
Aldiano bakal sama sekali tidak terpikirkan dan baru mengerti jika apa yang diungkapkan oleh sang ayah benar-benar membuatnya sangat sok.
Ia memang benar merupakan suami sah dari wanita yang saat ini berada di hadapannya, tapi menyadari jika memiliki masa lalu kelam yang bahkan tidak tahu apakah sudah sembuh dari kegilaannya atau belum.
Menjadi seorang pria tidak normal yang menyukai sesama jenis dan sekarang sang ayah mengatakan untuk menghamili seorang wanita, sehingga membuatnya tidak tahu harus berkomentar apa.
Ia bahkan saat ini merasa bingung harus menjawab bagaimana, sehingga hanya bisa membulatkan mata karena sangat terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan sang ayah.
Bambang Priambodo merasa jika sekarang ini adalah saatnya putranya membuktikan telah menyadari kesalahan di masa lalu. Bahwa sudah tidak lagi bergelimang dosa seperti dulu yang mencintai sesama jenis.
"Kenapa? Bukankah sekarang kamu sudah menyadari jika perbuatanmu dulu salah dan sekarang sudah berusaha untuk menjadi seorang pria yang baik? Lalu, apa salahnya memulai sekarang?"
Kenapa harus menunggu lebih lama jika sekarang bisa membuktikan bahwa kamu benar-benar ingin berubah ke jalan yang benar? Kamu tahu kan arti menikah itu adalah ibadah? Jadi, nikmat mana lagi yang kau dustakan jika sesuatu yang halal adalah ibadah dan mendapatkan pahala." Ia saat ini memegang erat pundak putranya, dan mengarahkan tatapan tajam.
Berharap putranya menyadari bahwa apa yang baru saja dikatakan benar dan merupakan jalan untuk kembali pada-Nya. "Semuanya akan baik-baik saja jika kamu membuktikan bahwa sudah kembali ke jalan Allah."
"Kamu tahu bahwa tidak memberikan nafkah pada istri itu berdosa. Sementara nafkah untuk istri ada dua, yaitu nafkah materi dan batin yang harus kamu penuhi."
"Papa tidak perlu menjelaskan secara detail karena kamu pernah bersekolah dan pasti mengetahuinya." Bambang Priambodo bahkan saat ini beralih menatap ke arah menantunya untuk meminta pendapat.
Ia sebenarnya tidak ingin memojokkan menantunya yang selama ini sangat baik, tapi berpikir jika ini adalah sebuah cara untuk membuat mereka memiliki ikatan batin antara pasangan suami istri, sehingga berharap akan berakhir menjadi sebuah kebaikan.
"Putri, kamu setuju dengan permintaan Papa, kan? Kamu bersedia hamil penerus keluarga Priambodo, kan?" Ia bahkan saat ini meraih telapak tangan dari menantunya.
Seolah ingin mendengar jawaban iya dari menantu kesayangannya tersebut yang terlihat kebingungan saat ini. Ia bahkan berpikir jika sesuatu hal yang terjadi hari ini merupakan jalan Tuhan untuk menyatukan Putra dan menantunya, sehingga membuatnya bisa terpikir sebuah ide untuk mengaku jika Putri hamil.
Ia bahkan saat ini tengah memikirkan jika apa yang menjadi harapannya terkabul, akan merasa sangat bersyukur karena kebahagiaannya lengkap sudah.
"Bagaimana, Aldiano? Kenapa hanya diam dan tidak langsung mengatakan iya saja? Pikirkan pahala dari menjalankan perintah Allah dan itu akan menghapus dosa-dosamu." Ia sebenarnya merasa sangat geram pada putranya yang seperti ragu hanya untuk mengatakan iya.
Bahkan ketika beralih pada menantunya juga sama karena hanya diam saja dan tidak membuka suara sepatah kata pun, sehingga membuatnya merasa bingung untuk meyakinkan Putra dan menantunya agar bersatu sebagai pasangan suami istri normal.
Sementara itu, Putri saat ini tidak bisa berkata-kata dan memilih untuk pergi ke toilet karena ingin cuci muka. Ia bahkan merasa semakin pusing kepalanya, sehingga tidak bisa menjawab perkataan dari mertuanya yang ia sendiri pun tidak tahu harus berekspresi bagaimana.
