
Arya sebenarnya tidak ingin menceritakan mengenai masalah pribadi kepada wanita di hadapannya tersebut, tetapi merasa jika memiliki ikatan yang sulit untuk dijelaskan dengan Calista, akhirnya mulai berbicara.
"Ini adalah masalah pribadiku, tapi karena aku menganggapmu teman, jadi wajar jika ingin meminta saran. Siapa tahu setelah menceritakan ini, beban yang sangat berat di pundakku bisa sedikit berkurang."
"Aku akan mendengarkan." Calista menjawab singkat dan merasa penasaran dengan apa yang akan diceritakan oleh Arya.
Meskipun sebenarnya sudah tahu masalah utama yang memicu renggangnya hubungan antara pasangan suami istri tersebut, tetapi berharap ada hal lain yang diungkapkan oleh Arya.
Seperti perasaan Arya pada wanita yang merupakan saingan utama dan ingin sekali disingkirkan, agar bisa sepenuhnya memiliki pria dengan paras rupawan di hadapannya tersebut.
Kemudian Arya tidak membuang waktu karena ingin membagi beban yang berada di pundak, agar sedikit berkurang. Bahkan juga menceritakan mengenai awal mula hubungan dengan Putri yang merupakan istri pria bernama Bagus.
Tanpa merasa malu karena berpikir jika wanita yang terlihat sangat serius mendengarkan cerita tersebut adalah teman baik. Meskipun ternoda saat perbuatan akibat pengaruh minuman beralkohol.
Refleks Calista membulatkan mata dan tidak pernah menyangka jika Putri tidak lebih baik. Jadi, kini merasa yakin bahwa yang terjadi di antara Arya hanyalah sebuah kesalahan.
Mungkin sering dikatakan oleh orang lain bahwa itu adalah khilaf dan sekarang Arya bisa membuka mata dengan apa yang dilakukan di masa lalu. Apalagi setelah mengetahui tentang perbuatan Putri yang menipu mengatakan telah hamil benih Arya.
'Aku sama sekali tidak pernah menyangka jika ternyata Putri yang dulu berselingkuh dari suami. Bisa dibilang bahwa saat ini mendapatkan karma dari perbuatan sendiri.'
'Kini, ia harus merasakan rasanya diselingkuhi oleh suami. Jadi, kan impas.' Calista bahkan kini tidak bisa lagi bersabar untuk mendapatkan Arya, tetapi berusaha menahan diri sekuat tenaga untuk mengatakan meninggalkan Putri.
Lamunan Calista seketika buyar begitu mendengar suara bariton dari Arya ketika meminta saran.
"Aku sudah menceritakan semuanya, menurutmu bagaimana? Apakah aku harus menuruti perintah orang tuaku untuk menceraikannya saat aku masih sangat mencintainya?" Terdengar kegetiran defensif dari perkataan Arya ketika mengingat sang istri yang masih sangat dicintai.
Saat Calista membuka mulut ingin menanggapi agar bercerai saja, tidak jadi melakukan itu karena yang terjadi adalah sedang menahan diri sekuat tenaga karena berharap Arya berpikir bahwa ia adalah wanita bijaksana.
__ADS_1
"Ikuti kata hati saja. Itu yang akhirnya kusadari dari kesalahan terdahulu yang terlalu mencintai seorang pria. Aku terlalu memuja kekasihku dan menutup mata dan kamu bisa melihat sendiri ending-nya."
Sengaja kalimat terakhir dibuat menggantung, tetapi sangat mengena di hati. Berharap jika Arya sadar jika mempertahankan sesuatu yang menyakiti hati hanya akan meninggalkan luka.
Arya hanya diam karena jujur saja masih merasa ragu dan tidak tega. "Putri baru saja melahirkan, mana mungkin aku tega menceraikannya. Jadi, aku bingung untuk mengatakan itu di depan wajah istri yang masih kucintai."
"Aku sangat mencintainya, tapi juga membenci apa yang dilakukannya dan tidak bisa memaafkan. Ingin sekali bertanya dan berteriak untuk melampiaskan amarah, tetapi papa melarangku dan menyuruh menggantung status."
Arya yang baru saja menutup mulut, kini melihat waiters datang membawa pesanan dan meletakkan makanan.
Sebenarnya, hidangan yang tersaji di atas meja tersebut sangat lezat, tetapi sama sekali tidak menggugah selera Arya saat ini. Itu semua karena sudah terbiasa makan bersama dengan Putri di kontrakan.
"Makan dulu, Arya! Kamu harus mengisi tenaga, agar kuat menghadapi kenyataan yang terkadang tidak sejalan dengan harapan." Calista ingin makan banyak hari ini karena sedang berakting seperti tidak terjadi apapun di antara mereka.
