Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Akan hidup kesepian


__ADS_3

Beberapa saat lalu, Bambang Priambodo yang tadinya tertidur pulas sambil memeluk bocah laki-laki yang ada di atas ranjang, terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara dari ponsel miliknya yang berbunyi.


Dengan sangat malas ia mengulurkan tangannya untuk mengambil ponsel miliknya di atas nakas. Hingga ia pun yang perlahan membuka mata sambil beberapa kali mengerjakannya karena terasa seperti sangat lengket.


Apalagi ia masih sangat mengantuk dan baru tidur beberapa menit. Berpikir ada kabar penting begitu melihat kontak asisten pribadinya menghubungi di waktu dini hari, refleks menggeser tombol hijau ke atas.


"Halo," ucapnya dengan suara serak pas bangun tidur. "Apa ada kabar penting yang ingin kau sampaikan?"


Saat Bambang Priambodo baru saja menutup mulut karena menguap, kini merasa ada sesuatu hal yang terjadi karena mendengar suara gugup dari pria di seberang telepon.


"Tuan ... semuanya makin memburuk," ucap sang asisten yang saat ini dipenuhi oleh kekhawatiran jika sampai atasannya tersebut mengalami serangan jantung begitu mendengar apa yang baru saja tersebar di media sosial.


Saat ini, Bambang Priambodo merasa yakin jika ada hal yang sangat fatal terjadi dan membuatnya mengambil nafas teratur sebelum ia dikejutkan oleh kabar yang akan dikatakan sang asisten.


"Kali ini kabar apa lagi yang lebih buruk dari tersebarnya rahasia masa lalu menantuku?" Saat ia beberapa saat lalu memutar otak untuk mencari tahu apa yang kira-kira terjadi.


Ia seketika menemukan hal paling buruk selain terbongkarnya masa lalu kelam menantu. 'Apakah rahasia besar putraku terbongkar?' gumamnya yang saat ini masih sibuk menenangkan pikiran serta hatinya.


Bambang Priambodo masih sabar menunggu sampai pria tersebut menjelaskan semuanya dengan detail. Hingga ia seketika bergetar tangannya begitu mendengar suara dari seberang telepon yang membenarkan gumamannya beberapa saat lalu.


"Ada rekaman kekasih dari putra Anda yang mengakui jika mempunyai hubungan gelap terlarang dan saat ini sudah ditonton oleh banyak orang. Saya tadi langsung menyuruh pihak untuk menghapusnya, begitu mengetahuinya." Ia benar-benar merasa tidak enak menjelaskan semua yang terjadi.


Tapi memang harus mengatakan semuanya agar lebih jelas dan mengetahui apa yang harus dilakukan dengan menunggu perintah dari atasannya tersebut.


Ia menghembuskan napas kasar karena saat ini berpikir jika atasannya tersebut benar-benar syok karena hanya terdiam tanpa berkomentar apapun. Padahal ia belum selesai menjelaskan.


Akhirnya ia melanjutkan penjelasannya agar atasannya tidak terkejut dan terbiasa dengan kabar buruk. "Namun, sepertinya ada orang yang sudah menyimpan video itu dan menyebarkannya kembali."


Tangan Bambang Priambodo saat ini gemetar dan ia merasa sesak napas, serta suara tercekat di tenggorokan begitu hal yang selama ini ditutupi dengan sangat rapat agar tidak merajalela di publik, ternyata sudah tersebar luas.


Ia bahkan tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini. Apalagi sekarang berpikir jika mungkin putranya merasa senang karena sudah terbebas dari kekangannya setelah semua orang mengetahui rahasia kelamnya.


"Bos, Anda masih di sana? Anda baik-baik saja, kan?" ucap sang asisten saat ini memastikan jika keadaan bosnya baik-baik saja.


Sementara itu, Bambang Priambodo saat ini masih belum mengeluarkan suara karena sangat lelah saat di usia tua malah banyak mendapatkan masalah.


'Padahal aku ingin istirahat di masa tuaku dan mempercayakan semuanya pada putraku, tapi semuanya hanyalah impian semua karena perusahaan akan hancur jika aku melakukan itu. Sekarang, semuanya bertambah buruk seperti ini.' Ia seolah merasa pasrah dengan apapun yang terjadi kali ini.


