
Bambang Priambodo kini telah berada di ruangan kerja putranya. Ia yang sudah lama tidak memasuki ruangan luas dengan dipenuhi beberapa buku yang dibelinya dulu setiap kali melakukan perjalanan bisnis, baik lokal maupun luar negeri.
Ia berharap putranya mau membaca agar menghabiskan waktu di ruang kerja dan tidak terus-menerus mengarah pada hal-hal negatif. Berharap jika suatu hari nanti harapannya akan terwujud dan putranya memilih menyibukkan diri dengan hal-hal positif, seperti banyak membaca buku-buku yang berisi dunia bisnis.
Ia bahkan bisa menjadi sukses sampai sekarang ini adalah karena dari semenjak muda suka membaca buku-buku tentang informasi mengenai dunia bisnis, sehingga sedikit demi sedikit menerapkannya ketika membuka usaha mulai dari nol dan bisa sukses hingga sekarang.
Kini, ia kita akan berjalan menyusuri rak berisi buku-buku yang masih tersimpan rapi dan beberapa tersegel karena belum dibuka. Dengan gerakan tangannya yang menyentuh satu persatu buku yang merupakan jendela dunia tersebut, ia terdiam ketika berhenti pada satu buku dan langsung mengambilnya.
"Ternyata ini masih di sini," ucapnya sambil tersenyum simpul dan membawa buku tersebut untuk dilihat karena sudah lama tidak membukanya.
Hingga ia pun kini mulai mulai membuka buku favorit sang istri karena memang semuanya berawal dari sana. Ia dan sang istri dulu merupakan orang yang gemar membaca dan bertemu pertama kali juga di perpustakaan saat kuliah.
Setiap hari bahkan selalu meluangkan waktu istirahat untuk pergi ke perpustakaan daripada ke kantin. Jadi, menganggap bahwa perpustakaan adalah rumah kedua bagi mereka. Hingga akhirnya berjodoh dan memutuskan untuk menikah.
Meskipun pada akhirnya sang istri pergi duluan meninggalkan darah dagingnya, sampai ia cukup lama terpuruk karena sangat mencintai wanita yang bisa mengerti dirinya.
Hingga memutuskan untuk hidup sendiri selama bertahun-tahun sampai sekarang karena masih mencintai sang istri. Saat berharap besar pada satu-satunya keturunan, malah berakhir buruk dan seperti tidak mempunyai sebuah harapan.
"Sayang, apa kamu melihat dari surga sana jika putramu saat ini sedang terpuruk dalam lembah hitam? Apa yang harus kulakukan untuk merubah putra kita agar kembali ke jalan yang benar?" lirih Bambang Priambodo yang saat ini tengah mengingat perkataan dari menantu kesayangannya.
"Bahkan Aldiano bisa saja langsung mengiyakan perkataan dari Putri tadi karena bukan dia yang meminta untuk bercerai. Bahkan aku dulu hanya mengancamnya jika sampai berani menceraikan Putri, tidak akan memberikan satu peser pun uang padanya." Ia berpikir jika Putri yang meminta bercerai, ancamannya tidak berlaku.
"Apa putraku tidak tahu itu? Apa dia sebodoh itu? Atau itu adalah sebuah hal yang merupakan alasan semata agar tidak bercerai dengan Putri? Aku bahkan sangat berharap jika itu yang terjadi karena jika benar, bukankah ada sedikit harapan?" Saat berpikir bahwa ada kemungkinan putranya kini memiliki sedikit perasaan pada Putri, sehingga membuat Aldiano tidak setuju bercerai.
Ia bahkan saat ini tersenyum simpul karena merasa dibuai oleh harapan. Meskipun menyadari jika itu belum tentu benar dan masih perlu dibuktikan dengan mencermati perbuatan putranya.
"Aku harus mencari tahu itu, tapi bagaimana caranya?" Ia saat ini tengah memutar otak untuk mencari sebuah ide di kepalanya agar menemukan cara untuk mencari tahu jika pemikirannya benar.
Bahwa putranya memiliki sedikit perasaan pada Putri dan membuatnya tidak mau berpisah dengan alasan takut padanya. Namun, selama berpikir beberapa saat lamanya, tetap tidak menemukan sebuah ide.
