Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Angkara murka


__ADS_3

Beberapa saat lalu, Noah Martin menunggu sampai Amira Tan selesai dengan pekerjaan. Tentu saja mengatakan ingin pergi ke kontrakan Putri untuk meminta maaf dan mengurai kesalahanpahaman diantara dua saudara perempuan tersebut.


Sebenarnya tadi Amira Tan mengatakan tidak ingin menemui Putri selama beberapa hari karena berpikir jika wanita itu membutuhkan waktu untuk menenangkan diri setelah mengalami kejadian buruk hari ini.


Namun, ia sama sekali tidak sependapat dengan rencana Amira Tan karena berpikir bahwa akan lebih baik jika menghibur Putri secepat mungkin, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.


Apalagi seorang wanita yang merasa terluka bisa melakukan apapun untuk menyakiti diri sendiri. Karena ada banyak contoh kejadian yang akhir-akhir ini terjadi, seperti mengakhiri nyawa dengan cara gantung diri ataupun menyayat pergelangan tangan.


Hal itulah yang terpikirkan oleh Noah saat ini dan merasa khawatir jika Putri nekat melakukan hal buruk seperti itu. Jika sampai itu terjadi, hanya akan tersisa sebuah penyesalan yang tidak berguna.


Jadi, tadi menasehati Amira Tan dengan mengatakan hal itu, sehingga berubah pikiran dan berencana untuk pergi ke kontrakan Putri sepulang kerja. Namun, karena hari ini pekerjaan sang pengacara sangat menumpuk, akhirnya pulang terlambat.


Sementara Noah yang sudah selesai bekerja, memilih untuk menunggu di lobby perusahaan sambil menghubungi nomor Putri untuk memastikan jika wanita itu baik-baik saja.


Namun, kekhawatiran Noah semakin bertambah ketika nomor ponsel milik Putri sudah tidak aktif.


"Semoga apa yang aku takutkan tidak terjadi. Jika sampai Putri berbuat nekat dengan menyakiti diri sendiri, Amira Tan akan merasa bersalah dan tidak akan bisa menanggung dosa yang dirasakan."


Noah yang dari tadi duduk di kursi tunggu, refleks bangkit berdiri dan berjalan mondar-mandir sambil memijat pelipis.


Karena benar-benar merasa pusing ketika memikirkan berbagai macam hal buruk menimpa wanita malang yang baru saja diselingkuhi oleh suami dan berakhir diceraikan saat itu juga.


'Putri, kamu baik-baik saja, bukan? Ingat putramu saat kamu ingin menyakiti diri sendiri ketika patah hati setelah diceraikan oleh pria bajingan itu,' gumam Noah yang saat ini masih menunggu hingga Amira Tan keluar dari ruangan.


'Kenapa Amira Tan tidak keluar juga?' Noah saat ini memeriksa jam tangan untuk memastikan waktu dan sudah menunggu selama kurang lebih 20 menit.


Embusan napas kasar seolah mewakili apa yang saat ini dirasakan oleh pria dengan wajah penuh kecemasan tersebut. Hingga beberapa menit kemudian, merasa lega begitu melihat wanita yang dari tadi ditunggu.


"Akhirnya kamu keluar juga."


"Kenapa? Apa kau bosan menungguku?" tanya Amira Tan yang saat ini menyipitkan mata dan memilih untuk menyerahkan kunci mobil pada Noah. "Aku malas. Jadi kau saja yang menyetir mobil."


Setelah menerima kunci mobil di tangan, Noah mengungkapkan apa yang tadi dilakukan. "Sepertinya kita harus cepat karena aku tadi menghubungi nomor Putri, tapi sudah tidak aktif. Bagaimana jika ia melakukan hal-hal yang membahayakan nyawa karena patah hati?"

__ADS_1


Sementara itu, Amira Tan saat ini masih merasa tenang dan sama sekali tidak panik seperti sikap yang ditunjukkan oleh Noah. Bahkan terus melangkahkan kaki menuju ke arah parkiran dan langsung masuk ke dalam mobil setelah pria itu memencet tombol pada remote.


