap ke arah dua tas besar yang berada di lantai.


'Padahal aku ingin menyerahkan kunci ini dan meminta tolong untuk membeli beberapa peralatan di rumah agar mendapatkan uang tambahan.'


Putri merasa bingung harus melakukan apa saat sang pemilik kontrakan yang dicari tidak ada. Padahal tekad untuk pergi sudah bulat dan ingin segera meninggalkan kota itu untuk membuka lembaran baru.


Akhirnya ia mengambil keputusan setelah mempertimbangkan dengan baik. "Nyonya Audrey, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan."

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2