
Amira Tan sangat terkejut dengan penjelasan Noah yang ternyata tidak kunjung kembali karena pergi menemui Putri.
Tadi saat sadar, bertanya pada perawat dan mengatakan jika yang membawa ke klinik adalah seorang pria dan sudah bisa ditebak adalah Noah.
Kemudian ketika bertanya lagi mengenai ke mana Noah karena ingin meluapkan amarah yang membuncah di dalam hati ketika mengingat perbuatan pria itu meninggalkan sendiri di rumah.
Saat perawat mengatakan jika Noah sedang ke kamar mandi, memilih untuk menunggu dan mengatakan memilih pulang.
Amira Tan tidak ingin dirawat karena memang merasa jika tubuhnya baik-baik saja. Hanya saja, tadi sangat lemah karena Noah menyalurkan gairah dan sama-sama saling menikmati.
Sampai merasa ketakutan luar biasa saat berpikir akan dicekik oleh hantu yang diceritakan Noah. Setelah dijelaskan oleh perawat untuk menandatangani surat pernyataan, akhirnya memilih untuk setuju dan menunggu Noah.
Namun, tidak kunjung datang dan akhirnya meminjam ponsel perawat untuk menghubungi Noah yang tak kunjung kembali. Amira Tan yang cerdas karena langsung mengingat nomor Noah tidak sulit untuk mengetik pada layar ponsel.
Memang dulu menghafal nomor pria itu untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu ketika berada di Club dengan ponsel hilang. Karena mengetahui jika di manapun berada ada modus kejahatan mengincar.
Tidak mungkin akan menghubungi orang tua yang malah akan menambah rasa khawatir, sedangkan ada satu lagi teman dekat Jack yang juga sangat dihafal nomor, tapi hanya akan dihubungi saat darurat saja.
Namun, masih mempertimbangkan karena mengetahui jika Jack adalah orang yang sangat temperamen dan membuat Amira Tan risi sekaligus kesal.
Ia kini menatap sosok pria yang sebenarnya sangat ingin ditinju dengan kepalan tangan karena membahas mengenai Putri yang lebih asyik. Merasa sangat kesal karena berpikir jika yang terjadi selalu kebetulan.
'Seolah hidupku tak lepas dari bayang-bayang Putri. Kenapa Noah membawaku ke tempat di mana Putri tengah dirawat.'
'Padahal banyak klinik lain selain ini. Pria ini selalu dengan mudah merubah mood selalu buruk,' gumamnya yang saat ini tidak bisa berpikir jernih untuk mengendalikan amarah di dalam hati.
"Bagaimana bisa kalian bertemu? Bukankah ada banyak tempat lain yang bisa kau datangi? Kenapa harus tempat yang sama dengan wanita itu?" Wajah Amira Tan memerah saat mengingat sesuatu.
__ADS_1
Bahwa saat ini sangat kesal karena Noah selalu memantik amarah.
'Pertanyaan yang tadi bahkan belum dijawab, tapi mengalihkan pembicaraan dengan memuji Putri. Rasanya ingin kulempar sandal pada kepala pria ini.'
'Apakah ia mau jadi suami selanjutnya untuk Putri setelah bercerai dengan Arya? Memangnya apa istimewanya Putri, hingga berhasil membuat pria manapun jatuh cinta pada pandangan pertama.'
Noah yang kini tersenyum smirk karena merasa jika usahanya telah berhasil untuk membuat Amira Tan kesal ketika membicarakan tentang wanita lain.
'Ini belum apa-apa. Tunggu permainan yang lebih menarik,' gumam Noah yang kini langsung bertepuk tangan satu kali tepat di depan wajah wanita yang terlihat melamun itu.
"Kenapa melamun? Apa yang sedang kamu pikirkan? Apakah kamu heran satu klinik dengan Putri? Aku tadi sangat khawatir dengan keadaanmu, jadi pergi ke tempat yang paling dekat dengan rumah dan pastinya biaya murah."
"Maaf karena tadi aku pergi sendiri makan. Aku benar-benar lapar dan menunggumu sangat lama di kamar mandi, akhirnya pergi sendiri dan berpikir akan membawakan makanan saja saat pulang."