Sementara itu, Aldiano yang dari tadi hanya terdiam menatap siluet wanita yang kini baru saja masuk ke dalam kamar mandi, kini kembali mendengar suara dari sang ayah yang seolah membujuknya untuk segera mengatakan iya.
"Aldiano, apa kamu masih merasa ragu untuk kembali ke jalan Allah? Bukankah Kamu sendiri yang bilang ingin mencuci dosa-dosamu dengan menjadi pria yang baik? Sekarang lah saatnya kamu membuktikannya dengan perbuatan." Ia bahkan saat ini masih bingung harus bagaimana meyakinkan putranya.
Ia tidak tahu apakah putranya memiliki sebuah ketertarikan pada Putri yang merupakan seorang wanita. Apalagi selama ini putranya jauh lebih tertarik menjadi hubungan dengan seorang pria dan ia tahu jika itu hanyalah satu pria dan tidak pernah berganti-ganti.
'Seandainya putraku tahu jika melakukan itu jauh lebih terasa nikmat dengan seorang lawan jenis daripada sesama jenis. Bagaimana aku harus menjelaskan jika hal seperti itu sangat tabu dibicarakan,' gumam Bambang Priambodo yang saat ini masih menunggu putranya membuka suara.
Di sisi lain, Aldiano sebenarnya dari tadi tengah situ memikirkan apakah ia bisa melakukannya karena selama ini berhubungan dengan sesama jenis. Ia juga berpikir apakah Putri mau menerimanya atau kamu merasa jijik padanya.
Itu membuatnya merasa seperti seorang pria yang tidak pantas untuk wanita sebaik Putri. Bukan masalah ia jijik mendekati Putri karena sekarang menyadari jika wanita itu jauh lebih baik dibandingkan wanita lain yang pernah ditemuinya.
Namun, saat ini merasa bingung menjelaskan pada sang ayah yang mungkin tidak bisa memahami apa yang dirasakan olehnya. Hingga ia saat ini menatap ke arah pria paruh baya yang penuh dengan pengharapan padanya.
__ADS_1
"Pa, aku tidak bisa memutuskannya karena sepertinya aku harus berbicara empat mata dengan Putri. Jadi, izinkan aku membicarakan masalah ini dengan Putri lebih dulu. Papa keluar saja agar aku bisa berbicara dengan Putri," ucap Aldiano yang saat ini menunggu Putri keluar dari kamar mandi.
Ia yakin jika Putri merasakan hal yang sama, yaitu merasa bingung untuk menjelaskan dan mungkin saat berbicara berdua bisa saling mengungkapkan apa yang sebenarnya dirasakan.
Namun, harus berbicara empat mata dan itulah yang dipikirkannya saat ini. Ia saat ini merasa jika Putri harus berbicara jujur padanya tanpa harus ada sang ayah yang mungkin membuat tidak nyaman, sehingga berpikir berbicara empat mata jauh lebih baik.
Bambang Priambodo saat ini membenarkan perkataan dari putranya, sehingga saat ini merasa jika waktu dibutuhkan oleh mereka dan ia ingin memberikannya tanpa memaksa.
"Baiklah. Kalau begitu, Papa pergi ke kantin dulu untuk membeli kopi sekalian makanan. Pasti Putri belum makan juga, kan?" Saat ia baru saja menutup mulut, seketika melihat putranya yang membulatkan mata.
"Benar, Pa. Dari tadi dia belum makan apapun dan aku bahkan tidak menyuruhnya makan. Belikan dia makanan," ucap Aldiano yang kebetulan melihat Putri keluar dari kamar mandi.
"Putri, kamu dari tadi belum makan?" Bambang Priambodo berjalan mendekati menantunya dan mencoba untuk memeriksa kening apakah demam.
"Aku tidak lapar, Pa. Makanya tidak makan. Nanti saat merasa lapar, pasti akan ke kantin. Jadi, tenang saja," putra Putri yang saat ini berniat untuk menerapkan tubuhnya di sofa.
Namun, ia tidak jadi melakukannya karena disuruh oleh mertuanya menemani Aldiano.