"Otakku sekarang sangat tumpul dalam masalah asmara karena sudah lama merasakannya. Aku harus meminta saran orang lain yang mungkin lebih berpengalaman," ucapnya sambil menatap ke arah buku di atas meja.
Buku jenis novel yang merupakan favorit dari istrinya, memang sengaja disimpan di ruang kerja putranya agar jika merindukan sang ibu, mau membacanya.
Namun, yang terjadi adalah sebaliknya karena malah putranya tidak pernah membuka buku tersebut. Malah yang terjadi melampiaskan dengan hal-hal negatif dan berakhir terjerumus ke lembah kenistaan hingga sekarang.
Ia saat ini mengembuskan napas kasar dan beralih mengambil ponsel di tangan dan mencari beberapa nama orang yang dianggap mengerti mengenai asmara kaum dewasa.
"Siapa kira-kira orang yang sepantaran dengan putraku? Aku sekarang baru menyadari jika ponselku dipenuhi oleh para orang tua sepertiku karena rekan bisnis kebanyakan sepantaran denganku," ucapnya dengan suara lirih sambil terus memeriksa daftar kontak.
Hingga ia menemukan satu kontak yang merupakan staf terbaik di perusahaan yang berusia masih cukup muda dan mungkin sepantaran dengan putranya.
"Mungkin dia bisa membantu!" ucapnya dengan tidak membuang waktu karena langsung memecah tombol panggil.
__ADS_1
Selama beberapa saat menunggu, panggilan telepon tidak langsung dijawab dan terputus setelah waktu jeda habis. Hingga ia menyadari jika saat ini waktu sudah menunjukkan tengah malam.
"Pasti sudah tidur. Besok sajak aku bertanya secara langsung padanya agar menemuiku di kantor." Ia saat ini untuk ke kamar karena sudah sangat lelah, tapi ketika baru saja bangkit dari kursi, melihat putranya yang saat ini tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu.
"Pa!" Aldiano yang tadinya ingin tidur karena merasa sangat lelah, tidak bisa melakukannya ketika mendapatkan telepon dari beberapa temannya.
Bahwa ada berita viral di media sosial mengenai wanita yang baru saja diperkenalkan ke publik sebagai istrinya. Ia pun akhirnya ingin memberitahu sang ayah apakah sudah mengetahui berita tersebut.
"Ada apa? Papa kira kamu sudah tidur." Bambang Priambodo perjalanan menuju ke arah rak buku dan mengembalikan yang tadi diambil di tempat semula.
Ia mengerutkan kening ketika menoleh saat menatap wajah putranya. "Kau seperti baru saja melihat hantu saja."
"Sepertinya Papa tidak tahu rupanya." Ia seketika menunjukkan sebuah artikel mengenai tentang Putri. "Papa baca sekarang." Kemudian menyerahkan ponselnya yang langsung diterima oleh sang ayah dan terlihat serius membaca.
Sementara itu, Bambang Priambodo saat ini seketika mengepalkan tangan kanan begitu mengetahui ada yang menyerang perusahaan dengan memanfaatkan masa lalu menantunya.
"Pasti yang melakukan ini adalah saingan yang iri padaku. Jadi, begitu tadi memperkenalkan Putri, langsung mencari tahu jati dirinya dan menemukan masa lalu kelam yang akhirnya dimanfaatkan." Ia beralih menatap ke arah Aldiano.
"Apa kau ingat jika Putri meminta bercerai denganmu? Ia melakukannya karena khawatir terjadi hal seperti ini. Apa Putri saat ini sudah tidur?"
"Aku ingin tahu siapa saja yang mengetahui jika ia adalah menantu dari keluarga Ari Mahesa karena itu lebih penting untuk mencari tahu dalang di balik semua ini." Ia kini bisa melihat sekilas raut wajah kebingungan dari putranya yang tidak bisa menjawab pertanyaannya barusan.
Aldiano hanya mengendikkan bahu untuk menanggapi kalimat terakhir. Ia yang merasa jika Putri sangatlah menyebalkan karena mengatakan hal yang terjadi di dalam mobil tadi dan membuat sang ayah akhirnya mengetahuinya.
