Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Sangat lelah


__ADS_3

Semenjak Putri meminta tolong pada Ardiansyah dan mengungkapkan bahwa uang tidak bisa mengalahkan ketulusan, sehingga membuatnya berubah lebih menghormati pria itu.


Bahkan Ardiansyah sering menawarkan diri untuk membantu, meskipun sering ditolak olehnya, tetap saja pada kenyataannya membutuhkan bantuan.


Seperti saat ini, Ardiansyah sudah membantu untuk mengangkat kuali besar berisi nasi yang baru matang dan akan ditaruh ke dalam kotak makanan karena pesanan semakin hari bertambah, sehingga membuat mereka sibuk tanpa henti.


Hal yang membuat mereka jarang merasakan waktu luang untuk bersantai. Putri bahkan sudah menambah satu orang pekerja untuk membantu, tapi tetap saja tidak cukup. Apalagi terkadang ada beberapa orang yang sekaligus memesan secara bersamaan dan tentu saja semakin bertambah banyak pekerjaan.


Ketika Putri kini selesai memasak dengan salah satu koki andalan, peluh yang membanjiri wajah dan tubuh seolah mewakili apa yang dilakukan olehnya benar-benar sebuah pekerjaan yang menguras tenaga.


Pekerjaan memasak sebenarnya terlihat mudah, tapi benar-benar menguras tenaga jika mendapatkan pesanan sampai ratusan dalam satu hari.


Bahkan hari ini ia secara langsung meminta bantuan Ardiansyah karena mengetahui jika pria itu sangat cekatan ketika melaksanakan pekerjaan. Meski tidak pernah menerima upah, tetapi ia tetap menyimpannya.


Dengan mengumpulkan uang ke dalam sebuah tempat khusus dan suatu saat tetap akan memberikan pada pria itu. Bukan karena meremehkan perkataan Ardiansyah yang tulus membantu tanpa pamrih, tapi ia tetap merasa harus menghargai tenaga orang lain.


Dari pagi mereka sibuk di dapur dan begitu sore hari, pekerjaan mulai berkurang. Sosok pria yang saat ini terlihat sibuk mengikat kotak makanan, kini sesekali bercanda dengan para pekerja untuk menguraikan ketegangan di antara mereka.


Bahkan terdengar suara tawa dari para pekerja yang saat ini merasa terharu dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Ardiansyah.


"Kalian semua makin subur setelah bekerja di tempat ini, tapi aku makin kurus kering karena dua tahun menangisi nasibku yang miris."


"Pasti karena cinta bertepuk sebelah tangan," sahut wanita dengan badan gemuk yang sudah bekerja semenjak Putri merintis usaha warung makanan hingga sukses seperti sekarang.


"Kamu tahu saja. Sepertinya sudah bukan rahasia umum lagi jika aku mengalami cinta yang bertepuk sebelah tangan." Ardiansyah sudah menyelesaikan pekerjaan mengikat kotak makanan tersebut dengan ditata setiap sepuluh tumpuk.


Sementara itu, Putri yang saat ini tengah serius menghitung total belanjaan hari ini mendengar pembicaraan dari Ardiansyah yang telah menyindir.


Apalagi ditanggapi oleh pekerja dengan bercanda. Tidak ingin membahas hal yang bisa membuatnya merasa tidak enak pada pria itu, mencari aman dengan cara diam saja tanpa menyahut.


'Sampai kapan kau akan menyerah? Aku tidak akan luluh meskipun kau melakukan apapun untuk mencuri hatiku,' gumam Putri yang saat ini masih menundukkan kepala sambil memegang buku serta pulpen.


Padahal pikiran tengah dikuasai oleh rasa bersalah pada pria yang sudah dua tahun setia mengejar untuk meluluhkan hatinya, tapi sampai saat ini, ia hanya mencintai Arya. Kenangan bersama pria itu paling berbekas di hati.

__ADS_1


Tidak hanya kenangan manis, tapi juga menyakitkan dan membuatnya sampai saat ini trauma untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis.


"Arya," lirih Putri yang saat ini menyadari kebodohannya ketika terbawa suasana dan menyebut nama mantan suami yang telah bahagia dengan wanita lain.


Bahkan mungkin tidak pernah mengingatnya lagi dan menoleh ke arah sumber suara yang tak lain adalah Ardiansyah.


"Jadi, pria itu bernama Arya?" Ardiansyah yang baru saja selesai memindahkan kotak makanan ke dalam mobil dan sekarang sudah diantar oleh kurir ke tempat pelanggan.


Begitu tadi melangkah masuk ke dalam rumah dan melirik ke arah Putri yang menunduk menatap ke arah buku catatan berisi bahan belanjaan, mendengar jika wanita itu menyebutkan nama seorang pria meskipun hanya lirih.


Putri yang baru saja mengangkat pandangan dan bersitatap dengan sosok pria yang ternyata sudah berdiri di sebelah kanan, lalu semakin berjalan mendekat.


"Aku sedang melihat pesanan dari nama itu," ucap Putri yang mencoba untuk berbohong karena tidak ingin membenarkan pernyataan pria yang memiliki perasaan padanya.


Ardiansyah yang bisa membaca jika Putri tengah berbohong, kini ingin membenarkan tuduhan dengan cara menunduk menatap ke arah buku untuk mencari nama itu di sana.


Namun, ia segera menutup buku, seolah tidak ingin dibaca olehnya, sehingga semakin yakin jika beberapa saat yang lalu, wanita yang diam-diam mencuri hatinya tersebut memikirkan mantan suami yang meninggalkan luka mendalam sampai tidak berani untuk menikah lagi.


