
Noah hanya menatap sekilas pada Amira Tan yang berdiri di dekat sang ayah. Bahkan sangat mengerti arti tatapan dari Amira Tan saat ini yang menjelaskan jika tidak boleh mengatakan tentang sesuatu hal yang terjadi di antara mereka.
'Ia pasti sangat takut jika aku mengatakan pada orang tuanya karena berpikir akan langsung disuruh menikah. Pasti merasa kalau aku hanyalah pria yang tidak pantas untuk menjadi suami. Jadi tadi langsung menyuruhku untuk melupakan hal yang terjadi di antara kami.'
'Jangan khawatir, Amira Tan. Aku akan mengikuti apapun yang kamu inginkan. Jika saat di terminal tadi aku merasa juga berhak mendapatkan cintamu, tapi sekarang tidak lagi setelah melihat istana ini. Kamu terlalu tinggi untuk direngkuh. Aku bagaikan pungguk merindukan bulan,' lirih Noah di dalam hati dan mulai berdehem sejenak setelah mendengar perintah dari pria paruh baya tersebut.
Bahkan Noah menegakkan tubuh ketika mengatakan hal yang sudah disusun sebaik mungkin saat berjalan masuk ke dalam rumah yang bahkan besarnya sepuluh kali lipat dari rumah orang tua yang berada di kampung.
"Jadi, semalam ada pesta di tempat sepupu saya. Beberapa saudara dekat datang, termasuk saya, serta teman-teman sepupu. Saat masih awal, acara ulang tahun biasa saja. Namun, setelah malam hari, ketika para tamu undangan pulang, hanya tinggal beberapa teman baik sepupu yang berada di di sana."
"Merasa sangat bosan dengan acara yang biasa, sepupu menyuruh saya untuk menjadikan kamar pribadi seperti sebuah Club. Jadi, ada musik DJ, camilan dan juga wine. Akhirnya empat orang teman sepupu, termasuk Amira menghabiskan malam dengan minum wine sampai mabuk."
"Itulah yang membuat Amira pusing dan sepupu saya yang merasa bersalah karena mempunyai ide seperti itu, menyuruh mengantar pulang karena memang semalam tidur di sana."
Panjang lebar mengungkapkan sebuah kebohongan dan menjadi orang lain, Noah saat ini bangkit berdiri dari sofa. Kemudian membungkukkan badan.
"Saya mewakili sepupu meminta maaf karena telah membuat putri Paman seperti ini. Semua ini karena memang di rumah hanya ada pelayan karena orang tua ada di luar negeri dalam perjalanan bisnis. Saya berharap Anda tidak memarahi Amira Tan yang sama sekali tidak bersalah."
Ingin sekali Noah segera meninggalkan tempat yang serasa mencekik karena sangat tidak nyaman. Seperti bernapas saja sangat susah di istana megah itu yang menjadikannya seperti sebutir pasir tak terlihat di antara kilauan batu permata.
Amira Tan yang masih berdiri di sebelah sang ayah, beberapa kali mengerjapkan mata karena sama sekali tidak pernah menyangka jika Noah bisa mengarang sebuah cerita kepalsuan yang benar-benar sangat sempurna.
__ADS_1
Seolah tanpa cela karena tidak terlihat seperti seorang pembohong. 'Wah ... aku sama sekali tidak pernah menyangka jika Noah sangat cerdas dalam mengarang sebuah kebohongan. Papa pasti mempercayai semua perkataannya.'
Saat Amira Tan baru selesai mengungkapkan tentang apa yang dirasakan, mendengar suara bariton dari pria di sebelah kiri. "Kenapa tidak langsung mengatakan pada Papa tadi ketika berada di luar kompleks perumahan?"
"Kalau sudah begini, Papa seperti tidak punya muka di depan pria muda ini." Edi kini bangkit berdiri dan berjalan mendekati pria muda yang dianggap sangat sopan dan santun tersebut.
Kemudian menepuk pundak kokoh di hadapan. "Terima kasih telah mengantarkan putriku pulang dengan selamat sampai di rumah. Aku juga minta maaf karena sempat berpikir sesuatu yang buruk tentangmu."
Noah yang kini bernapas lega karena aksi untuk mengelabuhi pria paruh baya tersebut telah sukses. Hanya seulas senyum terbit dari bibirnya saat ini.