'Apa aku biarkan saja semuanya tanpa melakukan apapun dan hancur bersama dengan putraku? Apalagi ini juga merupakan kesalahanku di masa lalu karena membiarkan putraku sendirian dan kekurangan kasih sayang hingga melampiaskannya padahal hal-hal yang negatif.'


Saat sibuk dengan pikirannya sendiri yang berkeluh kesah, tersadar dari lamunan ketika suara bariton dari asistennya beberapa kali memanggilnya.


"Aku masih di sini mendengarkan dan sedang mencari jalan keluar. Suruh pihak IT terus menghapus video yang beredar agar tidak makin tersebar luas. Besok, saat konferensi pers di perusahaan, aku akan memberikan klarifikasi." Meskipun ia belum mempunyai keputusan untuk membuka masa lalu telah putranya atau menutupi.


"Maaf karena harus membuatmu bekerja keras saat bukan jam kerja." Saat ini tidak ada lagi kata lain yang bisa diungkapkan selain mengatakan jika ia merasa bersalah pada asisten karena perbuatan putranya membuat semua orang kesusahan.


Apalagi jika sampai berdampak pada semua staf perusahaan karena nilai saham anjlok, sehingga membuatnya tidak bisa lagi berpikir jernih saat ini.

__ADS_1


"Anda tidak perlu berbicara seperti itu karena ini sudah menjadi tugas saya sebagai asisten. Kalau begitu, saya akan kembali menghubungi pihak IT agar terus menghapus video itu dan semoga tidak ada lagi yang tersisa. Selamat malam, Tuan."


Kemudian sama asisten mematikan sambungan telepon setelah bosnya tersebut mengiyakan karena ia tahu jika perasaan tidak baik-baik saja dan sulit untuk berbicara.


Saat Bambang Priambodo baru saja menaruh ponsel di atas nakas, ia seketika menatap ke arah pintu begitu mendengar suara samar-samar dari putranya dan juga sang menantu.


"Sepertinya mereka sedang mendapatkan video yang beredar." Ia bahkan saat ini seperti tidak punya daya untuk keluar dan memberikan pelajaran pada putranya karena telah membuat malu keluarga serta menghancurkan perusahaan.


Pasrah seolah menjadi pilihannya saat ini karena jujur saja ia benar-benar sangat lelah. Dari dulu tidak pernah berhenti membereskan masalah yang dilakukan oleh putranya. Hingga ia saat ini berpikir jika pasrah adalah jalan terbaik dan ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh putranya untuk membereskan masalah ini atau hanya menontonnya dari jauh.


"Sekarang kau lihat sendiri apa akibat dari semua perbuatanmu. Papa benar-benar sangat lelah. Apakah kau bisa menyelesaikan semua masalah ini sendiri tanpa Papa?" Saat ia menghembuskan napas kasar yang mewakili perasaannya saat ini, kembali indera pendengaran menangkap suara teriakan Putri.


Berpikir jika mungkin putranya memilih untuk kabur agar tidak mendapatkan hukuman darinya, ia kini hanya membiarkan berbuat sesuka hati dan hanya bisa terdiam di atas ranjang karena tidak mungkin bisa tidur nyenyak setelah hari ini.


Saat ia baru saja berniat untuk pergi cuci muka ke kamar mandi, kembali mendengar suara ketukan pintu dan mengetahui jika itu adalah menantunya.


"Pa, Pa! Tolong buka pintunya!" teriak Putri yang saat ini dipenuhi oleh kekhawatiran pada Aldiano yang mengemudi dengan kondisi dipenuhi oleh amarah.


'Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk pada tuan Aldiano,' gumam Putri yang saat ini masih menunggu mertuanya membuka pintu.


"Kenapa lama sekali? Apa Papa masih tidur pulas?" Saat baru saja menutup mulut, beberapa saat kemudian pintu terbuka dan menampilkan mertuanya yang terlihat tidak seperti baru saja terbangun.


"Pa?" Putri merasa ragu untuk menceritakan begitu melihat mertuanya sudah berdiri di hadapannya saat ini. Hingga ia seketika membuka mulut begitu mendengar pria paruh baya tersebut membuka suara.


