
Noah selama ini memang selalu menabung untuk masa depan, yaitu biaya pernikahan, agar tidak dihina oleh mertua dan juga tabungan membeli rumah. Meskipun belum mempunyai calon, tetapi selalu ingat pesan dari orang tua yang berada di kampung dan hanya bekerja sebagai petani.
Tidak perlu mengirimkan uang untuk kami, Nak. Tabung saja untuk biaya pernikahan dan membeli rumah. Kami tidak bisa memberikan apapun karena keadaan kita yang seperti ini. Setiap hari bekerja hanya cukup untuk makan. Meskipun begitu, kamu tidak ingin harga dirimu hilang.
Karena harga diri seorang lelaki ada pada tanggungjawab ketika menikahi seorang wanita. Jadi, jangan mempermalukan diri sendiri ketika ingin menikahi wanita, tetapi sama sekali tidak punya apa-apa.
Semenjak saat itu, Noah selalu menanamkan pada diri sendiri untuk membuat orang tua bangga. Nanti saat pulang, akan memberikan uang hasil kerja di kota besar.
Rencana Noah adalah menitipkan semua uang hasil kerja keras pada sang ibu karena percaya jika wanita yang sangat disayangi tersebut bisa menyimpan.
Noah masih melamunkan tentang masa di mana bersama orang tua. Sampai suara Amira Tan membuyarkan lamunan.
"Noah! Apa kau masih marah padaku? Aku tahu kau tidak tidur. Jangan diam saja! Katakan padaku tentang jawabanmu. Apakah akan menerima tawaranku atau tidak?" Amira Tan sudah tidak sabar menunggu jawaban Noah karena rasa bersalah menggerogoti diri.
Setelah mempertimbangkan dengan baik, akhirnya Rey berbalik badan dan kini duduk di sofa. Menatap Ana dengan tatapan menelisik.
"Apa benar kamu memang sedang butuh orang? Kamu tidak sedang merasa kasihan padaku, kan?"
"Apa kau ingin aku berbohong dengan mengatakan tidak iba atas nasibmu dipecat dari pekerjaan karenaku?" Sengaja Amira Tan membalikkan pertanyaan karena ingin pria naif di hadapan membuka mata dan melihat fakta.
Terkadang orang memang memilih untuk berbicara bohong demi menghibur perasaan. Tentu saja dengan cara berbohong dengan alasan kebaikan.
Namun, selama ini Amira Tan tidak bisa bersikap munafik karena memang bukan sifat asli yang selalu berbohong demi kebaikan.
Hal itulah yang membuat Amira Tan tidak ingin menemui Putri setelah melihat dengan mata kepala sendiri tentang fakta mengejutkan mengenai Arya.
__ADS_1
Jika bertemu dengan Putri, pasti akan menceritakan apa yang dilihat dan pasti menyakiti hati saudara perempuannya itu. Amira Tan memutuskan untuk menjauh dan berharap Putri segera tahu.
Namun, berbeda dengan yang dialami oleh Noah, semua kemalangan pria itu terjadi atas kesalahan Amira Tan. Jadi, berpikir harus bertanggungjawab dan tidak ingin menutup mata dengan berpura-pura tidak tahu.
"Amira Tan tetaplah akan menjadi wanita arogan yang tidak pernah bertele-tele dalam menanggapi hal apapun." Noah kini memilih untuk bertepuk tangan karena merasa kagum sekaligus kesal.
"Semua yang kamu katakan memang benar. Sepertinya aku adalah seorang pria naif yang membutuhkan sebuah penghiburan." Miris, mungkin itu yang selalu dihadapi oleh Noah saat berhadapan dengan wanita yang seolah tidak memiliki perasaan itu.
Namun, Noah merasa mendapatkan berkah karena keuangan selalu mendapat tambahan tidak terduga ketika bertemu wanita itu.
"Manusiawi karena itulah manusia menjadi lebih kuat dalam menghadapi masalah. "Seperti aku tadi yang memilih minum wiski karena ada sedang patah hati dan kau menghiburku."
