Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Membantu


__ADS_3

Beberapa saat yang lalu, Noah melihat perawat yang melakukan tindakan pertama di ruangan gawat darurat. Merasa sangat penasaran, apa yang terjadi pada Amira Tan, sehingga memilih untuk bertanya.


"Apa yang terjadi pada ... kekasih saya?"


Noah awalnya ingin mengatakan jika Amira Tan adalah teman, tetapi berubah pikiran setelah melihat jika tadi meninggalkan bekas di area leher dan sekarang terlihat ketika perawat membuka sedikit pakaian atas tersebut.


Perawat yang tengah memasang alat di sekitar dada untuk mengecek apakah ada hal buruk, kini melihat hasil yang keluar pada layar monitor.


Kertas panjang tersebut menunjukkan detak jantung pasien yang ternyata normal dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan setelah memeriksa tanda-tanda vital.


"Sepertinya ini hanya pingsan biasa karena mengalami shock. Namun, nanti dokter yang akan melakukan semua karena saya hanya perawat dan tidak mempunyai kewenangan untuk menjelaskan tentang apa yang dialami pasien."


Wanita berseragam putih itu mendorong troli berisi alat-alat yang digunakan untuk mengecek.


"Kalau begitu, saya permisi ke toilet dulu. Tolong jaga sebentar kekasih saya yang masih belum sadar ini." Noah merasa sedikit lega dengan penjelasan dari perawat, meskipun menjawab belum sepenuhnya benar, tapi paling tidak, Amira Tan hanya pingsan karena mengalami shock.


Hal itulah yang menjadi pedoman Noah dan merasa jika mungkin akan sadar sebentar lagi. 'Sebelum sadar, aku ingin menemui wanita yang merupakan saudara perempuan Amira.'


'Aku merasa ada sesuatu yang membuatku tertarik untuk berbicara,' gumam Noah yang bertanya pada salah satu perawat, di mana ruangan wanita yang tadi diketahui bernama Putri pada salah satu perawat yang duduk di depan layar komputer.


Begitu mengetahui, bahwa ruangan wanita itu tidak jauh, langsung berjalan menuju ke arah yang dituju. Setelah mengetuk pintu beberapa kali, melihat seorang wanita duduk di atas ranjang.


"Maaf, aku mengganggu waktu istirahatmu."


Noah berjalan semakin mendekat dan membungkuk hormat karena merasa harus menghormati seseorang yang diketahui adalah saudara perempuan Amira Tan.


"Jangan bersikap seolah aku adalah orang tua Amira Tan. Jadi, santai saja. Lagipula, hubungan kami tidak sebaik itu." Putri menebak jika pria itu memiliki perasaan spesial pada Amira Tan karena di tengah pagi buta seperti ini bersama.


"Baiklah. Memang lebih baik berbicara santai daripada formal. Sepertinya usia kita pun tidak terlampau jauh, bukan?" Noah mencairkan suasana sebelum mengungkapkan pertanyaan pada wanita yang berbicara tanpa bertele-tele tersebut.


Putri yang saat ini tengah mengamati penampilan santai pria yang ditebak lebih muda dari Amira Tan dan berpikir jika hanya dijadikan sebagai tempat pelampiasan atas cinta yang bertepuk sebelah tangan.


Setelah mengulas senyuman, Putri kini memilih untuk membuka suara, "Kaum wanita sangat sensitif terhadap usia. Jadi, lebih baik jangan membahas itu. Apa yang ingin kamu tanyakan padaku?"

__ADS_1


"Aku yakin jika ada yang ingin kamu tanyakan, jadi memilih untuk datang mengunjungi meskipun tidak saling kenal." Saat baru saja menutup mulut, sudut bibir melengkung ke atas begitu mendengar tanggapan dari pria di hadapan.


"Sepertinya kamu pelupa. Bukankah tadi sudah berkenalan di Ruang Gawat Darurat? Cantik-cantik pelupa. Sayang sekali." Noah berbicara sambil mengarahkan tangan ke atas membentuk simbol peace.


"Maaf, hanya sedikit intro untuk mengurangi ketegangan."


Putri yang kini hanya terkekeh geli karena melihat pria itu memiliki jiwa humor yang tinggi. "Apa kamu juga bisa bersikap seperti ini pada Amira Tan? Maaf, aku penasaran karena mengetahui jika selama ini wanita itu sangat arogan dan tidak pernah bisa bercanda."


"Hidup wanita itu selalu serius dan sikap yang arogan memang sangat cocok dengan pekerjaan sebagai pengacara karena gampang menjatuhkan lawan."


Saat Putri melirik mesin waktu yang berada di dinding, semakin penasaran dengan apa yang terjadi di antara mereka. Nanti berencana bertanya setelah cukup lama mengobrol. Kemudian mengarahkan tangan untuk memberi kode, agar pria tersebut duduk di kursi.


"Apa kamu tidak lelah terus berdiri seperti itu. Kursi itu tidak ada hantunya, jadi jangan takut."


Saat Noah tadi hanya ingin berbicara sebentar, tetapi merasa jika sangat cocok dengan Putri, akhirnya memilih untuk mendaratkan tubuh di atas kursi.


"Sepertinya kamu sangat mengerti dengan keadaan."


