Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Jangan lupa mimpi indah


__ADS_3

Hening untuk beberapa saat dalam keheningan dan sudut bibir Noah melengkung ke atas karena merasa senang karena telah berhasil mengalahkan Amira Tan hari ini.


"Lain kali jangan diulangi. Rubah sifat aroganmu itu. Seorang wanita itu harus lemah lembut, agar para lelaki menyukaimu dan tidak menolakmu seperti Bagus. Sekarang lebih baik kita kembali ke kamar karena aku sangat mengantuk."


"Baiklah." Jawaban singkat Amira Tan kini seolah mewakili perasaan saat ini karena yang dipikirkan sekarang hanyalah ingin segera meninggalkan ruang tamu yang dianggap adalah sarang hantu.


Bahkan Amira Tan masih tidak melepaskan tangan yang dari tadi memegang kaos casual Noah, Amira Tan berjalan mengekor di belakang pria itu.


Merasa sangat takut dan tidak ingin ditinggalkan, Amira Tan merasa lega begitu memasuki ruangan kamar dan mulai berjalan menuju ke arah ranjang.


Buru-buru Amira Tan naik ke atas ranjang tersebut dan langsung menutupi tubuh dengan selimut.


Sementara itu, Noah yang tengah menahan sekuat tenaga agar tidak sampai tertawa karena melihat ulah Amira Tan yang tiba-tiba berubah pengecut, kini mengunci pintu dan menguap beberapa kali.


Saat berbalik badan dan melihat jam dinding, Noah mengeluh karena sudah pukul tiga pagi, tetapi belum tidur juga. Dengan melirik kesal ke arah wanita di bawah selimut tersebut, Noah mengungkapkan nada protes.


"Gara-gara kamu, jam segini aku belum tidur. Jangan ganggu aku lagi. Cepat tidur! Aku sangat mengantuk sekarang."


Noah yang baru saja membaringkan tubuh dan memejamkan mata, tidak berniat untuk memakai selimut karena selama ini terbiasa telanjang dada.


Namun, karena ada Amira Tan, tidak membiarkan dada bidang terekspose dan membuat wanita itu memanjakan mata untuk melihat. Jadi, ia menahan rasa panas karena memang tidak ada AC di ruangan kamar.


Saat beberapa menit setelah Noah memejamkan mata, merasakan lengan digerakkan oleh Amira Tan dan tidak dipedulikan karena mata seperti dilapisi lem.


"Noah."


Amira Tan tidak bisa tidur karena masih mengingat kejadian di ruang depan, jadi berharap pria itu menemani. "Aku tidak bisa tidur. Jangan tinggalkan aku."


Tanpa berniat membuka mata, Noah hanya menjawab singkat. "Aku di sini. Cepat pejamkan matamu!"


"Sudah dari tadi, tapi tetap tidak bisa tidur. Jika kau tidur, bagaimana jika hantu itu mencekik leherku." Masih tetap membayangkan hal buruk di otak, sehingga tidak bisa tenang dan ketakutan.

__ADS_1


"Paling juga kehilangan pasokan oksigen dan menjadi teman hantu itu," jawab Noah seadanya dan posisi masih dengan memejamkan mata.


Bulu kuduk Amira Tan seketika meremang dan refleks langsung bertambah pucat wajah. Tanpa membuang waktu, langsung bergerak secepat kilat untuk mendekati dan memeluk erat tubuh dengan beberapa cetakan otot kencang tersebut.


"Hei ... jangan membuatku semakin takut. Astaga! Kau ini seperti orang tidak berperikemanusiaan karena sama sekali tidak merasa iba dengan kemalangan yang menimpaku. Jika aku jadi teman hantu itu, berarti aku sudah mati dan berada di dunia berbeda denganmu?"


"Iya, kamu sudah mati. Sama seperti hantu itu." Tiba-tiba Noah tidak jadi mengantuk karena perbuatan Amira Tan yang memeluk erat, seolah tidak ingin melepaskan kuasa.


Ia akhirnya membuka mata dan bisa melihat Amira Tan membenamkan wajah di dada bidang dan hanya tangan melingkar di pinggang.


'Wanita ini selalu tidak sadar jika selalu memancing seorang pria. Apa ia juga melakukan hal intim seperti ini pada pria lain? Seperti pada Bagus dan Jack? Tiba-tiba aku merasa penasaran.'


Tidak ingin hanya bisa bertanya sendiri di dalam hati, ia akhirnya mengungkapkan pada Amira Tan karena ingin wanita itu tidak menggantung perasan.


