
Saat ini, Amira Tan terdiam dan hanya mengamati sosok pria yang masih memejamkan mata tersebut. Awalnya, ia tadi ingin pergi ke belakang sebentar untuk membuat minuman hangat.
Saat demam, biasanya dulu sang ibu selalu membuatkan teh hangat manis untuknya, agar tidak terlalu dehidrasi. Jadi, ia ingin melakukan hal yang sama untuk pria yang masih mengalami suhu tubuh tinggi tersebut.
Apalagi Amira Tan merasa sangat aneh ketika melihat Noah mengigau seolah membutuhkannya. Padahal ketika sedang sehat dan sadar, selalu bersikap dingin padanya dan tidak pernah seperti itu.
Namun, ia kini kembali mendengar suara lirih dari pria di atas kasur itu.
"Dingin."
Buru-buru Amira Tan meraih selimut tebal yang ada di bawah kaki Noah, untuk menutupi tubuh agar tidak merasa kedinginan lagi.
"Tubuhnya bahkan seperti api sekarang, sangat panas, tapi merasa kedinginan," ujar Amira Tan yang kini kembali kebingungan karena tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk meredakan rasa dingin dari Noah yang memang terlihat menggigil.
"Dingin sekali."
Tubuh Noah kini menggigil hebat, seperti bergetar semua saat merasakan kedinginan. Bahkan ia bergelung di balik selimut, tetapi seolah tidak memakai apapun.
Sedangkan Amira Tan saat ini merasa sangat kebingungan karena tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya mengedarkan pandangannya ke sekeliling area ruangan pribadi pria tersebut.
"Aku butuh selimut lagi. Apa ada lagi di lemari itu?"
Tanpa membuang waktu, kini ia melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah lemari kayu berwarna coklat tua dan sedikit usang tersebut, lalu membukanya. Bola matanya kini sibuk mencari sesuatu yang dicarinya.
Seperti beberapa saat lalu, saat ini yang terjadi adalah pria di atas ranjang tersebut kembali mengigau kedinginan, sehingga ia buru-buru mencari selimut dan begitu menemukannya, langsung memakaikan ke tubuh Noah.
Namun, meskipun ia sudah menyelimuti tubuh kekar sang bartender dengan dua selimut tebal, tetap saja tidak berefek apapun karena pria itu masih mengatakan kedinginan.
__ADS_1
Hingga ia seketika mengingat memori saat dulu demam. "Apa aku harus seperti ibu?"
Setelah mengatakan hal itu, ia berkali-kali menggelengkan kepala. "Astaga! Kenapa aku bisa berpikir konyol seperti itu? Dulu ibu melakukannya karena memang aku putrinya. Namun, sekarang aku dan pria ini baru saja bertemu."
"Konyol sekali jika aku naik ke atas tempat tidurnya dan memeluknya demi untuk menghangatkannya." Amira bahkan terbahak ketika mengatakan hal yang menurutnya sangat konyol.
Namun, yang terjadi adalah ia semakin iba ketika melihat tubuh di atas ranjang tersebut semakin bergetar hebat karena kedinginan.
"Kasihan sekali ia kedinginan seperti itu."
Saat merasa berhutang budi pada sang bartender karena menyelamatkannya dari para pria kurang ajar yang hendak mengambil keuntungan darinya ketika mabuk, ia saat ini tidak tega dan akhirnya memilih untuk melakukan hal yang menurutnya benar.
"Tidak apa-apa karena ia telah menolongku. Jadi, anggap ini sebagai balas budi pada pria yang telah menyelamatkan aku dari para bajingan di club malam. Tanpa ada dia, mungkin aku sudah berakhir nahas karena kehilangan keperawanan."
Setelah menimbang-nimbang keputusan yang akan diambil, akhirnya Amira Tan kini perlahan membuka selimut tebal yang membalut tubuh pria itu saat masih terus menggigil karena kedinginan.
Hingga ia pun kembali merasa iba dan tidak ragu lagi untuk melaksanakan ide di kepala. Kini, Amira Tan perlahan naik ke atas ranjang dan langsung membaringkan tubuhnya di samping Noah dan memeluknya.
