
"Anggap Putri telah berhasil membeli harga dirimu dengan uang itu! Kau telah membuat hidup Putri menderita karena harus pergi dari sini saat kehidupannya sudah mulai layak dan mendapatkan jalan untuk mendapatkan uang demi bisa menghidupi putranya." Mira bahkan berteriak dengan wajah memerah karena dikuasai oleh amarah melihat Ardiansyah yang dianggap pria tidak tahu.
Sementara itu, Ardiansyah yang bisa menangkap perkataan dari wanita di hadapannya, kini menunduk menatap ke arah lembaran uang yang berjumlah cukup banyak tersebut.
"Apa ini?"
"Itu adalah upahmu selama ini karena membantu Putri. Mungkin kau berpikir berhak untuk menikmati tubuh Putri karena bantuanmu, tapi selama ini wanita itu tetap membayarmu dan menyimpannya di dalam kaleng biskuit itu."
"Sekarang, anggap saja harga dirimu tak lebih banyak dari uang di dalam sana! Putri sekarang sudah pergi jauh dan tidak akan pernah kembali ke tempat yang meninggalkan luka mendalam di hatinya. Sekarang lebih baik kau pergi dari sini dan jangan pernah menampakkan wajahmu di hadapanku!"
Mira tidak ingin mendengar tanggapan dari Ardiansyah dan berlalu masuk ke dalam rumah untuk memberikan arahan pada para pekerja yang sudah datang dari pagi.
Sementara itu, Ardiansyah saat ini masih tidak mengalihkan pandangan dari kaleng biskuit di bawah kaki yang berisi uang dan merupakan upahnya selama membantu Putri.
Bahkan hari ini merasa sangat menyesal karena telah berbuat nekat dan gila dengan menyakiti perasaan wanita yang sangat dicintai.
Ardiansyah kini membungkuk untuk mengambil kaleng biskuit tersebut. Melihat banyaknya lembaran uang yang berada di dalamnya, membuat perasaan bersalah semakin besar dan membuncah.
Bahkan saat ini sangat menyesal karena telah menyakiti wanita yang dicintai. Ardiansyah mengarahkan tangan yang dari tadi mengepal untuk memukul area pelipis.
"Dasar pria bodoh yang tidak tahu diri! Bagaimana kau bisa menyakiti Putri? Cinta macam apa yang bisa menyakiti? Aku hanyalah seorang pria bodoh karena berbuat nekat pada wanita yang kucintai dan sekarang berakhir kehilangan selamanya."
__ADS_1
Bahkan Ardiansyah yang saat ini menyadari kesalahan, berpikir bahwa tidak ada gunanya menyesal kemudian hari.
Berpikir bahwa kesalahan hari ini tidak akan pernah dimaafkan oleh Putri dan membuatnya kehilangan wanita yang membuatnya terobsesi hingga berbuat nekat dengan menyakiti.
"Putri, maafkan aku karena telah menyakitimu," lirih Ardiansyah yang saat ini masih memeluk kaleng biskuit berisi uang yang dianggap adalah harga dirinya.
Merasa bahwa apa yang dikatakan oleh Mira benar. Jika Putri berhasil membeli harga dirinya dengan uang itu.
Penyesalan yang selalu datang belakangan dan berkali-kali dilakukan oleh para manusia, tetap saja tidak berhasil membuat orang memanfaatkan kesempatan dengan baik.
Hal yang selalu dilakukan oleh banyak orang adalah menyia-nyiakan kesempatan, hingga berakhir menyesal dan tidak berguna.
Setelah kejadian itu, Ardiansyah berjanji tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama di kemudian hari dan berharap Putri bisa menemukan kebahagiaan suatu saat nanti di tempat lain dan bersama seorang pria baik.
Sementara ia sendiri tidak berniat untuk menikah karena berpikir terlalu besar menyakiti hati seorang wanita. 'Semoga kamu baik-baik saja di mana pun berada.'
'Maaf karena membuat impianmu untuk hidup damai dan tenang di sini telah gagal karena perbuatanku. Aku saat ini menyadari bahwa kamu adalah seorang wanita luar biasa yang menjaga prinsip dan tidak ada yang bisa mematahkannya.'
'Meskipun ada banyak pria yang mendekatimu, termasuk aku,' gumam Ardiansyah yang saat ini berpikir untuk memperbaiki keadaan dan juga membersihkan nama baik Putri.
Ardiansyah akan mengklarifikasi perkataannya tadi. Bahwa memang telah berbuat jahat pada Putri dengan berencana memperkosa agar bisa menikahi wanita yang dicintai.
__ADS_1
Tentu saja dengan bantuan kepala keamanan yang tak lain adalah polisi dan selama ini tinggal di tempat pria itu.
Hingga Ardiansyah merasa sangat lega karena sudah berhasil membersihkan nama Putri, tetapi mendapatkan pukulan dari polisi karena dianggap telah mempermalukan kampung dan juga kepala keamanan.
Bahkan Ardiansyah diusir dari sana karena tidak ingin ada kejadian yang sama terulang lagi di kampung itu.
Setelah meminta maaf pada semua orang atas perbuatannya yang meresahkan warga di kampung itu, Ardiansyah pergi dan berjanji tidak akan pernah kembali ke sana lagi.
'Putri, aku telah membersihkan namamu dan kamu tetap menjadi seorang wanita baik yang bisa menjaga harga diri,' gumam Ardiansyah yang saat ini sudah berjalan dengan langkah kaki panjang meninggalkan perkampungan tersebut menuju ke jalan raya untuk mencari angkutan umum.
Selama berjalan menyusuri rumah-rumah, Ardiansyah tidak berhenti menyesali perbuatan yang telah dilakukan karena menyakiti seorang wanita baik dan harus hidup menderita karena perbuatan laki-laki.
'Kamu pasti akan semakin trauma dengan seorang pria dan tidak ingin berdekatan dengan lawan jenis setelah kejadian hari ini. Maafkan aku.'
Wajah penuh penyesalan tampak jelas ditunjukkan oleh Ardiansyah, tetapi menyadari bahwa semua itu percuma karena wanita yang telah disakiti sudah pergi dan tidak akan pernah kembali.
Hal yang bisa dilakukan Ardiansyah hanyalah berdoa untuk memohon ampunan pada Tuhan atas segala perbuatan jahat yang dilakukan pada Putri.
Ardiansyah juga berdoa agar Putri dilindungi oleh Tuhan di manapun berada. 'Semoga Tuhan selalu melindungi wanita baik sepertimu, Putri.'
To be continued...
__ADS_1