
Noah yang tadinya diam dengan perbuatan yang dilakukan oleh Amira Tan, kini terbawa suasana dan akhirnya membalas. Meskipun mengetahui bahwa itu merupakan kesalahan karena memanfaatkan wanita yang sedang dipengaruhi oleh minuman beralkohol.
Namun, kegiatan itu terhenti saat dering ponsel milik Noah berbunyi dan seketika meraih ponsel dari saku celananya setelah bangkit berdiri.
Begitu melihat yang menghubungi adalah Lorenzo, ia langsung menggeser tombol hijau ke atas dan mendengar suara teriakan.
"Cepat ke sini! Bos sedang ada di parkiran!"
Refleks Noah mematikan sambungan telpon dan melihat ke arah sosok wanita masih terbaring telentang di atas lantai dingin ruang ganti. "Tidurlah di sini! Aku harus kembali bekerja dan jangan berisik, oke!"
Amira Tan yang masih menatap sosok pria yang dianggap adalah Bagus, kini merasa sangat takut jika pria itu pergi. Refleks ia bangkit dari posisi yang berbaring di atas lantai, lalu menarik pergelangan tangan itu untuk menghentikan langkah kaki.
"Jangan pergi! Aku sangat mencintai dan hanya menginginkanmu. Aku akan hancur jika kamu meninggalkanku." Amira Tan mendongak untuk menatap pria yang berdiri di hadapannya.
Melihat wajah memelas dari Amira Tan yang menganggap adalah pria lain, serasa memporak-porandakan hati Noah saat ini. Terdengar embusan napas kasar dari mulut menghiasi ruangan ganti tersebut.
"Aku Noah, Amira! Sadarlah! Bagus sudah pergi dan relakan dia! Sekarang istirahatlah! Aku harus kembali bekerja. Jika di sini terus, bisa dipecat bosku."
Noah berusaha untuk melepaskan genggaman tangan Amira Tan. Namun, yang terjadi, wanita itu bangkit berdiri dan memeluknya dengan sangat erat. "Astaga! Apa yang kamu lakukan? Aku Noah, bukan Bagus. Sadarlah!"
Amira Tan yang tidak ingin kehilangan pria yang dicintai, seketika melingkarkan tangan pada pinggang kokoh itu untuk menahan kepergian. Bahkan bisa mencium aroma maskulin yang menurutnya sangat berbeda.
"Aku tahu bahwa kamu berbohong, agar bisa pergi, kan? Aku tidak akan tertipu, tapi kenapa harum ini berbeda?" Amira Tan yang dari tadi mendaratkan kepala pada dada bidang di hadapannya, kini memilih untuk semakin mengendus aroma tubuh itu.
"Kenapa harum tubuhmu berbeda?" Bahkan ia juga bisa mendengar detak jantung yang sangat kencang.
"Apa kamu gugup saat kita berada seintim ini?" Amira Tan kini mendongak untuk menatap wajah pria yang dari tadi dipikir adalah Bagus.
__ADS_1
Namun, saat bersitatap dengan iris tajam itu, beberapa kali mengerjapkan mata, agar bisa melihat dengan jelas. Apalagi tadi terlihat samar dan begitu seseorang yang diharapkan adalah Bagus ternyata adalah orang lain, ia seketika melepaskan tangan yang berada di pinggir dan dada pria itu.
"Kau?" Amira Tan berjenggit kaget saat mendengar suara gedoran pintu dan juga teriakan.
"Cepat keluar!"
Noah yang saat ini merasa kesadaran Amira Tan terlambat karena terlalu lama meninggalkan pekerjaannya, berpikir bahwa perkataan Lorenzo akan menjadi kenyataan.
Belum sempat menormalkan perasaan yang diporak-porandakan oleh Amira Tan, kini harus menghadapi bos. Namun, Noah masih menatap tajam Amira Tan.
"Kenapa tidak dari tadi kamu sadar bahwa aku adalah Noah, bukan Bagus? Sekarang sudah terlambat! Aku pasti dipecat!" Noah seolah pasrah dengan kemungkinan terburuk.
Berbeda dengan Amira Tan yang kali ini merasa bingung. "Apa yang terjadi denganku? Kenapa bisa seperti ini?"
