Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Mencari tahu


__ADS_3

Suasana di rumah Calista kini sudah terlihat disibukkan oleh para pelayan yang tengah sibuk dengan tugas masing-masing untuk persiapan pemakaman. Setelah mendapatkan kabar meninggalnya sama nona muda di rumah itu, semuanya mulai bergerak untuk mempersiapkan acara pemakaman.


Arya baru saja tiba setelah taksi yang mengantarnya berhenti di depan rumah. Ia menatap pintu gerbang berwarna hitam yang menjulang tinggi di hadapannya. 'Apakah aku diterima di rumah ini? Papa dan mama pasti belum pulang dari rumah sakit karena masih terlihat sepi.'


Arya sebenarnya merasa bingung harus ke rumah mertua untuk membantu proses pemakaman atau tidak. Ia khawatir jika mertuanya tidak menerimanya di rumah itu karena sangat membencinya.


Apalagi kematian dari sang istri juga akibat perbuatannya yang tidak mau diajak pulang oleh Calista. Saat Arya larut dalam pikirannya karena dipenuhi oleh keraguan apakah akan masuk atau tidak, kini mendengar suara bariton dari security yang baru saja keluar dari pos.


"Tuan Arya?" Sang penjaga rumah itu segera membungkuk hormat begitu melihat suami dari majikannya datang.


Arya saat ini berjalan mendekati pria dengan badan tinggi tegap tersebut dan jauh lebih besar darinya. "Apakah jenasah almarhumah istriku sudah tiba?"


"Belum, Tuan Arya. Tuan dan nyonya juga belum pulang dari rumah sakit," sahut security yang saat ini merasa bingung bagaimana pria itu tidak tahu tentang keluarga sendiri.


Arya kini mengembuskan napas kasar karena merasa bersalah tidak menunggu di rumah sakit. "Apa aku boleh masuk?"


"Tentu saja, Tuan Arya. Anda adalah suami dari nona Calista. Mana mungkin tidak boleh masuk." Pria berseragam hitam tersebut mengerutkan kening karena merasa bingung kenapa suami dari majikannya bersikap aneh.


Namun, ia buru-buru membuka pintu gerbang agar segera masuk ke dalam. "Silakan, Tuan Arya. Semua orang sudah bersiap untuk acara pemakaman besok pagi."


Arya hanya mengangguk lemah dan ia berjalan gontai memasuki halaman rumah mertuanya dengan perasaan tidak karuan dan dada bergemuruh hebat. Sepanjang ia melangkahkan kakinya menyusuri halaman dengan banyaknya tanaman hias yang makin melengkapi suasana asri di area depan, mengingat semua kenangannya bersama dengan mantan istri.


Meskipun selama menikah dengan Calista tidak sering datang ke rumah mertuanya, tetapi sempat beberapa kali ke sana saat ada acara keluarga. Ia mengingat kala terakhir datang ke sana.


'Saat itu kamu tersenyum padaku ketika ada acara barbeque di halaman rumah. Aku yang saat itu berada di depanmu membantumu mempersiapkannya. Calista, maafkan aku karena telah membuatmu kehilangan nyawa,' gumam Arya yang kini sudah tiba di depan pintu utama yang terbuka lebar.


"Selamat datang, Tuan Arya." Kepala pelayan yang saat ini tengah memberikan beberapa tugas pada Lion lain, menatap ke arah sosok pria di hadapannya.


Arya hanya terdiam karena merasa bingung harus bagaimana. Hingga di saat bersamaan melihat pintu gerbang yang terbuka dan ambulans yang membawa jenazah istrinya telah datang.


Ia terdiam di depan pintu sampai ambulans tersebut berhenti. Bahkan melihat mobil mertuanya yang berada di belakang dan langsung parkir di garasi. Ia seketika membantu ketika petugas ambulans turun dari mobil dan berniat untuk mengangkat jenazah.


Saat ia berniat untuk membantu, suara teriakan dari ayah mertuanya menggema di depan teras rumah dan membuatnya merasa bersalah.


"Kenapa kau datang ke sini? Siapa yang menyuruhmu datang? Dasar pembunuh! Putriku tidak akan bernasib malang seperti ini jika tidak menikah denganmu. Kenapa kau membiarkan putriku naik mobil sendiri? Kau telah membuatnya kehilangan nyawa, tapi masih berani menampakkan wajahmu?" Ayah Calista saat ini benar-benar murka melihat pria di hadapannya yang sudah tidak dianggap sebagai menantunya.


