
Putri dari tadi tidak berhenti tersenyum melihat semua orang merasa sangat senang dan berterima kasih padanya. Bahkan saat ini melihat satu persatu orang-orang mulai meninggalkan tempat dan sesuatu di pikiran.
'Aku ingin menjadi orang yang bisa memberikan santunan kepada mereka. Jika nanti usahaku berjalan lancar, ingin memberikan santunan selain makanan.'
Ia yang terlihat seperti sedang melamun, kini Mira menatap penuh keheranan. Saat ingin bertanya apa yang sedang dipikirkan, tidak jadi melakukan karena bunyi notifikasi muncul saat ini.
Kemudian langsung memeriksa dan terlihat berpindah begitu membaca pemberitahuan itu. Tanpa mengeluarkan suara, Mira langsung menunjukkan ponsel pada Putri.
"Putri, lihatlah!"
Putri yang tadi masih melihat keadaan orang-orang yang sudah berjalan menjauh dari rumah kontrakan, beralih menatap ke arah layar ponsel yang diletakkan tepat di depan mata.
Seketika membulatkan mata begitu melihat bahwa ada pesanan masuk sebanyak 50 bungkus. "Ini sangat luar biasa," ucap Putri yang terlihat sangat berbinar begitu melihat apa yang ditunjukkan oleh Mira saat ini.
"Aku mendapatkan pesanan makanan untuk makan siang sebanyak 50 kotak? Aku benar-benar tidak percaya dengan hal ini. Apakah aku boleh bersorak karena merasa sangat senang?"
"Tentu saja." Kemudian Mira seketika berjingkrak untuk meluapkan kebahagiaan karena ikut merasa senang saat usaha yang baru dimulai sudah mendapatkan pesanan sebanyak itu.
Bahkan hal yang sama dilakukan oleh Putri ketika sangat senang dan memeluk Mira sambil berjingkrak-jingkrak kesenangan.
Entah sudah berapa lama mereka melakukan itu karena tidak berhenti tertawa bahagia saat merasa senang dan dipastikan angkat jangan sibuk untuk mempersiapkan makanan.
Hingga beberapa saat kemudian, Putri yang menyadari bahwa mungkin tidak cukup memiliki tempat untuk menyiapkan nasi kotak.
"Sepertinya aku harus membeli kotak makan dulu karena ini bukan pesanan nasi bungkus, tapi nasi kotak. Oh ya, Bagaimana caraku untuk mengantarkan makanannya?"
__ADS_1
Refleks Mira langsung menjelaskan agar air tidak merasa khawatir mengenai kurir dan juga kendaraan.
Karena selama ini meminta bantuan dari salah satu tetangga yang mempunyai mobil dan juga mau mengantarkan kapan saja karena memang bekerja sebagai sopir mobil online mandiri yang tidak ikut perusahaan.
Di zaman yang serba canggih seperti saat ini, bukanlah sulit untuk bisa mencari uang dengan cara memanfaatkan kemajuan teknologi.
Apalagi orang-orang sekarang malas untuk pergi sendiri membeli apapun dan memanfaatkan jasa kurir. Bahkan banyak ojek online yang memudahkan orang untuk pergi ke manapun tanpa harus repot-repot mencari karena hanya dengan ponsel di tangan, sudah bisa melakukan apapun.
Seolah ponsel dianggap merupakan nyawa kedua manusia karena bisa kapanpun bisa memberitahu.
"Sekarang kamu siapkan saja semua, aku akan ke toko depan untuk membelikan kotak makanan. Sekalian menghubungi kurir untuk datang ke sini satu jam lagi."
Putri yang menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan tanpa membuka suara. Kemudian berjalan menuju ke arah etalase kaca berisi aneka makanan tersebut dan mulai sibuk untuk menyiapkan pesanan.
"Tuhan akan langsung menunjukkan keajaiban dari sedekah dengan langsung mengganti tanpa menunggu waktu yang lama," ucap Putri yang tidak berhenti bersyukur dan berterima kasih kepada sang pencipta alam semesta atas semua kebaikan yang terjadi hari ini.
