
Putri yang sama sekali tidak paham apa yang sebenarnya diinginkan oleh Aldiano. Namun, ia tahu jika pria berstatus sebagai suaminya tersebut sama sekali tidak bernafsu padanya, jadi merasa heran apa yang sebenarnya diinginkan saat menyuruhnya telanjang bulat.
'Apa yang sebenarnya diinginkan oleh tuan Aldiano? Aku mempunyai firasat buruk, tapi tidak mungkin bisa menolak lagi daripada dicambuk karena sangat sakit rasanya,' gumam Putri yang saat ini sudah mulai bergerak melepaskan pakaian dalam dan beberapa saat kemudian tidak memakai apapun.
"Tuan, apa yang sebenarnya Anda inginkan?" lirih Putri yang saat ini sebenarnya merasa tidak nyaman berdiri tanpa memakai selembar benang pun di hadapan pria yang menatapnya jijik.
Ia memang bukanlah seorang wanita perawan yang belum pernah telanjang bulat di depan pria, tapi tetap saja merasa aneh sekaligus malu melakukannya di hadapan pria yang ia ketahui bukanlah pria normal.
Hingga ia berjengkit kaget mendengar suara bariton dari pria yang membuatnya seperti tidak punya harga diri layaknya seonggok sampah.
"Diam dan jangan banyak bicara! Aku ingin kau tersenyum, bukan bersikap seperti itu!" Aldiano berbicara sambil meraih ponsel miliknya dari saku celana.
Hingga ia pun kini mengarahkan kamera untuk merekam dan memotret. Namun, baru saja ia menekan tombol, merasa sangat marah melihat wanita di hadapannya menutupi wajah dan berpaling darinya.
"Tuan, jangan lakukan itu pada saya!" teriak Putri yang saat ini menangkap apa yang diinginkan oleh pria gay tersebut.
Ia seketika meraih pakaian yang teronggok di lantai dan berniat untuk kembali memakainya begitu mengetahui bahwa dirinya akan direkam dan pastinya disebarluaskan.
Hingga ia pun saat ini merasa seperti wanita hina layaknya bintang film porno. Tentunya sangat tahu konsekuensi jika sampai foto serta video yang tidak memakai pakaian tersebar luas. Jadi, ia memilih untuk dicambuk sampai nyawanya melayang daripada membiarkan tubuhnya direkam.
"Berhenti! Kenapa kau memakai kembali bajumu? Aku belum selesai memberikan hukuman padamu karena setuju pada keinginan papaku yang ingin memperkenalkanmu nanti malam di acara ulang tahun perusahaan!" sarkas Aldiano yang semakin marah melihat wanita di hadapannya mulai kembali memakai pakaian yang tadi sempat dilepaskan.
__ADS_1
Ia bahkan saat ini sudah kembali mengangkat sabuk miliknya untuk memukul, tapi sangat terkejut ketika mendengar suara wanita itu.
"Pukul saja saya sampai mati, Tuan Aldiano, tapi saya tidak akan membiarkan Anda merekam saya untuk disebarluaskan." Putri sama sekali tidak menangis dengan nasibnya yang sangat buruk.
Ia juga tidak protes pada takdir yang saat ini dijalani dengan bertanya seperti kebanyakan orang mengenai apa salah dan dosa yang dilakukan hingga berakhir tragis seperti sekarang.
Saat ini, memilih untuk membiarkan tubuhnya dicambuk sampai meregang nyawa daripada menuruti keinginan gila pria yang sama sekali tidak punya hati itu.
"Apa kau bilang? Kau ingin mati sekarang?" sarkas Aldiano yang saat ini tertawa terbahak-bahak karena menganggap perkataan wanita di hadapannya tersebut hanyalah sebuah omong kosong belaka.
"Bukankah kau tidak tahan saat dipukul tiga kali dan memilih menyerah untuk menuruti perintahku? Lalu sekarang ingin aku mencambukmu sampai mati? Baiklah, aku akan menuruti keinginanmu itu?" ucap Aldiano saat ini kembali mengangkat tangannya dan berniat untuk memberikan cambukan lagi.
Namun, ia sebenarnya hanya berniat untuk mengancam agar wanita itu kembali patuh karena tidak tahan dengan rasa sakit. Akan tetapi, ketika kembali mencambuk dan membuat wanita itu hanya diam tanpa ekspresi, semakin bertambah emosi.
