Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Janji Calista


__ADS_3

Calista masih terdiam saat sang ibu terlihat sangat marah dan mengajak untuk segera pergi dari ruangan tersebut. Kini, hanya melirik sekilas ke arah sosok pria yang bahkan masih betah tidak sadarkan diri tersebut.


Meskipun sebenarnya tahu bahwa apa yang dikatakan oleh sang ibu adalah kenyataan, tetapi tidak bisa melangkah keluar dari ruangan perawatan.


Karena sejujurnya, melihat keadaan Arya saat ini, ingin selalu berada di dekat pria yang dicintai tersebut. "Aku tahu itu, Ma, tapi meskipun mengetahuinya, tetap mencintai Arya. Bahkan mungkin rasa cintaku jauh lebih besar dari wanita yang merupakan mantan istri Arya."


Bahkan Calista berbicara dengan suara serak karena menahan tangis dan perasaan membuncah di dalam hati. "Aku tidak bisa membenci pria yang kucintai."


"Dasar bodoh!" teriak ibu dari Calista dan memilih untuk memukuli lengan putrinya.


Berharap dengan melakukan itu, akan menyadarkan putrinya dan memilih meninggalkan pria yang masih mencintai mantan istrinya.


Namun, seolah apapun yang dilakukan tidak bisa merubah perasaan Calista pada Arya. "Kenapa kau berubah bodoh seperti ini hanya karena cinta? Meski Arya sadar dari koma, bisa saja memilih untuk membatalkan niat melamarmu."


"Itu tidak akan pernah terjadi karena Arya sudah bercerai dengan wanita itu." Rani mencoba untuk membela putranya yang masih belum sadar, berharap ibu Calista mau percaya dan tidak marah lagi.


"Aku tidak bisa memastikan itu, tapi berjanji akan meninggalkan Arya jika mengatakan ingin memutuskan hubungan denganku. Aku akan menunggu hingga itu terjadi dan pasti segera pergi tanpa menoleh ke belakang lagi. Jadi, Mama tidak perlu khawatir padaku."


Keputusan Calista baru saja diungkapkan dengan penuh keyakinan setelah menatap ke arah pria dengan perban di kepala tersebut.


"Aku akan memberikan kesempatan padamu kali ini dan akan langsung pergi jika benar kau ingin mengakhiri hubungan kita dan kembali pada Airin." Calista kemudian beralih menatap ke arah Rani Pramesti.


"Aku akan menunggu dengan sabar hingga Arya sadar karena keputusan kuserahkan pada putra Mama. Besok, akan kembali datang ke sini. Sekarang, aku tidak bisa menunggu Arya karena ingin menenangkan pikiran setelah kejadian hari ini banyak menguras emosi dan tenaga."


Calista baru saja menutup mulut setelah mengungkapkan keputusan dengan penuh keyakinan, sedikit terhuyung ke belakang satu langkah begitu merasakan pelukan hangat dari wanita paruh baya tersebut.


"Terima kasih, Calista. Aku memang tidak salah pilih calon menantu perempuan untuk putraku. Aku dari dulu sangat menyukaimu dan berharap kaulah yang menjadi menantu perempuan di keluarga Mahesa. Aku juga mendukung keputusanmu dan tidak akan menghalangimu pergi setelah nanti Arya sadar mengatakan yang sebenarnya diinginkan."


Jika calon ibu mertua merasa sangat bahagia, sangat berbeda dengan ibu kandung yang kecewa dengan keputusan putrinya.

__ADS_1


"Terserah padamu saja! Mama hanya ingin kau tidak menderita karena ulah pria yang tidak mencintaimu. Sekarang sangat malas berada di sini dan ingin segera pulang. Ayo, kita kembali ke rumah!" Berlalu pergi tanpa menunggu tanggapan dari putrinya.


Sementara itu, Rani Pramesti sama sekali tidak merasa tersinggung atas perkataan dari wanita yang sudah menghilang di balik pintu tersebut.


Rani berpikir bahwa sikap dari wanita itu sangat wajar sebagai seorang ibu yang tidak ingin putrinya hidup menderita karena disakiti oleh seorang pria.


Kemudian menatap ke arah Calista dan melepaskan pelukan. "Pulanglah dan beristirahat di rumah. Tenangkan pikiranmu. Semoga besok akan lebih baik dan tidak akan marah lagi pada Arya."


Rani beralih menatap ke arah putranya. "Aku sangat yakin jika kau tidak akan tega melihat keadaan Arya seperti itu. Saat bangun dari koma nanti, Arya akan menyadari bahwa kaulah wanita yang selalu ada."


Calista pun saat ini menatap ke arah ranjang perawatan tersebut. "Iya, Ma."


Tentu saja Calista sangat tidak tega melihat pria yang dicintai tidak berdaya di atas ranjang peralatan. "Aku memang butuh waktu untuk menenangkan diri."


