Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Mengajari mengerti wanita


__ADS_3

Jack saat ini merasa sangat yakin jika wanita yang terlihat ragu-ragu saat bertanya padanya tersebut, akan mengatakan bahwa beberapa saat lalu pria yang merupakan bartender itu berada di sana.


'Katakan padaku, Amira Tan karena itu sangat penting bagiku. Jika kau hari ini bisa jujur padaku, sudah bisa dipastikan telah menerimaku sepenuhnya. Meskipun kau tidak menyadari ada ikatan batin di antara kita.'


Saat Jack sibuk bergumam dalam hati, ia seketika merasa kesal setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Amira Tan.


"Lupakan saja karena itu tidak penting." Amira Tan berubah pikiran untuk menceritakan bahwa Noah beberapa saat lalu datang menemuinya dan membuatnya berjanji dan bertanggung jawab.


'Jack bukan siapa-siapa untukku, jadi tidak perlu menjelaskan apapun padanya,' gumam Amira Tan yang saat ini berubah pikiran dan merasa tidak penting untuk menceritakan tentang perjanjiannya dengan pria yang bekerja di klab malam tersebut.


Apalagi ia berpikir bahwa bisa saja pria di hadapannya itu akan kembali membuat kehebohan dengan berkelahi.


'Aku tidak ingin Jack kembali memukuli Noah. Sebaiknya aku tidak mengatakan apapun padanya dan diam-diam menemui bartender itu di Club. Semoga bisa membuatnya melupakan kejadian di kamar dan kami tidak akan bertemu lagi setelah semuanya selesai.'


Wajah Jack saat ini seketika murung karena merasa sangat kecewa dengan sikap Amira Tan ketika membohonginya. Hingga ia mengepalkan tangan di bawah meja.


Ia meluapkan semua amarah yang membuncah di dalam hati melalui kepalan tangannya tersebut.


'Sial! Seperti biasanya, ia kembali berbohong padaku. Jika aku marah padanya, hubungan kami yang sudah lebih baik, mungkin akan kembali buruk. Bukan itu yang kuinginkan. Sepertinya aku harus memperbesar kesabaran dan berpura-pura bodoh seolah tidak tahu apapun yang dilakukan oleh Amira Tan.'


Jack saat ini merasa bahwa itu adalah jalan terbaik untuk mereka, sehingga hubungan di antara keduanya tetaplah baik dan ada kesempatan untuk mencuri hati Amira Tan, agar mau menerimanya sebagai kekasih.


Meskipun ia harus bersabar dan meluaskan hati karena tidak mudah mendapatkan seorang Amira Tan yang merupakan pengacara hebat tersebut.


'Jika selama ini di pengadilan, sangat susah untuk mengalahkannya, di dunia nyata pun seperti itu karena aku tidak bisa menaklukkan hatinya meskipun sudah bertahun-tahun bersamanya sebagai seorang teman.'

__ADS_1


Jack berusaha untuk menahan amarah di dalam hati dan berakting seperti tidak mengetahui apapun. Jadi, ia memilih untuk mengalihkan pembicaraan.


"Apa kau sudah menghubungi Bagus bahwa putusan hakim telah menyetujui perceraian?"


"Sudah. Hari ini saat makan siang, aku akan menemuinya." Amira Tan menjawab dengan santai sambil mengirimkan pesan pada Bagus untuk mengajak makan siang di sebuah restoran.


Hingga ia mengerutkan kening begitu mendengar tanggapan dari Jack yang terlihat seperti menunjukkan sikap posesif padanya.


"Aku ikut! Bukankah kita sudah lama tidak makan siang bersama? Aku juga ingin mengenal seperti apa pria yang kau cintai dan menolak wanita hebat sepertimu." Belum selesai rasa cemburu pada sang bartender, ia kembali merasakan hal yang sama ketika Amira Tan menyebut nama pria lain dan mengajak untuk makan bersama.


Jadi, ia berusaha untuk selalu berada di dekat wanita itu karena sejujurnya merasa sangat cemburu jika Amira Tan berduaan dengan seorang pria.