"Biar Papa yang ke kantin, kamu lebih baik bicarakan yang tadi Papa katakan." Kemudian ia berjalan menuju ke arah pintu keluar dan membiarkan putranya dan menantu berbicara empat mata seperti yang diminta.
Kini, ruang perawatan tersebut dipenuhi oleh keheningan karena dua orang yang berada di sana seolah sibuk dengan pemikirannya masing-masing.
Hingga suara bariton dari Aldiano memecah keheningan diantara mereka.
Kemarilah! Aku ingin berbicara denganmu!" ucap Aldiano yang saat ini berpikir bahwa ia butuh jawaban dari Putri.
Mengerti apa yang hendak dibicarakan oleh Aldiano karena tadi mendengar pria itu berbicara dengan sang ayah, kini ia berjalan mendekat dan mendaratkan tubuhnya di kursi yang berada di sebelah kiri ranjang perawatan.
Bukan karena merasa malu membahas mengenai masalah suami istri karena ia bukanlah anak remaja yang baru jatuh cinta ataupun baru melakukan hubungan intim. Namun, ia tidak tahu seperti apa pria di hadapannya tersebut.
Ia tadi mencuci muka di kamar mandi dan menatap pantulan dirinya di cermin, berpikir bahwa ia memang merupakan istri dari Aldiano dan memang sudah menjadi tugasnya untuk melayani suami, sehingga berpikir tidak mungkin menolak jika pria itu menginginkannya.
Hanya saja, ia berpikir jika Aldiano jijik padanya dan lebih menyukai sesama jenis, sehingga membuatnya merasa bingung harus berkomentar apa ketika mertuanya bertanya.
"Aku ingin membahas tentang yang Papa katakan tadi." Aldiano yang tidak ingin bertele-tele karena merasa penasaran dengan apa yang ada di pikiran Putri mengenai dirinya.
"Ya," sahut Putri dengan singkat sambil menatap ke arah pria yang terlihat ragu untuk memulai pembicaraan.
Aldiano yang selama ini tidak pernah dekat dengan satu wanita pun, sehingga merasa bingung menjelaskan bagaimana. Ia malah merasa jika putri jauh lebih berpengalaman darinya dan mungkin bisa membantunya untuk membahas tentang perkataan dari sang ayah.
"Apa kamu tidak mau membahasnya terlebih dahulu?"
"Membahas apa?" Putri saat ini benar-benar bingung harus bagaimana karena jujur saja Ia baru pertama kali ini dekat dengan pria yang tidak normal.
Aldiano saat ini menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan bingung untuk memulai. Hingga ia merasa kesal karena Putri seperti berpura-pura tidak tahu pembahasan mereka.
"Kamu bukan gadis polos yang tidak tahu apa-apa mengenai apa yang diminta oleh Papa tadi, kan? Kenapa bisa bertanya membahas apa." Ia merenggut kesal karena berpikir jika Putri saat ini seperti enggan membahas masalah kehamilan.
__ADS_1
Hingga ia seketika berjenggit kaget ketika Putri berbicara dengan suara lantang yang membuatnya kebingungan untuk menjawab.
"Ya, aku tahu jika Papa membahas tentang kehamilan, kan? Tapi bagaimana aku bisa hamil jika kau saja jijik padaku? Bukankah selama ini kau lebih menyukai pria? Jadi, mana mungkin kau bisa menghamiliku? Lalu, sekarang apa yang akan kita bahas? Mengenai kamu jijik padaku, atau tidak bisa menghamiliku?"
Putri merasa geram karena diejek, sehingga langsung memberondong banyak pertanyaan yang dari tadi menari-nari di kepalanya karena ia sendiri juga bingung dengan pemikiran pria itu.
Aldiano yang tadinya berpikir jika Putri akan merasa jijik padanya karena ia menyukai sesama jenis, sekarang merasa seperti baru saja mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.
"Kau salah paham padaku?"
"Salah paham?" Lagi-lagi Putri di buat bumi bingung dengan sikap Aldiano yang menurutnya kurang sigap dalam hal apapun. "Memangnya aku salah paham tentang apa?"
Aldiano yang saat ini berdehem sejenak untuk menormalkan perasaannya ketika hendak berbicara mengenai apa yang diinginkan oleh sang ayah.