"Tentu saja sangat berbeda saat bersama si tukang pemarah itu. Jika aku bercanda seperti ini, yang ada kepala, lengan menjadi sasaran amarah. Amira Tan sering memukulku. Jika laki-laki, sudah kubuat babak belur."


"Meskipun Amira Tan sangat menyebalkan, tapi tidak membuat orang membencinya. Buktinya, kamu masih tetap bersama Amira Tan meski sudah dianiaya seperti itu."


Merasa malu karena mendapatkan sebuah kalimat skak mat dari wanita itu, Noah hanya terkekeh dengan menggaruk tengkuk belakang.


"Sepertinya kamu menganggap aku adalah pria bodoh tidak punya harga diri, ya?"


Refleks Putri menggelengkan kepala karena itu tidak sesuai dengan apa yang dipikirkan. Namun, balik bertanya, "Apakah kamu sangat mencintai Amira Tan?"


"Apa?" tanya Noah dengan mata membulat dan suara serak ketika tiba-tiba mendapatkan pertanyaan yang bahkan tidak diketahui jawaban. "Apa maksudmu? Kami hanya ...." Noah tidak melanjutkan perkataan karena merasa bingung dengan status mereka.


Putri kini menyipitkan mata karena tidak tahu apa yang membuat pria tersebut seperti tengah berpikir keras untuk melanjutkan perkataan.


'Apa yang sebenarnya ingin dijelaskan?' lirih Putri yang menunggu hingga Noah kembali berbicara.

__ADS_1


"Kamu tahu, aku bahkan bingung dengan status kami. Aku bukanlah teman dan juga bukan kekasihnya." Noah berbicara dengan miris karena merasa nasib seperti kapal terombang-ambing di laut lepas.


Namun, tanggapan dari wanita yang ada di hadapan berhasil membuat Noah menelan ludah dan tertampar.


"Tidak masalah karena kalian sudah tidur bersama, bukan? Bukankah itu merupakan keuntungan untukmu? Aku sama sekali tidak pernah menyangka jika Amira Tan yang arogan itu takluk padamu. Padahal sangat mencintai mantan suamiku."


"Apakah ini karena ...." Putri ingin menyebutkan itu karena patah hati, tetapi tidak jadi karena khawatir menyinggung perasaan. Kemudian mengalihkan pembicaraan.


"Jika kamu serius pada Amira Tan, kejar terus dan jangan menyerah. Jika kamu butuh bantuanku, katakan saja. Aku akan membantu dengan tulus karena berharap wanita arogan itu bahagia."


Ada raut kesedihan yang terpancar dari wajah Putri saat mengatakan itu dan itu bisa dibaca oleh Noah. Tentu saja tahu apa penyebab dari kesedihan tersebut karena filing seorang istri sangat kuat dan pasti memiliki firasat jika sang suami telah berselingkuh.


Apalagi saat di Club, Amira Tan menceritakan semua hal mengenai pria yang bersama seorang wanita seksi. Noah kini tengah menatap intens wajah Putri karena ingin membandingkan dengan wanita yang pergi bersama dengan pria, tak lain adalah Arya.


Apalagi tadi membuat kehebohan dengan menjadi pusat perhatian ketika menggendong tubuh seorang wanita yang berteriak menolak untuk keluar dari Club.


'Kalau menurutku, wanita selingkuhan suaminya memang cantik dan seksi, serta berkelas. Sementara Putri, lebih pada kesan wanita sederhana dengan kecantikan natural dan memiliki wajah keibuan. Perbedaan paling signifikan di antara mereka adalah sikap dewasa dan kekanakan.'


'Jika Putri adalah wanita dewasa dengan sikap keibuan, sedangkan wanita selingkuhan suami masih seperti kekanakan dan egois. Namun, tidak dipungkiri jika para pria lebih memandang fisik dari pada sifat,' gumam Noah yang kini merasakan pergerakan tangan Putri di pundaknya.


"Jangan melamun! Nanti syetan masuk," seru Putri yang kini ingin menyadarkan pria di hadapan seperti tengah mengalami beban berat. "Kamu seperti seorang perawan yang kehilangan keperawanan dan ditinggalkan."


"Lihatlah wajahmu itu, sangat kusut!"


Putri kini semakin menguraikan suasana penuh keheningan di antara mereka karena sangat tidak suka dengan aura kesedihan.


'Sudah cukup aku merasakan kesedihan yang menyiksa saat sedang sendirian. Jadi, tidak ingin jika ketika ada orang lain, mengalami hal serupa,' gumam Putri yang kini tertawa dengan wajah masam Noah.


"Astaga! Kenapa tepat sekali apa yang kamu katakan? Padahal aku ingin menjaga rahasia ini sampai mati, tapi tidak bisa mengelak saat adik perempuan wanita yang telah merenggut keperjakaanku menebak dengan sangat tepat."


Noah awalnya ingin membantah, tapi merasa hubungan mereka semakin dekat dan ingin memanfaatkan itu melancarkan aksinya.


"Apa kamu ingin aku membantumu?" tanya Putri yang kali ini menawarkan bantuan karena menganggap sebagai bentuk ucapan terima kasih pada Amira Tan dulu ketika meminjamkan uang untuk biaya menikah.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2