
Aldiano dari tadi memikirkan tentang sang ayah begitu mendengarkan semua cerita dari Putri dan membuatnya merasa khawatir pada pria paruh baya yang sangat ia sayangi tersebut.
Hingga ia melihat para perawat yang berjalan mendekat dan mengetahui apa yang akan mereka lakukan padanya. Namun, ia yang disibukkan dengan memikirkan sang ayah dan menyesali perbuatannya, kini sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari perawat wanita itu.
"Maaf, Tuan karena harus membawa anda ke ruang pemeriksaan untuk melakukan tes secara menyeluruh," ucap sang perawat yang saat ini bergerak untuk mulai mendorong ranjang perawatan tersebut bersama rekannya.
Bahkan keduanya saling bersikap karena sama sekali tidak mendapatkan tanggapan dari pria yang terlihat menatap kosong ke sembarang arah itu. Namun, paling tidak mereka merasa lega karena tidak lagi mendengar suara teriakan pria itu seperti beberapa saat lalu.
Putri saat ini ikut membantu mendorong ranjang perawatan tersebut menuju ke ruang pemeriksaan yang ia ketahui berada di lantai atas.
Ia bahkan sekilas melirik ke arah pria yang dari tadi hanya diam saja dan membuatnya memikirkan apa yang saat ini tengah ada di otak pria itu.
'Apakah usahaku untuk mengumpatnya tadi berhasil? Bahwa ia telah sadar setelah aku marah-marah sampai tenggorokan kering. Semoga itu benar dan perlahan dia mulai menerima kenyataan tentang kondisi kakinya yang lumpuh karena kecelakaan,' gumam Putri yang saat ini baru saja masuk ke dalam lift.
Saat ia menunggu lift menuju ke lantai atas, di saat bersamaan mendengar suara dari ponsel dari salah satu perawat. Ia yang tidak memperdulikan hal itu, merasa terkejut karena tiba-tiba ponsel diberikan padanya.
"Nona, ini ada telepon untuk Anda." Sang perawat yang baru saja mendapat telpon dari pihak kantor di ruang VIP, ternyata dari rekannya yang mencari istri dari pria yang baru saja mengalami kecelakaan tersebut.
Putri seketika menuju ke arah diri sendiri karena merasa heran. "Aku? Telpon dari siapa?"
"Katanya dari mertua Anda." Sang perawat yang saat ini masih masih mengulurkan ponselnya, ternyata direbut oleh pria yang berada di atas ranjang perawatan tersebut.
Putri yang awalnya ingin langsung menerima benda pipih di tangan sang perawat, seketika terdiam saat melihat Aldiano merebutnya.
'Apa dia sangat merindukan sang ayah? Hingga langsung merebut begitu mengetahui jika papanya yang menelpon dan ingin berbicara denganku,' gumam Putri yang membiarkan Aldiano berbicara dengan sang ayah karena memang saat sadar belum bertemu.
Sementara itu, Aldiano yang ingin mengetahui bagaimana sang ayah saat ini dan ia juga sangat merindukannya begitu mengetahui jika akan melakukan apapun agar ia bisa hidup, seperti yang dikatakan oleh Putri. Bahwa sang ayah rela menukar nyawanya daripada kehilangan dirinya.
Padahal dulu sering mengatakan jika sang ayah tidak akan menangis jika terjadi sesuatu padanya karena merupakan anak yang tidak tahu diri.
Kini, ia bisa mendengar sang ayah berbicara dan hanya didengarkan tanpa membuka suara sepatah kata pun.
"Halo, Putri. Papa berkali-kali menelponmu tadi, tapi kenapa nomornya tidak aktif? Apa putraku sudah sadar? Ataukah dia masih tertidur pulas dan bermain di alam mimpinya?" tanya Bambang Priambodo yang saat ini hendak melakukan konferensi pers untuk menjawab semua pertanyaan dari para awak media.
Ia mencari tahu keadaan putranya terlebih dahulu sebelum melakukan konferensi pers di depan publik.