Kemudian Calista berjalan mendekati ranjang dan membungkukkan badan karena mengarahkan kecupan ringan pada pria dengan mata tertutup rapat tersebut.


"Aku sangat mencintaimu dan ingin kita segera menikah. Jadi, bangunlah dari tidur panjangmu." Menatap sekilas dan beralih ke arah calon ini mertua. "Aku pergi, Ma. Semoga Arya segera sadar dan tidak terlalu lama mengalami koma."


"Hati-hati di jalan dan terima kasih untuk semuanya, Sayang." Kembali memeluk erat tubuh wanita yang dari dulu sangat disukai dan diharapkan bisa menjadi menantu perempuan di keluarga Mahesa.


Kemudian beberapa saat kemudian melepaskan pelukan dan tersenyum simpul. "Arya sangat beruntung memilikimu, Calista."


"Semoga Arya juga merasakan hal itu, Ma. Aku pulang." Calista mengusap lengan calon ibu mertuanya tersebut dan berlalu pergi setelah melirik sekilas pada Arya.


Saat membuka pintu, Calista melihat perdebatan antara dua pria paruh baya yang saat ini saling beradu tatapan tajam.


"Apa yang terjadi?"


Ari Mahesa yang tadi menceritakan tentang semua hal mengenai penyebab dari terlambat datang ke acara dengan berbicara jujur, berhasil memantik amarah ayah dari Calista dan juga di saat bersamaan, didukung oleh wanita yang baru saja keluar dari ruangan perawatan.

__ADS_1


"Sepertinya memang Arya ingin membatalkan acara dengan tidak mau dihubungi oleh siapapun. Jadi, sepertinya tidak ada acara lamaran ataupun pertunangan lagi di antara keluarga kita." Ibu Calista yang masih merasa marah mendengar semua cerita tersebut, kembali memutuskan tanpa menunggu persetujuan dari siapapun termasuk putrinya sendiri.


Ayah Calista pun seketika bangkit berdiri dan mendukung perkataan dari sang istri karena berpikir bahwa pria yang mungkin sudah tidak ada harapan karena, tersebut bukanlah calon suami yang tepat untuk putrinya.


"Kau memang benar. Jadi, kita akhiri saja hubungan sampai di sini dan tidak akan ada pernikahan, meskipun nanti Arya sadar dan bangun dari koma."


"Tidak, Pa! Hanya aku dan Arya yang memutuskan hubungan kami akan dibawa ke mana dan kalian semua tidak berhak ikut campur meskipun merupakan orang tua!" Calista yang merasa sangat pusing dengan semua perkataan orang tua, tidak bisa mengendalikan diri lagi terlalu lama.


"Akulah yang akan menjalani rumah tangga dan ingin seumur hidup bersama pria yang kucintai dan mencintaiku. Jika Arya mengatakan tidak mencintaiku dan memilih pergi, baru aku akan memutuskan hubungan."


"Namun, sebelum itu terjadi, tetap akan bersama Arya meski apapun yang terjadi. Aku ingin menenangkan diri di apartemen. Kalian pulang saja ke rumah!" Calista yang masih dikuasai oleh amarah, sama sekali tidak memperdulikan raut wajah memerah dari orang tua yang jelas tidak setuju dengan keputusannya.


Namun, Calista sama sekali tidak perduli dan melangkah pergi. Meninggalkan para orang tua yang berebut benar dan dianggap sangat egois karena bertengkar di depan ruangan pria yang dicintai dan masih tidak sadarkan diri.


'Mereka sama sekali tidak mengerti perasaan putri sendiri. Para orang tua egois itu seharusnya menyadari bahwa cinta tidak bisa hilang begitu saja dan aku menyadari jika Arya saat ini sedang berusaha untuk melupakan Putri.'


'Melupakan seseorang yang pernah sangat dicintai dan berarti di dalam hati, memanglah tidak semudah membalikkan telapak tangan. Aku bahkan butuh waktu bertahun-tahun untuk melupakan pria yang telah menyakitiku dan sekarang bisa membuka hati untuk satu pria, yaitu Arya.'


'Jadi, aku akan selamanya menyimpan rasa cinta yang terlambat besar untuk Arya dan memilih pergi jika tidak diinginkan.'


Calista berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan tatapan kosong dan masih memikirkan keadaan pria yang sangat dicintai.


'Kamu harus mengetahui bahwa cintaku jauh lebih besar dari Putri.' Melangkah masuk ke dalam lift dan memencet tombol satu.


Pintu pun terbuka beberapa saat kemudian dan Calista memilih untuk memesan taksi yang akan mengantarkan ke apartemen. Meskipun mengetahui bahwa di sana ada banyak kenangan bersama Arya dan hanya akan berakhir bersedih jika mengingat itu semua.


Namun, berpikir bahwa itu jauh lebih baik dari pada mendengar kemurkaan dari orang tua yang memaksa untuk meninggalkan Arya.


"Sebelum kamu sadar dan mengatakan tidak menginginkanku, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Itu janjiku padamu."

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2