Tanpa memperdulikan perkataan Amira Tan yang seperti orang kebingungan, Noah memilih untuk berbalik badan dan membuka pintu. Pemandangan pertama yang dilihat adalah sosok pria yang tak lain adalah bodyguard berbadan besar dengan seragam hitam.
Noah sebenarnya sama sekali tidak merasa takut. Namun, saat hendak keluar dari ruangan ganti, melihat di belakang bodyguard Club ada seorang pria yang tak lain adalah bos.
"Aku tadi melihat Lorenzo sibuk melayani pengunjung yang semakin berdatangan dan menanyakan tentangmu. Awalnya berpikir bahwa kau masih sakit. Ternyata asyik berduaan dengan seorang wanita di ruang ganti saat jam kerja." Bertepuk tangan dan tersenyum penuh kemurkaan.
"Maaf. Saya bisa menjelaskan kejadian yang sebenarnya, Bos." Noah Martin masih menundukkan kepala dan sama sekali tidak berani untuk bersitatap dengan bosnya.
Namun, tetap tidak mau menyerah untuk mengatakan tentang apa yang sebenarnya terjadi. "Saya tidak berduaan dengan wanita ini, Bos, tapi membantu mencarikan tempat beristirahat."
"Aku sudah tahu semua dari Lorenzo dan kau tidak perlu menjelaskan apapun padaku! Namun, kau tetap salah karena meladeni wanita ini," ucap pria berusia 35 tahun tersebut.
"Lebih baik kau pergi dari sini dan bersenang-senanglah dengan wanita ini. Hari ini, kau dipecat!" Tanpa menunggu tanggapan dari Noah, kini pria itu melangkahkan kaki panjangnya pergi dari ruangan ganti.
__ADS_1
Tidak tahu harus berekspresi apa karena sudah menduga akan bernasib seperti ini, Noah kini menoleh ke belakang. Di mana wanita yang dipikir melihat semuanya, ternyata memejamkan mata sambil bersandar pada pintu.
"Astaga! Sabarkan aku, agar tidak melampiaskan amarah pada wanita ini." Noah masih mencoba untuk mengambil napas teratur.
Hingga berpikir jika semuanya sudah takdir dan tidak perlu disesali. "Lebih baik aku besok cari pekerjaan di tempat lain saja dan tidak perlu memohon pada bos untuk membatalkan pemecatan."
Noah merasa lelah tubuh dan pikiran. Ingin segera tiba di rumah dan beristirahat. Refleks ia menarik pergelangan tangan Amira Tan dan mengajak berjalan menuju ke arah depan.
"Kau harus sadar, agar bisa berjalan untuk keluar dari sini karena aku sudah tidak mempunyai tenaga untuk menggendongmu."
Amira Tan tersentak dari tidurnya karena sudah ditarik paksa oleh Noah dan berjalan cepat mengikuti pria itu.
"Lepaskan aku! Aku akan jalan sendiri!" teriak Amira Tan dengan wajah memerah karena kesal.
Namun, Noah sama sekali tidak memperdulikan hal itu karena ingin segera pergi dari tempat yang menjadi hati terakhir bekerja.
"Mana kunci mobilmu? Aku yang akan mengemudi!" Noah mengulurkan tangan karena tidak ingin Amira Tan kembali kehilangan kesadaran.
Tanpa berniat untuk sudah payah, Amira Tan yang merasa kepala sangat pusing, memilih untuk menyerahkan tas dan memegangi perut.
"Kenapa perutku sangat tidak nyaman?"
"Apa lagi, kau tadi kebanyakan minum whiski." Noah tidak berniat untuk berpamitan dengan Lorenzo setelah dipecat karena berpikir jika sahabat tersebut akan khusus datang ke kontrakan untuk mengucapkan bela sungkawa karena dipecat.
Sementara Amira Tan sudah berjalan keluar dengan Noah. Saat ini, sudah tidak tahan dan langsung muntah-muntah di area parkiran sambil berjongkok.
Noah kali ini merasa lega karena Amira Tan tidak muntah di bajunya dan memilih untuk memijat tengkuk belakang wanita yang masih berjongkok tersebut.
__ADS_1
'Rasanya sekarang, aku seperti seorang suami yang mencoba untuk meredakan Amira karena lebih terlihat seperti wanita hamil saat muntah-muntah,' gumamnya yang saat ini masih sibuk memijat bagian belakang.
To be continued...