Tugas yang dibagi, akan meringankan pekerjaan Putri yang pastinya akan cukup lelah karena ini adalah pertama kali memforsir tubuh sangat berlebihan.
Jika dulu hanya menjadi ibu rumah tangga yang mengerjakan pekerjaan di rumah dan saat bersama Arya, menjadi asisten rumah tangga dan bekerja untuk orang lain. Itu tidak terlalu merasakan kelelahan, tapi hari ini benar-benar sangat lelah, tetapi sangat menikmati dan juga senang.
Bahkan dari tadi tidak berhenti tersenyum ketika menyiapkan pesanan yang pastinya akan langsung habis untuk hari ini karena memang tidak masak terlalu banyak.
Hingga suara dari asisten rumah tangga, membuat Putri menoleh arahan wanita yang duduk di atas kursi sambil melipat kotak makanan terbuat dari kertas tersebut.
"Sepertinya menambah porsi karena jam segini sudah akan habis setelah menerima pesanan," ucap wanita yang kini menatap ke arah majikan perempuan di balik kaca etalase itu.
__ADS_1
Namun, Putri tidak setuju pada perkataan wanita itu karena khawatir jika malah akan terbuang saat tidak laku. "Mungkin masih tetap sama karena aku sedang mencari pelanggan yang pastinya tidaklah mudah."
"Jika sudah habis, berarti memang rezeki dan kita bisa istirahat awal, bukan. Namun, aku pasti akan menambahkan porsi setelah sudah mempunyai banyak pelanggan tetap. Oh ya, sepertinya nasinya tidak akan cukup. Tolong masak nasi sebentar."
"Baik, Nyonya Putri." Wanita bernama Surti tersebut bangkit dari tempat duduk dan ketika hendak berjalan masuk, mendengar kembali suara majikan perempuan.
"Biar cepat, masak di kompor sebentar, baru memakai alat penanak nasi." Putri yang kini menoleh pada wanita itu, kini melihat anggukan kepala dan juga jawaban.
"Siap, Nyonya." Berlalu pergi dengan melangkah masuk ke dalam rumah.
Sebenarnya Putri merasa sangat tidak nyaman dipanggil nyonya oleh wanita itu dan berkali-kali mengatakan akan memanggil nama saja. Namun, asisten rumah tangga tersebut tidak mau menuruti dengan alasan tidak pantas jika memanggil majikan perempuan tanpa sebutan.
Akhirnya karena tidak berhasil meminta wanita itu agar tidak memanggil nyonya, akhirnya membiarkan saja.
Putri tidak memaksa karena khawatir jika tidak nyaman bekerja. Kini, ia yang saat ini kembali melanjutkan pekerjaan dengan menata nasi dalam kotak makan, melihat kedatangan pembeli.
Sementara di belakang beberapa orang itu ada Mira yang sudah kembali sambil membawa kotak makanan.
Putri menatap ke arah makanan yang berada di etalase kaca tersebut dan berpikir apakah cukup jika harus melayani beberapa orang yang baru saja datang. Ada lima orang pria datang dan entah kenapa selalu berpikiran buruk pada lawan jenis.
'Mereka datang ke sini bukan karena ingin menggodaku, kan? Kenapa sekarang aku selalu berpikiran buruk pada laki-laki manapun.'
'Jika aku terus seperti ini, mungkin tidak akan pernah menerima pembeli laki-laki,' gumam Putri yang kini seketika tersadar dari lamunan begitu mendengar suara dari Mira yang baru saja datang menghampiri.
"Ada pembeli, layani dengan baik. Jangan seperti sikapmu pada supir taksi tadi yang sangat arogan dan sinis. Sepertinya mereka dari jauh karena aku tidak mengenal mereka." Mira berbisik di dekat daun telinga Putri dan di saat bersamaan, lima orang pria menghampiri mereka.
__ADS_1
To be continued...