Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Hukum tabur tuai


__ADS_3

Saat ini, Arya tertawa miris begitu mendengar perkataan dari orang tuanya yang dianggap sangat tidak berperasaan dan menegaskan bahwa kekhawatiran Putri beberapa saat lalu benar terjadi. Ia bahkan saat ini menatap ke arah orang tuanya dan bertepuk tangan.


"Kalian benar-benar sangat hebat karena bisa berbicara setenang itu tanpa memikirkan bagaimana perasaan seorang ibu yang telah bersusah payah membesarkan putranya sendiri tanpa ada sokongan dari suami maupun mertua yang Bahkan memiliki banyak uang." Arya bisa ngajakin jika putri adalah seorang wanita yang baik.


Meskipun ia saat ini masih belum bisa mengingat semua masa lalunya, tapi karena mengetahui bahwa Putri sama sekali tidak menuntut hak dan kewajiban seorang ayah pada putranya, sehingga berpikir bahwa mantan istrinya tersebut jauh lebih baik dari orang tuanya.


Ia bahkan mengungkapkan segala pemikirannya tersebut agar orang tuanya sadar. "Kalian bahkan tidak jauh lebih baik dari wanita yang kalian sebut murahan. Dia sama sekali tidak menuntut kewajibanku sebagai seorang ayah melangkahi anak. Padahal mengetahui bahwa hasil tes DNA tersebut hanyalah sebuah kepalsuan belaka."


Arya bahkan saat ini merasa jika dirinya sangat tidak pantas berhadapan dengan Putri setelah melihat orang tuanya bahkan mempunyai pikiran untuk merebut cucu yang sama sekali tidak diakui beberapa tahun silam hingga memalsukan tes DNA.

__ADS_1


"Jika kalian berani melaksanakan rencana jahat dengan memisahkan seorang ibu dari anaknya, Aku tidak akan pernah menganggap kalian orang tuaku lagi dan akan pergi." Arya bahkan saat ini berpikir tidak akan pernah kembali pada orang tuanya jika sampai kembali menyakiti hati seorang wanita yang membuatnya bergetar.


Sampai pada akhirnya ia mendengar suara sang ibu yang masih tidak menyadari telah berbuat salah.


"Arya, kamu adalah ayah biologis dari Xander dan itu adalah faktanya. Jadi, bukankah sangat wajar jika kami menginginkan keturunan keluarga Mahesa? Ya, memang dulu perbuatan Mama sangat buruk, tapi semua itu demi kamu juga agar tidak mendapatkan hinaan dari semua orang karena menikah dengan wanita bersuami."


"Sudah, cukup! Mama berarti memilih untuk aku pergi meninggalkan kalian!" Arya saat ini benar-benar sangat putus asa karena gagal menyadarkan orang tuanya dari kesalahan yang diperbuat pada Putri dan putranya.


Tanpa berniat untuk memungut ponsel miliknya yang sudah bernasib nahas, kini ia melangkahkan kaki panjangnya meninggalkan orang tuanya. Bahkan ia saat ini merasa kepalanya berdenyut hebat kala sang ibu memanggil-manggil.

__ADS_1


"Berhenti, Arya! Mama belum selesai bicara!" Rani saat ini menatap ke arah sang suami yang dari tadi bahkan hanya diam saja. "Sayang, cepat hentikan putra kita!"


Refleks Ari Mahesa menggelengkan kepalanya karena saat mendengar kemurkaan putranya tadi, seolah membuatnya tersadar dari kesalahannya di masa lalu.


Bahkan sampai putranya tidak punya anak meskipun sudah menikah dengan Calista—menantu yang selama ini diidamkan. "Apa yang dibilang Arya benar. Bukankah kita tidak punya malu jika merebut Xander setelah dulu tidak mengakuinya?"


"Sepertinya kita sekarang mendapat karma dari perbuatan di masa lalu yang menjahati Putri dan Xander. Hukum tabur tuai kini dirasakan keluarga kita sekarang," ucap Ari Mahesa yang saat ini tengah menatap ke arah sang istri.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2