Namun, tidak mendengar suara dari menantunya, mengerutkan kening dan merasa aneh. "Putri, kamu masih di sana? Apa yang terjadi sebenarnya? Apakah terjadi sesuatu hal yang buruk pada putraku?"
Saat mendengar kekhawatiran dari sang ayah, Aldiano yang dari tadi terdiam hanya ingin mendengarkan suara pria paruh baya di seberang telepon, tidak ingin membuatnya khawatir dan kini membuka mulut untuk menyapa.
"Ini aku, Pa. Aku sudah bangun dari alam mimpi."
"Putraku? Kamu benar-benar sudah sadar? Ini benar kamu?" lirih Bambang yang saat ini berkaca-kaca bola matanya karena rasa haru menyeruak di dalam diri ketika kebahagiaan menyapanya saat semalaman harus tersiksa dengan kesedihan dan kekhawatiran.
Aldiano bisa mendengar jika suara sang ayah sangat cerah dan seperti orang yang hendak menangis dan itu membuatnya benar-benar sangat terharu karena mengetahui bagaimana sang ayah menyayanginya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Pa karena membuatmu hidup menderita di masa tua. Aku adalah anak yang tidak berguna karena hanya bisa menyusahkanmu. Harusnya Papa pensiun dan menghabiskan masa tua di rumah untuk menikmati semuanya, tapi sekarang masih melakukan semuanya sendiri, sedangkan aku hanya bisa terbaring lemah di rumah sakit."
Aldiano berbicara sambil ranjang didorong oleh perawat dan juga Putri karena sudah tiba lantai yang ada di ruangan pemeriksaan.
Hingga ia pun saat ini mengetahui jika para perawat tersebut masih membiarkannya untuk berbicara dengan sang ayah. Ia pun juga tidak ingin menceritakan tentang kakinya yang lumpuh saat tersadar setelah operasi.
Ingin berbicara secara langsung dan merugikan melalui telpon, jadi sekarang masih menutupi semuanya. Ia saat ini menyerahkan pada Putri agar berbicara di luar saat ia melakukan pemeriksaan.
"Putri ingin berbicara, Pa." Kemudian menyerahkan ponsel itu ke tangan wanita yang ia berikan kode agar tidak mengatakan tentang kondisi kakinya yang lumpuh.
Putri tadinya sudah ikut mendorong masuk berangkat tersebut ke dalam ruang pemeriksaan, sehingga sekarang keluar dari sana agar bisa segera dimulai dan ia berbicara dengan mertua.
Dengan menganggukkan kepala tanda mengerti bahwa ia tidak akan mengatakan kondisi kaki pria itu pada sang mertua karena mengetahui jika akan jauh lebih terluka saat mengetahuinya melalui telpon.
Kemudian Putri melihat pintu ruangan tersebut tertutup dan ia saat ini mendengar suara bariton dari mertuanya dan membuatnya merasa bingung.
"Kenapa dengan ponselmu, Putri? Apa kehabisan daya? Aku sebenarnya ingin mengatakan jika sebentar lagi akan melakukan konferensi pers dan menyuruhmu untuk menontonnya." Bambang Priambodo tadinya berpikir jika putranya belum sadar.
"Tapi sepertinya tidak perlu melakukannya daripada putraku juga melihatnya. Pasti akan ada banyak orang yang menghujatnya. Aku bahkan sudah menyuruh orang untuk berjaga di depan lobby rumah sakit agar tidak ada media yang masuk ke dalam."
Putri kini mengerti kenapa sang ayah sampai menelpon pihak kantor untuk menanyakan tentangnya karena ternyata kabar sangat penting dan membuatnya harus berhati-hati agar tidak sampai bertemu dengan awak media.
"Baiklah, Pa. Aku tidak akan keluar dari rumah sakit dan akan selalu berada di ruangan bersama dengan tuan Aldiano untuk menjaganya. Papa juga jaga kesehatan dan jangan sampai drop karena memikirkan masalah yang terjadi belakangan ini." Putri sebenarnya merasa bersalah karena tidak langsung mengatakan keadaan sebenarnya tentang putra dari pria di seberang telepon.