Ia sudah tahu semua yang terjadi dan tidak akan pernah memaafkan pria yang telah menjadi penyebab kematian putrinya. Bahkan jika bisa, ingin sekali menjebloskan ke dalam penjara.


Hanya saja, mengetahui tidak akan berhasil karena memang kecelakaan putrinya benar-benar murni akibat kelalaian sendiri saat mabuk. Namun, ia tahu jika putrinya tidak akan mabuk-mabukan tanpa sebab.


Apalagi mengetahui jika masih rumah tangga putrinya sudah tidak baik setelah mereka belum dikaruniai anak.


"Maafkan aku, Pa. Aku benar-benar tidak menyangka jika terjadi seperti ini pada Calista. Jika mengetahui akan terjadi kemalangan yang merenggutnya banyak, aku pasti akan bersamanya." Arya sebenarnya ingin diam saja dan menerima kemurkaan dari ayah mertua, tapi merasa jika diam saja hanya akan membuatnya makin terlihat seperti pecundang.


Jadi, hanya bisa mengatakan itu dan selebihnya pasrah jika sampai tidak diizinkan membantu proses pemakaman.

__ADS_1


"Aku ingin menebus kesalahan dengan membantu untuk yang terakhir kalinya demi Calista, Pa." Meskipun mengetahui tidak akan diizinkan, tetap ingin berjuang.


Namun, seperti yang ada di pikirannya, saat ini pria baru banyak itu mengibaskan tangan dan masih mengarahkan tatapan penuh kebencian padanya.


"Pergi atau aku akan menghabisimu di sini. Di depan jenazah putriku agar dia puas melihat kau hancur." Dengan mengepalkan kedua tangan serta wajah memerah karena dipenuhi oleh kemurkaan ketika melihat pria yang dicintai oleh putrinya, ia masih berusaha untuk menahan diri.


Kemudian sang istri menyambung perkataannya untuk membuat Arya segera pergi dari rumah.


"Kami tidak mengizinkanmu ataupun keluargamu datang karena hanya membuat kami merasa sakit atas meninggalnya Calista. Jadi, pergi dan jangan menampakkan wajahmu di sini lagi. Seumur hidup, kami tidak akan ikhlas dengan perbuatanmu yang telah membuat putriku kehilangan nyawa di usia yang masih sangat muda!" Wanita paruh baya tersebut kembali menangis tersedu-sedu.


Ia yang tadinya sudah sedikit tenang karena di rumah sakit tidak berhenti menangis, kini kembali merasa hancur hatinya mengingat tentang putrinya yang telah lebih dulu pergi darinya.


Apalagi saat melihat pria yang berdiri di hadapannya tersebut selalu membuatnya ingin sekali menghabisi untuk balas dendam.


Sementara itu, petugas ambulans yang saat ini hanya bisa melihat pertengkaran dari orang-orang di hadapannya, masih menunggu dan tidak berani menyala. Meskipun sebenarnya ia harus segera kembali ke rumah sakit, tapi mencoba mengerti bagaimana perasaan dari keluarga pasien.


'Sebenarnya apa yang dilakukan pria ini pada istrinya? Kenapa mertuanya sangat membenci dan menyalahkan dialah penyebabnya?' gumam pria yang saat ini mengenakan seragam berwarna hitam.


Sementara itu, Arya yang merasa bersalah dan kali ini tidak ingin membantah ataupun berdebat saat niat baiknya untuk membantu almarhumah istrinya di saat-saat terakhir tidak diizinkan.


Dengan membungkuk hormat pada mertuanya, ia akhirnya memilih untuk menuruti perintah dari mereka. "Jika Papa dan Mama tidak mengizinkanku, aku tidak akan membuat kalian bertambah murka melihatku. Tapi izinkan aku untuk terakhir kalinya membantu mengangkat jenazah almarhumah istriku."


Masih berusaha untuk mencoba mengetuk pintu hati mertuanya agar mengizinkannya melakukan kebaikan untuk terakhir kali demi istri, tapi seperti yang diketahui olehnya, tetap dilarang.


