
Noah yang merasa sangat marah karena Amira Tan menyebutkan nama pria lain setelah mereka bahkan sudah bercinta. Seolah ******* yang menggambarkan kenikmatan beberapa jam lalu sama sekali tidak berarti apapun bagi Amira Tan.
Tentu saja hal itu sangat menghina harga diri Noah sebagai seorang pria. Merasa gagal menjadi pria sejati karena wanita yang sudah berhasil meledakkan puncak kenikmatan tersebut sama sekali tidak memiliki perasaan apapun.
'Wanita ini benar-benar sangat menyebalkan dan selalu berbuat sesuka hati. Aku sama sekali tidak sudi untuk mengantarkannya menemui pria itu.' Noah yang kini memilih untuk berjalan menuju ke arah jalan utama, berencana untuk memesan ojek online.
Namun, merasakan jika kaos casual yang dikenakan ditarik dari belakang. Tentu saja sangat tahu siapa yang melakukan itu. Tanpa berbalik badan, Noah kembali mengumpat.
"Apa lagi, Amira Tan? Bukankah sudah jelas yang kukatakan? Aku tidak sudi mengantarmu menemui pria yang kau puja itu!"
Amira Tan sengaja menyuruh Noah untuk mengantar karena kepala masih pusing efek lemas, jadi terpaksa menghentikan langkah pria yang masih enggan berbalik badan tersebut.
__ADS_1
"Jika aku tidak pusing, mana mungkin mengajakmu. Bukankah aku seperti ini karena perbuatanmu tadi? Jadi, bertanggungjawablah padaku, Noah. Jika sampai aku tiba-tiba pusing saat mengemudi dan kecelakaan, bagaimana?"
"Apa kamu mau bertanggungjawab?" sarkas Amira Tan yang kini merasa sudah banyak membuang waktu karena Noah mengajak berdebat mengenai hal tidak penting.
"Aku pingsan bukan hanya karena takut hantu, tapi setelah kamu menghajarku tadi, langsung panas dingin rasanya. Bahkan sangat lemas sekali sekarang, tapi tidak ingin dirawat karena orang tuaku akan bertanya macam-macam. Apa yang harus kukatakan pada mereka nanti?"
"Tidak mungkin aku mengatakan sakit setelah bercinta denganmu," sarkas Amira Tan yang kini masih tidak melepaskan genggaman dari pakaian pria yang memunggungi tadi.
Sementara itu, Noah ingin sekali menjawab, bahwa pertanggungjawaban yang benar adalah menikahi wanita itu. Bukan seperti yang diungkapkan oleh Amira Tan karena sangat konyol.
Namun, hati dan pikiran Noah tidak sinkron karena pikiran kini mengambil alih untuk tidak melakukan itu. 'Tidak! Lebih baik menjalankan rencana dan membuat wanita arogan ini menyadari bahwa membutuhkanku karena ada ikatan batin di antara kami.'
__ADS_1
'Baiklah. Lebih baik aku mengalah hari ini demi kemenangan di kemudian hari. Aku ingin menunjukkan bahwa Amira Tan akan tergila-gila padaku dan memohon agar dinikahi. Mengalah bukan berarti kalah.'
Akhirnya ia memilih berbalik badan setelah memutuskan untuk mengalah pada Amira Tan setelah mempertimbangkan keputusan.
"Kamu benar. Aku harus bertanggungjawab setelah membuatmu panas dingin karena perbuatanku tadi. Aku akan mengantarmu sekarang!" Noah merebut kunci mobil di tangan Amira Tan dan mulai berjalan menuju ke arah kendaraan roda empat yang terparkir tak jatuh dari tempat berdiri.
Setelah memastikan Amira Tan memakai sabuk pengaman, mengemudikan mobil meninggalkan klinik dan melaju membelah jalanan ibu kota yang masih cukup lenggang karena suasana masih gelap dan kebanyakan orang bersembunyi di balik selimut tebal nyaman untuk beristirahat.
Berbeda dengan dua orang yang berada di dalam mobil tersebut tidak tidur karena menghabiskan malam penuh gairah.
Selama dalam perjalanan, Amira Tan sibuk bertanya-tanya, apakah masih sempat bertemu dengan Bagus. Jika nanti ada kesempatan untuk berbicara, apa yang harus dikatakan, itu belum sempat dipikirkan.
__ADS_1
Satu-satunya hal yang ingin dikatakan oleh adalah ingin pria itu hidup bahagia dan tidak menderita lagi.
To be continued...