"Sekarang aku melakukan hal sama dengan cara menghibur melalui tindakan, yaitu menyelesaikan masalah saat dipecat. Sekarang katakan, kau minta digaji berapa?" Hal yang dari tadi ingin ditanyakan oleh Amira Tan karena tidak ingin dianggap membayar murah ketika memperkerjakan Noah di kantor.
Mendapat pertanyaan yang dianggap mengejutkan karena baru pertama kali mendapatkan pekerjaan dengan ditanya seperti itu karena biasanya gaji sudah ditentukan oleh bos.
"Apa kamu tidak sadar ini jam berapa? Kenapa aku merasa kita seperti pasangan suami istri karena tinggal dalam satu rumah seperti ini. Jika Jack atau orang tuamu tahu, pasti akan membunuhku."
"Itu tidak akan terjadi. Kamu tenang saja. Baiklah, karena tidak meminta gaji sendiri, aku yang akan menentukan. Besok aku akan membuatkan surat kontrak kerja, agar kamu bisa memahami apa yang harus dilakukan. Sekarang pergilah!" Amira Tan mengibaskan tangan karena ingin tidur di sofa.
Noah yang melihat Amira Tan berdiri di hadapannya, kini mengerutkan kening. "Pergi? Apa kamu ingin mengusirku dari rumah setelah memberikanku pekerjaan? Keterlaluan!"
Amira Tan seketika menarik kaos casual Noah untuk menyadarkan pria itu. "Astaga, jangan terlalu banyak menonton film. Aku ingin tidur di sini karena rasanya lebih nyaman daripada di kasurmu. Kamu tidur saja di dalam kamar."
"Kamu sepertinya berusaha berubah menjadi malaikat setelah aku mengejekmu tadi. Tidak perlu kasihan padaku soal ini. Masuklah ke kamar karena wanita lebih baik tidur di dalam. Biarkan pria di luar." Noah melakukan hal sama, yaitu mengibaskan tangan.
__ADS_1
"Tidak! Aku di sini saja." Amira Tan masih bersikeras karena tidak tega melihat kaki Noah yang panjang menggantung di sofa saat tidur.
Noah kini memijat pelipis karena menyadari tidak akan pernah menang melawan wanita itu, tetapi juga tidak tega jika melihat Amira Tan tidur di kursi.
Hingga muncul ide di kepala dan mencoba untuk memberitahu pada wanita itu. "Lebih baik kita cari jalan tengah saja."
"Jalan tengah? Maksudnya?" Amira Tan menyipitkan mata sekaligus merasa penasaran dengan apa yang dimaksud pria dengan tatapan penuh keraguan itu.
"Kamu tidur di ranjang sebelah kanan, aku kiri dan taruh guling di tengah. Bagaimana? Tenang saja karena aku tidak akan pernah mengulangi kesalahan. Kamu juga tidak boleh memancingku."
"Tidak!" jawab Amira Tan tegas.
"Kenapa tidak? Kamu takut padaku?" Noah masih berusaha merubah keputusan Amira Tan.
"Aku yang takut pada diriku sendiri karena selalu melakukan kesalahan padamu. Bukan kamu, tetapi aku. Jadi, biarkan aku tidur di sini." Amira Tan kini memilih untuk membaringkan tubuh di atas sofa. Tanpa memperdulikan rasa yang sebenarnya sangat tidak nyaman.
Merasa geram karena Amira Tan tidak bisa diajak bernegosiasi, kini Noah memilih untuk membungkuk dan meraup tubuh seksi itu ke atas lengan.
"Dasar wanita keras kepala! Jika melakukan kesalahan padaku lagi, aku tidak akan menuntut untuk bertanggungjawab. Jadi, tenanglah!"
Amira Tan yang merasa sangat terkejut, menjerit kecil karena tubuhnya sudah berpindah ke atas kuasa Noah yang telah membawanya masuk ke dalam kamar.
"Astaga, turunkan aku! Aku mau tidur di sofa. Aku tidak yakin jika kita bisa menahan diri jika tidur di ranjang yang sama."
"Kalau begitu, kita buktikan saja!" Kali ini Noah merasa penasaran dengan apa yang terjadi saat mereka sama-sama sadar.
__ADS_1
To be continued...