
Noah yang kini masih berada di dalam kamar, bisa mendengar suara dari mobil yang meninggalkan rumahnya. Ia merasa sangat bodoh karena hari ini berubah menjadi orang lain ketika sakit.
Ia memilih berjalan keluar dari ruang pribadinya dan menuju ke arah jendela.
Setelah sedikit menyingkap kain gorden yang menutupi, ia bisa melihat bahwa sosok wanita dengan tatapan tajam itu telah pergi bersama dengan pria yang mencintai.
Merasa sangat frustasi, Noah memilih untuk mengempaskan tangan menuju udara demi melampiaskan segala amarah yang membenci di dalam hati.
"Pria berengsek macam apa aku ini? Bagaimana mungkin aku mengambil keuntungan dari wanita yang telah menolongku saat sedang sakit? Jika bisa, aku ingin memutar waktu hari ini."
Menyadari bahwa apa yang baru saja dikatakan hanyalah sebuah harapan semu, Noah kembali menarik rambutnya dengan kasar sambil berjalan masuk ke dalam kamar.
Tanpa pikir panjang, ia sudah mengempaskan tubuhnya pada ranjang miliknya dan terlihat beberapa kali meninju tempat tidur sambil mengumpat.
Hingga ruangan yang sunyi dan sepi tersebut dihiasi oleh suara penuh kemurkaan yang mewakili perasaan sang bartender tersebut.
Setelah beberapa saat kemudian, Noah sudah sedikit tenang dan memilih untuk duduk bersila di atas ranjang sambil mengedarkan pandangan di ruangan yang menjadi favoritnya tersebut.
"Wanita itu tadi mengatakan tidak akan pernah lagi menemuiku. Bukankah ini adalah hal yang baik?"
Noah berbicara sambil mengeluh karena menyadari bahwa jauh di lubuk hati merasa itu salah. "Bahkan aku tadi belum sempat mau minta maaf padanya sebelum ia pergi. Harusnya aku melakukan itu karena memang bersalah."
"Akulah yang memulai semuanya. Itu karena berpikir berada di alam mimpi bersama dengan seorang wanita yang berprofesi sebagai pengacara tersebut dengan berbuat intim."
Ia kini terdiam sejenak dan mencoba untuk mengingat kenapa tadi bisa bersikap seperti itu saat sedang tidur.
"Kenapa aku tadi bisa melakukannya? Mimpi ... apa benar aku tadi sedang bermimpi? Kemudian melakukan itu pada pengacara itu?"
Selama beberapa saat, Noah mencoba untuk memutar kilasan balik tentang kejadian beberapa saat lalu yang ia lakukan pada Amira Tan. Hingga ia mengingat sesuatu yang sangat aneh dan merasa nyata.
"Tunggu!"
Noah saat ini menyentuh bibir dan membasahinya dengan gerakan memakai lidahnya.
Basah dan ia mengingat jika tadi merasakan ada yang melakukan hal itu pada bibirnya. "Apakah tadi ia menciumku? Aku baru mengingatnya sekarang. Bahwa ia tadi bermain-main dengan bibirku yang sangat kering, tetapi sekarang sudah sedikit lebih baik karena basah."
Tidak ingin bertanya sendiri di dalam hati dan menyadari bahwa ia harus bertanya sendiri pada sang pengacara untuk menghilangkan kesalahpahaman di antara mereka.
Noah kini mengambil ponsel miliknya di atas nakas dan langsung memencet tombol hijau pada kontak wanita yang disimpan dengan nama pengacara arogan.
__ADS_1
Selama beberapa saat ia menunggu panggilannya diangkat, Noah semakin gelisah karena khawatir jika wanita itu kembali murka.
"Semoga wanita arogan itu tidak marah dan murka padaku. Aku yakin jika ia yang memulai dan memancingku hingga berbuat seperti tadi."
Panggilan yang dilakukan telah mati karena tidak mendapatkan jawaban.
Noah merasa sangat kecewa karena tidak mendapat apa yang diinginkan, yaitu sebuah jawaban atas berbagai macam pertanyaan di pikirannya saat ini.
"Apa bener ia tidak akan pernah menemuiku lagi? Hingga telponku sama sekali tidak dijawab olehnya. Ia pasti merasa sangat marah padaku. Apa yang harus kamu lakukan sekarang?"
"Apakah aku harus melupakannya? Ataukah mencari jawaban atas pertanyaanku?" Noah kembali mengempaskan tubuh pada ranjang dan terlihat sesekali memijat pelipis karena kepalanya masih terasa pusing.
"Sial! Kenapa rasa pusing ini masih mendera kepalaku?" Noah mencoba untuk mengingat, apakah ia tadi sudah minum obat atau belum.
"Aku lupa belum makan dan minum obat karena seharian tidur. Hingga wanita itu datang ke sini dan membangunkanku dengan suaranya yang melengking tinggi."
Di saat bersamaan, bunyi suara perut keroncongan yang menandakan bahwa saat ini ia sangat lapar, membuat Noah memilih untuk memesan makanan karena tidak ada persediaan bahan yang bisa dimasak.
Jika biasanya ia hanya menggoreng telur dan memasak nasi. Kemudian menikmati dengan sambal, tetapi hari ini semuanya habis dan belum belanja. Jadi, sekarang lebih memilih untuk memesan makanan.
Meskipun ia tahu jika itu sangat boros, tetapi saat sakit, merasa tidak ada pilihan lain. Setelah memesan makanan, ia kembali meletakkan benda pipih di tangan tersebut di atas nakas.
