Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Suara bariton


__ADS_3

Amira Tan saat ini menatap ke arah Putri yang memperhatikan Arya tengah berbincang dengan salah satu rekan bisnis. "Arya telah menikah dengan wanita itu, tapi sudah lima tahun belum dikaruniai anak."


"Dari gosip yang berkembang, salah satu diantara mereka tidak normal, tapi ditutupi dengan alasan menunda momongan karena masih ingin hidup berdua seperti pacaran. Omong kosong, kan? Aku sangat yakin jika wanita itu yang mandul karena Arya jelas-jelas mempunyai putra, yaitu Xander. Oh iya, mana keponakanku?"


Ia benar-benar ingin bertanya tentang banyak hal pada Putri, jadi tidak bisa menahan diri untuk mengetahui apa yang sebenarnya dilakukan oleh saudaranya tersebut.


Sementara itu, Putri yang dari tadi menatap Arya, kini seketika beralih ke arah Amira Tan karena sama sekali tidak menyangka jika nasib mantan suami berakhir miris.


Ia kini kembali berpikir jika semua orang menuai hasil dari apa yang ditanam. "Xander adalah putraku, bukan putra Arya."


Ia yang sebenarnya ingin berbicara panjang lebar dengan Amira Tan, kini menoleh ke arah mertua dan suami. Khawatir membuat Aldiano menunggu lama, sehingga kini kembali melanjutkan mengambil makanan.


"Aku harus mengambilkan makanan untuk suamiku. Mungkin kita bisa bertemu lagi di lain waktu," ucap Putri yang saat ini sibuk mengambil lauk.


Namun, ia mendengar suara dari anak kecil dan membuatnya menoleh ke arah belakang.


"Mamaaa!" teriak anak perempuan yang kini memakai gaun mengembang berwarna pink.


"Sudah selesai?" tanya Amira Tan yang saat ini langsung membungkuk untuk merapikan gaun putrinya yang berlarian ke arahnya bersama sang ayah, yaitu Jack.


"Sudah," sahut bocah perempuan itu yang kini tersenyum pada sang ibu.


"Kalau begitu kita makan dulu, ya." Amira Tan kini menatap ke arah Jack. "Ambilkan makanan untuk Mahiya. Aku masih melepas rindu dengan adikku. Kamu ingat Putri, kan karena yang mengurus perceraian dari pihak keluarga Arya."

__ADS_1


Jack yang sangat terkejut melihat sosok wanita yang telah lama menghilang tanpa kabar dan membuat sang istri selalu bersedih kala mengingat saudaranya tersebut.


"Syukurlah kamu baik-baik saja. Amira Tan selama ini tidak pernah hidup tenang karena selalu merasa bersalah padamu, Putri." Mengulurkan tangan dan langsung disambut oleh Putri.


"Aku selalu baik dan tidak perlu mengkhawatirkan aku. Jadi, kalian sudah menikah dan bidadari cantik menggemaskan ini adalah putri kalian?" Putri sama sekali tidak menyangka jika saudaranya itu menikah dengan Jack.


Padahal ia tahu jika dulu menjalin hubungan dengan pria yang diketahuinya bernama Noah. Namun, tidak mungkin membahas mengenai hal itu karena merupakan masalah pribadi.


Ia bahkan saat ini membungkuk dan mengusap lembut pipi putih keponakannya tersebut. "Mahiya ya namanya? Pasti Xander sangat senang bisa bertemu dengan sepupunya. Tadi dia main di luar karena bosan di sini. Ia sangat aktif dan tidak bisa diam, jadi tidak suka duduk saja melihat orang-orang di sini."


Saat ia baru saja menutup mulut, mendengar suara Ana yang membuatnya merasa sangat senang sekaligus terharu.


"Ya, aku dan Jack dulu dijodohkan orang tua karena mamaku sakit dan berpikir hidupnya tidak lama lagi. Namun, ternyata mamaku sampai sekarang sehat, mungkin karena bahagia akhirnya memiliki cucu dan menantu yang diinginkan."


