
Dua tahun lalu...
Putri cukup terkejut saat ia mendengar seseorang mengetuk pintu rumahnya di pagi hari. Ia melirik jam dinding yang menempel di dinding ruang tamu.
“Siapa yang bertamu sepagi ini? Apa mungkin Arya pulang?” tanya Putri sambil bergumam.
Ia kemudian berjalan untuk melihat seseorang di depan sana. “Siapa?" tanya Putri saat tahu jika ternyata seorang wanitalah yang mengetuk pintu rumah.
“Selamat pagi. Apa betul ini rumah nyonya Putri?” tanya wanita yang terlihat masih sangat muda tersebut.
“Iya, benar. Kamu siapa, ya?" tanya Putri dengan menatap bingung wanita tersebut.
“Saya Amanda, panggil saja Manda. Saya diminta oleh tuan Bagus untuk membantu Nyonya Putri membersihkan rumah ini,” jawab wanita bernama Amanda tersebut.
“Bagus?”
“Iya. Kebetulan ibu saya adalah seorang cleaning service. Sebelumnya beliau meminta ibu saya untuk membantu nyonya."
"Namun, berhubung ibu harus bekerja, jadi saya yang akan menggantikan beliau,” tutur Amanda menjelaskan.
“Tunggu! Aku coba telpon dia dulu” Putri mempersilakan tamunya untuk masuk dan menunggu di dalam.
Sementara itu, Putri masuk ke dalam kamar dan menghubungi mantan suami lewat sambungan telpon.
“Untuk apa kamu mengirim orang ke sini? Aku bisa mengerjakan sediri dan kamu tidak perlu melakukan itu,” ujar Putri dengan nada yang ia pelankan karena takut akan menyinggung perasaan tamunya.
"Tidak perlu sampai seperti itu.” Putri berusaha untuk menolak.
Bagus menjelaskan jika sengaja melakukan itu karena ia sendiri tidak mungkin membantu Putri di sana dan pasti akan menolaknya.
"Terima saja bantuanku kali ini. Aku hanya tidak ingin kamu kelelahan dan akhirnya ikut sakit. Kalau kamu sakit, kasihan anakmu tidak ada yang merawat."
"Bukankah kamu mengatakan jika Arya sedang sibuk dan banyak pekerjaan? Sudah, terima saja. Anggap saja kita membantu Amanda karena ia juga butuh pekerjaan."
Putri menghela napas berat. Tidak bisa dipungkiri ia memang sangat membutuhkan bantuan seseorang saat ini karena kondiri Xander masih belum sehat benar dan anak itu masih rewel. Saat itu Bagus menemani ke rumah sakit saat putranya sakit karena Arya tidak bisa pulang dengan alasan sibuk.
Hingga ia mengatakan agar Bagus tidak lagi menolongnya atau datang ke rumah karena khawatir jika ada yang menyangka ia berbuat gila dengan mantan suami.
Mungkin itulah yang menjadi penyebab Bagus akhirnya menyuruh orang untuk membantunya di rumah karena rasa iba.
“Baiklah, tapi setelah Xander sembuh, biarkan aku mengerjakan semuanya sendiri lagi. Kamu tidak perlu memperhatikan aku seperti ini," sahut Putri yang kini terdiam mendengarkan ucapan Bagus."
‘Selama pengadilan belum mengesahkan perceraian kita, anggap saja kamu masih menjadi istriku dan masih menjadi tanggung jawabku. Ingat itu. Ya, sudah. Aku tutup dulu telponnya karena harus bekerja."
Entah untuk kesekian kalinya, Putri kembali menghela napas panjang begitu mendengar apa yang Bagus ucapkan. Ia tahu bahwa pria itu memang sangat bertanggung jawab dan mempunyai pikiran sangat dewasa.
__ADS_1
Putri kemudian kembali menemui tamunya dan meminta maaf karena sudah membuat wanita muda itu menunggunya.
“Kamu kerjakan dengan santai saja, tidak perlu terburu-buru. Anggap saja kamu sedang membereskan rumah sendiri. Aku akan lanjut memasak.”
Kemudian ia pun kembali ke dapur dan melanjutkan kegiatannya memasak yang sempat tertunda tadi. Ia sengaja memasak lebih karena juga ingin memberikan untuk Amanda.
Sementara itu, wanita bernama Amanda mulai membersihkan ruang tamu yang memang terlihat sangat berantakan.
Semenjak Xander rewel, Putri sudah tidak berpikiran untuk membersihkan rumah lagi.
“Jendela dan pintunya dibuka saja, Manda. Biar ada udara masuk,” seru Putri dari dapur.
“Iya,” jawab Amanda.
Wanita muda itu lanjut membereskan beberapa pakaian kotor yang ada di sofa dan membawanya ke belakang untuk dicuci.
“Kamu kerjakan yang lain saja, Manda. Biar cucian nanti saya yang kerjakan,” ujar Putri sambil mengaduk masakannya.
Beberapa saat kemudian, masakannya siap dan ia mulai menata makanan di atas meja kecil yang ada di dapur.
“Manda, ayo kita makan dulu,” ajak Putri sambil melambaikan tangan.