"Aku bukan pria bodoh yang bisa kau tipu. Ingin sekali aku bertanya mengenai mantan suamimu yang membuatmu bertahan tidak mau membuka hati pada pria mana pun. Namun, karena tidak ingin membuatmu bersedih, sehingga hanya diam saja dan menahan rasa penasaran yang selama ini kurasakan."


Embusan napas kasar mewakili perasaan Ardiansyah karena tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang diajukan karena Putri memilih mengalihkan pembicaraan dan hal itu selalu saja terjadi dari dulu hingga sekarang.


Hal yang tidak bisa membuat Ardiansyah masuk ke dalam ruang hati yang bahkan sampai sekarang kosong dan tertutup rapat. Bahkan meskipun berusaha sekuat tenaga menahan diri dengan penuh kesabaran dan menunggu wanita itu luluh padanya, tetapi lama-kelamaan rasa sabar itu semakin pupus.


Ardiansyah khawatir jika masa itu tiba, saat kesabarannya habis dan membuatnya lupa diri karena seorang pria yang terobsesi akan sesuatu, tidak akan pernah menyerah sebelum bisa mendapatkan.


Seperti yang dirasakan saat ini, Putri selalu menguji kesabarannya dan membuat Ardiansyah meronta di dalam hati atas sikap dingin wanita di hadapannya tersebut.


Tidak ingin semakin bertambah sakit hati seperti biasa, Ardiansyah berlalu pergi setelah menganggukkan kepala tanda setuju. "Aku pulang!"


"Terima kasih atas bantuannya hari ini," ucap Putri yang saat ini tengah memberikan kode pada orang kepercayaan untuk membungkus makanan dan mengantar ke tempat pria itu.


Sementara ia kembali fokus pada pekerjaan untuk mencatat apa saja yang perlu dibeli besok saat belanja di pasar pagi-pagi sekali.

__ADS_1


Sudah menjadi rutinitasnya pergi ke pasar dengan naik motor untuk membeli bahan-bahan yang dibutuhkan. Meskipun ada sebagian yang mempunyai langganan, sehingga ketika memesan banyak, akan diantarkan ke rumah dan tidak perlu bersusah payah untuk pergi membeli.


Namun, saat ada bahan-bahan kecil yang rumit, sehingga membuatnya selalu pergi sendiri ke pasar.


Beberapa pekerja saat ini sibuk membersihkan semua yang tadi menjadi wadah makanan dan berkemas karena setelah pekerjaan hari ini selesai akan langsung pulang ke rumah masing-masing.


Putri kini menyiapkan uang untuk para pekerja dan akan memberikan sebelum mereka pulang ke rumah. Begitu juga upah untuk Ardiansyah sudah dimasukkan ke dalam kotak dan tidak pernah dibuka olehnya.


Jadi, ia tidak mengetahui berapa jumlah uang yang sudah masuk ke sana. Entah kapan akan memberikan pada pria itu, tapi untuk sekarang belum berniat melakukannya karena khawatir jika tersinggung seperti dulu.


Putri sebenarnya merasa sangat nyaman berteman dengan Ardiansyah karena mengetahui adalah seorang pria yang baik.


Namun, hanya sebagai teman dan tidak lebih dan pastinya itu akan mengecewakan pria itu. Ia sebenarnya membuka diri untuk berteman dengan siapapun yang tulus, tanpa ada perasaan lebih dari itu.


Karena memang tidak bisa menerima lebih dari teman saat memutuskan tidak akan menikah lagi dan memilih fokus usaha serta membesarkan putranya dengan baik.


Bahkan sudah dua tahun tidak mendengar kabar dari orang-orang yang pernah disayangi, seperti putra-putrinya, Bagus, Amira Tan, Arya dan juga Noah. Namun, tidak ingin membebani hati jika sampai mendengar kabar yang menyakitkan dan membuatnya kembali terluka.


Ia memilih untuk menutup mata, telinga dan hati dari semua orang yang berada di masa lalu dan ingin menata masa depan dengan fokus pada putranya yang tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah.


Meskipun sering mendapatkan kasih sayang dari Ardiansyah yang terlihat sangat menyayangi putranya, tapi menyadari bahwa tetap bukanlah ayah kandung Xander.


Sementara itu, sosok pria yang tak lain adalah Ardiansyah saat ini tengah berada di dalam kamar, baru saja selesai mandi. Saat pulang dari tempat Putri, merasa tubuhnya lengket karena peluh yang membanjiri dan membuatnya merasa risi.


Saat mengempaskan tubuh di atas ranjang, kini mengamati langit-langit kamar dan mengingat satu nama yang lolos dari bibir Putri dan membuatnya patah hati begitu mengetahui bahwa pria yang membuatnya tidak bisa masuk ke dalam hati wanita itu bernama Arya.


"Arya ... jadi itu nama pria yang menyakiti hati Putri?"


"Seperti apa pria bernama Putri itu? Apakah sangat tampan dan hebat? Hingga ia memilih hidup tanpa pendamping dan menjadi single parent untuk Xander."


Ardiansyah sebenarnya merasa bosan karena sudah 2 tahun mendekati Putri, tetapi hati wanita itu sekeras baja dan tidak kunjung luluh olehnya.


"Aku sangat lelah mengejarmu. Apa yang harus kulakukan untuk mendapatkanmu?" Saat Ardiansyah baru saja menutup mulut, mendengar suara ketukan pintu.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2