
Sebenarnya selama menikmati makanan, Amira Tan memikirkan apa yang diucapkan oleh Noah dan Jack. Bahwa tidak ada yang salah dari mereka dan tentu saja hal itu membuatnya benar-benar sangat pusing.
Di satu sisi, Amira Tan memang sangat setuju dengan keinginan Noah, tapi di sisi lain tidak bisa melakukan itu saat berhadapan dengan orang tua yang pastinya curiga.
Jika sampai sandiwara mereka diketahui oleh orang tua dan membuat ibunya terkena serangan jantung, bukan hanya kehilangan wanita yang sangat disayangi, tetapi seperti seluruh dunianya hancur saat itu juga.
Hingga suara bariton Jack membuatnya mengangkat pandangan dari piring yang telah habis tanpa tersisa karena sudah berpindah ke perut Amira Tan.
"Mau tidak mau, kamu harus mengorbankan salah satu dan tidak bisa mendapatkan keduanya." Jack baru saja meletakkan minuman ke atas meja setelah menghabiskannya.
"Tidak ada yang dikorbankan dan mengorbankan karena ini hanyalah sebuah sandiwara, Jack. Kau harus menekankan itu di pikiranmu bahwa di antara kita tidak ada apapun selain keinginan untuk menyelamatkan mamaku."
"Baiklah, mengenai sentuhan fisik bisa kita sesuaikan saat berada di hadapan orang tua, akan bersandiwara seperti pasangan suami istri yang romantis, tapi jangan memanfaatkan kesempatan untuk mencari keuntungan dariku karena aku tidak akan tinggal diam!"
Kemudian ia kembali menatap ke arah buku kecil miliknya dan kembali melanjutkan membaca 4 poin penting yang lain. "Mengenai hal yang kedua adalah tidak tidur satu ranjang dan salah satu harus berada di sofa saat beristirahat."
"Baiklah." Jack langsung menyahut tanpa berpikir dan kembali mendengarkan.
"Poin ketiga adalah kau tidak boleh mengumbar tubuh sesuka hati saat aku ada di kamar. Contohnya seperti setelah mandi, bawa sekalian pakaian ganti ke kamar mandi. Jangan keluar hanya dengan memakai handuk."
"Oke. Lanjutkan."
Poin keempat dan kelima saling berhubungan. Bahwa lebih baik tinggal di rumah baru setelah menikah karena aku tidak ingin tinggal di tempat orang tuamu ataupun kau berada di rumah orang tuaku. Jadi, saat tinggal hanya berdua, jangan pernah berpikir bisa macam-macam padaku."
Amira Tan yang baru saja mengakhiri beberapa poin tersebut, kini menunggu tanggapan Jack. Berharap tidak menolak dan setuju seperti poin-poin sebelumnya. Hingga merasa lega begitu pria di hadapannya langsung menganggukkan kepala dan mengangkat ibu jari.
"Apa yang tidak akan kulakukan demi kamu? Aku setuju semuanya. Apakah kamu puas sekarang?" Jack beralih bangkit dari kursi. "Tugasku untuk membuatmu makan sudah selesai dan pasti om akan berkali-kali mengucapkan terima kasih karena telah merawat putrinya dengan baik."
__ADS_1
Jack pun kini langsung beranjak meninggalkan Amira Tan dan membayar tagihan di kasir. Berharap Amira Tan tidak lagi merasa khawatir mengenai pernikahan yang akan dilangsungkan esok hari.
Bahkan akan menyusun rencana untuk membuat Amira Tan sibuk dengannya daripada bertemu dengan Noah. Tentu saja masih tetap melibatkan calon mertua yang merupakan tiang utama untuk menaklukkan wanita arogan seperti Amira Tan.
Di sisi lain, Amira Tan yang masih duduk di kursi, melihat siluet belakang Jack—pria dengan sangat santai tersebut seolah tidak keberatan sama sekali atas pernikahan yang dianggap hanyalah sebuah sandiwara.
'Bagaimana Jack bisa terlihat sesantai itu? Apa yang sebenarnya ada di otak Jack sekarang? Sikapnya berubah lebih dingin dan sangat jauh berbeda dari yang dulu. Memang Jack masih perhatian, tapi jika dulu selalu bersikap manis, tapi sekarang sangat dingin dan arogan.'
Amira Tan merasa bahwa saat ini berubah menjadi wanita lemah, sedangkan Jack sebaliknya. Seolah menegaskan bahwa sering mendapatkan luka akan membuat orang lebih kuat dan berpikir jika Jack mengalami hal itu.
'Jack yang sering kutolak dan dulu selalu kecewa, kini jauh lebih santai seperti seorang pria tidak berperasaan. Sekarang Jack berubah menjadi pria datar,' gumam Amira Tan yang berkemas dan bangkit berdiri setelah membawa tas jinjing miliknya.