"Aku sudah tahu semuanya," ucap Bambang Priambodo yang saat ini seperti tidak punya semangat hidup lagi.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Pa? Tuan Aldiano bahkan tadi sudah aku larang pergi, tapi tidak bisa menahannya. Maaf." Ia bahkan benar-benar merasa sangat bersalah karena tidak bisa membantu mertuanya.


Sementara itu, Bambang Priambodo kali ini tersenyum miris karena merasa jika menantunya jauh lebih perhatian dengan kebaikan keluarga serta perusahaan dibanding putranya sendiri.


"Bahkan putraku saja hanya memikirkan diri sendiri, tapi kamu sibuk mengkhawatirkan nama baik kami. Itulah perbedaan signifikan di antara kalian. Biarkan saja Aldiano berbuat sesuka hati karena papa sudah menyerah dan sangat lelah," ucap Bambang yang saat ini tersenyum miris pada nasib keluarganya yang hancur.


Ia saat ini tidak tahu lagi harus bagaimana ketika merasakan jenuh pada apa yang selama ini dijalani.


"Pa, jangan berbicara seperti itu karena biar bagaimanapun, tuan Aldiano adalah putra Anda. Kita akan bersatu untuk menyelesaikan masalah ini karena aku juga ikut bersalah," ucap Putri yang saat ini berniat untuk turun ke publik demi membela nama baik keluarga mertuanya yang tercemar gara-gara masa lalu.


"Besok, aku akan ikut dengan Papa ke perusahaan untuk menjelaskan pada media agar tidak ada yang menyerang nama baik keluarga Priambodo serta perusahaan. Jadi, Papa tidak perlu khawatir karena aku akan ikut bertanggung jawab atas semua masalah yang terjadi."


Saat Putri berniat baik baik untuk membantu, yang dipikirkan Bambang adalah sebaliknya. Ia menganggap jika menantunya tersebut merasa kasihan padanya, sehingga berniat untuk ikut bertanggung jawab saat tidak melakukan kesalahan apapun.


Ia mengingat perkataan putranya jika semua ini terjadi karena keputusannya untuk memperkenalkan Putri pada publik, sehingga menyeretnya dalam masalah besar karena dunianya selama ini dipenuhi oleh iri dengki.


Bahwa ada banyak orang yang ingin menghancurkannya karena iri melihat kesuksesannya. "Aku yang harusnya bertanggung jawab padamu karena menyeretmu dalam lingkaran api ini."


"Lebih baik kamu diam saja dengan tidak melakukan apapun karena akulah yang bertanggung jawab atas semuanya. Benar apa yang dikatakan Aldiano bahwa semua ini bermula karena niatku untuk memperkenalkanmu pada media." Ia tidak menyangka akan menjadi rumit ini.


Berpikir bahwa sebenarnya yang terjadi adalah karena niatnya untuk menutupi skandal putranya dengan memanfaatkan wanita itu, sekarang mendapatkan karma dari perbuatannya.

__ADS_1


"Maaf karena melibatkanmu dalam masalah keluarga kami. Mungkin semuanya tidak akan terjadi jika aku tidak memintamu menikah dengan putraku." Ia melihat putri hendak membantahnya, tapi langsung menggelengkan kepala agar wanita itu diam dan mendengarkannya.


"Tidak, Pa. Semua itu ...." Putri yang tidak sependapat dengan mertuanya, mengungkapkan pemikirannya, tapi tidak bisa melanjutkan perkataannya karena dipotong.


"Dengarkan, Papa! Kamu sama sekali tidak bersalah dalam hal ini dan itulah faktanya. Jadi, Papa tidak akan menyeretmu lagi dalam lingkaran api yang bisa membakar siapapun. Kamu lebih baik diam saja di rumah agar jauh lebih aman." Bambang Priambodo yang saat ini berniat untuk kembali ke kamar, tidak jadi melakukannya karena dipanggil oleh Putri.


"Pa, tunggu!" Putri masih berusaha untuk mengubah pemikiran sang ayah mertua. "Jika aku tidak diizinkan untuk membantu, lebih baik aku pergi dari sini karena merasa tidak berguna berada di rumah ini."