Setelah duduk di dalam mobil dan melihat Noah melakukan hal sama setelah menutup pintu, menoleh ke arah pria di balik kemudi tersebut.


"Aku yakin jika Putri tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu. Mungkin jika sendiri tanpa Xander, kemungkinan besar bisa melakukan hal seperti itu. Namun, berbeda karena ada putra yang baru beberapa bulan dan pastinya akan menenangkan perasaannya."


"Aku yakin jika ia tidak akan pernah meninggalkan Xander dan berusaha menjadi kuat demi malaikat kecil yang saat ini sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain seorang ibu. Karena sang ayah bahkan tidak mengakui karena konspirasi yang dilakukan oleh orang tua."


Noah kini sedikit merasa lega setelah mendengar jawaban dari Amira Tan, meski tidak sepenuhnya menghilangkan rasa khawatir pada Putri. Namun, setidaknya pikiran negatif kini berubah menjadi positif dan membenarkan semua yang tadi dikatakan oleh wanita di sebelah kiri tersebut.


Akhirnya Noah kini langsung mengemudikan mobil meninggalkan kantor dan langsung menuju ke kontrakan Putri.


"Semoga apa yang kamu katakan benar. Bahwa Putri adalah wanita kuat yang akan melakukan apapun untuk bisa membesarkan Xander dan tidak mempunyai pikiran untuk mengakhiri hidup dengan cara gantung diri ataupun menyayat pergelangan tangan."


"Jujur saja aku dari tadi memikirkan kemungkinan buruk itu. Jika sampai akhirnya melakukan hal yang sangat dibenci oleh Tuhan, pasti kamu akan merasa bersalah dan berdosa."


Amira Tan saat ini hanya diam karena tidak ingin berkomentar apapun saat pikiran dilanda kekhawatiran yang sama, tetapi tidak menunjukkan pada pria di balik kemudi tersebut yang kembali fokus mengemudikan kendaraan menuju ke kontrakan saudara tirinya.


'Semoga itu tidak terjadi karena Noah memang benar. Aku mungkin tidak akan pernah memaafkan diri sendiri jika sampai terjadi sesuatu hal yang buruk pada Putri. Apalagi aku ikut andil dalam masalah ini karena tidak langsung mengatakan tentang perselingkuhan Arya, tetapi ingin Putri melihat sendiri.'


Hingga setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 20 menit, akhirnya Noah memarkirkan mobil di depan rumah kontrakan yang dihuni oleh Putri. Saat sekilas menoleh ke arah rumah dengan halaman cukup luas tersebut, terlihat sangat sepi dan pintu yang tertutup rapat.


Bahkan tidak ada jendela depan yang terbuka dan merasa khawatir jika Putri dan Xander mengurung diri di rumah.


"Aku merasa sesuatu yang buruk terjadi." Kemudian tanpa membuang waktu, Noah langsung berjalan keluar dari mobil dan melangkahkan kaki menuju ke arah pintu.


"Putri. Buka pintunya!" teriak Noah yang saat ini sudah menggedor penghalang yang ada di hadapannya.


Hal yang sama dilakukan oleh Amira Tan karena tadi langsung buru-buru berjalan keluar dan berjalan ke arah samping untuk memeriksa melalui jendela. Namun, semua jendela di sebelah kanan kiri tertutup rapat.


Bahkan Amira Tan memeriksa dengan mendekatkan wajah, tetapi tidak melihat ada orang yang dicari. "Putri, apa kamu di dalam? Buka pintunya! Aku ingin bicara denganmu!"


Amira Tan bahkan sudah mengetuk beberapa kali jendela kaca di hadapan tersebut, tetapi sama sekali tidak mendapatkan jawaban. Seolah menegaskan bahwa tidak ada orang di dalam rumah.

__ADS_1


Bahkan ia saat ini mendengar suara bariton dari re yang masih memanggil-manggil nama Putri agar membukakan pintu.


