Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Maaf


__ADS_3

Saat masih menatap intens sang ayah yang memeluk tubuh anak laki-laki itu, tanpa disadarinya, bulir air mata ini jatuh membasahi wajahnya. Refleks ia langsung menghapus karena tidak ingin siapapun melihatnya menangis seperti seorang anak kecil.


"Sial! Kenapa aku malah jadi melow seperti ini?" gumamnya yang kini menatap ke arah dua orang berbeda usia di atas ranjang.


Ia tidak ingin sampai ketahuan oleh sang ayah saat berlinang air mata ketika mengingat masa kecilnya yang ditinggalkan oleh sang ibu dan akhirnya kurang mendapatkan kasih sayang dari sang ayah yang sibuk dengan kesedihannya.


'Aku harus pergi sekarang juga karena jika tidak, papa akan melihatku sangat menyedihkan seperti ini. Aku tidak ingin dilihat olehnya dengan wajah yang buruk macam ini,' gumam Aldiano yang saat ini sudah berjalan menuju ke arah pintu keluar.


Saat membuka pintu, ia sekilas menatap ke arah sang ayah yang memeluk erat anak kecil yang sudah dianggap seperti cucu kandungnya sendiri tersebut. Berpikir jika mungkin selamanya tidak akan bisa memberikan cucu kandung untuk sang ayah, tiba-tiba ada perasaan bersalah yang menyeruak di dalam dirinya saat ini.


Hingga ia pun memilih untuk segera pergi agar tidak semakin merasa sesak di dalam ruangan yang membuatnya seperti susah bernapas. Begitu berada di luar ruangan, ia seolah bisa bernapas lega dan saat ini menormalkan suaranya yang serak karena efek menangis saat mengingat masa kecilnya.


"Sial! Kenapa aku tiba-tiba selemah ini?" ucapnya yang saat ini mendaratkan tubuhnya di sofa yang ada di sudut kanan lantai atas.


Saat ia terdiam merenungi nasibnya yang sangat buruk karena bergelimang dosa ketika memilih jalan yang salah, membuatnya terdiam memikirkan masa depan. 'Apakah aku akan selamanya hidup seperti ini?'


Memikirkan jika usia sang ayah sudah semakin bertambah, sedangkan ia masih sibuk dengan jalannya yang tersesat. Membayangkan tidak bisa membuat bangga orang tua dan mengecewakan sang ayah karena tidak memberikan cucu kandung, kini membuat Aldiano terdiam dan merasa bersalah.


'Apakah aku bisa keluar dari semua ini?' Aldiano yang saat ini sibuk dengan pikirannya, berjenggit kaget mendengar suara wanita yang tak lain adalah Putri tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya yang dari tadi melamun dengan pemikirannya tentang perbuatannya yang di luar nalar.


"Tuan Aldiano!" Putri yang sebenarnya beberapa saat lalu memanggil pria yang duduk di sofa, tapi sama sekali tidak didengar dan membuatnya memanggil hingga dua kali.


Bahkan tadi sempat menggerakkan tangannya di depan wajah pria yang terlihat tengah melamun dan membuatnya penasaran tentang apa yang dipikirkan oleh seorang Aldiano yang sangat arogan dan kasar.


"Apa yang kau lakukan? Mengagetkan saja!" sarkas Aldiano yang seperti merasa ketahuan tengah memikirkan dosa-dosanya.


Putri kini langsung menunjukkan artikel baru yang tadi baru saja dilihatnya. Ia yang tadi tidak bisa tidur, memilih untuk menghabiskan waktu dengan scroll media sosial dan berharap bisa segera larut dalam alam bawah sadar.


Namun, yang terjadi malah sebaliknya karena tidak kunjung tertidur dan melihat satu berita yang melibatkan nama pria di hadapannya tersebut. "Sepertinya benar jika Anda belum mengetahui kabar terbaru yang baru saja tersebar di media sosial."


Aldiano seketika memicingkan mata karena masih belum memahami apa yang dimaksud oleh wanita yang kini memberikan ponsel padanya dan langsung diterima serta diperiksa.


Hingga ia seketika membulatkan mata begitu memutar tombol play pada video yang terlihat. Ia benar-benar tidak percaya atas apa yang dirinya saat ini dan membuatnya sangat marah.


