Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Tidak bisa dikenali


__ADS_3

Putri yang dari tadi bahkan tidak bergeming dari posisinya ketika menatap punggung lebar pria paruh baya yang tengah berada di samping sang putra yang masih belum sadarkan diri. Ia bahkan bisa mendengar suara serak bernada menyayat hati itu ketika mengungkapkan pada putranya.


Hingga ia mengingat tentang kejadian ketika berada di dalam mobil dan meminta Aldiano untuk menceraikannya, tapi sama sekali tidak dituruti dengan alasan sang ayah.


Sementara sekarang sang ayah yang berbanding terbalik karena berpikir jika semuanya karena alasan putranya.


'Tuan Aldiano bahkan tidak mau menceraikanku dengan alasan itu, tapi sekarang papa membiarkanku pergi dengan alasan putranya. Kenapa ayah dan anak itu seolah sama-sama ingin membuatku bimbang.' Putri sama sekali tidak berpikir untuk kabur dan hidup tenang tanpa masalah keluarga Priambodo.


Jadi, ketika pria paruh baya tersebut mengungkapkan hal yang menurutnya bukan pada tempatnya karena hanya akan membuatnya seperti seorang wanita tidak bertanggung jawab.


Ia masih terdiam di tempatnya sambil memikirkan sesuatu untuk mengatakan hal yang pas pada mertuanya tersebut agar tidak menyinggung perasaan. Hingga ia pun melangkahkan kaki jenjangnya mendekati sang ayah dengan berdiri di hadapan pria itu setelah berjalan memutar ranjang.


"Pa, aku tidak bisa pergi dalam keadaan seperti ini!"


"Apa maksudmu tidak bisa pergi? Papa sudah membebaskan kalian berdua agar tidak menuruti keinginanku yang hanya menimbulkan penderitaan. Apa kamu tidak mengerti maksud Papa?" Awalnya ia berpikir jika menantunya tersebut akan merasa lega, tapi saat ini merasa heran dengan apa yang diinginkan oleh Putri.


Tidak ingin suasana makin kacau hanya karena masalah yang tidak sepemikiran mengenai perceraian, Putri saat ini mengungkapkan apa yang ada di pikirannya. "Pa, bukankah aku sudah meminta bercerai pada tuan Aldiano? Tapi sama sekali tidak dituruti."


"Jadi, aku berpikir akan pergi jika kalian berbicara berdua terlebih dahulu untuk membahas masalah ini. Setelah muncul kesepakatan di antara kalian berdua mengenai keputusan tentang aku, tidak akan pernah menolak lagi."


"Atau mungkin aku akan pergi setelah tuan Aldiano benar-benar sembuh karena sekarang aku ingin merawatnya sebagai tugasku yang merupakan istrinya. Ini sudah menjadi kewajibanku untuk merawat suami ketika mengalami kemalangan," ucapnya yang saat ini beralih menatap ke arah pria dengan perban penuh di wajah.


Ia benar-benar tidak tega melihat pria yang selalu bersikap kasar padanya karena sudah memaafkan perbuatan pria itu tanpa meminta maaf.


Sampai pada keputusan untuk membuat seorang Aldiano menceraikannya dengan sadar tanpa ada unsur paksaan dari siapapun. "Izinkan aku melaksanakan tugasku sebagai seorang istri, Pa. Jadi, jangan menyuruhku pergi disaat seperti ini karena itu membuatku merasa menjadi seorang wanita tidak berguna."


Bahkan ia berpikir jika pria paruh baya tersebut akan disibukkan oleh masalah yang terjadi karena masa lalunya serta tentang putranya yang menyukai sesama jenis.


Jadi, ia berpikir akan menjadi wanita berguna dengan merawat sang suami yang berada di rumah sakit ketika sang ayah sibuk menyelesaikan masalah.


"Kamu yakin akan melakukannya? Bukankah ini kesempatanmu untuk bisa bebas dan tidak terjerat masalah dari keluarga kami yang sangat rumit dan memalukan ini?" Bambang sebenarnya merasa sangat senang mendengar keputusan Putri karena jujur saja ia membutuhkan wanita itu saat ini.