"Cepat pergi atau aku akan menyuruh pengawal untuk menyeretmu pergi dari sini!" sarkas ayah Calista yang saat ini benar-benar tidak bisa menahan kemurkaannya.


Bahkan menguatkan diri untuk berjalan ketika mengiringi brankar membawa jenazah putrinya. Ia pun harus bersikap kuat di depan sang istri yang tidak berhenti menangis. Begitu pertama kali melihat Arya berada di rumah, tentu saja benar-benar sangat murka dan meluapkannya.


Arya yang saat ini masih menatap ke arah brankar di dalam ambulans, kini merasa berat untuk pergi dan tidak bisa membantu proses pemakaman sang istri.


"Baiklah, Pa, Ma, aku akan pergi dan tidak akan menampakkan wajahku di depan kalian. Tapi aku akan selalu mendoakan almarhumah istriku agar tenang di sisi-Nya." Doa tulus dari Arya sama sekali tidak ditanggapi oleh mertuanya dan ia tidak mempermasalahkan hal itu.


Niat baiknya kini telah gugur meskipun ditolak mentah-mentah oleh mertuanya. Paling tidak, ia masih memiliki niat baik untuk bisa membantu proses pemakaman.


"Pergi jauh-jauh dari sini dan bila perlu pergilah ke neraka!" sarkas pia yang saat ini beralih menatap ke arah petugas ambulans dan meminta pelayan untuk membantu.


Ia menunggu di bawah mobil saat petugas mulai mengeluarkan jenazah putrinya. Tentu saja dengan perasaan hancur ketika melihat wajah putrinya yang sudah pucat dan dingin.


Sementara sang istri kembali menangis tersedu-sedu dan membuatnya benar-benar hancur karena putri satu-satunya yang disayangi saat ini sudah tiada.


"Sabarlah, Sayang. Putri kita sudah tenang dan tidak merasakan sakit lagi akibat kecelakaan yang dialami," ucapnya untuk menenangkan sang istri yang berjalan mengikuti di sebelahnya.


"Kenapa bukan aku saja yang mati? Kenapa harus putri kita, Pa?" Ia kita akan saat ini merasa kepalanya pusing dan begitu tiba di teras rumah, itu punya terhempas ke lantai saat kehilangan kesadaran.


"Sayang?" teriak sang suami yang masih mengangkat tubuh putrinya dan begitu menurunkannya di tempat yang sudah disiapkan, seketika berlari mendekati sang istri dan langsung menggendongnya karena para pelayan tidak berani menyentuh.

__ADS_1


"Pasti kamu sangat syok dan sedih, tapi tetap harus kuat, Sayang." Kemudian berjalan menuju ke arah ruangan kamar tamu yang ada di lantai 1 membaringkan di atas ranjang, lalu menyuruh pelayan untuk membawakan minyak angin.


Sementara itu, di luar rumah, Arya yang bisa melihat kejadian penuh dramatis di teras depan, semakin merasa bersalah dan ingin sekali tadi menolong ibu mertuanya. Namun, saat berniat untuk melangkah, sudah dilarang oleh pengawal yang menyuruhnya untuk segera meninggalkan rumah agar tidak terjadi perdebatan.


"Maaf, Tuan. Anda tidak boleh kembali," ucap pria berseragam hitam yang saat ini mengawasi mantan menantu dari majikannya.


"Baiklah. Aku akan pergi dari sini," lirih Arya yang saat ini berjalan gontai ke arah depan dan begitu keluar dari pintu gerbang, di saat bersamaan ambulans juga berlalu di sampingnya.


Ia berniat untuk berjalan menyusuri area perumahan mewah tersebut karena suasana hatinya kenapa memang sedang buruk saat ini.


Sepanjang menyusuri area tersebut yang sangat senyum dan sepi di malam hari, sama sekali tidak diperdulikannya udara malam yang menusuk tulang.


Hingga saat ia tiba di jalan raya, memilih untuk duduk di area pemberhentian bus. Bukan karena ini naik bus untuk perjalanan pulang yang entah ke mana akan pergi, ia mendengar dering ponsel miliknya.


Awalnya ia tidak berniat untuk mengangkatnya karena berpikir bahwa itu tidaklah penting. Namun, selama tiga kali berdering dan terus-menerus serta menimbulkan suara bising, sehingga membuatnya meraih benda pipih tersebut dari saku celana.


