
Sebenarnya Putri merasa sangat konyol dengan apa yang barusan diucapkan karena saat ini beban pikiran yang mengganggu ketika melihat mantan suami menghubungi setelah membuat perasaan hancur lebur.
Namun, tidak memperdulikan rasa malu pada pria yang merupakan sopir taksi tersebut.
Berpikir bahwa mungkin saja akan mendapatkan pencerahan atau tempat yang cocok sebagai pelarian ketika hati sedang terluka karena ulah Arya dan merupakan ayah dari putra yang baru saja dilahirkan.
Putri berpikir tidak akan bertemu sopir itu lagi, sehingga bertanya. Namun, ekspresi dari pria yang tidak langsung menjawab pertanyaan karena terlihat seperti ragu-ragu dan juga heran.
"Maaf karena bertanya hal konyol seperti ini. Lebih baik lupakan saja apa yang barusan saya katakan." Putri memilih untuk memalingkan wajah dan kembali sibuk dengan bayi menggemaskan yang berada di pangkuan.
Sementara itu, pria yang saat ini duduk di balik kemudi dan terlihat fokus mengemudikan kendaraan, sebenarnya sempat merasa bingung harus menjawab. Apalagi merasa khawatir pada wanita itu jika sampai terjadi hal-hal yang buruk.
Bahkan didukung dengan raut wajah penuh kesedihan yang terlihat jelas saat ini, membuat pria berprofesi sebagai supir tersebut merasa iba dan sebenarnya sedang memikirkan sesuatu karena teringat pada istri yang ada di rumah.
"Maaf, Nyonya. Apakah Anda saat ini sedang bertengkar dengan suami dan berniat untuk kabur? Apa tidak sebaiknya dibicarakan baik-baik dulu?"
"Tidak mungkin aku bisa berbicara baik-baik saat sudah diceraikan oleh suami yang ketahuan berselingkuh di depan mata." Putri kembali tersulut amarah ketika sang supir mengatakan bahwa membicarakan dengan baik-baik bisa menyelesaikan masalah yang terjadi.
Padahal kenyataan tidaklah semudah yang dikatakan oleh pria tersebut, sehingga Putri memilih untuk berbicara dengan sangat ketus sekaligus kesal.
'Pria ini sangat menyebalkan karena aku bertanya tentang hal lain, tetapi kenapa malah menasehatiku. Padahal tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada rumah tanggaku.'
Putri yang saat ini masih sibuk mengumpat di dalam hati karena kesal pada pria yang ditebak berusia hampir seumuran dengan suami pertama, yaitu Bagus.
Tentu saja sang supir kini merasa sangat bersalah karena membuat penumpang terlihat marah dan kesal. Kini, mengetahui puncak permasalahan yang membuat wanita itu terlihat murung dan juga sembab karena menangis.
__ADS_1
Rasa iba saat ini dirasakan karena memposisikan diri jika sampai wanita yang dicintai bernasib seperti penumpang tersebut yang kembali mengajak bicara bayi dalam gendongan.
"Maafkan saya, Nyonya karena sama sekali tidak tahu dengan masalah yang menimpa Anda. Jadi, sekarang belum mengetahui tempat tujuan untuk pergi menjauh dari pria yang telah menyakiti Anda?"
Putri masih diam karena tidak ingin membahas lagi mengenai Arya. Apalagi pertanyaan yang diajukan barusan tidak mendapatkan jawaban dan berpikir bahwa saat ini tidak perlu menjawab.
Mengerti jika saat ini wanita di sebelah kiri tersebut masih kesal dan marah, akhirnya memilih untuk menawarkan sesuatu yang mungkin bisa membantu.
"Jika Anda mau, bisa pergi ke kota kelahiran istri saya. Merupakan kota kecil yang memiliki hawa sejuk dan berada di sekitar area pegunungan. Namun, ada banyak tempat wisata dan bisa dimanfaatkan untuk berdagang."
"Seperti istri saya yang memilih untuk membuka usaha makanan ringan dalam kemasan dan dijual dengan cara dititipkan di pusat oleh-oleh."
"Meskipun baru berjalan beberapa bulan ini, sudah menghasilkan uang uang cukup lumayan. Bahkan satu bulan lagi, saya nanti akan pensiun menjadi sopir taksi di sini dan pulang ke kampung halaman."