Namun, ia berpikir jika Aldiano benar karena semua yang disampaikan melalui telpon akan membuat orang jauh lebih bersedih dan down. Jadi, memilih untuk mengatakan secara perlahan nanti saat pria itu datang ke rumah sakit.
"Memang lebih baik kamu hanya berada di dalam ruangan dan menyuruh orang untuk membeli sesuatu jika menginginkannya. Papa pergi dulu karena acaranya akan dimulai," ucap Bambang Priambodo yang saat ini menunggu hingga menantunya mematikan sambungan telpon.
"Iya, Pa. Aku tidak akan kemana-mana dan menyuruh orang untuk membelikan sesuatu jika menginginkannya." Kini Putri mematikan sambungan telepon dan menatap ke arah layar ponsel.
"Semoga acara konferensi pers hari ini berjalan lancar dan semua masalah yang menimpa perusahaan serta keluarga bisa segera diselesaikan." Putri saat ini menunggu dengan duduk di kursi yang ada di depan ruangan pemeriksaan.
Ia saat ini menyimpan ponsel dari perawat di saku celana panjang yang dikenakan. Kini, ia menyadari jika saat ini sangat membutuhkan ponsel karena ingin melihat seperti apa konferensi pers di perusahaan.
"Pasti ada banyak berita buruk yang tersebar di media mengenai tuan Aldiano yang baru saja mengalami kecelakaan. Pasti mereka akan menulis tentang percobaan bunuh diri karena ada para saksi yang mengetahuinya seperti yang dikatakan polisi kemarin." Putri seketika terdiam ketika menyadari sesuatu.
Ia seketika menatap ke arah ruangan perawatan di mana Aldiano berada.
"Polisi? Pasti pihak kepolisian sudah mengetahui semuanya dari para saksi yang berada di lokasi. Jika benar begitu, bukankah tuan Aldiano yang sengaja ingin mengakhiri hidup bersama dengan kekasihnya, akan terjerat kasus percobaan pembunuhan?" ucapnya dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
Bahkan saat ini ia membayangkan jika itu benar terjadi, merasa sangat iba pada pria yang masih berstatus sebagai suaminya tersebut.
"Apa tuan Aldiano akan dipenjara untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya karena membuat pria itu kehilangan nyawa saat kecelakaan? Bagaimana ini? Aku bahkan baru menyadarinya sekarang. Lalu, apakah Papa juga mengetahui ini?" Putri saat ini bangkit berdiri dari kursi karena merasa pikirannya dipenuhi oleh berbagai macam hal yang makin membuatnya pusing.
Ia saat ini benar-benar merasa kasihan pada Aldiano jika apa yang dipikirkannya benar. "Kasihan sekali jika itu benar. Bukankah ini terlalu berat untuk dijalani seorang pria yang hendak bertobat?"
__ADS_1
Putri bahkan saat ini terlihat berjalan mondar-mandir di depan ruangan pemeriksaan. Ia saat ini baru menyadari jika perbuatannya tadi benar-benar keterlaluan karena berteriak dan mengumpat pada Aldiano.
"Ya Allah, aku bisa kuwalat karena menyakiti orang yang tengah mengalami kemalangan luar biasa. Tuan Aldiano, maafkan aku," lirihnya dengan bola mata berkaca-kaca karena saat ini menyadari jika perbuatannya tadi benar-benar keterlaluan.
Ia bahkan mengetahui jika pria itu dari kecil kekurangan kasih sayang dari seorang ibu dan juga sang ayah, sehingga melampiaskan semuanya pada hal seperti itu dan membuatnya merasa berdosa.
Hingga ia yang saat ini menyesali perbuatannya, kini berjanji bahwa ia akan berbuat baik dan akan selalu bersabar merawatnya sampai sembuh. Bahkan ia sama sekali tidak ada pikiran untuk bercerai dengan pria itu.