Begitu melihat nomor asisten pribadinya menelpon di tengah malam, membuatnya mengerutkan kening. Hingga ia merasa ada yang tidak beres dan langsung menggeser tombol hijau ke atas untuk mencari tahu dan mendengar suara bariton dari seberang telepon.


"Halo, Tuan Arya. Saya turut berduka cita atas meninggalnya nona Calista. Saya baru mendengar kabar ini." Sang asisten yang saat ini tengah memegang tablet di tangannya, tadi mendapatkan telepon dari ayah bosnya tersebut untuk membereskan tentang artikel yang mengaitkan nama keluarga Mahesa di hari duka.


"Terima kasih." Arya dengan lemah menjawab dan merasa yakin jika bukan hanya itu yang ingin disampaikan oleh sang asisten. "Apakah ada masalah? Kau sepertinya tidak akan menelponku hanya untuk mengucapkan bela sungkawa, kan?"


Arya berbicara sambil menatap ke arah kendaraan yang baru saja melintas. Suasana tengah malam yang kini sudah mengurangi intensitas kendaraan, membuatnya bisa merasakan jika banyak orang yang saat ini tengah beristirahat dari penatnya menjalani aktivitas sepanjang hari.


"Ya, Tuan. Saya tadi baru saja mendapatkan telepon dari tuan Ari Mahesa untuk membereskan masalah artikel yang baru saja tersebar di media sosial mengenai masa lalu Anda bersama dengan nona Putri. Sepertinya Anda belum membacanya." Ia tadi langsung menyuruh pihak IT untuk menghapus beberapa artikel yang menyebutkan nama keluarga Mahesa.


Bahkan juga mendapatkan perintah untuk mencari tahu di mana keberadaan dari bosnya tersebut karena orang tua saat ini tidak tahu di mana rimbanya.


Arya saat ini membulatkan mata karena tidak pernah berpikir sampai ke arah sana. Apalagi selama ini hanya beberapa orang yang mengetahui jika ia pernah menikah siri dengan Putri. Sekarang merasa sangat khawatir karena mantan istrinya tersebut saat ini sudah menjadi seorang istri dari Putra keluarga konglomerat.


"Kirimkan padaku beritanya. Aku ingin melihatnya sendiri," ucap Arya yang tadinya berniat untuk menghilang dari Jakarta, seketika berubah pikiran begitu khawatir pada mantan istri yang tiba-tiba diserang oleh media.


"Baik, Tuan. Oh iya, Anda sekarang ada di mana? Biar saya jemput? Anda bisa tinggal di apartemen saya untuk sementara waktu," ucap sang asisten yang saat ini tengah merayu bosnya seperti keinginan dari orang tua pria itu.


Sementara itu, Arya saat ini terdiam karena bingung harus melakukan apa. Hingga ia berpikir jika harus membereskan semuanya terlebih dahulu sebelum pergi dan juga merasa iba jika sampai terjadi sesuatu hal yang buruk pada Putri gara-gara masa lalu mereka yang kelam.


"Baiklah. Aku akan mengirimkan alamat padamu dan jemput aku di sini." Kemudian langsung mengirimkan lokasi terakhir.


"Baik, Tuan Arya. Saya berangkat sekarang dan tunggu di sana." Kemudian langsung mematikan sambungan telepon untuk bergegas menjemput atasannya dan sekaligus merasa lega karena bisa menemukannya.


Sementara itu, Arya yang saat ini menetap ke arah berita yang menyebutkan namanya serta Putri, mengepalkan tangan karena merasa sangat marah dan bertanya-tanya tentang siapa yang menyebarkan informasi bersifat privasi tersebut.


"Kira-kira siapa orang yang menjadi dalang di balik semua ini? Bahkan orang tuaku tidak mungkin melakukannya karena mempertaruhkan nama keluarga Mahesa. Lalu siapa? Aku harus mencari tahu,' gumamnya sambil terus membaca artikel tersebut.


Hingga ia saat ini mengingat kejadian saat bertemu Putri. "Aku harus mencari tahu nomor telepon Putri untuk bertanya apakah dia baik-baik saja setelah membaca berita ini."

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2