"Dasar wanita menyebalkan! Kenapa tetap saja mengatakan pada papa? Bukankah aku sudah bilang untuk tidak perlu mengatakannya karena sedang menyusun rencana dan menunggu waktu yang pas. Ternyata dia tetap melakukannya dan papa tahu." Dengan raut wajah kesal memikirkan wanita yang berstatus sebagai istrinya tersebut, kini ia keluar dari ruangan kerja dan mengikuti sang ayah yang telah menghilang di balik pintu.
Ia saat ini merasa yakin jika Putri sudah tertidur. "Seharusnya Papa tidak memberitahu siapapun tentang wanita itu. Apalagi sampai memperkenalkan pada media dan sekarang jadi seperti ini, kan?" Saat nada protes yang baru saja diungkapkan sama sekali tidak diperdulikan oleh sang ayah, di saat bersamaan pintu terbuka.
Terlihat Putri yang saat ini mengenakan piyama dan mengerjapkan mata serta merasa kehilangan karena ada dua pria di depan ruangan kamar. "Papa? Ada apa?"
Ia saat ini merasa ada sesuatu yang tidak beres karena setelah kejadian penusukan Jack, semua media meliput dan juga para polisi datang. Hal yang paling dikhawatirkan adalah jati dirinya diketahui oleh media.
Saat pikirannya bertanya-tanya tentang hal yang berhubungan dengan masa lalu, ia kini menerima ponsel yang diberikan padanya.
"Bacalah sebentar karena aku ingin memastikan sesuatu," sahut Bambang Priambodo yang masih bersikap tenang dan tidak kebingungan seperti putranya.
Meskipun memiliki resiko jika saham perusahaannya akan anjlok dan menimbulkan kerugian yang cukup besar hanya gara-gara skandal masa lalu dari menantunya tersebut.
Putri yang tadinya langsung membaca artikel di salah satu media sosial mengenai dirinya karena ada fotonya di sana, seketika dadanya bergemuruh hebat dan membekap mulut dengan mata berkaca-kaca.
"Pa, ini yang sangat aku takutkan. Aku tidak ingin membuat perusahaan Papa dalam masalah. Jadi, lebih baik aku pergi dari sini dan katakan pada awak media jika kalian juga merupakan korbanku."
"Aku menipu kalian sebagai seorang wanita baik-baik, sehingga berhasil menjadi menantu di keluarga ini." Bahkan ia saat ini beralih menatap ke arah Aldiano yang kesal padanya. "Ceraikan saja aku sekarang! Sekarang Anda bisa bebas dan tidak perlu pusing dengan kehadiranku."
__ADS_1
Aldiano yang tadinya mau merah wajahnya karena kesal dengan berita yang dibicarakan oleh temannya mengenai masa lalu Putri, entah mengapa kini terdiam karena melihat raut wajah tidak biasa itu.
Ia yang merasa bingung untuk berkomentar, akhirnya menoleh ke arah sang ayah ketika menjawab. "Di sini yang berhak mengambil keputusan adalah Papa, bukan aku. Bagaimana, Pa?"
Dalam hati ia merasa bingung dengan apa yang saat ini dirasakan. Entah mengapa saat melihat ekspresi wajah Putri yang terlihat sangat tulus.
Terlihat mengkhawatirkan nama baik keluarganya dan bukan karena ingin kabur dari masalah yang bukan merupakan kesalahannya, ia merasa di dalam hati ada yang aneh.
Selama ini ia sangat membenci para wanita yang bisanya hanya suka mencari keuntungan dengan memanfaatkan kecantikan untuk bisa mendapatkan uang dan juga menjual tubuh pada pria kaya.
Namun, di depannya saat ini terlihat hanyalah seorang wanita yang sudah menyesali perbuatan di masa lalu, hingga menjadi orang yang baik dan tulus.
'Apa ini yang sering di sebut cobaan orang-orang baik ketika kembali ke jalan yang benar tidaklah mudah? Putri yang selama ini menutup diri dan berusaha untuk menjadi wanita yang baik, ini kembali mendapatkan masalah saat ada yang mengorek masa lalu kelamnya,' gumam Aldiano yang saat ini berpikir jika posisinya sama seperti Putri.