Tanpa pikir panjang, Putri langsung menanggapi dengan suara lantang tanpa keraguan. "Mati!"
'Jika hari ini aku mati, lindungi Xander, Tuhan. Dia tidak punya siapa-siapa selain aku. Semoga tuan Bambang merawatnya dengan baik karena pria ini hanya akan membuat putraku hidup menderita,' gumam Putri yang saat ini sudah memejamkan mata dan berniat untuk menikmati rasa sakit yang dikirimkan oleh Aldiano.
Sementara itu, Aldiano yang merasa sangat marah karena wanita itu tidak takut akan pukulannya lagi dan melawan, tapi tidak mungkin membuatnya terluka parah karena jika sang ayah mengetahui, benar-benar akan dicoret dari surat wasiat.
Refleks ia langsung melempar sabuk miliknya dan menimbulkan suara nyaring di ruangan kamar. "Dasar pelacur! Kau selalu membuatku merasa emosi! Pergi dari hadapanku sekarang juga atau aku akan mencekik lehermu dan benar-benar mengirim ke neraka sesuai dengan keinginanmu."
__ADS_1
Wajah Aldiano saat ini terlihat memerah karena dikuasai oleh kemurkaan, lalu ia mengambil kunci dari saku celana dan membuka pintu agar wanita itu segera keluar dari kamarnya.
Merasa memiliki kesempatan untuk pergi, Putri buru-buru berjalan keluar sebelum pria itu berubah pikiran. Ia benar-benar sangat bersyukur karena akhirnya bisa lolos dari kuasa pria jahat yang dianggap telah tersesat itu.
Sampai pada akhirnya ia bernapas lega begitu berada di luar ruangan pribadi Aldiano. Ia saat ini meringis menahan rasa nyeri akibat 4 kali dicambuk. Hingga ia yang berniat untuk kembali ke kamar dan memeriksa putranya apakah bangun atau belum, mendengar suara pelayan.
"Nyonya, apa yang dilakukan Tuan pada Anda?" Pelayan wanita yang dari tadi merasa sangat khawatir dengan keadaan majikannya karena diseret ke kamar dan mendengar suara teriakan dari dalam.
"Tidak apa-apa, Bik. Jangan katakan apapun pada papa jika datang ke sini," ucap Putri yang saat ini berusaha untuk tersenyum agar pelayan tidak berpikir macam-macam atau mencurigainya berbohong.
Kemudian kembali ke dalam kamar tanpa memperdulikan pelayan yang seolah terlihat tidak percaya pada perkataannya yang memang hanyalah sebuah kebohongan semata.
Pelayan yang saat ini hanya melihat siluet belakang majikannya ketika masuk ke dalam kamar, berkaca-kaca karena merasa iba akan nasib dari wanita yang dianggapnya sangat baik tersebut.
"Ya Allah, kenapa nasib nyonya Putri sangat buruk karena menikah dengan pria seperti tuan Aldiano yang bahkan sama sekali tidak bisa menghargai seorang wanita? Lindungilah nyonya dan semoga suatu saat hidup bahagia dan keluar dari lingkaran penderitaan ini." Ia kemudian kembali ke dapur untuk kembali melanjutkan pekerjaannya.
Sementara itu, Putri yang saat ini baru saja masuk ke dalam kamar, merasa sangat lega karena putranya masih tertidur pulas. Ia pun saat ini berjalan ke arah ranjang dan mendaratkan tubuhnya di sana sambil meringis menahan rasa nyeri pada sekujur tubuh.
"Aku harus segera mengobati luka ini agar tidak semakin kesakitan," ucapnya sambil mencari obat untuk dioleskan pada lukanya.
Begitu menemukan salep untuk lukanya, ia pun kini melepaskan pakaian dan langsung mengobati sambil sesekali meringis menahan rasa nyeri di bagian lukanya.
__ADS_1
"Ya Allah, aku akan ikhlas menerima karma dari perbuatanku di masa lalu dan tidak akan mengeluh karena ini adalah hukum tabur tuai yang kujalani," lirih Putri yang mencoba untuk kuat atas semua yang dialami hari ini.
To be continued...