Satu-satunya yang dipikirkan adalah ingin mendukung Aldiano dengan memberikan support agar tidak putus asa karena sejatinya orang yang mengalami masalah itu jangan membutuhkan dukungan dari orang lain.
Saat ia sibuk menyalahkan diri sendiri dan berusaha untuk merubah sikapnya, kini menatap ke arah pintu ruangan yang terbuka. Ia saat ini melihat raut wajah Aldiano yang muram dan membuatnya semakin merasa iba sekaligus bersalah.
Ia kini langsung mengembalikan ponsel milik perawat dan mengucapkan terima kasih. Kemudian menatap ke arah sosok pria yang sama sekali tidak bersuara.
"Tuan."
Aldiano yang tadi merasa khawatir saat berada di ruangan pemeriksaan ketika diperiksa secara menyeluruh. Ia sangat takut jika selamanya akan menyusahkan orang lain dan tidak bisa kembali berjalan.
Meskipun mengingat jika Putri tadi mengatakan harus optimis dan tidak menyerah untuk melakukan terapi, sehingga bisa berjalan lagi seperti wanita itu, tetap saja masih merasa tidak tenang.
Hingga kamu nanya seketika sirna begitu melihat sosok wanita yang memanggil namanya. Ia bahkan tidak menjawab, tapi hanya memberikan kode dengan mata untuk bertanya apa yang diinginkan wanita itu.
Putri yang saat ini semakin merasa iba, seketika mengungkapkan penyesalan dengan mencium kaki pria itu ketika berada di dalam lift. "Tuan Aldiano, aku minta maaf atas perbuatan kasar ku tadi beberapa saat lalu."
Putri benar-benar dengan tulus mengungkapkan penyesalan dan tidak memperdulikan tatapan dari dua perawat wanita yang berada di hadapannya.
Sementara itu, Aldiano seketika membulatkan mata karena tidak percaya atas apa yang baru saja dilihatnya. Bahkan mungkin jika ia bisa menggerakkan kakinya, sudah menarik agar wanita itu tidak bisa menyentuh.
Namun, karena memang tidak bisa bergerak sama sekali, sehingga membuatnya hanya bisa membulatkan mata karena merasa sangat terkejut ketika Putri mencium kakinya.
"Apa yang kau lakukan?" sarkas Aldiano yang saat ini masih melihat putri membungkuk dan mencium kakinya. "Kenapa kau melakukan itu hanya karena membentakku?"
"Aku benar-benar sangat menyesal, Tuan karena tidak bisa menahan diri tadi. Aku akan menjadi seorang istri yang baik dengan merawat dan berjanji tidak akan membentak seperti tadi. Aku benar-benar sangat berdosa karena menyakiti Anda," lirih Putri dengan suara serak yang saat ini tidak bisa mengendalikan perasaan membuncah yang dirasakan.
Membayangkan suami harus menghabiskan hari-hari di sel dingin dengan kondisi mengenaskan karena tidak bisa berjalan, membuatnya benar-benar merasa bersalah dan berdosa.
Ia bahkan sudah tidak bisa menahan bulir air mata yang menghiasi bola matanya saat ini. Hingga suara bariton dari pria yang seolah tidak suka dengan permintaan maafnya, seketika membuatnya mengangkat wajah, di saat bersamaan pintu lift terbuka dan harus berjalan keluar.
"Jangan pernah melakukan itu lagi! Aku benar-benar tidak suka!" sarkas Aldiano yang saat ini menatap tajam ke arah sosok wanita yang berjalan di hadapannya tersebut.
Apalagi dua perawat itu menatap perbuatan Putri yang mempermalukan diri dengan mencium kakinya, sehingga membuatnya merasa tidak nyaman sama sekali.
Namun, di dalam hati kecilnya seperti merasakan sebuah hal yang menyejukkan dan membuatnya kehilangan amarah maupun kekecewaan.
'Apa seperti ini memiliki seorang istri yang berbakti pada suami?' gumam Aldiano yang pernah mendengar tentang surga seorang istri ada di telapak kaki suami.
__ADS_1
To be continued...