"Apa kamu mau datang nanti untuk menghadiri pernikahannya? Aku berencana datang karena dia mengundangku." Amira Tan sama sekali tidak berniat untuk mengingatkan luka lama Putri, tapi tidak ingin merahasiakan sesuatu yang ia ketahui.


Putri yang saat ini ikut senang karena akhirnya Bagus mau membuka hati dan putra-putrinya akhirnya kembali bisa merasakan kasih sayang seorang ibu. Namun, ia tidak berani datang karena merasa sangat hina.


"Sampaikan saja salamku dan ucapan selamat atas pernikahannya. Aku tidak bisa datang karena jadwal suamiku sangat sibuk dan aku tidak mungkin pergi dan akhirnya tidak mengurusnya." Putri kini merasa terlalu banyak berbicara dan khawatir Aldiano murka padanya.


Akhirnya ia memberikan kartu namanya agar saudaranya datang ke tempat cateringnya jika ingin berbicara lebih banyak. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di sana daripada di rumah. Juga merasa tidak enak pada Aldiano jika mengundang orang lain.


"Aku harus pergi. Meskipun terlambat, tapi aku ucapkan selamat atas kebahagiaan kalian." Saat Putri berjalan menuju ke arah kursi sang suami, ia sekilas menatap ke arah Arya yang sama sekali tidak melihatnya.

__ADS_1


Namun, ia seketika membulatkan mata begitu melihat putranya berlarian dan malah menabrak ke arah Arya, sehingga membuatnya membekap mulut. "Tidak! Kenapa putraku tiba-tiba masuk dan malah ke tempat di mana Arya berada?"


Putri saat ini melihat putranya dari jauh, tapi masih jelas jika Arya saat ini membungkuk di depan putranya dan seperti tengah berbincang. 'Apa Arya mengenali Xander? Tapi itu tidak mungkin karena mereka berpisah saat Xander masih bayi.'


Putri yang saat ini tengah kebingungan melihat interaksi putranya dan ayah kandungnya, berniat untuk menyuruh orang agar segera memisahkan mereka. Ia yang baru akan bergerak, kini makin merasa kebingungan kala putranya menunjuk ke arahnya dan Arya pun menatapnya.


Tentu saja ia seketika menelan saliva dengan kasar dan degup jantung berdetak sangat kencang melebihi batas normal kala bertatapan dengan pria yang bahkan sampai sekarang belum bisa dilupakannya.


'Aku tidak ingin bertemu dengan Arya, tapi hal yang kutakutkan benar-benar terjadi. Apa yang harus kulakukan sekarang?' gumam Putri yang saat ini menoleh ke arah sebelah kiri begitu mendengar suara Amira Tan.


"Tidak perlu khawatir, Putri karena meskipun Arya melihatmu dan Xander, ia tidak akan mengenalimu karena kehilangan ingatan semenjak kamu menghilang." Amira Tan pun mulai menjelaskan singkat tentang poin utama yang mengenai Arya.


Hingga ia kini melihat raut wajah Putri yang terkejut karena pertama kali mengetahui tentang hal yang terjadi pada Arya. "Dia ke sini bersama Xander. Lalu di mana istrinya? Kabarnya mereka pun sudah pisah rumah dan aku tahu rahasia ini dari Jack."


Saat Putri melihat sendiri bagaimana pesona seorang Arya yang terlihat makin dewasa dan gagah saat berusia matang, tapi tatapan pria itu sangat berbeda karena tidak bisa mengenalinya.


"Jadi, Arya mengalami amnesia setelah kecelakaan? Apa yang sebenarnya diinginkannya ketika datang ke rumah begitu menjatuhkan talak padaku?" seru Putri yang saat ini berbicara lirih di dekat Amira Tan.


Hingga ia mendengar suara bariton dari pria yang baru saja datang memanggil namanya. Bahkan suara itu masih sama dan membuat perasaannya tidak menentu.


"Nyonya Putri?" Arya kini menggandeng tangan anak laki-laki yang tadi menunjukkan siapa ibunya dan membuatnya mengantarkannya.


"Sayang, kenapa lama sekali?" tanya Aldiano yang menghampiri Putri karena disuruh oleh sang ayah.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2