Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Menangis di pelukan


__ADS_3

'Dua minggu, sayangnya aku harus menunggu selama itu.' Bagus yang saat ini sibuk bergumam di dalam hati, kini memikirkan sebuah jalan keluar. Belum sempat bertanya, ia pun kini melihat sikap ketus Amira Tan.


"Jika kau mau pergi, tidak perlu menundanya." Amira Tan semakin bertambah kesal karena sikap Bagus tetap sama dan tidak menganggapnya ada.


Jadi, ia sudah tidak bisa lagi bersabar untuk bersikap tenang dan kembali arogan seperti biasanya, tanpa memperdulikan perasaan Bagus. Namun, yang terjadi adalah semakin bertambah besar angkara murka yang memenuhi aliran darah dan urat syaraf.


"Sebelum aku pergi, ada sesuatu yang ingin kutanyakan." Bagus merasa ada kesempatan untuk mencari tahu tentang ide di kepala beberapa saat lalu.


"Apa lagi?" Amira Tan yang menjawab sambil mengunyah makanan, merasa ada sesuatu yang tidak beres begitu melihat wajah Bagus.


Sementara itu, Jack masih terdiam dari tadi. Ia kini berusaha untuk bersikap dewasa dan tidak mengandalkan emosi. Jadi, membiarkan Bagus melanjutkan pertanyaan dan begitu mengetahui, merasa seperti mendapatkan angin segar.


"Apakah kau bisa membantuku sekali lagi mengenai akta cerai yang dua minggu lagi akan keluar. Aku tidak bisa datang untuk mengambilnya karena mungkin besok atau lusa kembali ke kampung halaman." Bagus berbicara dengan menatap intens Amira Tan dan bukanlah pria bodoh yang tidak bisa melihat wajah wanita itu berubah.


Namun, Bagus berusaha untuk tidak memperdulikan hal itu karena melanjutkan perkataan. "Jadi, bisakah kau atau pegawaimu yang mengambil?" Akhirnya Bagus berbicara jujur mengenai rencana yang sudah lama dipikirkan.


Rasa sesak hingga membuat anak seperti kesulitan bernapas dan suara seolah tercekat di tenggorokan. Mengetahui jika pria yang dicintai akan pergi jauh dan tidak bisa bertemu lagi, membuat Amira Tan ingin menangis saat itu juga.


Namun, ia berusaha untuk menahan diri sekuat tenaga, agar tidak memperlihatkan kebodohan yang akan mempermalukan diri sendiri.


Amira Tan ini sekali mengatakan pada Bagus dengan menangis tersedu-sedu, memohon agar tidak pergi. Hanya saja, rasa gengsi masih mendominasi karena menyadari bahwa pria di hadapannya tersebut sama sekali tidak memiliki perasaan yang sama, yaitu mencintainya.


'Pergi? Bagus pergi jauh dan mungkin kami tidak akan pernah bertemu kembali. Apa yang harus kulakukan? Bahkan meskipun aku berlutut di kakinya dan memohon agar tidak meninggalkan kota ini, tidak akan diperdulikan oleh Bagus.'


Amira Tan masih berusaha untuk menahan diri, agar tidak mengungkapkan permohonan, agar Bagus tetap tinggal di kota yang sama dengannya.


"Kalau begitu, nanti kau kirimkan saja alamat kampungmu. Aku akan mengirimkannya padamu lewat paket kilat. Namun, sebelum pergi, aku ingin tahu sesuatu dan jawab dengan jujur."


Bagus yang merasa lega karena untuk kesekian kali, Amira Tan mau membantu pria miskin sepertinya, berniat untuk bangkit dan berpamitan setelah mengucapkan terima kasih.


Akan tetapi, ketika mendapatkan pertanyaan yang belum disebutkan dengan meminta jawaban jujur, sudah bisa ditebak olehnya, jika Amira Tan akan bertanya sesuatu yang berhubungan dengan Putri.


Benar saja apa yang ada di otak saat ini karena Amira Tan menatapnya dengan tajam dan sudah mengungkapkan pertanyaan.

__ADS_1


"Apakah Putri tadi marah dan mengusirmu?" Hanya itu yang terpikirkan oleh Amira Tan begitu mendengar kabar buruk yang membuatnya ingin sekali menampar dan menarik rambut Bagus.


Pria yang kembali membuatnya terluka, tapi tak terlihat. 'Kenapa rasanya sesakit ini memendam cinta yang bertepuk sebelah tangan.'


'Apakah ini yang dirasakan oleh Jack? Patah hati ternyata sangat sakit,' gumam Amira Tan yang masih berusaha untuk menormalkan degup jantung yang tidak beraturan dan masih sangat sesak untuk bernapas dan mengambil pasokan oksigen.


Amira Tan menganggap jika Bagus sangat jahat dan kejam, tetapi di saat bersamaan menyadari bahwa melakukan hal yang sama pada Jack. Pria yang dari tadi hanya diam seperti seorang penonton.


Akhirnya Bagus menganggukkan kepala untuk membenarkan pemikiran Amira Tan. "Saat aku sudah tidak ada di Jakarta, sebaiknya sesekali kamu mengunjungi Putri."


