
"Apa yang kau inginkan sebenarnya?" sarkas Noah yang merasa sangat kesal pada wanita berseragam putih di hadapan yang tidak menyerah dan mengikutinya seperti seorang penjahat yang harus diadili.
Padahal sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun, tapi wanita yang tak lain merupakan perawat tersebut masih mengikuti sampai di lobi rumah sakit setelah keluar dari lift.
Karena merasa sangat risi diikuti, Noah berbalik badan dan menatap tajam wanita yang terlihat masih sangat muda tersebut. "Aku bebas menentukan ingin diobati atau tidak karena ini adalah tanganku sendiri."
"Jadi, tolong menyingkir dari hadapanku sebelum aku berbuat tidak sopan padamu!" umpat Noah yang saat ini tidak bisa mengendalikan amarah karena dari tadi selalu terpancing emosi dalam hal apapun setelah bertengkar dengan sang kekasih yang lebih mempercayai orang lain dari pada dirinya.
Sementara itu, perawat wanita yang ingin membeli makanan di kantin tersebut tidak tega melihat seorang pria dengan meringis kesakitan sambil memegangi tangan mengeluarkan darah.
Hal itu karena sebagai bentuk perikemanusiaan dan juga merupakan tim medis yang bertugas untuk mengobati, sehingga membuatnya merasa bertanggung jawab.
Meskipun mendapatkan sikap tidak biasa dari seorang pria tidak dikenal, tidak membuat wanita bernama Santi Kartika Sari tersebut menyerah untuk membujuk.
"Maaf, Tuan karena tangan Anda memang tidak bisa berbicara untuk mengungkapkan rasa sakit, tapi darah yang keluar dari sana sudah cukup mewakili bahwa itu membutuhkan obat dan segera ditangani."
"Sebenarnya saya bisa saja tidak perduli dan membiarkan tangan Anda patah, tapi karena ini bentuk tanggung jawab bagi pekerjaan seorang perawat yang harus mengobati pasien, jadi ingin menyadarkan bahwa perbuatan saat ini salah."
Wanita dengan kulit putih tersebut berharap pria di hadapannya mau berubah pikiran dan sadar bahwa apa yang dilakukan hanya akan merugikan diri sendiri.
Apalagi jika sampai tangan kanan yang seharusnya digunakan untuk melakukan apapun itu bermasalah, yang terjadi hanyalah penyesalan seperti mantan kekasihnya.
Karena mengalami tangan yang bermasalah, sehingga sampai sekarang tidak berhenti menyalahkannya. Hal yang membuatnya sangat marah dan kesal adalah pria di hadapannya tersebut hampir mirip dengan mantan kekasih yang dulu tidak terima diputuskan.
__ADS_1
'Kenapa wajah pria ini sangat mirip dengan mantan kekasihku dan malah sekarang meninju dinding seperti yang dilakukan saat kuputuskan? Jika tidak ketahuan selingkuh, mungkin aku masih dibodohi sampai sekarang. Lalu, kenapa saat aku memutuskan hubungan, malah tidak terima dan menyalahkanku?'
Santi saat ini terdiam sambil menatap intens pria di hadapan yang tidak diketahui siapa namanya, tapi tetap ingin mencoba untuk menjadi orang yang berguna untuk merawat luka di tangan pria itu.
Noah saat ini menatap ke arah punggung tangan yang berdarah dan semakin terasa nyeri. Diakuinya bahwa tangannya memang terasa sakit dan mungkin apa yang dikatakan oleh perawat wanita di hadapannya tersebut benar.
'Apakah tanganku akan patah seperti yang dikatakan oleh wanita ini? Tapi memang rasanya sangat sakit. Sialan! Jika tanganku patah, bukankah aku akan mengalami kekurangan? Nanti Amira Tan bisa melihatnya dan menganggap aku tidak sempurna seperti Jack.'
'Aku tidak ingin mempunyai kekurangan yang terlihat dari segi fisik karena itu akan membuat pria sialan itu berpikir akan menang mutlak melawanku untuk memperebutkan Amira Tan. Ini tidak boleh terjadi.'
Puas berargumen sendiri, Noah mengangkat pandangan dan mulai mengulurkan tangan yang berdarah. "Aku tidak ingin dirawat di rumah sakit ini. Apakah kau bisa mengobati lukaku ini? Nanti aku akan memberikan uang sebagai ucapan terima kasih."