__ADS_1


Apalagi saat ini perusahaan serta nama baik keluarga Priambodo tengah mengalami masalah dan harus ia selesaikan. Jadi, berpikir jika Putri benar-benar akan membantunya membagi waktu antara pekerjaan, menyelesaikan masalah serta menjaga putranya di rumah sakit.


Hingga ia melihat wanita dengan paras cantik tersebut menganggukkan kepala tanda setuju tanpa merasa ragu sama sekali dan membuatnya tersenyum simpul sekaligus penuh rasa syukur.


"Aku yakin, Pa. Jadi, jangan meragukanku," ucap Putri yang saat ini bisa melihat raut wajah yang tadinya suram berubah sedikit bercahaya dan mendung gelap dari tadi seolah perlahan menghilang.


Ia berjanji akan merawat sang suami dengan baik sampai sembuh dan akan pergi jika semuanya sudah kembali seperti semula. "Aku pasti akan pergi jika tuan Aldiano menceraikanku secara langsung, bukan melalui apa yang mengurusnya."


"Kemarilah! Papa saat ini benar-benar ingin memelukmu sebagai putri kandungku."


Bambang benar-benar merasa sangat terharu dan saat ini ingin sekali meluapkan semua perasaan mengguncang yang dirasakan karena melihat kebaikan wanita yang dulunya pernah memiliki masa lalu kelam.


Hingga menjadi seorang wanita yang baik dan tidak pergi saat keluarganya mengalami masalah, tapi seolah mendukung dengan merawat putranya saat ia nantinya akan sibuk menyelesaikan masalah yang terjadi.


Putri tanpa ragu berjalan memutar ranjang untuk menghampiri pria yang selama ini sangat baik dan menyayanginya. Kemudian memeluk erat tubuh pria yang sudah dianggap seperti ayah kandungnya sendiri tersebut.


"Papa fokus saja menyelesaikan masalah perusahaan dan nama baik keluarga Priambodo. Biar masalah Tuan Aldiano aku yang urus." Ia seperti mendapatkan seorang ayah, menggantikan ayah tirinya dulu yang sangat menyayanginya.


Bahkan ayah kandungnya tidak pernah memeluk erat seperti ini. Namun, yang terjadi malah sebaliknya karena ia mendapatkan kemurkaan dari istri pertama ketika pertama kali bertemu dengan sang ayah kandung.


"Papa janji, saat putraku sadar nanti, ia tidak akan melihat berita yang mencemarkan nama baiknya. Aku akan membereskannya, Putraku. Kamu harus fokus pada kesembuhanmu jika nanti sudah sadar." Kemudian melepaskan pelukannya dan saat ini mengingat sesuatu.


Bahwa sebelum terjadi kecelakaan, ia ingin menanyakan hal penting yang berhubungan dengan masa lalu menantunya tersebut.


"Oh ya, selain mertuamu yang tidak menyukaimu, kira-kira siapa lagi? Papa masih belum mendapatkan kabar tentang siapa pelaku yang menyebarkan rahasia masa lalumu itu. Papa pikir jika bukan keluarga Mahesa yang melakukannya karena pasti musuh mereka atau musuhmu." Tadinya ia berpikir jika pelaku akan segera ditemukan.


Namun, belum kunjung menemukannya sampai sekarang, sehingga tidak bisa menyerang balik pelaku yang telah mencemarkan nama baik menantunya karena mengorek masa lalu yang ingin dilupakan karena hanya menyisakan rasa sakit.


Saat ini, Putri hanya terdiam karena jujur saja ia merasa bingung saat tidak ada yang terpikirkan di kepalanya. Apalagi ia berpikir tidak mempunyai musuh selain mertuanya yang memang tidak merestui hubungannya dengan Arya.


"Tidak ada, Pa. Aku sama sekali tidak mempunyai musuh karena hanya seorang wanita biasa yang merupakan ibu rumah tangga dan jarang mengenal orang. Jadi, sepertinya musuh dari pihak keluarga Mahesa yang melakukannya," ucap Putri ketika lalu menemukan sesuatu.

