Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Menuntut pertanggungjawaban


__ADS_3

Hingga Amira Tan yang sedikit tenang dan berhasil berhenti tertawa, kini mengunci tatapan pada iris tajam di hadapannya. "Kau berbicara seolah menjadi seorang pria suci saja. Aku bahkan semakin tidak mengerti apa maksudmu datang kemari jika bukan karena uang."


"Seperti yang kukatakan dari tadi, lebih baik jujur saja padaku dan tidak usah berlagak seperti seorang pria lugu. Berapa nominal angkanya? Aku akan langsung memberikan cek untukmu!"


Amira Tan meraih tas yang ada di sebelah kanan tempatnya duduk dan membukanya. Kemudian mengambil cek dan juga bolpoin untuk menuliskan nominal angka uang yang akan diberikan pada sang bartender tersebut.


Namun, yang terjadi jauh dari apa yang dipikirkan saat ini karena pria itu seketika membuatnya berjenggit kaget dengan perbuatan tiba-tiba yang dilakukan.


Merasa semakin terhina oleh perkataan sang pengacara, membuat kesabaran Noah habis, sehingga ia refleks bangkit berdiri dari kursi dan menggebrak meja.


"Aku tidak butuh uangmu, wanita arogan! Jadi, bertanggung jawablah padaku untuk mengajari agar aku bisa melupakan perbuatan kita."


Setelah mengungkapkan apa yang dirasakan, Noah mengacak frustasi rambutnya karena sebenarnya merasa malu jika dianggap seperti seorang pria yang sama sekali tidak berpengalaman dalam hal wanita. Namun, ia sudah tidak mempunyai pilihan lain.


Berpikir jika selain berbicara jujur pada wanita yang berhasil membuatnya insomnia, mungkin memiliki jalan keluar untuk masalah yang dihadapi saat ini.


"Tolong katakan apa yang harus kulakukan, agar bisa melupakan perbuatanku yang di luar batas ketika sedang demam semalam. Aku tidak mungkin melakukannya saat sadar."


Beberapa kali Amira Tan mengerjapkan mata karena merasa sangat terkejut dengan apa yang saat ini diungkapkan oleh Noah.


Entah mengapa saat ia melihat wajah pria di hadapannya tersebut terlihat seperti anak kecil yang sangat polos dan tidak tahu apapun.


'Pria ini membuatku terlihat seperti seorang wanita berpengalaman saja, sehingga ia berbicara seperti itu padaku. Padahal sebenarnya semalam ....'


Amira Tan tidak bisa melanjutkan berguman di dalam hati ketika kembali mendengar Noah kembali menuntutnya.

__ADS_1


Jika selama ini ia selalu dituntut oleh jaksa saat membela tersangka, tetapi hal berbeda kini pertama kali dirasakan dalam situasi yang membuatnya seperti tidak bisa berkutik.


"Bukankah kau adalah seorang wanita yang sangat hebat dan bisa melakukan apapun? Jadi, ajari aku untuk melupakanmu? Meskipun terdengar sangat konyol, tapi memang kenyataannya inilah yang kurasakan." Noah Martin saat ini merasa jauh lebih lega setelah mengungkapkan apa yang dirasakan.


Amira Tan tidak tahu harus berekspresi apa dan menanggapi bagaimana karena ia sendiri merasa bingung harus melakukan apa untuk memenuhi permintaan dari pria dengan wajah polos itu.


'Astaga! Situasi macam apa ini? Aku bahkan semalam juga selalu mengingat perbuatannya. Itu adalah pengalaman pertama untukku karena selama ini tidak pernah dekat dengan seorang pria. Apalagi hal intim yang dilakukan pria itu padaku kemarin, seolah masih terasa sampai saat ini.'


'Apa ia pikir aku sering melakukan hal seperti itu dengan para pria? Hingga memintaku untuk bertanggung jawab. Apa yang harus kukatakan padanya?' gumam Amira Tan yang saat ini tengah memutar otak untuk mencari jawaban.


Hingga ia menelan ludah dengan kasar ketika mendapatkan jawaban yang pastinya akan terdengar memalukan, tetapi terpaksa harus mengatakan karena berpikir itu adalah satu-satunya jalan keluar di antara mereka.