Refleks langsung membanting membanting ponsel di tangannya hingga ponsel tersebut bernasib nahas. Bahkan tidak memperdulikan jika yang dibanting adalah ponsel milik Putri karena saat ini yang dipikirkan hanyalah ingin menghancurkan apapun yang dilihatnya dan pertama kali adalah.


"Berengsek!" umpatnya yang seketika bangkit berdiri dari sofa dan ingin pergi untuk menemui sang kekasih yang telah membuka rahasianya.


Ia tadi melihat jika sang kekasih tengah mabuk-mabukan di klab malam gara-gara ia tidak jadi datang dan ada seseorang yang merekam ketika sibuk meracau. Bahkan bukan hanya itu saja karena yang terjadi adalah ada yang seperti mewawancarai dan sudah diduga jika itu adalah salah satu wartawan.


Sang kekasih meracau jika pernikahan yang dilakukannya hanyalah untuk menutupi skandal mereka di mata publik. Bahwa pernikahan itu hanyalah kepalsuan semata agar tidak membawa pengaruh buruk pada nama baik keluarga serta perusahaan.


Meskipun semua itu benar dan merupakan faktanya, tetap saja Aldiano merasa sangat marah pada sang kekasih karena secara tidak langsung menghancurkannya dan pastinya akan membuatnya kehilangan semua yang dimiliki jika sampai sang ayah mengetahui hal itu.


Apalagi nama baik keluarga serta perusahaan kini dipertaruhkan. Jika perusahaan terkena imbasnya, sehingga harga saham akan anjlok dan besar kemungkinan bangkrut jika sampai parah pemegang saham serta investor menarik uangnya masing-masing.


"Tuan, Anda mau ke mana? Kita harus memberitahu papa agar segera ditangani dan menghapus video itu secepatnya agar tidak semakin tersebar!" seru Putri yang saat ini sudah bisa menebak ke mana pria itu akan pergi dengan raut wajah memerah dan khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk ketika mengemudi dengan suasana hati yang buruk.

__ADS_1


Apalagi semalam juga istri Arya yang tak lain adalah Calista juga mengalaminya, sehingga kecelakaan dan akhirnya meninggal. Ia tidak ingin itu terjadi dan hanya akan menambah masalah. Jadi, menahan dengan kekar pria itu agar tidak pergi sebelum berbicara dengan sang ayah.


"Lepaskan! Aku ingin berbicara dengannya!" sarkas Aldiano yang saat ini mengempaskan tangan Putri agar tidak lagi menahannya.


Putri bersikokoh tidak mau melepaskan karena masih memegangnya dengan sangat kuat. "Tidak! Aku tidak akan membiarkan terjadi sesuatu yang buruk pada anda dan membuat papa merasa bersedih."


Bahkan ia yang sudah menganggap pria paruh baya tersebut sebagai ayahnya sendiri, sehingga tidak bisa membiarkan jika pria dengan kondisi emosi yang meluap tersebut mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Jika Anda tidak mendengarkanku, akan terjadi sesuatu yang buruk dan itu hanya akan membuat papa bersedih." Saat Putri baru saja menutup mulut, tubuhnya terhempas ke belakang beberapa langkah akibat perbuatan Aldiano yang sama sekali tidak mau mendengarkannya.


"Sudah kubilang lepaskan! Mungkin jika aku mati, kalian semua akan merasa puas!" sarkas Aldiano yang saat ini benar-benar sangat marah dan tidak bisa menahan diri lebih lama untuk segera bertemu dengan sang kekasih karena telah membuka rahasianya.


Putri yang beberapa kali berteriak memanggil Aldiano, tapi sama sekali tidak diperdulikan dan membuatnya merasa sangat kesal sekaligus khawatir.


"Kenapa tuan Aldiano sangat susah dibilangin? Bagaimana jika terjadi sesuatu hal yang buruk padanya? Aku khawatir jika nasibnya sama dengan Calista," ucapnya sambil menepuk mulut karena merutuki kebodohannya sendiri ketika berbicara hal-hal buruk.


"Aku harus berbicara dengan papa," ucapnya yang kini buru-buru berjalan menuju ke arah ruangan yang ditempati oleh ayah mertua serta putranya.


Sementara itu, Aldiano yang tadi sudah berjalan menuruni anak tangga dengan raut wajah memerah dan beberapa kali terlihat tangannya mengepal kuat karena dikuasai oleh emosi yang meletup-letup di dalam dirinya saat ini.


