
"Sebenarnya ini jauh lebih baik karena Arya tidak akan mengingat wanita itu dan kalian bisa membuka lembaran baru. Jadi, Anggap saja kamu pertama kali mengenalnya dan berusaha untuk membuat putraku kembali jatuh cinta padamu. Aku yakin bahwa itu merupakan hal yang mudah untukmu, Calista."
Sementara itu, Calista yang dari tadi merasa tidak tenang, kini tidak langsung menjawab karena masih berusaha untuk memikirkan saran dari wanita paruh baya yang masih memeluknya dengan erat.
Entah mengapa sekarang merasa tidak percaya diri untuk bisa mendapatkan Arya lagi. Apalagi sebelum kecelakaan, mengetahui bahwa pria yang sangat dicintainya tersebut ternyata pergi menemui mantan istri yang diceraikan.
Meskipun mereka tidak bertemu, tetap saja mengetahui bahwa Arya menyimpan perasaan dan ada getar-getar di hati yang tersimpan untuk mantan istri.
"Aku masih belum yakin, Ma. Aku hari ini benar-benar merasa sangat shock dengan kenyataan ini. Aku tahu bahwa kalian merasakan hal yang sama sebagai orang tua. Namun, ketakutanku jauh lebih besar karena khawatir jika Arya tidak mau menerimaku."
"Sementara kalian adalah orang tua yang memiliki darah yang sama dan ikatan batin, sedangkan aku hanyalah seorang kekasih yang menjadi cadangan baginya karena sampai sebelum kecelakaan, masih mencintai wanita bernama Putri itu."
Suara Calista saat ini terdengar menyayat hati saat mengungkapkan hal yang selama ini disembunyikan. Jika selama ini selalu percaya diri bisa mendapatkan pria manapun yang diinginkan, tapi sangat berbeda saat Arya kehilangan ingatan.
Keraguan itu berawal dari takdir yang mempermainkan mereka dan seperti meninggalkan jejak trauma di dalam diri Calista saat diempaskan oleh kenyataan buruk hari ini.
"Jangan putus asa dan menyerah seperti itu, Calista. Kamu bahkan belum berjuang setelah putra kami amnesia. Jika kau berhenti saat Arya sudah sadar seperti ini, perjuanganmu selama ini akan sia-sia dan tidak ada artinya. Aku bisa mengerti dan memahami apa yang kamu rasakan, tapi ingatlah satu hal bahwa kami sangat mendukungmu untuk menjadi istri Arya."
"Jika kamu menyerah setelah berusaha dan gagal untuk mendapatkan Arya, kami bisa memaklumi dan tidak akan memaksamu lagi," ucap Ari Mahesa yang mencoba untuk memberikan suntikan semangat pada calon menantu idaman.
__ADS_1
Berharap dengan menjelaskan panjang lebar semua hal, wanita dengan wajah murung tersebut tetap bersemangat seperti saat pertama kali mengejar Arya.
"Aku tahu itu, tapi sangat takut dihempaskan oleh kenyataan," lirih Calista yang menjawab dengan tatapan masih mengarah pada satu titik, yaitu sosok pria yang sangat dicintai sampai sekarang.
Rani yang masih belum melepaskan pelukan, saat ini mendapatkan ide di kepala dan mencoba untuk mengungkapkan untuk mendengar tanggapan dari sang suami.
"Bagaimana jika kita mengatakan kepada Arya bahwa kalian sudah bertunangan dan sebentar lagi menikah? Maksudku, sudah ditentukan tanggal pernikahan dan diurus oleh wedding organizer."
Calista yang sama sekali tidak pernah berpikiran untuk membohongi Arya dengan hal seperti yang diungkapkan oleh wanita paruh baya tersebut, seketika membulatkan mata.
Hal yang sama menjadi ekspresi dari Ari Mahesa, tetapi seketika berbinar begitu memikirkan bahwa ide dari sang istri sangat brilian dan akan menyelesaikan beberapa masalah.
Rani saat ini membenarkan apa yang dikatakan oleh sang suami dan refleks mengingat pada saudara perempuan Putri yang dulu datang dengan mengatakan hal buruk.
"Aku sangat yakin jika saudara tiri Putri yang mengurus semuanya. Jadi, suruh Jack untuk menemui wanita arogan itu dan mengurus perceraian, sehingga Arya bisa langsung menikah dengan Calista."
Kemudian Rani beralih menatap ke arah Calista setelah mengungkapkan pendapat. "Bagaimana, Sayang? Apakah kamu menyetujui rencanaku untuk menikah dengan Arya secepat mungkin? Lalu bagaimana dengan orang tuamu nanti yang sepertinya tidak merestui?
Tentu saja saat ini, wajah Calista tampak berbinar dan mengetahui bahwa ide dari calon ibu mertua tersebut sangat brilian dan bisa menyelesaikan semua kekhawatiran yang sempat terlintas di pikiran.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang karena memang hal itulah yang dari dulu diinginkan oleh Calista, sehingga langsung menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan.
"Aku akan mengurus orang tuaku karena mereka tetap menuruti apapun yang diinginkan putrinya. Jadi, kalian tidak perlu khawatir dan anggap semua masalah selesai. Aku hari ini benar-benar seperti naik roller coaster karena banyak hal yang membuat jantungku seolah jungkir balik."
Refleks Rani tertawa mendengar kalimat terakhir dari calon menantu perempuan idaman yang selama ini diinginkan. "Aku bisa mengerti apa yang kau rasakan, Calista."
Kemudian Rani beralih menatap ke arah sang suami. "Sekarang urus semuanya dan saat Arya keluar dari rumah sakit, bisa secepatnya menikah. Aku ingin putraku membuka lembaran baru dengan hidup bersama Calista sebagai keluarga bahagia."
Ari Mahesa seketika menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan dan langsung meraih ponsel yang berada di saku celana untuk menghubungi pengacara keluarga, agar besok menemui saudara tiri Putri.
Sementara itu, Calista beralih menatap ke arah pria dengan kelopak mata tertutup di atas ranjang tersebut. "Aku sangat berharap kita akan menjadi keluarga bahagia, Arya."
Rani mengusap punggung Calista dan tersenyum simpul. "Aku sangat yakin jika itu akan terjadi, Sayang."
"Terima kasih, Ma karena sudah mendukung hubungan kami dan mau menjadikan aku menantu perempuan di keluarga Mahesa," sahut Calista yang saat ini mencari sebuah ketenangan dengan cara memeluk erat wanita paruh baya yang sudah dianggap seperti ibu kandung sendiri.
Merasa bahwa dunianya yang penuh kesedihan hari ini seketika berubah menjadi dikelilingi oleh kebahagiaan karena sebentar lagi impiannya akan terwujud. Menyandang status sebagai istri Arya Mahesa merupakan impian besar Calista dari dulu.
'Akhirnya impianku untuk bisa menjadi istri Arya menjadi kenyataan dan aku berharap kami akan hidup berbahagia selamanya,' gumam Calista yang masih tidak berkedip menatap sosok pria yang sangat dicintai tersebut.
__ADS_1
To be continued...