Hingga mendengar suara notifikasi dari ponsel dan sama sekali tidak diperdulikan karena tidak berniat untuk membuka pesan dari siapapun saat otaknya sudah banyak terforsir hari ini.
'Mungkin Noah yang mengirimkan pesan saat marah karena aku tidak mengangkat panggilan telpon. Biarkan saja karena ini adalah hukuman untuk Noah karena bersama seorang wanita tanpa menceritakan padaku.'
Karena berjalan sambil menatap kosong, Amira Tan merasakan jemari tangan berada di jidatnya dan seketika mengangkat pandangan dan menoreh ke arah sebelah kanan ada Jack.
"Kali ini kenapa kau menyentuhku? Apa kau sengaja menguji kesabaranku?" sarkas Amira Tan yang merasa sangat marah atas sikap Jack selalu berbuat sesuka hati.
"Kepalamu bisa menghantam kaca jika terus berjalan dengan melamun!" Kemudian Jack menurunkan tangan dan membuka pintu, lalu berlalu pergi mendahului Amira Tan sambil menyindir.
"Zaman sekarang, banyak orang tidak tahu balas budi dan tidak mengucapkan terima kasih setelah ditolong!"
Amira Tan yang bisa mendengar sindiran Jack karena berjalan mengekor di belakang, kini hanya diam dan menelan saliva dengan kasar.
'Apa aku terlalu berlebihan saat bersikap dingin pada Jack? Apakah aku perlu minta maaf padanya?' gumamnya yang kini masuk ke dalam mobil dan mendaratkan tubuhnya di kursi depan sebelah Jack yang sudah menyalakan mesin.
__ADS_1
Jack kini melajukan kendaraan meninggalkan area restoran dan terlihat fokus mengemudi tanpa menoleh ke arah wanita yang dari tadi sama sekali tidak mengeluarkan suara.
Hingga setengah jam telah berlalu dan tiba di depan rumah Amira Tan. "Aku tunggu di sini dan bawakan berkas-berkas milikmu sebagai syarat pernikahan."
Amira Tan melepaskan sabuk pengaman dan menoleh ke arah Jack. "Terima kasih dan maaf karena selalu berprasangka buruk padamu hari ini. Aku akan menyuruh pelayan untuk mengantarkan setelah menyiapkan berkas-berkasnya."
Kemudian ia membuka pintu mobil dan beranjak keluar tanpa menunggu respon Jack karena berpikir pria itu masih kesal padanya.
Jack yang masih berada di dalam mobil, seketika tersenyum menyeringai begitu melihat Amira Tan yang sudah luluh dan percaya sepenuhnya padanya.
"Seandainya kau melihat hal ini, Noah. Pasti dia akan menangis darah dan memohon padaku untuk tidak merebut Amira Tan!" Saat tidak berhenti tersenyum puas karena melihat bahwa Amira Tan sudah tidak lagi bersikap dingin dan kasar.
Di saat bersamaan, mendengar suara dering telepon miliknya dan begitu memeriksa, melihat jika kontak yang menghubungi adalah Noah.
"Wah ... sepertinya pria sialan ini panjang umur karena aku baru saja membicarakannya. Aku sangat yakin jika di seberang sana, Noah tengah merasa kebakaran karena dikuasai oleh amarah ketika berpikir bahwa Amira Tan sedang bersamaku."
"Apalagi tidak mau mengangkat telpon, pasti dia sudah berpikir macam-macam mengenai Amira Tan. Hal kecil yang berawal dari prasangka dan ketidakpercayaan, akan menghancurkan hubungan yang baru saja mereka mulai. Aku yang akan masuk ke dalam celah itu dan merebut hati Amira Tan."
Saat panggilan telpon telah mati, beberapa saat kemudian terdengar bunyi notifikasi pesan. Jack kini membaca pesan dari Noah.
Aku tahu Amira Tan ada bersamamu sekarang dan kau mempengaruhinya untuk tidak mengangkat telpon dariku. Jangan berpikir bahwa kau telah menang hanya karena hal kedua seperti ini. Aku tidak akan tinggal diam saat kau berencana jahat untuk memisahkan kami.
Jack sama sekali tidak membalas pesan dari Noah dan meneruskan kepada Amira Tan agar wanita itu membaca dan mengerti seperti apa pria yang dibanggakan.
"Amira Tan baru saja mempercayaiku dan pastinya tidak senang membaca pesan dari Noah yang menuduhku. Jadi, aku akan memberikan kehormatan pada Amira Tan untuk membalaskan dendamku dengan cara marah-marah pada Noah."
Jack merasa sangat senang hari ini. Ia puas membalas dendam pada Noah karena telah merusak Amira Tan yang selama ini dijaga sangat baik.
__ADS_1
To be continued...