"Dasar bodoh! Apa dia mau hancur bersamaku? Baiklah, jika itu maunya. Aku akan menurutinya saat ini juga." Aldiano yang saat ini sudah keluar dari pintu utama rumah, menuju ke arah mobil dan langsung mengemudikan dengan kecepatan tinggi menuju ke arah klab yang selama ini menjadi tempatnya bersenang-senang.


Ia bahkan sama sekali tidak merasa takut jika mobil yang dikemudikan mengalami kecelakaan karena sudah menambah kecepatan agar bisa segera tiba di lokasi untuk bertemu dengan sang kekasih yang telah membuatnya tidak bisa lagi menutupi perbuatannya di depan semua orang.


Dulu ia memang sama sekali tidak peduli tentang pandangan orang lain ataupun nasib perusahaan serta nama baik keluarga.


Akan tetapi, hari ini setelah merenung dan menyadari jika selama ini jalan yang dipilih adalah sebuah kesalahan, sehingga merasa jika semuanya ketahuan, akan membuat sang ayah sangat kecewa dan juga mengingat akan sosok sang ibu yang pastinya juga merasakan hal sama.


Setelah memarkirkan mobilnya di tempat yang kosong, kini berjalan cepat setelah beranjak dari mobil. Dengan ekspresi wajah seperti hendak memangsa apapun yang berada di hadapannya, Aldiano kali ini benar-benar ingin sekali hancur dengan sang kekasih bersama-sama.


Saat ia langsung disapa oleh dua bodyguard yang berjaga di depan pintu klub malam, kini mengedarkan pandangannya begitu berjalan memasuki area hiburan malam tersebut yang didominasi dengan suara musik DJ serta lampu remang-remang.


"Di mana dia? Apa dia sudah pulang?" Tadi ia menelpon sang kekasih ketika berada di dalam mobil, tapi tidak mendapatkan jawaban dan membuatnya bertanya pada orang yang sudah biasa melayaninya saat pergi ke sana.


"Apa kau melihat Neil?" tanya Aldiano yang saat ini bertanya pada sang bartender yang baru saja selesai melayani kamu.


Refleks sang bartender menuju ke arah sebelah kanan. "Dia tadi merasa mual dan pasti sekarang ada di toilet."


Tanpa menanggapi, Aldiano kini berjalan menuju ke arah toilet yang dimaksud dan langsung memeriksa dan berteriak, "Neil?"


Ia menggedor beberapa pintu yang tertutup dan yakin jika sang kekasih ada di salah satu ruangan. Hingga satu persatu pintu tersebut terbuka dan begitu melihat raut wajah pucat dari sang kekasih, kini langsung menarik tangannya.


"Apa kau tahu apa yang baru saja kau lakukan?"


"Al? Akhirnya kau datang juga? Aku merindukanmu," ucap Neil yang beberapa saat memperjelas pandangannya yang kagum dan langsung memeluk pria yang selama ini sudah menjadi kekasihnya.


Aldiano yang merasa sangat marah karena satu kasih tidak menyadari telah melakukan kesalahan, kini langsung membuka keran air di wastafel dan menarik pria itu agar mendekat.

__ADS_1


"Cuci mukamu dulu agar sadar telah melakukan kesalahan!" umpatnya ya saat ini langsung mengarahkan air pada wajah sang kekasih.


Sementara itu, Neil yang awalnya merasa senang atas kedatangan dari Aldiano setelah menunggu sangat lama, kini sangat kesal dan membuatnya mengusap wajahnya yang telah basah.


"Apa yang kau lakukan, Sayang?"


"Kau telah membuatku hancur dan sekarang kita harus hancur sama-sama!" sarkas Aldiano ya saat ini menarik pergelangan tangan Neil agar ikut keluar bersamanya.


"Sayang, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau sangat kasar seperti ini? Aku yang harusnya marah karena kau tiba-tiba membatalkan janji untuk ke apartemen setelah acara. Aku marah dan datang ke klab ini untuk menghilangkan rasa stres."


Dengan tubuh yang seperti tidak mempunyai daya ketika ditarik dengan kasar keluar dari kerumunan orang-orang, Neil bahkan beberapa kali sampai menabrak orang yang melintas di klab malam itu.


Berbeda dengan kemurkaan dari Aldiano yang saat ini tidak mampu menyadarkan perbuatan sang kekasih, sengaja memilih untuk membereskan masalah di luar klub malam yang sangat berisik dan memegang telinga.