Padahal jauh di lubuk hati terdalam, perasaan tidak menentu karena perasaan Arya pada Putri masih sama. 'Kamu harus melupakan wanita itu, Arya karena tidak rela jika saat bersamaku, memikirkan Putri.'
Calista berbicara sendiri di dalam hati karena berpikir jika sikap Arya akan berubah jika mengetahui yang sebenarnya. Jadi, berakting makan dengan lahap.
Namun, semua tak seindah ekspektasi karena tidak membuat Arya merasakan kenikmatan makanan itu dan memilih untuk sibuk sendiri di dalam hati.
'Kenapa aku baru menyadari jika makanan ini tidak seenak masakan Putri? Bahkan saat kami hanya makan dengan nasi bungkus saja, rasanya lebih lezat dari ini? Apa lidahku sekarang tidak normal? Atau karena ini efek dari perasaanku?'
Arya kini meletakkan sendok dan meraih gelas berisi minuman berwarna merah. "Aku lupa kalau tadi sebelum pergi sudah makan."
Hanya kalimat penuh kebohongan yang saat ini tengah diungkapkan oleh Arya. Tidak mungkin mengatakan jika makanan yang dipesan oleh Calista tidak enak karena takut jika akan menyinggung.
Sementara itu, Calista kini masih terus melanjutkan makan, agar sikap Arya tetap seperti biasa.
__ADS_1
"Jangan menipuku, Arya! Lebih baik lanjutkan makan karena aku tidak bisa menghabiskan sendiri makanan ini. Apalagi sedang program diet." Masih mengarahkan satu suapan ke dalam mulut dan mengunyah makanan, Calista dikejutkan oleh pertanyaan tiba-tiba dari Arya.
Kalimat diet yang diungkapkan oleh Calista adalah kebalikan dari Putri karena dari dulu selalu makan tanpa ada batasan, tetapi masih seksi. Bahkan tidak pernah menyangka jika ternyata sudah memiliki dua anak.
Arya mengingat saat dulu tidak memakai pengaman ketika bercinta pertama kali dengan Putri. "Apakah kamu tidak akan hamil benihku, Calista?"
"Dulu, aku mempercayai jika Putrihamil benihku karena memang pernah melakukan tanpa pengaman satu kali. Namun, ternyata itu adalah anak Bagus. Kamu tidak akan melakukan hal itu, kan?"
Konyol dan terdengar sangat menyayat hati jika dipikirkan, tetapi itu semua ditanggapi oleh Calista dengan tertawa kecil. "Aku bukan Putri dan jangan samakan semua wanita di dunia ini dengan istrimu itu."
"Jika ia melakukan hal buruk padamu, jangan pernah berpikir jika aku juga akan menipumu. Aku tidak akan hamil, tenang saja karena saat kau melakukan itu, tidak sedang dalam masa subur."
Calista selalu hafal dengan siklus menstruasi setiap bulan, jadi tahu kapan saat subur dan tidak. Memang pada kenyataannya ingin sekali hamil benih Arya dan akhirnya dinikahi sebagai bentuk pertanggungjawaban.
Namun, yang terjadi sangat berbeda karena biasanya beberapa hari lagi menstruasi. Jadi, sangat yakin jika apa yang dilakukan Arya tidak akan pernah membuat hamil.
"Kenapa ada wanita yang bisa setenang ini saat membicarakan masalah intim dan privasi seperti ini? Terkadang aku lega, tapi sekaligus merasa sangat aneh melihatmu, Calista." Arya berpikir jika Calista mungkin sedang berada pada fase terluka.
"Apa yang aneh? Bukankah kita bukan remaja lagi yang suka galau karena masalah percintaan? Jadi, jangan dibuat terlalu rumit. Lagipula kau sudah tahu, bukan jika aku tidak lagi perawan?"
"Tidak! Aku sama sekali tidak menyadari itu karena sedang dibawah pengaruh minuman keras. Maafkan aku." Arya menanyakan sesuatu hal yang dari tadi ingin ditanyakan.
"Tanya apa?" Calista menatap intens wajah rupawan pria yang berhasil memporak-porandakan hati saat ini.
"Di mana pria yang telah membuatmu patah hati? Apa dia ada di kota ini? Ataukah ada di luar negeri?" Entah mengapa ia merasa penasaran dan ingin mengetahui mengenai wanita itu.
"Bukankah tadi aku sudah menceritakan semua hal yang terjadi padamu? Jadi, sudah sewajarnya jika kau juga mempercayaiku," ucap Arya yang kini mengarahkan tatapan mengintimidasi.
__ADS_1
Sementara itu, Calista sama sekali tidak pernah menyangka jika akan mendapatkan pertanyaan yang menyangkut luka di masa lalu dan menjadi hal paling buruk karena terpuruk.
To be continued...