“Terima kasih. Silakan. Saya lanjut bekerja lagi,” tolak Amanda dengan sopan.
“Ayolah, Manda. Makanlah walaupun hanya sedikit. Anggap saja kamu menemani aku makan."
Putri pun tersenyum senang saat akhirnya Amanda menerima ajakannya untuk makan bersama. Semenjak Arya tinggal di rumah orang tua dengan alasan membantu sang ayah memimpin perusahaan karena mertuanya belum pulang dari rumah sakit, ia merasa sepi hanya makan seorang diri setiap hari.
Mau masak seenak apapun, tetap saja selera makannya tidak sebesar dulu saat Arya masih di sana dan selalu menemaninya.
Putri dengan semangat menawarkan makanan yang ia masak pada Amanda.
“Ayo makan. Jangan sungkan, Manda. Kalau kamu capek, bisa istirahat dulu. Kalau haus atau lapar, bisa makan dan minum apa saja yang kamu mau yang ada di sini."
"Di kulkas, banyak minuman dingin yang dibeli oleh suamiku. Aku tidak bisa meminumnya karena berhati-hati."
"Aku tidak minum sembarangan. Kamu minum saja. Sayang jika tidak ada yang minum.” Kembali ia menawarkan pada Amanda.
“Terima kasih,” balas Amanda sambil mengangguk sopan.
“Panggil kakak saja. Aku merasa sangat tua sekali kalau kamu panggil aku nyonya,” sahut Putri sambil terkekeh geli.
“Baik, Kak.” Amanda meralat panggilannya untuk majikan meskipun terasa kaku.
“Nanti siang, kita makan bersama lagi, ya! Aku akan masak makanan yang enak untuk kita makan siang,” ucap Putri lagi dan mendapat anggukan dari Amanda.
__ADS_1
Putri sangat senang saat kembali merasakan suasana seperti ini di meja makan. Ia tidak lagi kesepian.
Setelah makan, Putri membereskan meja makan dan memasukan lauk yang masih tersisa ke dalam wadah yang tertutup.
Sementara Amanda, bertugas mencuci piring kotor dan peralatan lainnya yang ada di wastafel.
Namun, belum sampai Putri menyelesaikan pekerjaannya, Xander terdengar menangis.
“Biar Manda saja yang melanjutkan, Kak,” ucap Amanda dan mendapat anggukan kecil dari sang majikan.
“Terima kasih, Manda."
Setelah mencuci tangan, Putri masuk ke dalam kamar dan menghampiri Xander yang terbangun.
Putri membawa anak itu ke dalam pangkuannya dan memberikan ASI pada putranya.
Putri pikir, Xander akan kembali tertidur, tetapi hingga hampir satu jam di dalam kamar, Xander tak kunjung tidur. Ia memutuskan untuk membawa putranya ke ruang tamu.
“Wah, sudah bersih dan wangi.” Ucap Putri saat melihat ruang tamu yang sebelumnya sangat berantakan, kini sudah berubah rapi, bersih, dan wangi.
“Cepat sekali kamu kerjanya, Manda.” sahut Putri memuji Amanda.
“Terima kasih, Kak. Ibu yang mengajarkan saya untuk bekerja dengan baik, agar tidak mengecewakan orang yang memberikan kita pekerjaan,” jawab Amanda.
Putri tersenyum, menatap gadis yang sedang melipat popok di dalam kamar lain. Ia menggingit bibir bawahnya, menahan agar jangan sampai air matanya jatuh karena tiba-tiba saja ia merindukan sosok ibu dalam hidupnya.
Mungkin semua tidak akan terasa begitu berat jika masih ada sosok ibu yang mendampingi. Kemudian menatap Xander yang terlihat tenang dan tidak menangis. Ia kemudian mencium putranya.
Beruntung, Tuhan mengirimkan Xander dalam hidupnya, sehingga membuat tetap semangat untuk terus berjuang dan bertahan demi putranya.
Menjelang siang, Putri tidak bisa memasak karena Xander yang masih rewel. Suhu tubuhnya masih saja naik turun dan Putri mencoba untuk tetap tenang.
“Biar aku saja yang masak, Kak,” ucap Amanda. “Kasian Xander. Kakak istirahat saja di kamar.”
Amanda tidak tega melihat Putri yang terus mondar-mandir untuk menenangkan putranya yang sedang rewel.
Setelah membereskan popok tadi, Amanda meminta izin pada Putri untuk menyapa Xander.
Tentu saja Putri mengizinkan dan tidak disangka, ternyata Amanda sangat menyukai anak kecil.
Amanda terus mengajak bicara Xander yang bengong menatapnya.
Mungkin karena lelah semalaman mengurus Xander yang belum sehat benar, Putri ikut tertidur saat ia menidurkan Xander.
Amanda yang sudah selesai masak dan hendak menawarkan makan siang, akhirnya mundur kembali dari pintu kamar dan berbalik. Membiarkan sang majikan untuk istirahat lebih dulu.
__ADS_1
Kemudian memilih mengirimkan chat pada Bagus dan melaporkan tentang keadaan Airin dan Xander.
To be continued...