Perawat wanita yang saat ini merasa lega begitu pria di hadapannya tersebut setuju untuk diobati, sehingga langsung menganggukkan kepala dan berjalan keluar dari lobi karena tidak mungkin melakukan di area rumah sakit.
Noah berjalan mengekor di belakang wanita berseragam putih tersebut. Meskipun merasa penasaran akan diajak ke mana, tapi tidak bertanya apapun dan memilih untuk patuh seperti anak kecil yang mengikuti ibunya.
Hingga begitu tiba di depan minimarket yang ada di sebelah kanan rumah sakit, jam berapa menunjuk ke arah kursi. "Duduklah di situ! Aku akan membeli obat di apotek terlebih dahulu untuk mengobatimu. Nanti ganti uangku!"
Noah sama sekali tidak menjawab karena wanita itu sudah menghilang dari pandangan ketika berjalan sangat cepat seperti orang yang dikejar anjing. Seolah sudah terbiasa berjalan cepat karena memang perawat dituntut untuk sikap dan cekatan saat merawat pasien.
Apalagi jika ada pasien korban kecelakaan yang membutuhkan sikap tangkas dari para perawat karena terlambat sedikit saja bisa menyebabkan nyawa korban melayang.
Kebetulan tadi Noah melihat apotek di sebelah minimarket, sehingga mengetahui bahwa perawat itu pergi ke sana untuk membeli obat.
__ADS_1
Noah bahkan saat ini menatap ke arah punggung tangan yang berdarah. "Apakah benar yang dikatakan Amira Tan bahwa aku sangat kekanakan dan tidak bisa mengendalikan emosi?"
"Bagaimana mungkin aku tidak marah dan masih bersikap tenang saat ada pria yang ingin merebut kekasihku? Jack benar-benar berengsek! Kenapa situasi bisa berbalik seperti ini?"
"Padahal aku sangat yakin jika Amira Tan akan menjadi istriku setelah kami melakukan hubungan intim beberapa kali. Aku tidak pernah menyangka jika Jack masih mencintai Amira Tan setelah mengetahui hal itu."
Menganggap bahwa Jack sangat gila karena masih mengharapkan Amira Tan meskipun mengetahui bahwa wanita yang dicintai sudah tidak perawan karena menyerahkan padanya.
'Apa Jack hanya ingin membalas dendam padaku dan Amira Tan? Jika itu sampai terjadi, akan ada hal buruk yang dialami Amira Tan,' gumam Noah yang saat ini tersadar dari lamunan begitu mendengar suara perawat yang ternyata sudah kembali dan duduk di sebelah.
"Apa kau baru saja diputuskan oleh kekasihmu?" Perawat wanita tersebut membuka obat dan juga sesuatu yang tadi dibeli untuk membebat tangan yang dikhawatirkan mengalami tulang yang retak.
"Seharusnya kau memeriksakan tanganmu agar bisa di rontgen untuk mengetahui apakah ada tulang yang retak atau tidak." Kemudian mulai mengobati luka luar dengan salep yang dibeli.
"Aku membeli obat luar dan juga untuk diminum sebagai pereda rasa nyeri dan juga menyembuhkan luka. Jadi, bisa minum obat setelah makan. Itu dosisnya tiga kali sehari, yaitu pagi, siang, malam."
Noah hanya membiarkan wanita itu berbicara panjang lebar karena menganggapnya mengoceh tidak penting. Apalagi seperti menganggapnya tidak tahu apa-apa mengenai obat.
Hingga menjelaskan harus minum tiga kali sehari. 'Apakah wanita ini pikir aku adalah seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa mengenai minum obat tiga kali sehari? Kenapa hari ini para wanita sangat menyebalkan?'
Noah yang masih sibuk mengumpat di dalam hati, kini menahan rasa nyeri yang dirasakan ketika sang perawat mengobati. Bahkan saat ini menatap ketika wanita berseragam tersebut membebat dengan sesuatu yang tadi dibeli.
Hingga beberapa saat kemudian, tangannya sudah sedikit terasa lebih baik setelah diobati dan diperban menggunakan alat berwarna coklat.
__ADS_1
To be continued...