Hingga beberapa saat kemudian membuka pintu dan mendorong masuk Neil. "Diam di situ!"


Kemudian berjalan memutar mobil untuk duduk di balik kemudi dan langsung mengendarainya keluar dari area club malam.


Neil yang tadinya merasa sangat pusing pada kepalanya, kini menatap ke arah Aldiano yang mengemudi dengan kecepatan tinggi dan membuat tubuhnya seketika oleh ke kanan dan ke kiri.


"Sayang, apa yang kau lakukan sebenarnya? Apa kau mau kita celaka dengan mengendarai ugal-ugalan seperti itu?" ucapnya yang kini langsung menepuk lengan kekar di balik kemeja berwarna putih.


"Ya, kita bisa mati bersama sekarang juga," sarkas Aldiano yang merasa sangat marah dan menceritakan tentang apa yang tadi dilihatnya di video yang sudah tersebar di media sosial.


Sementara itu, Neil yang kini sudah sedikit tersadar dari mabuknya, seketika membuka mulut dan benar-benar sangat menyesal karena hari ini terlalu banyak minum dan meracau di depan orang yang tidak dikenal.


"Sayang, maafkan aku. Tadi aku benar-benar frustasi saat kau bilang tidak datang ke apartemen. Padahal aku sangat merindukanmu! Suruh saja papamu membereskan dengan menggunakan kekuasaannya seperti yang biasa dilakukan. Apa susahnya?"


Saat Neil menganggap jika sikap Aldiano saat ini terlalu berlebihan dan membuatnya merasa aneh, ia seketika membulatkan mata ketika suara bariton dari sang kekasih membuatnya merasa sangat takut.


"Sekarang semuanya tak sesederhana itu, bodoh! Lebih baik akhiri saja neraka kita ini! Bukankah kita sama-sama saling mencintai? Jadi, sudah sewajarnya mati juga bersama-sama," sarkas Aldiano yang saat ini menginjak pedal gas untuk menambah kecepatan.


Ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah malam ini, tapi entah mengapa sekarang tidak berani lagi menghadapi sang ayah sudah terlalu banyak menyelesaikan masalah yang dibuatnya.


"Apa kau gila? Aku masih muda dan ingin hidup lebih lama. Aku tidak ingin mati," teriak Neil yang berusaha untuk menghentikan Aldiano.


Apalagi selama ini ia sudah berhasil mendapatkan banyak uang serta barang-barang dari pria itu, tapi tidak ini mengakhiri hidupnya dengan konyol karena masih ingin menikmati apa yang dimiliki.


"Aku masih ingin hidup dan jangan berbuat gila dengan mengakhiri nyawa sendiri. Kalau mau mati, jangan ajak aku!"


Sementara itu, Aldiano yang kini mengerti bagaimana pria yang dianggap sebagai kekasih tersebut. Bahwa sejatinya tidak ada cinta sejati di dunia ini. Bahwa pasangan bisa kapan saja meninggalkan dan tidak mungkin akan menyusul dengan rela.


"Jadi, kau lupa janjimu yang mengatakan akan sehidup semati denganku? Ternyata semuanya palsu dan mungkin hanya karena uang, bukan?" Aldiano sama sekali tidak berniat untuk melepaskan pria itu karena ingin mati bersama dalam kehancuran dan sama-sama masuk ke neraka agar ia tidak kesepian.


Hingga ia pun seketika menatap ke arah kendaraan besar belakangnya dan tersenyum menyeringai. Tanpa membuang waktu, ia langsung memutar kemudi dan berada di tengah-tengah jalan agar kendaraan besar di belakangnya tersebut menabrak mobilnya.


Benar saja, suara teriakan dari Neil menggema di dalam mobil begitu kendaraan besar yang tengah melaju kencang menghantam dan seketika membuat mobil terbalik dengan beberapa kali terguling.

__ADS_1


Aldiano saat ini merasakan kukunya seperti hancur dan bisa mengingat kilasan masa lalu di sepanjang hidupnya. Mulai dari masa kecil hingga ia yang bergelimang dosa.


"Papa, Mama, maaf ...." lirih Aldiano yang saat ini sudah terlihat berlumuran darah ketika mobil terbalik dan lalu lintas jalan raya seketika macet akibat kecelakaan yang terjadi dini hari.


__ADS_2