"Tidak apa-apa, Paman. Saya sangat mengerti bahwa semua yang Anda tunjukkan adalah sebuah kasih sayang seorang ayah pada putri satu-satunya yang sangat dibanggakan."
"Kau benar. Aku sangat bangga pada putriku, tapi juga khawatir karena di usianya yang sudah matang, belum menemukan jodoh. Entah seperti apa sosok pria yang sedang ditunggunya, tapi berharap segera menikah dalam waktu dekat. Oh ya, sekarang kau bekerja di mana?"
Saat mendapatkan pertanyaan tiba-tiba yang tidak pernah terpikirkan dan belum tahu jawaban apa yang harus diungkapkan karena tidak tahu nama-nama perusahaan besar.
'Tidak mungkin aku mengatakan bekerja di Club malam dan baru dipecat gara-gara ulah Amira Tan.'
Merasa harus berbicara yang sebenarnya dari pada salah berbicara, Noah kini membuka suara, "Saya baru dipecat karena ulah teman yang tidak tahu diri, Paman."
Tanpa menatap ekspresi Amira Tan karena sudah bisa menebak jika wanita itu pasti sangat kesal. 'Pasti nanti aku akan mendapatkan pukulan lagi saat di kantor.'
__ADS_1
Saat Noah sibuk bergumam, langsung menaikkan pandangan ketika mendengar tanggapan dari pria yang masih berdiri di hadapan.
"Kalau begitu, bekerja saja di kantor Amira Tan karena memang sedang membutuhkan orang." Edi yang memang masih mengingat ketika jam terbang putrinya semakin tinggi, membutuhkan seseorang yang bisa membantu.
Namun, sudah berkali-kali menasihati, tetap tidak didengarkan. Jadi, berpikir jika sekarang adalah saat paling tepat untuk menyuruh, agar mematuhi perintah. Kemudian beralih menatap ke arah putrinya yang dari tadi masih berdiri di di belakang.
"Lebih baik kamu angkat dia menjadi asistenmu saja, agar tidak terlalu lelah mengurus semua. Apalagi semenjak kasus terakhir yang kamu tangani menang, banyak orang besar ingin menggunakan jasamu, Sayang. Sebelum kamu semakin bertambah sibuk, lebih baik ada yang membantu meringankan beban pekerjaanmu."
Amira Tan sama sekali tidak pernah menyangka jika sang ayah yang biasanya merupakan orang sangat susah percaya orang, tanpa bertanya pada Noah mengenai pendidikan terakhir, tetapi langsung menyuruh untuk menjadikan asisten pribadi.
Saat berpikir jika pria itu akan mengisi staf yang membantu para pekerja di kantor, tetapi malah mengeluarkan perintah yang sangat menguntungkan Noah, tapi membuat Amira Tan bertambah pusing karena akan selalu berhadapan dengan pria yang menghabiskan malam panjang penuh gairah.
Namun, karena masalah besar yang dihadapi telah beres, Amira Tan sangat bersyukur dan kini memilih untuk mengulas senyuman pada sang ayah. Kemudian beralih pada Noah.
.
"Hari ini, datanglah ke kantorku pukul delapan." Amira Tan mengambil kartu nama di dalam dompet dan berjalan mendekati Noah, kemudian menyerahkan itu.
"Ini alamat kantorku. Jika nanti aku belum datang, kamu bisa mengatakan pada staf di kantor bahwa aku menerimamu sebagai asisten yang akan membantuku."
Seperti orang bodoh, Noah langsung memasukkan kartu nama tersebut ke saku celana pendek yang dikenakan. "Oke. Aku akan datang tepat waktu. Sebaiknya aku segera pulang untuk bersiap karena ini sudah pukul enam. Aku pamit undur diri, Amira ... Paman"
__ADS_1
"Bukannya kamu tidak membawa kendaraan? Sebaiknya bawa saja mobil Amira. Nanti biar putriku diantar supir saat berangkat kerja. Berikan kunci mobilmu pada Noah!" Edi mengarahkan dagu pada putrinya agar mengantarkan ke depan. Kemudian berbalik badan menuju anak tangga menuju kamar.
To be continued...