
Putri sama sekali tidak merasa malu dilihat oleh dua perawat ketika mencium kaki pria yang berstatus sebagai suaminya dan membuatnya benar-benar merasa berdosa karena telah melakukan kesalahan beberapa saat lalu.
Ia bahkan tidak mempedulikan ada protes dari Aldiano karena saat ini yang diinginkan hanyalah ingin meminta maaf atas kesalahan yang diperbuatnya.
Hingga ia berjalan menuju ke arah ruangan perawatan bersama dengan dua perawat yang sudah mendorong masuk brankar ke ruangan. Ia tahu jika saat ini Aldiano merasa tidak nyaman ketika ia melakukan itu di depan dua orang perawat, sehingga saat ini membiarkan dua wanita itu menyelesaikan tugasnya.
Ia berpikir akan mengulangi apa yang dilakukannya beberapa saat lalu, agar tidak merasa menyesal telah melakukan dosa besar pada suami yang mengalami kemalangan.
"Sudah selesai, Nyonya." Sang perawat yang baru saja selesai dengan tugasnya memasang alat yang berada di tubuh pasien, kini menganggukkan kepala dan berjalan keluar.
Bahkan tadi saling bersitatap dengan rekannya ketika melihat istri dari pria itu berbuat sesuatu yang mengejutkan mereka karena tidak merasa malu melakukan itu di depan mereka.
"Terima kasih, Suster," lirih Putri yang saat ini membalas anggukan kepala dan melihat dua perawat tersebut keluar dari ruangan perawatan.
Hingga ia yang saat ini masih menatap ke arah pintu, kini mendengar suara bariton Aldiano yang kembali mengungkapkan kekesalan padanya dengan membahas perbuatannya tadi yang tiba-tiba.
"Sebenarnya apa yang kau lakukan tadi? Apa kau sengaja melakukannya di depan perawat agar terlihat menjadi seorang istri yang baik? Padahal saat hanya berdua di dalam ruangan ini, berteriak dan mengumpat ku habis-habisan," sarkas Aldiano yang saat ini benar-benar tidak habis pikir dengan pikiran dari Putri yang dianggapnya berubah-ubah seperti bunglon.
Ia sebenarnya tahu jika wanita itu tidak seperti yang ia katakan. Apalagi sekarang baru menyadari jika putri adalah seorang wanita yang sangat langka karena tidak pergi ketika ia menjadi seorang pria tidak berguna.
Bahkan bisa dibilang ia hanya akan menyusahkan siapapun yang dekat dengannya, khususnya adalah sang istri yang tinggal bersama dan 24 jam berada di rumah.
__ADS_1
Namun, kali ini hanya ingin mendengar alasan wanita itu berbuat hal yang sangat mengejutkannya. Hingga ia melihat raut wajah penuh penyesalan dan sangat murung ketika Putri berjalan mendekat ke arahnya.
Hingga ia kembali membulatkan mata ketika Putri mengulangi hal yang sama seperti beberapa saat lalu di dalam lift, tapi kali ini yang menjadi perbedaan adalah tangis dari wanita itu benar-benar sangat menyayat hati.
Putri kembali bersedih ketika berbalik badan menatap ke arah pria di atas ranjang perawatan tersebut. Hingga ia sudah tidak bisa menahan diri untuk kembali mengungkapkan penyesalannya dan yang paling utama baginya adalah mencium kaki sang suami untuk memohon ampunan.
"Tuan Aldiano, maafkan aku karena durhaka pada Anda yang mengalami kemalangan. Aku sebenarnya tadi tidak bermaksud untuk membuat Anda kesal ataupun marah, tapi hanya ingin bangkit dari keterpurukan dan tidak putus asa sebelum berjuang." Ia bahkan saat ini masih belum mengalihkan dirinya dari kaki Aldiano.
Ia melakukan itu karena tahu jika Aldiano tidak akan bisa menolak perbuatannya karena kakinya yang lumpuh. Mungkin jika tidak demikian, sudah ditendang dari tadi.