"Ya, kamu salah paham padaku karena berpikir aku jijik padamu. Justru aku berpikir jika kamu jijik padaku karena menyukai sesama jenis. Memangnya kamu tidak jijik berdekatan denganku karena pernah dekat dengan sesama jenis?" Ia baru saja menutup dan kembali mendapatkan omelan dari wanita yang dianggapnya sekarang berubah menjadi sangat cerewet.
"Jika kamu mengatakan masalah jijik, aku pun dulu pernah berselingkuh dengan pria lain saat masih memiliki suami. Bukankah itu jauh lebih menjijikkan dibandingkan perbuatanmu yang hanya menyukai satu orang?" Putri bahkan tidak pernah jijik pada pelacur sekalipun, tapi dia malah jijik pada diri sendiri ketika mengingat perbuatannya di masa lalu.
Ia merasa tidak pantas mendapatkan kebaikan apapun karena perbuatannya yang sangat menjijikkan karena mengkhianati suami. Bahkan ia sampai sekarang tidak bisa memaafkan diri sendiri ketika mengingat semua dosa-dosanya di masa lalu.
Hingga begitu mendapatkan pertanyaan yang dianggapnya sangat, sehingga saat ini memikirkan sesuatu. "Jika kita sama-sama merasa jijik pada diri sendiri karena mengangkat tidak pantas untuk siapapun, mungkin kita bisa berdamai dengan diri sendiri terlebih dahulu baru membuka diri."
Saat menyadari jika apa yang dikatakan oleh Putri benar, kini Aldiano seketika menganggukkan kepala. Ia selama ini tidak pernah bertemu dengan orang yang bisa mengerti posisinya. Sekarang ia merasa telah menemukan orang yang bisa memahami bagaimana situasinya ketika ia dulu tersesat di jalan yang salah.
Hingga ia pun saat ini sudah memutuskan sesuatu yang menurutnya sangat besar. "Putri, bagaimana kalau kita saling mengobati dengan saling menerima kekurangan masing-masing? Baru kita diinginkan oleh Papa," ucapnya yang saat ini melihat Putri terdiam dan tidak langsung menjawab, sehingga membuatnya merasa khawatir jika mendapatkan penolakan.
Putri yang tadinya berbicara dengan meluap-luap karena kesal atas kesalahpahaman yang terjadi, kini berpikir bahwa apa yang dikatakan oleh Aldiano tidak ada salahnya.
"Aku adalah istrimu yang sah di mata agama dan negara, jadi kamu berhak melakukan apapun padaku masakan itu demi kebaikan. Bahkan saat kamu menginginkanku hamil sekarang, aku tidak akan pernah menolaknya karena itu memang tugas seorang istri."
Putri memang sudah sepenuhnya menganggap jika statusnya yang merupakan seorang istri harus benar-benar dipahami dan tidak hanya dianggap sebagai status di atas kertas saja.
Itulah mengapa ia mengatakan hal itu dengan penuh keyakinan karena memang benar-benar ingin bertobat dan melaksanakan kewajiban sebagai seorang istri yang baik untuk suami yang mau menerimanya.
Aldiano sama sekali tidak pernah berpikir jika Putri menganggap pernikahan mereka benar-benar layaknya hubungan yang normal. Ia saat ini merasa tertampar dengan perkataan wanita itu dan membuatnya diliputi rasa pendosa karena menyakiti wanita sebaik itu.
"Putri, kamu serius menganggapku suami dan bersedia untuk hami"
"Ya, tentu saja. Apa perlu aku membuktikannya padamu?" ucap Putri yang saat ini ingin menunjukkan bahwa apa yang dikatakannya bukanlah sebuah omong kosong semata.
Ia saat ini melihat Aldiano mengerjapkan mata karena merasa bingung dengan apa yang baru saja dikatakan.
"Membuktikan?"
"Ya, aku bisa membuktikan jika akan hamil karena aku dari dulu sangat subur."
"Dengan keadaanku yang sekarang?" Aldiano saat ini tidak yakin karena kondisinya yang lumpuh tidak mungkin bisa melakukannya.
__ADS_1
Putri yang bisa mengerti raut wajah muram dari Aldiano, ini tidak ingin membebani pria itu. "Aku yang akan melakukannya dan kamu tidak perlu bekerja keras untuk membuatku hamil."
To be continued...