Ia sebenarnya sangat tahu jika yang dilakukan salah, tapi salah satu alasan untuk terus berada dalam lembah kenistaan tersebut karena takut jika ada yang mengorek masa lalu kelamnya jika kembali ke jalan yang benar.
Sejarang ia melihat sendiri bagaimana seorang pendosa yang berniat untuk istiqomah di jalan Tuhan, kembali mendapatkan batu kerikil tajam di sepanjang langkah.
'Mungkin jika aku yang mengalaminya, akan langsung kembali ke jalan penuh dosa karena hujatan banyak orang jauh lebih menyakitkan dan berakhir mengganggu mental serta berakibat mengakhiri hidup seperti yang dilakukan oleh para artis ketika tertekan.' Berpikir jika Putri adalah sosok wanita yang kuat dan tidak mungkin melakukan hal itu, ia sedikit merasa lega.
Jika sampai karena masalah masa lalu diungkit, membuat Putri bunuh diri, tentu saja keluarganya juga mendapatkan masalah serta tidak akan memaafkan diri sendiri karena menjadi penyebab wanita itu mengakhiri hidup setelah dipublikasikan sebagai istrinya.
Lamunan Aldiano seketika buyar begitu mendengar suara bariton sang ayah ketika mengambil keputusan.
"Aku akan menyuruh orang untuk mencari tahu siapa yang mengirimkan artikel ini dan ahli IT akan berusaha untuk menghapus berita ini agar tidak semakin tersebar. Jadi, buang saja pikiranmu itu untuk meninggalkan rumah ini." Ia saat ini menepuk pundak Putri untuk menyalurkan aura positif agar tidak dipenuhi oleh kekhawatiran.
"Aku sudah berkali-kali bilang tadi jika akan selalu melindungimu karena sudah menganggapmu seperti putri kandungku sendiri. Namun, sebelum itu, katakan siapa saja yang mengetahui jika kamu adalah istri dari Arya Mahesa."
"Bukankah tadi kamu bilang jika hanya beberapa orang saja yang mengetahuinya karena identitasmu disembunyikan agar tidak membuat nama baik keluarga Mahesa tercemar karena putranya jatuh cinta dengan wanita bersuami." Ia bahkan saat ini membuka ponsel untuk mencatat nama siapa saja yang disebutkan oleh menantunya.
Putri yang beberapa saat mencoba untuk mengingat siapa saja yang mengetahui, kini mulai menyebutkan satu persatu karena memang tidak banyak yang tahu selain kerabat serta keluarga terdekat.
"Mantan suamiku tidak mungkin melakukannya karena saat ini berada di desa dan akan menikah. Sementara, keluarga saudara tiriku juga tidak mungkin karena hanya fokus pada penusukan Jack. Ada kemungkinan jika pihak luar yang mengatakannya pada wartawan, seperti keluarga Calista."
Putri saat ini berpikir jika Calista sangat marah begitu melihatnya tadi di pesta dan akhirnya memilih meluapkannya dengan mabuk-mabukan. Hingga pulang dengan mengemudi sendiri dan akhirnya mengalami kemalangan.
"Mungkinkah orang tuanya mau balas dendam atas kematian putrinya karena gara-gara aku?" Putri memang dari tadi merasa bersalah setelah mengetahui kematian Calista.
Apalagi saat melihat sikap tidak peduli Arya, tapi malah seperti tertarik padanya ketika berada di pesta, sehingga membuatnya makin bersalah.
"Aku adalah wanita pembawa sial untuk semua orang. Jadi, lebih baik aku pergi dan tidak berhubungan dengan siapapun agar tidak ada yang terkena imbasnya." Putri sama sekali tidak peduli dengan nama baiknya sudah tercemar ketika menjadi seorang wanita yang bertobat.
Ia saat ini hanya mempedulikan nama baik dari keluarga mertuanya yang tentu saja mempertaruhkan semuanya dan jika hancur, tentu saja tidak akan bisa memaafkan diri sendiri.
__ADS_1
Kini, ia memilih masuk ke dalam dan berniat untuk berkemas agar bisa segera meninggalkan rumah keluarga Priambodo.
To be continued...