Refleks Bambang seketika dibalik badan dan menatap ke arah menantunya yang sangat keras kepala saat dinasihati. "Kenapa kamu malah berniat untuk pergi? Papa bahkan ingin melindungimu dari kobaran api yang mungkin bisa membakarnya, tapi kamu sengaja malah ingin masuk."


"Aku sudah sering terbakar dengan kobaran api itu, Pa. Memang rasanya sangat sakit dan benar-benar terluka hingga lama sembuh, tapi paling tidak, merasa bangga karena bisa menyelesaikan masalah yang dibuat adalah sesuatu yang jauh lebih indah." Putri saat ini merasa yakin jika mertuanya tidak berkutik dengan permintaannya.


Ia berpikir jika hal yang paling utama saat ini adalah memikirkan tentang Aldiano yang tiba-tiba pergi setelah mengetahui video dari sang kekasih yang membuka rahasianya.


"Pa, tolong suruh orang untuk mencari tuan Aldiano. Aku benar-benar khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk padanya karena tadi benar-benar sangat marah dan jika mengemudi dalam keadaan seperti itu, hanya akan terjadi hal-hal negatif." Saat ia baru saja selesai berbicara, mendengar suara dering ponsel dari dalam kamar.


Bambang Priambodo sebenarnya merasa heran ketika mengetahui jika putranya pergi dalam keadaan marah dan tidak seperti orang yang takut karena kemurkaannya.


Awalnya ia jadi ketika putranya membeli untuk kabur karena tidak ingin mendapatkan pukulan darinya, tapi setelah mendengar perkataan menantunya, sekarang sedikit ragu.


"Sepertinya ada telepon penting. Papa akan mengangkatnya dulu."


"Iya, Pa." Putri masih tidak pernah beranjak dari depan ruangan kamar mertuanya karena saat ini berpikir jika itu adalah telepon yang membawa kabar buruk.


Semenjak melihat kemurkaan Aldiano beberapa saat lalu, ia seolah merasa melihat orang lain dari dalam diri pria itu. Apalagi kemurkaan seperti orang yang sangat marah pada pria yang membuka rahasianya, padahal faktanya itu adalah sang kekasih sendiri.


Saat Putri masih menunggu di depan pintu, bisa mendengar suara bariton dari mertuanya yang seperti sangat terkejut ketika mendapatkan sebuah kabar dan membuatnya langsung masuk ke dalam untuk memastikan bahwa ketakutan yang tidak terjadi.


"Apa?" Bambang Priambodo bisa ketika lemas begitu mendengar kabar tentang putranya dari pihak kepolisian.


"Pa, apa yang terjadi? Apakah jadi sesuatu hal yang buruk pada tuan Aldiano?" Putri benar-benar merasa sangat penasaran serta khawatir jika apa yang ada di otaknya benar.


Hingga ia seketika membuka mulut dan membulatkan mata begitu mendengar mertuanya membuka suara dengan wajah pucat.


"Papa baru saja mendapatkan kabar dari kepolisian jika Aldiano mengalami kecelakaan bersama dengan pria itu," lirih Bambang yang merasa kehilangan daya dan benar-benar sangat lemas, sehingga mendaratkan tubuhnya di atas ranjang karena tidak ingin jatuh terhempas lantai.


Sudah menduga apa yang terjadi karena dari tadi mengkhawatirkan hal itu, lalu Putri kini ingin mendengar kabar dari Aldiano.


"Lalu, apa yang terjadi dengan Tuan Aldiano?" Ia saat ini merapal doa untuk yang terbaik pada pria yang berstatus sebagai suaminya tersebut tidak sama dengan istri Arya yang tidak lain adalah Calista.


Ia kita akan merasa sangat bersalah karena tadi tidak bisa menghentikan kalau Diana untuk pergi dalam keadaan dikuasai oleh amarah.


'Semoga hanya kecelakaan kecil dan tidak membuat sesuatu yang buruk berakhir pada tuan Aldiano karena pasti Papa sangat bersedih dan akan hidup kesepian jika nasibnya sama dengan Calista,' gumam Putri yang saat ini mendengar sang ayah mertua membuka suara, sehingga memasang itu tidak pendengarannya.


"Putraku sekarang ...."


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2