"Biar bagaimanapun, darah lebih kental dari pada air. Hubungan kalian tidak bisa diputus begitu saja oleh apapun. Sekali lagi, terima kasih atas semua kebaikanmu pada kami." Bagus mengulurkan tangan dan menunggu sambutan dari Amira Tan.


Sedangkan Amira Tan hanya tertawa miris melihat tangan yang menggantung di udara tepat di hadapan. "Terima kasih? Apakah kamu menganggap semua sudah selesai setelah aku menyambut uluran tangan ini?"


"Sampai kapan pun, hubungan di antara kita tidak akan pernah selesai, Amira Tan. Apalagi kamu adalah tante dari putra-putriku. Mungkin suatu saat nanti kita akan bertemu lagi. Jika kamu menikah nanti, bisa mengundangku. Pastinya, aku akan datang bersama anak-anakku."


Kemudian Bagus kini menurunkan tangan yang menggantung di udara.


"Aku pergi. Jaga dirimu baik-baik, Amira Tan." Bagus beralih menatap ke arah Jack yang dari tadi hanya diam saja.


Kemudian melakukan hal yang sama dan berharap kali ini mendapatkan sambutan. "Tolong jaga Amira Tan dan bahagiakan wanita baik ini. Jangan lupakan aku saat kalian menikah nanti."


Jack kali ini memilih bangkit berdiri menyamakan posisi dengan Bagus. Ia kemudian menyambut tangan yang menggantung di udara tersebut.


"Terima kasih. Tentu sajak aku akan menjaga Amira Tan. Jadi, jangan khawatir dan berhati-hatilah saat perjalanan pulang kampung."


Bagus pun menganggukkan kepala setelah melepaskan tangan Jack. Kemudian ia berbalik badan dan melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah pintu keluar.


Ada yang dirasakan ketika terbebas dari semua rasa yang membuncah dalam hati. Bagus sangat terbebani dengan perasaan cinta yang dimiliki oleh Amira Tan padanya.


Jadi, hari ini merasa sangat lega setelah mengungkapkan bahwa ia akan pergi dari hadapan dua wanita yang meninggalkan jejak kenangan untuk hidupnya.


'Aku akan memulai hidup baru tanpa Putri dan Amira Tan. Dua bersaudara itu memiliki tempat berbeda di hatiku. Mungkin aku tidak akan pernah bisa melupakan kalian.'

__ADS_1


Berbagai macam perasaan yang berkecamuk dirasakan oleh Bagus ketika memutuskan untuk meninggalkan kota penuh dengan sejuta kenangan.


"Selamat tinggal kota sejuta kenangan." Bagus hanya berbicara dengan sangat lirih dan tidak bisa didengar oleh orang lain.


Ia pun masuk ke dalam taksi dan matematikanya meninggalkan area restoran.


Sementara itu di dalam restoran, Amira Tan tidak berkedip menatap bahu lebar Bagus yang sudah menghilang di balik dinding restoran. Ia masih mencoba untuk menguatkan hati di depan Jack.


Jadi, ia kini memilih untuk bersikap seperti tidak terjadi apapun dan kembali melanjutkan makan. Bahkan ia sedang mengunyah satu sendok makanan dalam mulutnya.


Hingga kesusahan untuk mengunyah karena terlalu banyak makanan di mulut. Pelarian agar tidak menangis, hanyalah dengan makan. Namun, ia semakin bertambah rapuh ketika tiba-tiba merasakan karena dengan buku-buku kuat merengkuhnya dalam pelukan.


Jack bisa mengerti apa yang saat ini dirasakan oleh Amira Tan, sehingga tidak membuang waktu untuk menghibur.


Mencoba untuk menyalurkan aura positif pada wanita itu dengan cara memeluk erat tubuh ramping di sebelah kirinya. "Tidak perlu berakting sok kuat dan tegar di hadapanku, Amira Tan."


"Menangislah sepuasnya di sini." Jack menepuk dada dan menyatakan bahwa ia siap untuk menjadi sandaran dari wanita yang saat ini hancur berkeping-keping karena patah hati.


Ditinggalkan oleh pria yang tidak menerima perasaan cinta yang dimiliki, sangat dimengerti oleh Jack seperti apa rasanya.


Sedangkan Amira Tan masih diam membisu dan sama sekali tidak menolak perbuatan Jack.


'Aku tidak akan menangis,' gumam Amira Tan di dalam hati dan berusaha untuk kuat.


Namun, itu hanya berlangsung beberapa menit saja karena kini bulir air mata sudah menganak sungai di bibir putih Amira Tan.


"Kenapa air mata ini lolos tanpa seizinku, Jack."


"Itu adalah ungkapan perasaan yang akan membuatmu terobati, Amira Tan. Jadi, biarkan keluar dan jangan menahannya. Semua akan baik-baik saja dan kamu tidak akan terluka lagi."


Jack saat ini mengusap lengan Amira Tan untuk menenangkan perasaan wanita yang sudah menangis hingga tubuhnya bergetar di pelukannya.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2