"Sebenarnya apa rencanamu padaku? Kenapa melakukan seolah-olah kau benar-benar istriku? Padahal kita hanyalah pasangan suami istri di atas kertas mata. Bukankah papa menyuruhmu untuk pergi?"
Sementara itu, Putri saat ini bangkit dari posisinya yang dari tadi membungkuk untuk mencium kaki pria yang memiliki nasib malang itu. Ia sudah terlihat bersimbah air mata dan tidak memperdulikan raut wajahnya yang mungkin sudah sembab.
Hingga iya berusaha untuk menormalkan suaranya yang tercekat di tenggorokan. Saat ini merasa ragu apakah mengatakan sesuatu yang ada di pikirannya atau tidak.
Namun, berpikir jika mengungkapkannya jauh lebih baik daripada memendam sendiri, ia berharap pria itu mau berbagi dengannya untuk mengungkapkan keluh kesah.
"Tuan, tadi aku berpikir mengenai kecelakaan yang menimpa Anda. Semua orang sudah mengetahui apa yang menimpa Anda bersama dengan pria itu. Bahkan mungkin ada para saksi yang melihat dan pastinya akan bersaksi." Putri kali ini sudah tidak bisa menahan lebih lama untuk tidak menanyakan sesuatu yang menari-nari di pikirannya.
"Bagaimana kalau Anda ditangkap oleh polisi dengan tuduhan percobaan pembunuhan? Apalagi kondisi kaki Anda Anda yang tidak memungkinkan untuk bolak-balik ke kantor polisi. Bagaimana jika Anda di penjara saat masih berada di kursi roda?" Masih bersimbah air mata yang membasahi wajahnya, kini Putri berjalan ke arah pria yang dari tadi hanya terdiam tanpa membuka sepatah kata pun.
__ADS_1
"Tuan ...."
Sementara itu, Aldiano saat ini hanya terdiam karena memang sudah memikirkannya. Ia benar-benar tidak bisa melawan takdir yang sudah menjadi garis tangannya.
Hingga ia tertawa miris saat menyadari nasibnya. "Aaah ... jadi kau sudah tahu rupanya. Sekarang kau tahu alasanku tadi mengusirmu dan membiarkanku sendirian? Aku memikirkan itu dan membayangkan berada di kursi roda saat di penjara."
Aldiano bahkan sama sekali tidak takut jika nanti dipenjara akan dipukuli ataupun mendapatkan pelajaran dari sesama napi, tapi yang ditakutkannya adalah tidak kuat sendirian menghadapi semuanya.
Membayangkan harus menjalani semuanya dipenjara sendiri tanpa ada yang membantu mengurus sesuatu, benar-benar membuatnya sangat terpuruk.
"Bahkan papaku yang punya banyak uang tidak akan bisa membuatku terbebas dari hukuman. Sekarang aku sadar jika uang bukanlah segalanya. Bahwa kebahagiaan memang tidak bisa dibeli dengan uang."
"Meskipun faktanya segalanya butuh uang, tapi sepertinya aku saat ini tidak membutuhkannya. Ini adalah pertama kalinya aku merasa jika uang tidaklah penting. Padahal selama ini selalu berpikir bahwa uang adalah segalanya bagiku," ucap Aldiano yang saat ini menatap ke arah kakinya yang tidak bisa digerakkan.
Ia berpikir bahwa tidak mungkin bisa melakukan terapi jika berada di penjara. Bahkan merasa yakin jika hidupnya akan hancur saat merasakan penderitaan di balik dinginnya jeruji besi.
Aldiano yang biasanya tidak pernah berdekatan dengan Putri untuk sekedar berbicara, kini merasakan jika mereka sangat dekat. Apalagi terlihat Putri yang kini menggenggam erat telapak tangannya.
"Tuan, itu masih pemikiranku, tapi aku yakin jika Papa pasti akan menemukan solusi. Jadi, jangan putus asa dan terus berjuang untuk sembuh," ucap Putri yang saat ini benar-benar tidak tega saat membayangkan pria lumpuh menghabiskan waktu di penjara untuk mempertanggungjawabkan perbuatan.
To be continued...
__ADS_1