"Apa kau sedang merasa cemburu dan menunjukkan sikap over protektif padaku?" Amira Tan masih mengunci tatapannya pada iris tajam pria yang terlihat seperti tidak bisa menjawab pertanyaannya.


"Kau jangan terlalu percaya diri. Meskipun aku mengatakan mencintaimu, tapi tidak akan bersikap seperti yang kamu sebutkan. Jadi, Jangan salah paham, oke. Seperti yang kukatakan tadi, hanya ingin tahu seperti apa tipe pria yang membuatmu tergila-gila sekaligus patah hati karena ditolak."


"Jika dipikirkan baik-baik, sebenarnya kita sangat bodoh karena tetap saja mengejar cinta yang bertepuk sebelah tangan, bukan? Jadi, ada baiknya jika kita saling menghibur."


Amira Tan hanya menampilkan wajah masam karena merasa tertampar dengan apa yang disampaikan oleh Jack. "Jangan samakan aku sepertimu karena kita sangat berbeda."


"Berbeda apanya?" Jack merasa posisi mereka sama dan tidak ada yang berbeda.


"Aku belum pernah berhubungan dengan satu pria pun, sedangkan kau. Sudahlah, lupakan saja karena aku tidak bisa menghitung berapa banyak wanita yang selama ini kau permainkan." Amira Tan kini kembali menatap ke arah layar komputer dan memeriksa beberapa file dari klien.


"Apakah kau tidak bekerja? Hingga berada di sini dari tadi."

__ADS_1


Jack menatap intens wajah cantik wanita yang masih fokus menatap layar komputer dan membuatnya bisa memuaskan diri. "Aku hari ini ada janji bertemu dengan klien di restoran dekat kantormu. Jadi, aku sengaja mampir ke sini karena masih setengah jam lagi pertemuannya."


"Apa kau sudah sarapan?" Jack tahu bahwa pertanyaan terakhir sangat konyol karena sudah menunjukkan pukul sembilan dan pastinya wanita di hadapannya tersebut sudah makan sebelum berangkat bekerja.


Namun, jawaban dari Amira Tan membuatnya membulatkan mata, sekaligus merasa malu. Seolah tidak mempunyai muka lagi di hadapan wanita yang gemar sekali membuatnya tidak berkutik.


"Belum. Apa kau membawakan sarapan untukku?" Setelah menutup rapat bibirnya, Amira Tan sekilas ke arah sosok pria yang terlihat kebingungan dan malah membuatnya ingin sekali tertawa.


"Astaga! Dasar pria tidak peka. Bagaimana kau bisa membuatku jatuh cinta padamu jika hanya bisa bertanya tanpa beraksi. Asal kau tahu, wanita zaman sekarang itu tidak butuh ditanya karena lebih suka pria yang langsung menunjukkan sesuatu."


"Buang sikap konyolmu itu dengan asyik bertanya dan ganti dengan perbuatan. Daripada bertanya sudah makan atau belum, bukankah lebih baik jika langsung memberikan makanan dan mengatakan, aku sudah membelikanmu makanan dan cepat dimakan."


Amira Tan kini mengarahkan jari telunjuk pada pelipisnya dan kembali mengejek Jack. "Wanita zaman sekarang sangat cerdas."


"Tidak seperti zaman dulu, hanya bermodalkan pertanyaan saja untuk mengungkapkan perhatian, wanita sudah tergila-gila. Itu sama sekali bukan aku. Seharusnya kau tahu itu karena kita sudah lama berteman."


Jack merasa sangat lemas karena mendapatkan ceramah panjang lebar dan menyadarkannya bahwa sifat playboy yang selama ini dimiliki tidak jauh lebih hebat dari seorang wanita yang sangat arogan tersebut.


"Sepertinya aku harus belajar dan berguru padamu, senior." Akhirnya hanya kata-kata itu yang lolos dari bibirnya saat ini.


Sedangkan Amira Tan yang merasa perkataan dari Jack sangat konyol, membuatnya tertawa terbahak. "Dasar playboy bodoh. Lain kali, aku akan mengajarimu untuk lebih mengerti wanita."


"Wanita sepertimu, bukan yang lainnya," jawab Jack yang saat ini tidak berkedip menatap iris kecoklatan yang selalu dipujanya tersebut.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2