Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Apa yang harus kulakukan?


__ADS_3

Satu hari yang lalu ....


Sosok wanita yang saat ini baru saja tiba di rumah sakit, terlihat berjalan dengan cepat dan sedikit berlari karena ingin segera masuk ke dalam lift yang hampir tertutup.


Wanita yang tidak lain adalah Calista baru saja mendapatkan telpon dari orang tua Arya mengenai keadaan dari pria yang sangat dicintai.


Bahwa malam ini, Arya telah sadar dari koma setelah satu bulan lama nyenyak tertidur. Selama ini, Calista setiap hari pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan pria yang seolah enggan untuk sadar tersebut.


Berharap pria yang sangat dicintainya tersebut segera sadar dari, dan mereka kembali bersama. Calista yang sangat mencintai Arya, bahkan tidak memperdulikan larangan dari orang tua yang sebenarnya tidak setuju jika terus menunggu pria yang belum ada kepastian.


Berpikir bahwa Arya tidak akan pernah sembuh dari koma dan hanya akan menunggu hal yang semu. Namun, Calista sama sekali tidak pernah menyerah dan memilih untuk terus berpikiran positif. Meyakinkan diri sendiri bahwa pria yang sangat dicintai itu akan sadar dan mereka menikah suatu saat nanti.


Dengan tangan sesekali meremas pakaian yang dikenakan, Calista merasa bahwa angka digital yang bergerak tersebut sangat lama karena ingin segera melihat sang kekasih yang baru saja sadar dari satu bulan koma.


Tadi, Calista baru pulang dari di lembur kantor dan hari ini sebenarnya tidak pergi ke rumah sakit karena sangat lelah.


Namun, begitu mendapatkan telpon dengan kabar baik yang dari dulu sama diharapkan, langsung tidak membuang waktu pergi ke rumah sakit dengan diantarkan sopir karena sangat lelah jika harus menyetir sendiri.


Setelah menunggu beberapa saat lamanya, kini pintu lift terbuka dan beberapa orang yang ada di dalam keluar di lantai lima tersebut. Begitupun dengan Calista yang bahkan sudah berlari karena tidak sabar melihat sang kekasih pujaan hati.


Bahkan jantung Calista berdebar sangat kencang ketika membayangkan akan melihat pertama kali saat sang kekasih sadar dari koma setelah satu bulan lamanya.


'Aku bahkan saat ini sangat gugup saat pertama kali akan melihat Arya setelah sadar dari koma.' Calista yang saat ini berada di depan pintu ruangan kamar perawatan terbaik di rumah sakit yang selama ini menjadi tempat tinggal Arya, menormalkan deru napas dan mengusap beberapa kali dada sebelum masuk ke dalam.


Setelah dirasa cukup tenang, Callista pun mengetuk pintu dan menunggu jeda beberapa detik, lalu mulai membuka pintu dan melihat sosok pria yang saat ini terlihat masih berbaring di atas ranjang dengan dikelilingi oleh beberapa dokter berseragam putih dan juga ada pasangan paruh baya yang berada di sebelah kiri ranjang.

__ADS_1


Begitu Calista masuk ke dalam ruangan kamar perawatan, semua yang ada di dalam refleks menoleh.


Rani yang saat ini langsung melambaikan tangan agar Calista segera berjalan mendekat karena ingin menunjukkan bahwa Arya baru saja tersadar beberapa menit lalu dan sekarang sedang diperiksa oleh dokter.


"Kemarilah, Sayang?"


Calista saat ini langsung menyunggingkan senyuman dan berjalan mendekati wanita yang akan menjadi ibu mertua tersebut. "Iya, Ma."


Sementara itu, Ari Mahesa yang dari tadi merasa sangat lega begitu melihat putranya bergerak dan membuka mata. Namun, dari tadi mengunci mulut seolah tidak ingin berbicara apapun dan membuat mereka merasa bingung.


Jadi, memanggil para dokter untuk memeriksa putranya karena merasa aneh dengan pandangan dari Arya setelah bangun dari koma.


Ari Mahesa juga menyunggingkan senyuman pada Calissa. Kemudian beralih menatap ke arah Arya yang seolah betah untuk mengunci rapat bibir.