Amira Tan saat ini berdehem sejenak untuk menormalkan perasaannya sebelum membuka suara. "Jika kau meminta pertanggungjawaban dariku, sepertinya aku tidak bisa memenuhinya."


"Apa maksudmu? Bukankah itu adalah kewajibanmu sebagai seorang tersangka yang telah melakukan kesalahan? Memang aku juga bersalah, tetapi ini tidak akan terjadi jika kau tidak menciumku terlebih dahulu!" seru Noah Martin kali ini tidak puas dengan jawaban yang diungkapkan oleh Ana.


"Apa maksudmu adalah membasahi bibirku yang kering? Memang pepatah yang mengatakan bahwa 'Penjahat mengaku, penjara penuh' itu memang benar adanya karena saat ini kau tidak mau mengakui kesalahan dengan berdalih seperti itu." Noah memilih untuk berkacak pinggang dan tertawa.


"Membasahi bibir? Astaga! Apakah kau pikir aku adalah seorang anak kecil yang bisa ditipu?"


Jika beberapa saat lalu, Amira Tan masih merasa bersabar untuk menghadapi pria yang dianggapnya sangat polos, tetapi menyebalkan tersebut. Kali ini, tidak bisa lagi menahan kesabaran.


"Baiklah, jika kau menutup pertanggungjawaban dariku karena menciummu, sekarang aku menuntut hal yang sama darimu."


"Maksudnya?" Noah saat ini memicingkan mata dan menunggu jawaban atas pertanyaannya.

__ADS_1


"Bukankah kau kemarin melakukan hal yang lebih parah padaku dengan cara, mengisap dadaku? Itu jauh lebih besar pertanggungjawabannya daripada mencium bibir."


"Sekarang kau harus bertanggung jawab padaku karena melakukan itu semalam!" Amira Tan seolah tidak memperdulikan rasa malu ketika mengatakan hal itu pada Noah karena merasa tidak ada pilihan lain untuk menghindar.


Sedangkan Noah kali ini seketika merasa kebingungan ketika dituntut pertanggungjawaban oleh sang pengacara dan membuatnya jatuh terhempas ke atas kursi.


Amira Tan yang berhasil menenangkan perasaan ketika terkejut dengan ulah pria tersebut, kini memilih untuk membuka suara yang tak kalah nyaring.


"Lalu apa yang kau inginkan, berengsek!"


Kemudian melemparkan bolpoin yang saat ini dipegangnya untuk melampiaskan amarah yang membuncah di dalam hati. Tanpa merasa takut jika pria tersebut berbuat kasar padanya untuk membalas dendam.


"Bukankah sudah berkali-kali kukatakan bahwa aku ingin pertanggungjawaban darimu atas perbuatanmu yang semalam menciumku. Hingga membuatku tanpa sadar melakukan hal lebih dari sekedar berciuman."


Amira Tan merasa seperti dikuliti hidup-hidup begitu mendengar apa yang diungkapkan oleh pria dengan iris mata berkilat dan tidak berkedip menatapnya.


"Apa maksudmu dengan pertanggungjawaban dariku? Aku semalam hanya ingin membasahi bibirmu yang sangat kering karena kau sangat pucat. Bukan sengaja ingin menciummu. Jadi, jangan salah paham dan berpikir aku adalah seorang wanita murahan!"


Amira Tan masih tidak berhenti berteriak karena merasa sangat marah dan sekaligus tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh sang bartender itu.


Tidak ingin kesalahpahaman semakin meluas di antara mereka, Noah memilih untuk menjelaskan secara detail apa yang diinginkannya saat ini, agar wanita yang tak kalah tajam saat menatapnya tersebut memahami apa maksudnya.


"Aku sama sekali tidak pernah menganggapmu adalah seorang wanita murahan. Asal kau tahu, sejak semalam, aku tidak bisa tidur karena memikirkan apa yang kita lakukan."


"Itu adalah pengalaman pertama bagiku, jadi membuatku bereaksi berlebihan seperti ini. Kau saat ini pasti berpikir bahwa aku adalah seorang pria kampungan dan berlebihan dalam menghadapi sesuatu yang biasa bagimu."

__ADS_1


"Aku ingin kau membuatku bisa melupakan kejadian semalam," seru Noah yang saat ini tidak mengalihkan perhatiannya pada sosok wanita yang duduk di hadapannya tersebut.


To be continued...


__ADS_2