Noah mengangkat tangan ke atas untuk menegaskan jika saat ini tengah menunjukkan bahwa apa yang dikatakan benar.
Merasa lega menjelaskan semua agar Amira Tan tidak lagi murka, kini Noah berharap jika wanita tersebut tidak mengungkit lagi tentang pertanggungjawaban mengenai masalah cerita hantu yang hanya kepalsuan.
'Apa aku katakan saja jika cerita itu hanyalah karanganku saja. Mengenai masalah mati lampu tadi karena memang sering terjadi karena ulah tikus yang ada di atap rumah dan sering main kabel.'
Noah kini mengingat sesuatu yang biasa dilakukan. "Mengenai piring pecah tadi, mungkin itu adalah ulah kucing yang terkadang suka main kejar-kejaran dengan tikus di rumah kontrakan. Jadi, semua ketakutan itu kamu buang saja."
Amira Tan yang masih merasa kesal, kini memilih untuk kembali mengarahkan tangan mengepal pada bagian perut sixpack Noah. "Apapun alasanmu, kau tetap harus bertanggungjawab karena membuatku berakhir di sini."
"Sana bayar tagihan klinik ini!" Amira Tan mengibaskan tangan karena ingin memberikan hukuman pada pria yang berhasil memancing emosi dan merubah mood jadi buruk dari semalam.
Sementara Noah menelan ludah karena otak langsung bekerja menghitung biaya tagihan klinik.
__ADS_1
Meskipun tidak sampai menginap di Rumah Sakit, tetap saja khawatir jika isi dompet terkuras habis, sedangkan itu adalah simpanan sampai mendapatkan gaji lagi setelah dipecat.
Berpikir jika harga diri sebagai seorang lelaki lebih penting, ia pun berbalik badan dan berjalan keluar untuk ke ruang administrasi.
'Tidak apa-apa, nanti kau juga akan mendapatkan ganti uang biaya rumah sakit setelah bekerja di kantor wanita itu. Apalagi wanita itu terkenal sangat royal masalah duit,' gumam Noah dengan perasaan berdebar ketika ingin menanyakan total biaya yang harus dikeluarkan.
Apalagi mengetahui jika sekali masuk rumah sakit akan menghabiskan banyak uang. Karena itulah ada semboyan yang mengatakan jika sehat itu mahal harganya.
"Jagalah sehat sebelum sakitmu, itulah yang memang merupakan kebenaran," ucap Noah yang kini tengah berjalan menuju ke arah sosok wanita di belakang komputer.
Sementara itu di dalam ruangan gawat darurat, perawat baru saja melepaskan infus Amira Tan.
Kemudian Amira Tan mengatakan pada perawat, bahwa ingin ke ruangan salah satu saudara dan menyuruh menyampaikan pada Noah nanti.
Rasa penasaran mengenai keadaan Putri setelah sang suami memilih berselingkuh saat berhasil dihasut oleh orang tua. Juga tentang kejadian yang membuat Amira Tan tidak jadi masuk menjenguk Putri setelah mendengar suara ******* di dalam.
Bahkan Amira Tan dengan sangat percaya diri berjalan dengan kaki telanjang menuju ke ruangan Putri setelah bertanya pada salah satu perawat. Karena kamar di klinik kecil itu tidak banyak, jadi sangat mudah untuk menemukan ruangan yang dicari.
Ia pun mengetuk pintu dan menunggu hingga beberapa detik, tetapi tidak ada jawaban. Akhirnya memilih masuk karena berpikir jika Putri ada di dalam.
Apalagi tadi bertemu Noah dan sudah berbincang hangat dengan Putri.
Bahkan masih mengingat ekspresi Noah ketika membahas Putri dengan sangat bersemangat. Semua itu selalu membangkitkan rasa kesal.
Amira Tan berjalan menuju ke dalam dan menyipitkan mata begitu melihat Putri terbaring di atas ranjang perawatan dengan posisi kepala tertutup bantal.
To be continued...
__ADS_1