Refleks Putri merasa sangat tertarik dengan pembicaraan dari sang supir dan kini memilih untuk menoleh menatap pria tersebut.
Kemudian sang sopir tersebut menjelaskan bahwa selama ini mencari modal di kota untuk digunakan sang istri membuka usaha. Jadi, setelah mendapatkan banyak keuntungan dari hasil usaha makanan ringan, yaitu buah-buahan yang disulap menjadi keripik.
"Jika Nyonya mau, aku akan menghubungi istriku agar membantu Anda untuk mencarikan tempat tinggal dan juga bisa memberikan saran mengenai usaha apa yang cocok di sana dan pastinya belum ramai."
Merasa telah menemukan jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi karena beberapa saat lalu masih bingung untuk menentukan kota yang cocok sebagai tempat tinggal untuk membuka lembaran baru, Putri saat ini menyetujui tawaran dari pria yang baru saja ditemui tersebut.
"Aku mau dan semoga saja istrimu mau membantu wanita malang sepertiku. Janda yang baru saja melahirkan dan diceraikan oleh suami. Sebenarnya aku berencana untuk menjual makanan karena bisa memasak dan sering ada yang memuji bahwa masakanku enak."
"Karena aku hanya mempunyai keahlian itu saja dan berpikir bisa memanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa harus meninggalkan putraku yang masih bayi."
__ADS_1
Saat Putri baru saja menutup mulut, taksi yang ditumpangi sudah memasuki area terminal, sedangkan pembicaraan mereka masih belum selesai.
"Apakah aku boleh meminta nomor telpon istrimu untuk menghubungi nanti jika sampai di kotamu." Namun, beberapa saat kemudian merasa ragu karena khawatir jika tidak diterima, apalagi menolong.
"Lupakan saja karena aku tidak ingin kamu dalam masalah karena istrimu berpikir bahwa aku adalah selingkuhanmu. Karena biasanya para wanita selalu berpikir buruk jika seorang suami dekat dengan lawan jenis.
Apalagi seorang janda yang notabene selalu mendapatkan hinaan dan cacian sebagai perebut suami orang. Katakan saja kota tempat tinggal istrimu."
"Biar aku yang pergi sendiri ke sana dan tidak akan mengatakan apapun pada istrimu, agar tidak ada kesalahpahaman."
Sementara itu, pria yang baru saja mengeluarkan ponsel setelah menepikan taksi di tempat yang ditentukan, menggelengkan kepala perlahan karena tidak menyetujui apa yang barusan diungkapkan oleh penumpang wanita tersebut.
"Istriku bukanlah tipe wanita seperti itu karena sangat mempercayaiku. Rumah tanggaku mengutamakan saling menghormati dan juga percaya bahwa diantara kami tidak akan berselingkuh."
"Tunggu sebentar. Aku akan menghubungi istriku dulu dan menceritakan semuanya." Kemudian memencet tombol hijau dan menunggu hingga panggilan tersambung.
Begitu sang istri mengeluarkan suara, pria itu pun langsung menceritakan semua mengenai keinginan dari wanita tersebut yang ingin mencari tempat tinggal untuk memulai lembaran baru.
Sementara itu, Putri saat ini masih duduk diam dan mendengarkan dengan sabar saat pria yang dianggap sangat baik karena mau menolong, berbicara serius ditelpon.
Ada kelegaan yang saat ini dirasakan oleh Putri karena berpikir telah mendapatkan satu penyelesaian dari masalah, yaitu menemukan kota yang akan menjadi tempat tinggal sementara demi bisa menjauh dari orang-orang yang dikenal.
Meskipun Putri sama sekali tidak mengetahui akan tinggal berapa lama di sana, tetapi berpikir bahwa jika nanti berhasil dalam usaha berjualan makanan, memilih untuk selamanya berada di tempat itu.
'Aku akan fokus pada usahaku untuk bertanggungjawab membesarkan putraku dengan baik. Semoga aku mendapatkan jalan untuk memulai usaha di tempat baru,' gumam Putri dalam hati yang saat ini sangat berharap jika istri sopir taksi tersebut mau membantu.
__ADS_1
Hingga sudut bibir Putri melengkung ke atas begitu melihat pria tersebut menganggukkan kepala dan tersenyum. Seolah memberikan jawaban baik dan persetujuan dari sang istri di seberang telpon.
To be continued...