"Baiklah, aku tidak akan tidur sebelum kamu. Namun, jawab dulu pertanyaanku dengan jujur."


Embusan napas lega kini menguar di udara dan Amira Tan seketika mendongak ke atas untuk bisa menatap wajah pria yang dipeluk erat tersebut.


"Memangnya kau ingin bertanya apa?"


Refleks Amira Tan mengendurkan tangan yang dari tadi memeluk erat tubuh kekar pria dengan tatapan mengintimidasi dan seolah mengunci iris kelam miliknya.


"Apa kamu berpikir aku selalu menggoda para pria untuk mendapatkan perhatian? Jadi, sekarang kamu berpikir aku memanfaatkan situasi untuk mencari keuntungan darimu? Cepat bangun!"


"Aku mau pulang sekarang! Antarkan aku ke depan!" Amira Tan merasa terhina harga diri atas pertanyaan Noah dan memilih untuk segera pergi dari rumah pria itu.


Bukan pulang ke rumah, tetapi ingin menginap di hotel karena jika jam segini kembali, yang ada malah akan mendapatkan omelan dari orang tua.


Bahkan Amira Tan semakin bertambah kesal ketika baru saja bangkit dari posisi berbaring dan mendengar penolakan Noah.


"Pergi saja sana sendiri! Aku bukan pembantu yang bisa kamu suruh seenak jidat!" umpat Noah yang kini memilih untuk membalikkan tubuh membelakangi wanita arogan itu.

__ADS_1


Apalagi Noah merasa kesal karena Amira Tan berniat pulang setelah mengganggu tidur nyenyaknya, jadi tidak akan membiarkan itu.


Amira Tan yang kini tidak jadi turun dari ranjang, menatap kesal pada Noah yang sudah memunggungi. "Kau semakin menyebalkan!"


Saat ia mengangkat tangan dan hendak mengarahkan pukulan pada punggung belakang pria itu, berjenggit kaget dengan debaran jantung tidak beraturan saat indra pendengaran menangkap suara benda terjatuh dari luar.


"Astaga!" Amira Tan memegangi dada setelah menurunkan tangan yang akan digunakan untuk memukul Noah.


"Apa yang terjadi? Noah, apa kau dengar itu?"


"Ya, itu hantu sedang mencari makan. Kalau kamu ingin menjadi santapan makan malam, cepat keluar sana!" seru Noah yang menjawab dengan sudut bibir melengkung tanda ingin tertawa dengan jawaban konyol.


Merasa nasib buruk mengelilingi di rumah itu, Amira Tan berjanji tidak akan pernah menginjakkan kaki di rumah Noah lagi.


'Ini adalah hari pertama dan terakhir untukku berada di sini,' gumam Amira Tan yang seketika kembali membaringkan tubuh di belakang Noah dan juga sudah memeluk erat tubuh pria itu dengan sangat erat.


"Jangan salah paham dengan ini karena aku sedang berjaga-jaga jika sampai nanti dicekik oleh hantu itu, akan menarikmu, agar membantu melepaskan. Jadi, kau tidak akan dituntut oleh jaksa hukuman karena dituduh menghilangkan nyawa seorang pengacara hebat sepertiku."


Kemudian ia memejamkan mata dan berusaha untuk segera tidur. Jujur saja kali ini tidak ada pikiran mencari keuntungan atau tidak nyaman karena memeluk erat tubuh seorang pria.


Satu-satunya hal yang dipikirkan olehnya hanyalah tidak ingin mati konyol di tangan hantu saat belum merasakan indahnya dunia karena kata orang, belum menikah adalah masa yang biasa.


Karena belum merasakan hal yang disebut surga dunia dan ingin menikah suatu hari nanti dengan seorang pria yang mengajari bagaimana rasanya dicintai dengan sangat luar biasa dan merasakan surga dunia.


Sementara itu di sisi lain, Noah merasa puas karena berhasil membuat seorang nona arogan berubah menjadi manis karena kini sudah diam dan memeluk erat tubuhnya.


Merasa kurang nyaman pada posisi membelakangi Amira Tan, Noah memilih untuk berbalik badan dan seketika mereka saling berhadapan.


Bahkan tangan dengan buku-buku kuat tersebut sudah merengkuh tubuh seksi Amira Tan, agar semakin mendekat dan merapatkan diri.


Kini, tidak ada jarak di antara mereka karena sebagian kulit saling menempel.

__ADS_1


"Seperti ini jauh lebih nyaman. Tidurlah dengan nyenyak dan jangan lupa mimpi indah."


To be continued...


__ADS_2