__ADS_1


Hingga saat ia terdiam memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi, mengingat sesuatu di pikirannya.


"Pa."


"Iya." Bambang Priambodo merasa ada yang ingin disampaikan oleh Putri padanya dan menunggu sampai wanita itu segera mengatakannya.


"Aku sekarang ingat sesuatu." Putri seketika menceritakan kejadian di dalam ruangan kerja Arya.


Kemudian mengakhirinya dengan sesuatu yang terpikirkan mendadak hari ini. "Calista memang bukan musuhku tapi dia sepertinya sangat membenciku karena aku bisa melihat tatapannya saat ia tengah berusaha untuk membuat Arya membenciku."


"Mungkinkah dia melaporkan pada media sebelum mengalami kecelakaan? Meskipun sama sekali tidak ada bukti yang mengarah padanya, tapi bisa ditemukan jika sumber informasi pertama kali bisa ditemukan." Entah mengapa ia merasa sangat yakin jika Calista yang melakukannya semua itu.


Itu karena pertama kali bertemu saat melihatnya merupakan istri dari konglomerat di Jakarta dan pastinya membuat semua orang yang mengenalnya iri.


Apalagi Calista yang tadinya mengajak Arya agar segera pulang agar tidak melihatnya, setelah pria itu mengatakan tidak mau dan menyesali perbuatannya karena menjadi penyebab istri kehilangan nyawa karena mabuk.


Pemikirannya itu dibenarkan oleh mertuanya yang merasa jika itu sangat masuk akal. Meskipun sebenarnya sangat menyesal harus mengusik orang yang sudah meninggal, tapi tetap harus tahu siapa dalam dibalik semua kekacauan ini.


"Baiklah. Aku sudah mengantongi nama dan mungkin akan ada nama-nama yang lain karena pihak kepolisian masih terus mencari kebenaran dari siapa pelaku yang berusaha mencemarkan nama baik keluarga kita.


"Iya, Pa." Ini sudah hampir pagi, lebih baik Papa beristirahat di ranjang kosong itu. Biar aku yang menjaga tuan Aldiano. Apalagi papa besok harus bekerja, jadi lebih baik sekarang tidur dulu untuk memulihkan tenaga di esok hari." Ia pun bergerak mendorong tubuh pria paruh baya tersebut akan mendekat ke ranjang kosong di sebelah kiri.


Ia merasa tidak tega melihat wajah lelah dari mertuanya yang menunjukkan beban berat di pundaknya saat ini dan membuatnya merasa bersalah tidak bisa berbuat apa-apa selain membantu meringankan tugas seorang ayah.


"Tidurlah, Pa. Aku akan membangunkan Papa jika Aldiano sudah sadar," ucapnya yang kini tersenyum begitu melihat orang tuanya patuh padanya untuk pertama kali ia menyuruh.


"Baiklah. Papa akan tidur dan bangunkan nanti pukul lima pagi," ucapnya yang saat ini menatap jarum jam menunjukkan pukul tiga pagi.


Putri hanya menganggukkan kepala karena ia berpikir akan membangunkan nanti pukul setengah tujuh karena berpikir waktu itu sudah sangat cukup untuk bersiap ke perusahaan.


'Kasihan, Papa. Harus mengalami masalah besar saat usianya sudah tua. Seharusnya ia sudah tidak lagi bekerja keras yang membuat otak serta fisiknya terforsir,' gumamnya yang kini berbalik badan menuju ke arah sosok suami yang tengah terbaring lemah di atas ranjang.

__ADS_1


'Tuan Aldiano, cepatlah sadar dan lihatlah papamu yang harus bekerja keras menyelesaikan semuanya sendiri. Anda harus segera sadar dan membantu papa Anda karena terlihat sangat lelah.' Putri kini fokus menatap intens suami yang tidak lagi bisa dikenali karena tertutup perban.


To be continued...


__ADS_2