Sementara itu, sosok pria yang saat ini melihat ke arah wanita dengan memakai dress lutut berwarna ungu dan rambut tergerai panjang di bawah bahu.


Arya tadi tersadar, mengamati ruangan kamar yang diketahui merupakan rumah sakit, mencoba mengingat apa yang terjadi, tetapi meskipun berusaha untuk mencoba, tetap saja tidak menemukan apapun. Mengenai kenapa berada di rumah sakit dan melihat orang-orang asing di depan mata.


Namun, Arya mencoba untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi karena sama sekali tidak mengingat apapun, tapi masih belum bertanya apapun pada beberapa orang di hadapannya dan membiarkan para dokter memeriksa.


Arya bahkan sesekali memijat kepala saat merasa nyeri ketika memaksakan mengingat semua hal yang terjadi hingga berakhir di rumah sakit.


Hingga begitu mendengar pasangan paruh baya yang menyebut bahwa dirinya adalah putra mereka, Arya saat ini menyadari bahwa ada yang tidak beres. 'Kenapa aku sama sekali tidak mengingat apapun?'


'Bahkan mereka yang mengatakan bahwa merupakan orang tuaku, aku pun tidak bisa mengingat.'

__ADS_1


Begitu dokter selesai memeriksa, Arya yang saat ini masih menatap ke arah wanita cantik dengan senyuman manis tersebut, beralih pada seorang pria yang tadi mengaku adalah ayahnya.


"Apakah bener Anda adalah ayahku? Kenapa aku sama sekali tidak mengingat apapun? Lalu, siapa aku?" tanya Arya dengan wajah penuh pertanyaan dan melihat reaksi dari semua orang yang ada di dalam ruangan perawatan tersebut.


Semua orang seketika membulatkan mata begitu pertama kali mendengar pria yang baru saja sadar dari koma tersebut membuka mulut dengan berbicara hal yang tidak pernah dibayangkan selama ini.


Mereka awalnya berpikir tidak terjadi hal yang buruk pada Arya saat koma. Namun, kalimat pertama yang ditanyakan oleh pria yang baru saja lolos dari laut tersebut, benar-benar membuat pasangan suami istri tersebut merasa sangat shock.


Bahkan saat ini, Rani terhuyung ke belakang beberapa langkah begitu mengetahui kenyataan bahwa putranya sama sekali tidak mengingatnya. Padahal awalnya berpikir bahwa Arya sadar dan tidak mengalami masalah pada kepala seperti yang dulu dialami saat kecelakaan.


Refleks Ari secepat kilat menangkap tubuh sang istri dan memeluk erat untuk menenangkan dari shock. Meskipun sebenarnya diri sendiri juga sangat terkejut dengan kenyataan pahit yang dialami oleh putra mereka, tetapi berusaha untuk bersikap tenang karena ingin menghibur sang istri.


Begitu pun wanita yang baru saja datang dengan menyunggingkan senyuman tersebut, seketika pudar saat mengetahui bahwa Arya sama sekali tidak mengingat apapun.


Calista seolah dilambungkan tinggi dengan harapan dan diempaskan sangat kuat oleh kenyataan pahit.


Merasa bahwa saat ini pria yang sangat dicintai dan menjadi pusat harapan ternyata tidak mengenalnya, padahal sangat mencintai pria itu, membuat Calista memilih untuk bertanya pada dokter yang baru saja selesai memeriksa.


"Apa yang terjadi pada kekasihku, Dokter? Apakah kecelakaan menyebabkan calon suamiku hilang ingatan?" Bahkan Calista berbicara dengan bola mata berkaca-kaca karena merasa sangat takut jika apa yang baru saja dikatakan benar terjadi.


Calista saat ini bahkan merasa seperti dipermainkan oleh takdir kejam karena kenyataan tak seindah yang diharapkan. Berpikir bahwa Arya saat ini sama sekali tidak mengingat kebersamaan mereka, jadi merasa takut jika pria itu tidak mau menerimanya sebagai seorang kekasih.


'Apa yang harus kulakukan sekarang? Jika Arya sama sekali tidak mengingatku, bagaimana kami melanjutkan hubungan?' gumam Calista dengan perasaan berkecamuk dan masih menatap ke arah beberapa dokter yang mulai menjelaskan dan didengarkan secara serius.


To be continued ...

__ADS_1


__ADS_2