Akhirnya ia melakukan hal yang sebenarnya jauh dan tidak sesuai dengan prinsip hidupnya selama ini.
Jangankan untuk memeluk seorang pria, menyentuh saja tidak pernah karena memang tidak pernah dekat dengan lawan jenis yang memiliki ikatan batin. Hanya Bagus yang membuatnya jatuh cinta, tetapi tidak mendapatkan sebuah jawaban. Hingga membuatnya berkali-kali terluka.
"Apa masih dingin?" tanya Amira Tan pada Noah yang menggigil tersebut dan ia sangat terkejut ketika pria tersebut langsung berbalik menghadapnya.
Awalnya, Noah berbaring telentang dengan tubuh bergetar hebat karena kedinginan. Namun, saat merasakan sebuah kenyamanan ketika ada tangan yang melingkar di pinggang dan perut, membuatnya merasa ingin sesuatu yang lebih hangat.
Akhirnya ia bergerak untuk mencari sebuah kehangatan yang lebih besar dan bisa mengurangi rasa dingin yang membuat sesuatu menyiksa itu berkurang.
__ADS_1
"Nyaman sekali," ucap Noah yang kini sudah membalas pelukan. "Hangat."
Sedangkan Amira Tan seketika membulatkan mata begitu melihat apa yang dilakukan Noah saat memeluknya sangat erat dengan tubuh saling berhadapan.
Pertama kali berpelukan dengan lawan jenis di atas ranjang, tentu saja membuatnya merasa sangat aneh dan seperti ingin segera kabur dari sana.
Apalagi degup jantungnya berdetak kencang melebihi batas normal ketika merasakan tangan dengan buku-buku kuat tersebut ikut membalasnya. Meskipun ada sedikit kelegaan ketika mendengar kalimat terakhir dari Noah yang mengatakan hangat karena perbuatannya.
Itu tandanya, perbuatannya tidaklah sia-sia karena bisa mengurangi rasa dingin yang dirasakan oleh Noah. Meskipun hal itu membuatnya merasa sangat gugup dan perasaan tidak karuan.
Awalnya, ia ingin melepaskan tangan yang memeluknya erat, tetapi tidak jadi melakukannya karena khawatir jika pria yang sudah terlihat sedikit tenang tersebut.
'Aku memang sudah sangat gila! Bagaimana bisa aku melakukan hal ini?' lirih Amira Tan di dalam hati dengan debaran jantung tidak beraturan.
Hingga ia kini seperti sebuah patung yang tidak berkutik dalam pelukan pria tersebut. Pikirannya kini melayang pada seseorang yang sangat dicintai, tetapi tidak mendapatkan balasan.
'Seandainya pria yang memelukku ini adalah Bagus, mungkin aku tidak merasakan hal seperti ini. Aku pasti akan merasa senang.'
Saat menyadari kebodohannya karena berpikiran kotor dengan memikirkan berada di pelukan Bagus, ia hendak menepuk jidatnya, tetapi tidak bisa melakukannya karena berada dalam kuasa pria yang sudah memeluknya.
Akhirnya Amira Tan hanya diam dan mengurungkan niat. Ia bisa merasakan napas hangat menerpa wajahnya karena saat ini posisi wajah Noah hanya berjarak beberapa centi darinya. Bahkan saat ini, bisa dengan jelas menatap tiap pahatan pria yang masih tetap memeluknya erat.
Bahkan beberapa kali ia mengerjapkan kedua mata karena saat ini baru menyadari bahwa sosok pria di hadapannya tersebut memiliki paras rupawan.
"Kau tampan juga," lirih Amira Tan yang saat ini masih tidak berkedip menatap wajah pria dengan paras rupawan tersebut.
Namun, tatapannya kini berhenti pada satu titik, yaitu bibir tebal pucat yang sangat kering tersebut. "Kering sekali."
__ADS_1
Mendadak ia berpikir ingin membasahi bibir tebal itu, agar sedikit basah. Refleks ia bergerak untuk semakin mendekat dan mengarahkan bibirnya di sana.
To be continued...