Merasa tenggorokannya memang sangat kering, ia memilih untuk meneguk minuman berwarna coklat keemasan tersebut. Baru saja ia melakukannya, suara ketukan pintu yang sangat kasar dari luar terdengar.
Hal itu membuatnya tersedak hingga terbatuk. "Sial! Siapa lagi yang datang? Baru saja aku mau beristirahat."
Noah meletakkan gelas tersebut kembali di atas nakas dan berjalan ke arah pintu keluar untuk melihat siapa yang datang.
Ia berpikir mungkin itu adalah para sahabat dengan suara gedoran pintu yang sangat kasar.
"Apakah itu ...."
Noah tidak jadi melanjutkan perkataannya karena mendengar suara bariton dari luar dan membuatnya merasa sangat marah.
"Cepat buka pintu dan keluar sekarang, berengsek! Atau kau hanya seorang pengecut yang bersembunyi di dalam rumah karena takut menghadapiku?" teriak Jack dengan wajah memerah dan tidak berhenti untuk menggedor pintu.
Berharap pria yang ini dihancurkannya segera membuka pintu, sehingga bisa segera membuat sang bartender menyesali perbuatannya karena telah merayu wanita yang ia cintai.
Hingga akhirnya, ia melihat pintu di hadapannya terbuka dan tentu saja orang yang dicarinya sudah berdiri tepat di hadapan.
__ADS_1
Jack yang saat ini dikuasai oleh amarah, tanpa membuang waktu, langsung mengarahkan kepalan tangan pada wajah pria yang dianggap menjadi saingannya tersebut.
"Aku akan menghabisimu sekarang juga!"
Sedangkan Noah kali ini tidak ingin diam saja dan secepat kilat menahan tangan kuat pria yang berada tepat di hadapan wajah.
"Jika kamu berani menyentuhku lagi, aku akan mengatakan perbuatanmu pada wanita yang kamu cintai dan ia nanti semakin membencimu. Kau akan selamanya kehilangan Amira Tan. Bukan aku yang mengundangnya datang kemari karena ia datang ke sini atas kemauan sendiri."
"Amira Tan sangat merasa bersalah karena aku masih sakit akibat perbuatanmu. Seharusnya kau sadar bahwa telah mendorong wanita yang kau cintai untuk memberikan perhatian padaku dan juga ia tadi terbawa suasana dengan menciumku. Hingga aku pun yang sedang tidak enak badan karena demam, berpikir sedang berhalusinasi dan bermimpi."
"Tapi ternyata semuanya nyata. Jika kau ingin memastikan apa yang kukatakan ini benar atau tidak, tanyakan saja pada wanita itu."
Noah merasa sangat kesal karena pria di hadapannya selalu saja membuat masalah dengan penuh emosi. Jadi, ia memilih untuk melawan dengan cara yang elegan, yaitu menyerang perasaan.
Ia berharap Jack yang berada di hadapannya tersebut menyadari bahwa semua hal yang terjadi dikarenakan perbuatan yang membuatnya babak belur.
Sedangkan Jack yang sama sekali tidak mempercayai perkataan dari sang bartender, membuat wajahnya semakin merah karena diliputi oleh kemurkaan.
"Omong kosong! Semua yang kau katakan adalah kebohongan. Aku sangat mengenal Amira Tan selama bertahun-tahun lamanya. Ia bahkan tidak pernah dekat secara batin dengan seorang pria manapun."
"Jika kau tidak percaya perkataanku, lebih baik bertanya tentang kebenaran pada wanita yang kau cintai itu. Jadi, pergilah dari sini sebelum aku memanggil polisi untuk menangkapmu karena telah berkali-kali membuat keributan di rumahku."
Setelah mengungkapkan ancaman, Noah yang masih memegang kepalan tangan Jack, memilih untuk mengempaskan ke sebelah kanan. Kemudian ia bicara masuk ke dalam rumah dan menutup pintu, serta menguncinya.
Sedangkan Jack jangan merasa patah hati setelah mendengar perkataan dari sang bartender, membuatnya terdiam membisu di depan pintu.
Ia terlihat menggelengkan kepala berkali-kali karena tidak ingin membenarkan apa yang harus saja diungkapkan oleh pria itu.
"Tidak! Amira Tan tidak mungkin melakukan itu pada pria yang baru saja dikenal." Jack terlihat sangat frustasi dan menampilkan wajah penuh kemurkaan dan kekecewaan.
"Amira Tan tidak akan pernah mencium seorang pria yang baru saja dikenal. Ini hanya omong kosong belaka." Jack masih mencoba untuk menolak mempercayai perkataan dari sang bartender.
Namun, ia merasa sangat khawatir dan takut jika itu adalah kenyataannya dan pastinya akan kehilangan wanita yang dicintai.
'Amira Tan, kenapa kau membohongiku dengan mengatakan tidak berbuat apapun? Apa alasanmu?' gumam Jack yang saat ini memilih untuk meninggalkan rumah tersebut karena ingin bertanya secara langsung pada wanita yang telah memporak-porandakan hatinya.
Jack yang sudah masuk ke dalam mobil, melajukan kendaraan miliknya tersebut dengan kecepatan tinggi karena ini segera bertemu dengan Amira Tan untuk bertanya apakah yang dikatakan oleh sang bartender benar.
To be continued...
__ADS_1