Amira Tan kemudian berjalan mendekati Noah, agar tidak berteriak dan memancing perhatian para tetangga sekitar. "Hentikan! Sepertinya Putri tidak ada di dalam rumah. Apakah sedang jalan-jalan keluar untuk mencari udara segar bersama Xander?"


Noah yang saat ini membenarkan perkataan dari Amira Tan karena memang tidak ada suara dari dalam rumah. "Jika mereka ada di dalam, pasti Xander akan mengeluarkan suara karena mendengar berisik di luar."


Kemudian Noah mengedarkan pandangan ke sekeliling dan melihat sesuatu yang memancing perhatian. Tanpa membuang waktu, kini sudah berjalan mendekati tempat sampah karena ada kantong plastik besar di sebelah kanan.


Seperti ada dorongan untuk memeriksa, Noah kini membuka kantong plastik besar berwarna hitam tersebut. "Ini?"


Amira Tan yang sedikit berlari untuk bisa segera melihat apa yang diperiksa oleh Noah, kini mengerjapkan mata begitu di dalam kantong plastik tersebut berisi pakaian pria yang sudah bisa dipastikan merupakan milik dari mantan suami Putri, yang tak lain adalah Arya.


"Ini semua pakaian milik Arya dan sudah dibuang oleh Putri. Ini berarti dia baik-baik saja dan memilih untuk melupakan pria berengsek itu." Amira Tan yang baru saja menutup mulut, mendengar suara seseorang yang memanggil.


"Apa kalian mencari Putri?" tanya seorang wanita paruh baya yang baru saja membuang sampah di depan rumah dan melihat pria dan wanita berada di depan rumah kontrakan.


Refleks Amira Tan dan Noah berjalan mendekati wanita paruh baya tersebut untuk mencari tahu dan berharap mendapatkan jawaban dari berbagai macam pertanyaan yang ada di kepala saat ini.


"Iya. Saya adalah saudara perempuannya dan tadi mengetuk pintu beberapa kali, tetapi sama sekali tidak ada jawaban dari dalam rumah."


"Meskipun Anda mengetuk selama 100 kali pun, tidak akan mendapatkan jawaban karena Putri sudah pergi beberapa jam yang lalu. Aku baru saja ke kontrakan untuk memeriksa dan semua pakaian sudah dibawa olehnya."


Wanita paruh baya yang merupakan pelayan di rumah pemilik kontrakan tersebut, tadi mendapatkan perintah dari majikan untuk mengambil kunci rumah yang ditinggalkan di dalam pot bunga oleh Putri. Kemudian menjelaskan semua hal pada wanita dan pria di hadapan tersebut.


"Jadi, seperti itu cerita dari majikan saya. Sepertinya dia mengalami masalah yang sangat besar, hingga memilih untuk pergi dan menjual semua furniture yang ada di dalam rumah pada majikan saya."


Refleks Amira Tan dan Noah saling bersitatap dan menjelaskan bahwa keduanya saat ini merasa kebingungan sekaligus khawatir pada Putri yang entah pergi ke mana.


"Ke mana kamu, Putri?" lirih Amira Tan yang saat ini memilih untuk mengucapkan terima kasih pada wanita yang baru saja menjelaskan tersebut.


Noah yang saat ini melihat kekhawatiran dari wajah Amira Tan, memilih untuk mengusap lembut punggung wanita itu. Berharap bisa menyalurkan aura positif dan sedikit menenangkan perasaan Amira Tan.


"Bahkan Putri sudah menonaktifkan nomor ponsel dan aku yakin ingin memutuskan hubungan dengan semua orang yang dikenal." Saat Noah berbalik badan dan berniat untuk berjalan bersama Amira Tan, melihat seorang pria yang baru saja keluar dari dalam mobil.

__ADS_1


Seketika tangan Noah mengepal kuat dan rahang mengeras karena dikuasai oleh angkara murka begitu melihat pria yang menjadi penyebab kepergian Putri.


To be continued...


__ADS_2