
Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, kini mobil mewah milik Arya telah tiba di toko perhiasan. Tanpa membuang waktu, mereka telah turun dan berjalan masuk ke dalam toko perhiasan langganan keluarga.
Kedatangan mereka langsung mendapatkan sambutan hangat dari pegawai toko menanyakan mencari apa.
"Tunjukkan koleksi terbaik cincin pertunangan," ucap Arya yang kini beralih menatap ke arah Calista. "Malam ini, aku ingin menyematkan cincin untuk mengikat wanita cantik ini agar tidak melirik pria lain."
Refleks Calista yang saat ini memerah wajah karena malu ketika para pegawai toko perhiasan menatapnya, kini mencubit lengan kekar di balik jas berwarna hitam tersebut.
"Kau membuatku merasa malu, Arya." Kemudian beralih menatap ke arah salah satu pegawai wanita yang bertanya. "Maaf, calon suamiku memang selalu membuat para wanita tergila-gila."
Pegawai wanita dengan name tag Denis tersebut hanya tersenyum simpul dan menunjukkan beberapa koleksi cincin.
"Pasti Anda sangat bahagia memiliki calon suami seperti tuan ini. Semoga acara malam ini berjalan lancar dan berlanjut ke jenjang pernikahan, sehingga bisa membina rumah tangga sampai kakek nenek. Silakan dipilih yang mana paling cocok."
"Tentu saja sangat bahagia. Terima kasih doanya." Calista pun kini menatap beberapa cincin yang ditunjukkan di balik kaca.
Merasa sangat bingung karena banyak cincin yang bagus dan cantik, Calista memilih untuk menoleh ke arah pria yang masih berada di sebelah kanan tersebut.
"Menurutmu, kira-kira mana yang paling cocok di jariku ini?" Calista berbicara sambil menunjukkan jemari pada Arya.
Seolah sama sekali tidak diizinkan untuk ataupun berpikir hal lain oleh Calista, kini Arya menundukkan pandangan pada etalase kaca tersebut. Selama beberapa saat memilih kira-kira mana yang cocok untuk disematkan di jemari Calista, tetapi Arya malah memikirkan Putri karena dulu tidak membelikan cincin saat menikah.
Kondisi yang sangat jauh berbeda ketika bersama dengan Calista karena saat ini mempunyai banyak kartu kredit di dalam dompet.
Sementara ketika bersama dengan Putri dulu, tidak mempunyai uang sepeser pun dan menyuruh wanita itu mencari uang untuk biaya pernikahan.
__ADS_1
'Putri, maafkan aku. Rasanya aku sangat berdosa padamu karena hanya membuatmu hidup menderita,' gumam Arya yang saat ini masih menatap kosong ke arah etalase kaca dan sama sekali tidak bisa fokus hari ini karena memikirkan keadaan Putri.
Mengingat semua itu, Arya merasakan sesak di dada dan cukup jantung berdetak sangat cepat karena dikuasai oleh rasa bersalah pada Putri. Arya memang terlihat masih menunjukkan kepala untuk melihat kilauan cincin di balik etalase kaca tersebut, tetapi pikiran tidak ada di sana.
Seolah dibawa oleh sosok wanita yang sekarang sudah bukan merupakan siapa-siapa lagi untuk Arya.
Di sisi lain, Calista yang dari tadi terlihat berbinar karena diliputi oleh kebahagiaan, masih menunggu hingga Arya memutuskan memilih salah satu cincin untuk acara pertunangan malam ini.
Namun, sudah beberapa menit berlalu, pria yang masih menundukkan wajah untuk menatap beberapa cincin, seolah tidak tahu apa yang akan dipilih karena masih belum bisa memutuskan.
"Kenapa terlalu lama mempertimbangkan pilihanmu, Sayang? Apakah kamu sangat bingung untuk memutuskan mana yang cocok di jariku?" Calista mengerutkan kening dan menepuk pundak kokoh pria yang dari tadi menunduk menatap ke bawah.
Tidak ingin merusak suasana bahagia perasaan Calista, Arya saat ini menunjuk asal ke arah cincin. "Tolong yang itu saja."
Kemudian beralih menatap ke arah Calista dan berusaha untuk menetralkan suasana hati dengan berakting tersenyum. Padahal jauh di lubuk hati terdalam mengumpat.
'Kapan semua hal konyol ini berakhir.'
Ingin segera mengakhiri momen yang dianggap mengingatkan pada Putri yang tersakiti, membuat Arya asal pilih cincin karena berpikir bisa segera mengantar Calista pulang dan pergi ke kontrakan.
"Bukankah semua yang kukatakan benar?"
"Benar sekali." Kemudian Calista yang dari tadi tidak berhenti tersenyum bahagia dengan wajah berbinar, langsung memberikan jemari ke hadapan Arya. "Anggap ini sebagai latihan dulu."
"Ini cincinnya, Tuan." Denis memberikan sepasang cincin yang baru saja diambil pada pria dengan paras rupawan tersebut.
__ADS_1
Tanpa membuang waktu, Arya pun saat ini langsung mengambil cincin di atas etalase kaca dan langsung menyematkan pada jari lentik Calista.
"Sepertinya ini kebesaran." Calista yang merasakan cincin longgar dan merasa tidak cocok dengan pilihan Arya karena terlalu sederhana.
"Apakah ada yang model lain karena ini terlalu sederhana." Calista kini menoleh ke arah Arya dan menunjukkan jari yang masih memakai cincin. "Apa kamu serius ingin aku memakai cincin seperti ini di hari pertunangan kita?"
Saat mendengar nada protes dari Calista, Arya merasa telah gagal untuk mengakhiri acara memilih cincin itu dengan cepat. 'Sial! Aku pikir Calista akan menyukai apapun pilihanku meskipun asal seperti yang dikatakan tadi ketika akan patuh.'
'Ternyata semua hanyalah omong kosong. Waktuku semakin banyak terbuang dan mungkin tidak bisa menemui Putri jika Calista kembali memilih cincin.'
Meskipun berkali-kali mengumpat di dalam hati, tetap saja ia kembali menampilkan senyuman palsu pada wanita yang saat ini masih menunjukkan jemari dengan cincin melingkar di sana.
"Sepertinya seleraku tidak cocok denganmu. Jadi, lebih baik kamu yang memilih sendiri dan aku akan membayarnya. Aku akan setuju dengan apapun pilihanmu."
Calista saat ini menampilkan wajah masam karena merasa tidak puas dengan perkataan dari pria yang dari tadi terlihat sangat aneh dan tidak seperti biasa. Tentu saja mengerti jika Arya saat ini seperti tidak sepenuhnya merasa bahagia dengan pertunangan malam ini.
Namun, jika bertanya atau kesal pada Arya, Calista khawatir jika pria itu akan membatalkan acara.
Jika apa yang ditakutkan, akan beresiko kehilangan Arya selamanya. Bukan itu yang diinginkan karena ingin mengikat Arya dengan pernikahan yang sah secara agama dan di mata hukum. Kemudian berusaha untuk membuat Arya tidak berpaling.
Calista kini memilih untuk kembali tersenyum di depan Arya. "Baiklah. Kalau begitu, biar aku yang pilih."
Arya hanya mengangguk dan ikut tersenyum dan berharap Calista segera menemukan cincin yang diinginkan, lalu pulang karena ingin segera menemui Putri di kontrakan.
To be continued...
__ADS_1